Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Renungan Suci

Ex Anggota TP Brigade 17 saat Mubes Purworejo 1992.


Di tengah dingin malam menggigit kulit
Kukenang perjalanan jauh
di antara jerit tangis anak-anak negeri
kaki kurus kering menapak
Tanda hari kan berganti
Nuansa alam merdeka menanti detik
Proklamasi ...

Kami...Bangsa Indonesia 
Dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. 
Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Hari ini enampuluh sembilan tahun lalu
Bangsa yang berada di tanah jajahan Netherlandsche Indie 
menyatakan diri jadi bangsa merdeka
Lepas dari penjajahan yang tak berperikemanusiaan dan berkeadilan

Hari ini pula
kurasakan .... satu penghianatan
atas janji merdeka .....
yang akan bawa Indonesia berperikemanusiaan
yang kan jalani kehidupan berkeadilan 
tuju gerbang merdeka, bersatu dan berdaulat

Hari ini...saat Merah Putih dikibarkan di angkasa
perikemanusiaan itu kian menghilang dari garis edarnya
dan keadilan tak lagi berpihak
pada janji merdeka !!!

Kian banyak para penjajah bangsa
tertawa berbahak di atas luka dan derita sesama
Berbangga hati pada diri....

Wahai para penjajah negeri...
kehidupan itu senantiasa berjalan
dan kesaksian akan selalu ditegakkan
Bukan pada tiang-tiang bendera
pada merah putih yang kian pudar
dalam tanah air nan kering kerontang
pada nurani yang semakin menghilang...

Wahai para penjajah negeri...
Kami bukan tulang belulang berserak tanpa daya
Merah pudar yang kau kabarkan
berlumur darah merah pejuang sejati
Berani dan tetap berani ....
Suarakan kebenaran hakiki
Tegak dalam suci nurani
perjuangan rakyat sejati

Indonesia Merdeka harga mati
tak ada tawar menawar 
dan tanpa kompromi

Indonesia Merdeka kuatkan tekad
berbakti pada pertiwi tanpa henti

Kebumen, 17 Agustus 2014 jam 00.30 WIB

Toto Karyanto

Posted in , , , , , | 1 Comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Kebumen, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia

Pendidikan Yang Tercerabut dari Akarnya



Pendidikan dan kebudayaan ibarat dua sisi mata uang. Jika satu sisinya diabaikan, mata uang itu tak bernilai lagi. Dan itulah yang terjadi akhir-akhir ini di sekeleliling kita.

Dunia pendidikan nasional adalah indikator utama maju mundurnya suatu bangsa. Ki Hadjar Dewantara menggagas filosofi pendidikan nasional sebagai tata nilai dari ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. Di depan memberi contoh, di tengah menyemangati dan di belakang memberi dorongan. Maknanya sangat jelas yaitu arah yang ingin dituju dalam menyelenggarakan pendidikan adalah menjadikan manusia Indonesia bermartabat. Dihargai setara dengan manusia lain di seluruh penjuru dunia. Khususnya dengan bangsa-bangsa yang telah maju di Eropa dan Amerika Serikat. Dan itu pula alasan para pejuang terus bergiat menyuarakan dan mewujudkan kemerdekaan bangsa.

Sejak kemerdekaan Bangsa Indonesia dikumandangkan 17 Agustus 1945, dunia pendidikan nasional memang berjalan. Beragam lembaga pendidikan baik formal maupun non formal terus bertumbuh dan berusaha menjawab dinamika perkembangan kehidupan masyarakat. Saat ini, di hampir semua  tempat ada lembaga pendidikan setidaknya untuk tingkat dasar. Bahkan ada upaya  dari kalangan muda yang sangat patriotik dan berwawasan ke depan melalui program Indonesia mengajar (lihat di : https://indonesiamengajar.org/ ) yang digagas oleh ilmuwan dan Rektor Universitas Paramadina Jakarta serta mantan aktivis kampus, Dr. Anis Baswedan. Beliau mengaku dekat dan terinspirasi oleh upaya mantan anggota Tentara Pelajar (TP) yang juga Rektor Universitas Gadjahmada Yogyakarta, Prof. Dr. Kusnadi Hardjasumantri,SH yang telah mengawali program PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) dalam upaya mengatasi kesenjangan pendidikan di tingkat SMA khususnya di luar Pulau Jawa.  



Sebagai pribadi yang pernah mengenal Pakde Kus, panggilan akrab Prof. Kusnadi, saya memang tidak begitu dekat dengan beliau. Tetapi pada satu kesempatan diskusi antar generasi yang digagas oleh Persatuan Keluarga Besar  Pelajar Pejuang Kemedekaan (PKBPPK) di Wisma Fadel Jakarta setelah perayaan hari Kemederkaan RI ke 45 di Istora Senayan sehari sebelumnya yang sangat akbar itu, saya menanyakan tentang arah yang ingin dicapai dari reuni atau pembentukan organisasi/ paguyuban ex TP. Dengan nada khas, beliau menjawab pertanyaan itu bahwa reuni adalah hak kami (anggota ex TP/PPK). Soal regenerasi adalah proses alamiah yang memerlukan inisiatif bersama dan bukan masalah kontekstual semacam KKN sekarang. Meski sangat kecewa, saya dapat memahami makna jawaban itu.

