Tampilkan postingan dengan label Perang Kemerdekaan I - 1947. Tampilkan semua postingan

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Dari catatan dan cerita sejarah, perjuangan Bangsa Indonesia menggapai kemerdekaannya dilakukan oleh banyak pihak dan dari beragam latar belakang. Keanekaragaman kekuatan inilah yang membuat semangat perjuangan memerdekakan diri orang-orang dan suku bangsa di wilayah yang acapkali disebut Nusantara, Netherlandsche Indie dan sebutan lain yang kini bernama Indonesia tak pernah padam. Semangat bersatu dalam pikiran dan langkah kemudian diejawantahkan dalam berbagai aktivitas pergerakan. Persatuan dan kesatuan adalah benang merah yang lambat laun berubah menjadi tali temali gagasan, tindakan dan visi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dari sinilah muncul Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua : Indonesia Merdeka!. Dengan kata lain, energi utama kaum pergerakan bagi Bangsa Indonesia adalah ke-bhinkatunggalika-an.

Dari catatan sejarah pula kira tahu bahwa paham politik Soekarno yang nasionalis-marksistis banyak berbeda atau bahkan bertentangan dengan paham sosialis-religius yang dipegang oleh Moh.Hatta. Tapi dalam urusan perjuangan, keduanya bersatu paham, Indonesia harus merdeka ! Tanpa kemerdekaan, kita akan terus menjadi bangsa terjajah. Tak akan pernah mampu menjadi bangsa yang berdaulat. Apalagi menggapai suasana kehidupan yang adil dan makmur. Karena penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Jika kita mau belajar dari dua tokoh kunci kemerdekaan bangsa ini saja, banyak hal pelik yang membelenggu kehidupan saat ini bisa dipecahkan selama roh atau semangatnya tetap dipelihara sesuai kadarnya. Tentu saja, yang pertama dan utama adalah mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan sebenar-benarnya. Bahwa manusia dan seluruh isi alam semesta ini ada karena nikmatNya. Dan kesadaran ini dinyatakan secara tegas dalam Mukadimah UUD 1945: Berkat rahmat Allah dan didorong keinginan luhur berkehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Jelas sekali pernyataan ini.

Sebagai wujud nyata mensyukuri nikmat kemerdekaan, semestinya kita, segenap Bangsa Indonesia, mau dan harus mampu mendulukan persatuan dan kesatuan di atas segala perbedaan. Karena itu, mengedepankan egosentrisme pribadi maupun kelompok pada dasarnya adalah sama dengan mengkufuri nikmat kemerdekaan. Apalagi untuk urusan sepele hanya karena ingin disebut hebat.  


Terlalu mahal biaya sosial yang telah dibayarkan oleh segenap warga Bangsa Indonesia untuk tetap mempertahankan roh kemerdekaannya. Banyak sudah peristiwa kelam dari panggung politik maupun ekonomi yang berakhir sia-sia dan justru menanamkan benih-benih kebencian maupun kehancuran karena egosentrisme pribadi maupun kelompok. Tragedi kemanusiaan di tahun 1965 maupun 1998 adalah sebagian contoh kesia-siaan itu. Haruslah kita mengulangi kebodohan itu ? 
Bersama Oom Agustinus Reksodihardjo saat peresmian Monumen Pena 10 Nov 2013

Posted in , , , , , , | 3 Comments

Dari Peresmian Monumen Pena

Prasasti Monumen Pena

Banyak sudah monumen yang dibangun oleh berbagai kalangan baik pemerintah maupun masyarakat untuk menandai sebuah peristiwa penting yang dipandang bernilai sejarah. Tujuan utamanya agar peristiwa itu dapat dikenang sepanjang masa. Kenangan yang mungkin saja berlatar belakang peristiwa heroik, bernuansa kepahlawanan. Bisa juga suatu peristiwa tragis semisal bencana alam yang menelan korban sangat banyak. Apapun latar belakang peristiwa yang menyertainya, fungsi monumen tak bergeser jauh dari sebuah tanda kenangan.