PTM dan Indonesia Mengajar adalah inisiatif warga bangsa yang sadar dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan gagasan Ki Hadjar Dewantara yakni manusia Indonesia yang cerdas dan bermartabat. Memacu kecerdasan tanpa fondasi budaya yang kokoh berakibat manusia kehilangan jati dirinya sebagai mahluk sosial dan berderajat tertinggi di antara semua mahluk ciptaan Sang Khalik. Kondisi inilah yang tengah berlangsung di dunia pendidikan nasional Indonesia di semua tingkatan. Pendidikan yang tercerabut dari akarnya yaitu kebudayaan.

Mari kita cermati realita kehidupan yang ada di sekitar. Lembaga pendidikan formal hanya mengejar angka kredit agar dapat mencapai predikat tertinggi dengan segala cara. Peserta didik dicekoki dengan beragam materi pengetahuan dengan jadwal pertemuan yang sangat ketat. Program full day school mendadak jadi popular dan trend setter. RSBI (Rancangan Sekolah Berbasis Internasional) seolah jadi barometer kemajuan tanpa memedulikan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Yang penting berlabel go international dan menerapkan perbanyakan materi berbahasa Inggris. Biar lengkap, setiap peserta didik harus memiliki laptop atau notebook seperti yang terlihat di negara-negara maju. Internet adalah satu referensi penting dalam mengisi materi di kelas. Tapi, semua bentuk penonjolan "keunggulan" itu hanya artifisial. Mereka kemudian menjadi asyik dengan diri dan komunitas kecilnya. Tak heran menjadikan pola pikir dan terutama pola tindak cenderung terkotak di sekitarnya saja. Dunia yang begitu luas ini seolah dapat dieliminasi dengan kotak itu.

Kebiasaan meng-copy paste atau klik kanan seolah menjadi hal yang tak perlu dirisaukan dampak negatifnya bagi perkembangan otak dan kepribadian peserta didik. Ditambah dengan gaya hidup orientatif sempit (sekadar menonjolkan bentuk dan melupakan isi), generasi muda Indonesia saat ini cenderung manja, cengeng, acuh dan pragmatis. Tak perlu bersusah payah memahami etika untuk disebut “bermartabat”. Apalagi memahami budaya nasional yang terlanjur dikesankan hanya menonjolkan sisi artefaknya. Sementara itu, nilai kearifan yang ada di dalam budaya biarlah diurus oleh para budayawan. Tanpa mengenal budaya nasional atau lokal, orientasi  peserta didik adalah mengisi dunia kerja dengan bekal sertifikat formal. Akibatnya, semakin hari kian banyak orang bangga dengan gelar atau sebutan formal dari pada menghargai jerih payah orang lain yang meniti perjalanan hidupnya satu demi satu tangga. Toh dengan cara instan dan berbayar semua hal dapat diselesaikan. Dan… inilah buah karya Rafles dalam karya sastra Bambang Oeban “Tembang Negeri Terjajah”. Kemana hilangnya makna kemerdekaan yang diperjuangkan anak-anak bangsa dan bukan pemberian bangsa asing itu ???

Posted in , , , , , , | Leave a comment

SEPUCUK SURAT DARI AKHIRAT

BUAT REKAN-REKAN ANGKATAN ‘45


 
Kawan,
Kau pasti masih ingat
Kami mati dengan perut kosong
dan baju compang-camping
tapi berendam dalam semangat yang membara

Kami belum pernah merasai
hasil Kemerdekaan
Kamilah remaja
yang tidak sempat mereguk nikmat dunia

Tapi kami rela
melepas nyawa
demi cita-cita bangsa

Kini…
apa kabar kawan,
nasib bangsa kita ?

Dan
masihkah engkau setia
Kepada ikrar semula ?

Engkau boleh melupakan kami
Tapi jangan berpaling
dari nasib Rakyat Jelata
dan, kami pun pralaya.

Bagi mereka jua
kita dulu menyabung nyawa
dan, kami pun pralaya.
Kami tidak tahu
apa jadinya kini !