Tak jauh beda dengan lainnya, Monumen Pena yang berdiri di depan Gedung Pertemuan Prabasanti di Kompleks Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kebumen juga merupakan sebuah tanda untuk mengenang keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar atau Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan untuk Front Barat di sekitar Gombong Selatan pada Perang Kemerdekaan I 1947. Monumen ini digagas oleh Atiatoen Wirjosoemarto, seorang mantan siswi Sekolah Guru Putri (SGP) Jalan Jati Yogyakarta yang saat itu ditugaskan sebagai Staf Putri Markas Pusat Pelajar (MPP) yang tak lain merupakan markas besar atau pusat kendali operasi pasukan pelajar pejuang kemerdekaan dari Jl. Tugu Kulon No. 70 Yogyakarta. Sekadar mengingatkan, kala itu, Yogya adalah ibukota pemerintahan Republik Indonesia.

Front Barat atau menurut satu pelaku yang masih hidup saat tulisan ini dibuat yakni Bapak Djokowoerjo Sastradipradja (baca Jokowuryo Sastradipraja, Prof.Dr.drh., mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor) disebut sebagai Front Jawa Tengah bagian Selatan adalah wilayah yang dinilai strategis sebagai basis pertahanan bagi pasukan atau laskar-laskar perjuangan rakyat dalam menegakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Front atau medan laga yang dilintasi garis demarkasi sepanjang Kali Kemit dari Karanggayam yang berbukit di Sebelah Utara sampai Puring di bibir pantai Samudera Hindia. Pada saat itu, pasukan pendudukan Belanda telah menguasai Gombong setelah menduduki Banyumas dalam usaha gerak maju ke Yogya.

Sebenarnya, sudah ada dua markas reguler Tentara Pelajar di sekitar wilayah itu. Pertama, di Karanganyar yang dipimpin oleh Panudju Widajat (baca Panuju Widayat) dan wakilnya David Sulistyanto asal Banyumas. Markas kedua ada di kota Kebumen yang dipimpin oleh Sadar Sudarsono dan wakilnya adalah Samijo (baca Samiyo), menempati rumah orangtua Sri Kartini yang kini jadi gedung SMP Muhammadiyah I Kebumen. Kedua markas itu masih aktif beroperasi sebagaimana layaknya suatu pusat komando teritorial. Mengapa MPP masih perlu mengoperasikan sebuah markas darurat ?

Pasukan pelajar pejuang kemerdekaan Indonesia memiliki banyak sebutan. Tentara Pelajar (TP) dan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) adalah dua dari banyak sebutan bagi pelajar sekolah menengah di berbagai wilayah dan jurusan. Nama TP banyak dipakai di wilayah Jawa Tengah dan Barat. Sementara itu, TRIP khusus di Jawa Timur. Di Jawa Barat, namanya ditambah Siliwangi jadi TP Siliwangi dan di Solo dengan sebutan TP Solo atau TP Detasemen II.  Begitu juga yang ada di wilayah karesidenan Kedu dan Banyumas. Di Kedu ada dua wilayah, Utara dan Selatan. Karena itu ada dua nama, TP Kedu Utara dan Selatan. Sedangkan di wilayah Banyumas ada dua sebutan yang popular yaitu Mas TP dan IMAM (Indonesia Merdeka Atau (pilih) Mati). Di karesidenan Semarang dan sekitarnya ada sebutan TP SA/CSA (Student Army). Di sebagian wilayah Pulau Sumatera juga ada sebutan TP Sumatera.

Dari berbagai nama kesatuan pelajar pejuang kemerdekaan itu awalnya adalah bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan. Yang tak kalah menarik adalah nama TGP (Tentara Genie Pelajar) yang semua anggotanya adalah pelajar Sekolah Menengah Teknik (dulu disebut ST, setara SMP) dan Sekolah Teknik Tinggi (setara STM/SMK sekarang). Mereka kebanyakan menangani tugas-tugas teknis : perbaikan/ perawatan senjata, membuat jembatan darurat dan banyak tugas teknis lainnya.

Sisi lain yang menarik dan khas adalah nama-nama pasukan pelajar yang anggotanya berasal dari luar Pulau Jawa. Persatuan Pelajar Indonesia - Sulawesi (PERPIS) adalah yang paling terkenal karena mereka bukan hanya berasal dari satu daerah atau pulau Sulawesi saja. Ada anggota Perpis yang berasal dari Sumatera Utara (Batak) semisal Willy Hutauruk atau Herman Fernandez dari Flores  yang gugur di Palagan Sidobunder, Kebumen. Ada juga yang berasal dari Kalimantan semisal Linus Djentamat yang menyelamatkan Juki, brendgun buatan Jepang bersama Djokowoerjo dari Jogja. Dengan kata lain, nama pasukan pelajar pejuang kemerdekaan tidak selalu identik dengan keterwakilan wilayah karena faktor mobilitas mereka sangat tinggi baik pada masa Perang Kemerdekaan I (1947) maupun II (1949). Seorang anggota TP Siliwangi bisa jadi bagian dari Mas TP Banyumas, TP Kedu Selatan atau TP Solo karena adanya pergerakan pasukan RI dari Jawa Barat ke kantong-kantong gerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikenal dengan istilah "longmarch".

Keberadaan pasukan pelajar di Indonesia boleh disebut unik. Mereka membentuk dan mengorganisasi kekuatan internal IPI sebagai kekuatan tempur (kombatan) maupun kepalangmerahan (petugas kesehatan/relawan PMI). Di seluruh dunia, mungkin hanya IPI Bagian Pertahanan atau Tentara Pelajar yang dibentuk atas inisiatif sendiri. Di negara lain, termasuk Belanda, pasukan yang anggotanya berasal dari pelajar atau mahasiswa dipanggil sebagai wajib militer oleh negara atau pemerintahnya. Mengenai pembentukan pasukan pelajar di sini

Sepanjang usaha menelusuri jejak keberadaan dan pengoperasian Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat, penulis mengalami banyak kendala teknis dan kultural. Kendala teknis mengemuka karena minimalnya bukti administratif seperti surat tugas dan sebagainya. Menurut penuturan penggagas Monumen Pena, almarhumah Atiatoen yang dikuatkan dengan tulisan pelaku Prof. Dr. Djokowoerjo, jejak utama markas darurat adalah keberadaan asrama yang kini bernama Gedung Pertemuan Prabasanti di kompleks Gereja Kristen Jawa di Jalan Pemuda No. 140 (ketika itu masih bernama Jalan Stasiun) Kebumen. Tetapi, dari aspek kultural, khususnya untuk nilai kejujuran penulis sangat menyakini cerita kedua pelaku yang sama-sama kokoh pendirian untuk tetap memelihara "isi" lebih bernilai dari pada bentuk formalitasnya. Apalagi bekas asrama ini masih dipertahankan sesuai dengan bentuk aslinya. Jadi, artefak budayanya menguatkan.

Nama atau sebutan Monumen Pena adalah pengembangan nilai intrinsik dan filosofi gagasan yang semula disebut Tetenger Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade XVII TNI pada Perang Kemerdekaan I - 1947 di Kebumen. Secara ringkas, gagasan membangun monumen ini berasal dari perbincangan sersan (serius tapi santai) dua sahabat yang berkumpul di dalam acara pemancangan tanda bambu runcing di makam Kartiko di Desa Panjer, Kebumen pada awal tahun 2002. Keduanya adalah Atiatoen dan Agustinus. Saat markas darurat beroperasi sekitar 3 (tiga) bulan sejak akhir Mei sampai awal (tanggal 5) September 1947, Atiatoen ditugaskan sebagai staf putri. Sementara itu, Agustinus adalah putra ke 7 Pendeta GKJ, Bapak Reksodihardjo yang meminjamkan rumah dinas kepanditaannya untuk kantor serta aula gereja sebagai asrama markas darurat. Kebetulan, Agustinus berteman akrab dengan kakak kandung Atiatoen yang bernama Affandi atau lebih akrab disebut dengan nama panggilannya : Pandi Gondek. Agustinu dan Pandi Gondek adalah anggota Tentara Pelajar di Markas Kebumen yang terletak di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah I di Jl. Kapt. P. Tendean Kebumen).