Semoga segalanya
berjalan sesuai cita-cita semula
sehingga pengorbanan kami tidak sia-sia

welatanama 

Posted in , , , , | Leave a comment

Tembang Negeri Jajahan Bagian II: Kehidupan Tak Berpola



Dalam catatan saya tentang makna kutipan yang ada dalam info profil Facebook, ada satu hal yang ingin selalu saya kedepankan sebagai faktor kontrol diri. Sekadar mengingatkan, kutipan “jangan suka memelihara kebodohan..dst” adalah salah satu jeda. Terminal kehidupan, katakan begitu. Ibarat sebuah angkutan umum jarak jauh, tak banyak aktivitas menaik-turunkan penumpang selain mengistirahatkan kendaraan dan seluruh awak bus. Juga memberi kesempatan kepada penumpang untuk melepas kepenatan sepanjang perjalanan.

Istilah “jeda” saya pakai karena lebih sesuai dengan keadaan sesungguhnya. Bahwa perjalanan hidup manusia pada saat tertentu akan mencapai sebuah titik nadir. Entah itu bernama sukses atau gagal. Seperti disebut Say “the law of diminishing return”. Jeda itu adalah titik pencapaian. Kalau itu bermula dari suatu keinginan, cita-cita atau rencana strategis, maka di sesi jeda itulah kita akan tahu hasil pencapaian itu. Di puncak, lembah dan ngarai akan mudah dilihat lebih utuh. Kalau tak terhalang oleh kabut. Dari puncak itu pula, kita dapat mengetahui betapa kecilnya diri dibanding alam semesta.

Cita-cita adalah gambaran besar keinginan manusia tentang masa depannya. Semuanya serba baik dan besar. Baik karena memotivasi diri untuk menggalang kemampuan mewujudkan cita-cita itu. Ada yang mampu berlari secepat kilat, tapi tak sedikit yang tertatih menahan beban tubuh dan suasana lingkungan. Bahkan sangat banyak yang harus terjerembab ke lembah hitam. Cita-cita yang dilandasi dengan kemampuan baik dalam pengendalian diri akan melapangkan jalan menuju puncak. Menikmati masa jeda dengan beragam kebaikan sebelum menurun kemampuan kita. Pengendalian diri yang bersumber dari kehidupan yang berpola.

Membandingkan dengan suasana kekinian di sekitar kita, ketika banyak orang tak lagi mampu mengenal dirinya. Maka, menggantungkan cita-cita setinggi langit seperti ajakan Bung Karno dalam memotivasi semangat hidup bangsa Indonesia yang baru terlepas dari suasana penjajahan bangsa asing nampaknya merupakan  suatu obsesi yang berpotensi utopis. Pola hidup gotong-royong telah banyak berubah menjadi kolaboratif dalam arti negatif. Kolaborasi adalah bekerjasama dengan “orang asing”. Kata dalam tanda kutip sebenarnya merupakan akronim dari : bukan orang asing, tapi suka mengasingkan diri. Orang-orang yang mengatas-namakan dirinya Indonesian. Tak pernah tahu apa, siapa dan mengapa Indonesia itu? Mereka hidup dari dan dengan Indonesia. Tapi sangat diragukan  bersedia mati demi Indonesia.  Bagi mereka, hidup ini harus dinikmati senikmat-nikmatnya meski harus menjadi benalu. Bahkan penghianat. Kalau perlu menjadi pelacur. Yang penting: hepi.. mungkin hanya itu yang ada di benak. Naudzubillahi min dzalik. 

Posted in , , , , | Leave a comment

Tembang Negeri Jajahan Bagian I: Sajak Bambang Oeban


Rintih angin senja menghantar
Lembar-lembar catatan sejarah yang terbuang

   
Aku mendengar gumam alam masa silam
melantunkan tembang meluluhkan sukma
mengingatkan pada nasib negeri ini
menjadi madu bagi bangsa
yang miskin pada tata kemanusiaan
Kenyamanan hidup bangsaku dibuyarkan
demi menjara kekayaan

Raffles,
Dari Inggris kaubawa otakmu ke tanah Jawa

Kau tumbangkan kuasa raja pribumi dengan siasat
Keilmuan leluhur digilas oleh kemahiran membaca
peta budaya kehidupan bangsa yang lemah
lewat riset dan fakta informasi
Warna politikmu menghanyutkan
merubah pikiran para penguasa pribumi


Pantai pantai, Bandar-bandar, lalu lintas lautan
dalam gengaman dengan bahasamu
yang menghanyutkan

telah kau asingkan raja yang kalah, lalu kau pelihara raja pribumi dengan mas kawin tipu daya perjanjian

Rafles, tajam bius akal hasutmu
Kau bangun kekuatan militer demi membela rakyat
yang tertindas dari raja pribumi yang kau hujat jahat,
padahal kau terus menumpuk rempah-rempah
di gudang terbuat dari keringat rakyat

Apa kuasamu, tentara kerajaan dalam pengawasan ?
Kedu, Pacitan, Jipang dan Grobogan jadi seserahan
Tata ekonomi kamu monopoli
Memang Rafles tlah mengungsi dikebumikan sejarah
Tapi sikapmu banyak yang meneladani
Bagaimana ini?
Irjenpol Djoko Susilo

Posted in , , | Leave a comment