Meski jadi anggota TP di Kebumen dan markas darurat berada di lingkungan rumah tinggal orang tuanya, Agustinus jarang sekali berkunjung ke asrama. Apalagi masuk kantor markas darurat. Kecuali jika Pandi Gondek memaksanya singgah untuk bertemu sang adik kandung atau teman seperjuangan yang dikenalnya. Di dalam keluarga Atiatoen, ada tiga orang yang aktif dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Selain mas Pandi dan dirinya, ada seorang kakak kandung Atiatoen yang menjadi petinggi militer di wilayah Kebumen saat itu yakni Achmad Dimjatie sejak awal kemerdekaan (ketika TNI masih bernama BKR - Badan Keamanan Rakyat  atau TKR - Tentara Keamanan Rakyat maupun ketika telah bernama TRI - Tentara Republik Indonesia serta TNI - Tentara Nasional Indonesia). Mas Dim, panggilan akrab Achmad Dimjatie, adalah komandan pasukan TRI saat terjadi pertempuran di desa Sidobunder yang menyebabkan gugurnya 24 orang anggota pasukan pelajar pejuang kemerdekaan (TP). Kesaksian ini pernah diucapkan oleh Anggoro selaku mantan komandan Seksi 320 TP Batalyon 300 dalam acara reuni Keluarga Besar Tentara Pelajar Kedu Selatan di Wisma Ganesha Purworejo tahun 1995.

Kepada penulis, pakde Dimjatie menuturkan cerita pergerakan pasukan pelajar di Front Barat. Beliau juga menguatkan kisah yang pernah diceritakan almarhuman Ibu Atiatoen kepada penulis tentang nama dan sosok seorang Linus Djentamat yang tinggi dan pendiam dari Kalimantan ketika dimintai tolong untuk memetik buah kelapa dan nangka di kebun belakang rumah keluarga untuk menu penghuni asrama markas darurat. Sayang sekali, ketika Bapak Alex Rumambi (almarhum) berkunjung ke rumah, penulis tak dapat menemui beliau karena tengah berada di luar kota. Singkat kata, secara kultural, sejarah keberadaan dan pengoperasian markas darurat dapat dipertanggung-jawabkan.

Perubahan nama Tetenger menjadi Monumen Pena sebenarnya adalah usul penulis kepada penggagas (Ibu Atiatoen) setelah bentuk dasar bangunan selesai dirancang dan disetujui. Secara filosofi, satu bagian penting dari lambang Tentara Pelajar adalah pena bulu yang melukiskan dunia kependidikan adalah dasar utama keberadaan pasukan pelajar atau Tentara Pelajar. Namun bentuk pena yang dipilih adalah pena yang punya mata dan gagang kayu atau sejenisnya. Hasil guratan pena ini sangat tebal atau tegas, menggambarkan ketegasan sikap penggagas tentang kebenaran hakiki.

Selain sisi simbobik di atas, keberadaan pasukan pelajar (pejuang kemerdekaan) telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Bangsa Indonesia menegakkan kemerdekaannya. Buku "Peran Pelajar dalam Perjuangan dan Pembangunan" yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi TNI (1995) dengan segala kekurangannya menguatkan hal itu. Juga beragam karya purna bakti baik berupa monumen, wisma, lembaga pendidikan atau apapun bentuk serta skalanya.
Pena memiliki dua bagian utama. Mata pena dan gagang pena. Dalam posisi terbalik, mata pena ada di bagian atas dan gagangnya di bawah. Mata pena kemudian dibentuk seperti tiara, mahkota bersusun tiga yang menggambarkan periodisasi perjalanan pasukan pelajar ini. Periode pertama adalah ketika pasukan pelajar ini bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan yang diwakili dengan warna coklat gelap. Berikutnya adalah bagian yang menggambarkan posisi pasukan pelajar sebagai bagian dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam wadah Brigade XVII. Dan bagian terakhir yang berwarna hitam adalah periode demobilisasi atau purna bakti. Semua anggota pasukan pelajar diberi pilihan oleh Pemerintah untuk melanjutkan karir di lingkungan militer atau kembali ke bangku sekolah dan kuliah sebagai manusia sipil.

Pada gagang pena juga terdapat penggambaran situasi perjalanan bangsa Indonesia. Yakni fase atau periode penjajahan yang berupa fondasi berkedalaman 0,5 m di dalam tanah dan lantai dasar yang disimbolkan dengan warna hitam  sebagai periode kegelapan. Di lantai yang berbentuk segi empat berwarna dasar hitam dengan garis merah yang memisahkan dua periode kegelapan yaitu periode penjajahan bangsa-bangsa Eropa dan periode pendudukan asing pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai penyerahan kembali kedaulatan pada akhir Desember 1949.

Bagian gagang yang paling utama adalah berbentuk buku terbuka yang berwarna putih bersih. Mewakili masa pencerahan pasca penjajahan asing. Buku adalah sumber ilmu dan kebajikan. Di dalam buku yang terbuka, bangsa Indonesia semestinya mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaannya sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Dengan “buku”, cakrawala pandang kita seharusnya lebih terbuka sebagai bangsa yang maju dan beradab.

Satu hal yang menjadi kado istimewa dalam acara peresmian monumen ini adalah pesan dari pelaku sejarah, Prof. Dr. drh. Djokowoerjo Sastradipradja yang kisah lengkapnya ada di sini kepada penulis via grup Facebook Gematepe. Isinya adalah sebagai berikut:

Ananda Toto  Karyanto dan Generasi Penerus Seangkatannya, Pelaku Pembangunan yang saya kasihi,

Pertama-tama saya ingin menyampaikan apresiasi saya dan saya yakin juga mewakili teman-teman generasi pendahulu pembela proklamasi yang kini masih ada diantara kita maupun yang sudah wafat, atas inisiative anda dan kawan2 yang telah berhasil mendirikan monumen tetenger pada sebuah tapak perjuangan para Ibu-ibu dan Bapak-bapak generasi pejuang di daerah Kebuman/Front Jawa Tengah Selatan pada masa perang kemerdekaan, yaitu Monumen PENA di Kota Kebumen. Kami sangat menghargai prakarsa para penggagas sebab fungsi dari suatu tetenger/monumen adalah begitu besar secara historis maupun futuristik, karena tetenger itu mengingatkan kepada kita-kita yang masih hidup betapa mulianya peran perjuangan generasi terdahulu dalam membela negara, juga megajarkan sebagai suri-tauladan kepada generasi-generasi yang akan datang tentang nilai-nilai luhur sebuah perjuangan dan semangat itu agar membimbing generasi-generasi pendatang dalam tugas pembangunan negara. Semoga Tuhan YME meridloi amal bakti kita semua. Dengan ingatan tertuju ke Kebuman, 10 November 2013, I. Djokowoerjo Sastradipradja  (ex angg. TP Bat. 300 Cie 320 Sie 321 Anggoro).

Jika realita yang terjadi saat ini berbeda dari idealisme kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diperjuangkan dengan pengorbanan nyawa para syuhada, harta benda penduduk, kekayaan alam dan keihlasan berjuang para penegak kemerdekaan; buku sejarah tak salah. Karena kehidupan ini terus berjalan dan kesaksianlah yang harus ditegakkan. Apakah kita yang hidup saat ini akan terus memelihara kebodohan dengan cara suka mengasihani diri dan memperlakukan amanat kemerdekaan bangsa berlalu tanpa makna ? Semua akan kembali ke dalam nurani dan keyakinan pribadi masing-masing. Buku-buku sejarah adalah cermin. Hanya yang “buruk muka” cermin itu menjadi terbelah. 

Bp. Agustinus Reksodihardjo 84 thn tetap bersemangat '45





Tandatanngan serah terima bangunan dari KBTP kepada GKJ

Bp. Pendeta Reksodihardjo





Lurah Panjer dan Ketua DHC '45 Kab. Kebumen



Keluarga besar Bp, Agustinus Reksodihardjo


Bp. dan Ibu Agustinus Reksodihardjo




Penggungtingan pita - saat penting setelah 10 tahun digagas

Tetap semangat dalam kerentaan: Bp Agustinus siap gunting pita



Sosok pejuang kemerdekaan RI - Agustinus Reksodihardjo


Penyerahan sumbangan tanda kasih pelaku sejarah kepada GKJ





Tandatangan serah terima bangunan 2

Siswi SMA Masehi Kebumen ikut hadir

Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

Pengalaman Pertempuran di Sidobunder 2 September 1947

Sketsa GeraK Pasukan TP di Palagan Sidobunder - Imam Soekotjo

Oleh : Imam Soekotjo

Menjelang Subuh, saya dan Djokonomo terbangun karena mendengar rentetan tembakan. Djokonomo berkata, “ wah, aku ngimpi jungkatan, rambutku mbrodholi …rontok kabeh “ (wah…aku bermimpi  sedang bersisir, tapi rambuku rontok semua – pen). Tak lama kemudian dating Soejitno yang member tahu bahwa Regu I diperintahkan untuk menggabungkan diri dengan induk pasukan.

Dalam upaya mengumpulkan semua teman yang saat itu berjaga di pos-pos terpencar, saya berpisah dari Djokonomo. Sehingga Regu I terpecah menjadi dua kelompok kecil. Satu kelompok dipimpin Djokonomo, kelompok kecil lain terdiri dari lima orang yaitu saya, Pramono dan tiga rekan lain. Jarak antara satu dan lain kelompok sekitar 30m. Meninggalkan Dukuh Gringgul ke pusat Desa Sidobunder yang berjarak sekitar 100m.

Ketika kelompok dua mendekati Desa Sidobunder, datang seorang anggota TP (berbaju putih, berkalung sarung dan membawa karaben. Di punggungnya terdapat luka kecil karena terserempet peluru. Ia bilang kalau Belanda sudah menduduki markas kita. Atas kesepakatan dengan kelompok dua, rombongan kami berbelok ke Selatan menerobos sawah melalui tanggul yang terendam air semata kaki). Tujuan kelompok dua adalah menghindari Desa Sidobunder ke desa lain di sebelah Timur.

Saat berada di titik A (lihat gambar), saya dan Pramono terpeleset dari jembatan bambu dan masuk kali berair setinggi dada. Jembatan bambu itu ternyata ikut roboh. Teman lain yang berada di belakang kami kemudian segera masuk parit. Hujan yang turun selama beberapa hari terakhir telah merendam persawahan di Desa Sidobunder.

Kelompok dua meneruskan perjalanan ke titik B yang berada di desa sebelah Utara Sidobunder karena berdasarkan perkiraan kami desa di Timur jaraknya lebih jauh. Di desa Utara itu tidak terdengar ada tembakan. Sejak datang, kami memang belum melakukan pemeriksaan medan.  Perjalanan ke desa di Utara dilanjutkan dan menuju titik C, kemudian menuju ke desa sebelah Timur untuk mencari dan menggabungkan diri dengan induk pasukan. Ternyata, di titik C ini, kami bertemu dengan kelompok lain yang dipimpin Suryoharyono, Djokowoerjo Kiratijo dan Rinanto. Kami tidak tahu bahwa titik C masih berada di Desa Sidobunder sebelah Tenggara. Kami lalu bersepakat menuju desa sebelah melalui pematang sawah untuk menghindari pasukan Belanda.

Baru beberapa langkah meninggalkan pinggir desa, pasukan kami disambut rentetan tembakan senjata otomatis dari desa di sebelah Timur Sidobunder. Teman-teman lari pontang panting, masuk ke desa lagi dan tak lama berselang pasukan Belanda bergerak dengan cara berbanjar menuju posisi kami (titik D) di bawah lindungan tembakan brengun. Kami bersiaga di belakang pepohonan atau semak belukar dan segera melepaskan tembakan kea rah pasukan Belanda itu. Korban di pihak Belanda mulai berjatuhan dan gerak maju mereka terhenti. Beberapa saat berikutnya, serangan pasukan kami mulai mengendur karena beberapa teman telah kehabisan peluru. Tapi ada juga yang senjatanya macet. Melihat kondisi itu, pasukan Belanda bergerak lagi dan menghujani tembakan dengan senjata otomatisnya.

Jumlah peluru yang saya bawa di kantong (howderbak)dari Kebumen hanya 20 butir. Di dalam kontak tembak (voorcontact) ini , saya telah menghabiskan 10 butir dan ada yang mengena sasaran. Setelah peluru habis, di antara kami ada yang menyela,
“ ayo lari ke desa sebelah.. di Selatan”.  
Lalu Suryoharyono berteriak’ “ Jangan bertahan di sini dan terus bertempur. Larilah selagi ada waktu ..”.
Saya melepas lima tembakan lagi, juga Pramono. Gerak pasukan Belanda terhenti lagi. Kami mundur dan terpecah menjadi tiga kelompok. Yaitu kelompok Suryoharyono,  Djokowoerjo dan Rinanto serta beberapa teman. Terakhir adalah kelompok saya, Gunarso, Pramono dan seorang teman.

Ketika kami melewati parit di desa sebelah Selatan (titik E), saya masih sempat melihat Haryono dan beberapa teman sedang mencari tempat persembunyian. Saya dan Pramono lari secepat kilat dan beberapa kali jatuh bangun karena sawah licin dan tanggul yang dilewati tergenang air. Di titik F, kami melihat pasukan yang bergerak secara berbanjar telah leat pinggiran desa menuju ke arah Timur. Kegembiraan muncul karena kami mengira pasukan itu adalah pasukan Republik Indonesia. Begitu melihat mereka berhenti dan menyiapkan serangan, kami tersadarkan bahwa pasukan itu adalah tentara Belanda.
Satu diantara kami berteriak “ Belanda…. !”   

Tak lama berselang, desing peluru membahana di sekeliling kami. Spontan kami tiarap dengan kepala menghadap ke Utara (arah Desa Sidobunder). Rupanya ada tiga anggota kelompok pasukan Suryoharyono yang memisahkan diri dan mencoba bergabung dengan kami. Ternyata, belum sampai tujuan, ketiganya kena tembak dan gugur satu demi satu.  

Tembakan senjata otomatis terus menuju arah posisi kami. Dengan sisa peluru, kami bergantian membalas tembakan satu-satu dan berhasil membungkam dua bendgun. Setiap habis melepas satu tembakan, saya dan teman-teman berguling dan merayap secara bergantian agar dapat segera masuk parit. Saat mendekati Pramono, saya mendengar ia mengaduh. Itulah kata terakhir sebelum ia gugur.

Saya terus merayap, bergerak mundur menjauhi jenasah Pramono sambil membuang senjata yang tak berpeluru lagi. Menggantinya dengan golok yang senantiasa terhunus sambil menunggu dan berpasrah diri kepada Yang Kuasa. Dalam posisi terlentang, saya melepas semua baju, celana dan sepatu. Hanya menyisakan celana dalam yang melekat di tubuh.

Pasukan Belanda terus menghujani posisi kami dengan tembakan senjata otomatis meski tak terdengar ada tembakan balasan. Ketika tembakan berhenti, dari arah belakang, terdengar suara orang berbicara dalam bahasa Madura dan Belanda. Tiba-tiba ada yang berteriak “ angkat tangan (overgeven) !”, tapi saya tetap bertahan dalam posisi tiarap tak bergerak. Pura-pura mati.
Dari sudut mata kanan  yang tak terendam air, saya melihat dua pasang sepatu boot mendekat dan bayonet menyentuh kepala. Saya merasakan kedua bahu ini diangkat dan terdengar suara :
Hy is al dood…” sebanyak dua kali dan menghempaskan tubuhku. Meski sakit, saya tetap tak bersuara. Setelah itu, kepala saya ditendang sebanyak empat kali. Saya bersyukur tidak mengenai mata kanan dan tetap menjaga tak bersuara. Mereka lalu bergerak beberapa langkah, kemudian berhenti dengan tiba-tiba. Mungkin untuk meyakinkan diri bahwa saya telah (dianggap) benar-benar mati.

Matahari terus meninggi dan semakin terik. Tapi saya tetap tak bergerak atau bersuara sedikitpun. Sekitar mendekati waktu shalat Ashar, datang beberapa orang dengan dialek setempat.
“Kang… wis pada mati kabeh (mas…semua telah mati-pen)!”. Mereka terus bercakap-cakap, saya menyimak barangkali ada bahasa lain selain dialek lokal atau bahasa Belanda. Ternyata tidak ada dan saya merasa aman, kemudian menegakkan kepala sambil berkata:
“ Pak…Londo-ne wonten pundi (pak..pasukan Belanda ada di mana? “, saya bertanya kepada mereka.
Orang yang terdekat dengan posisi saya menjukkan kekagetan.
“ lho… isih ana sing urip denekan (lho… ternyata masih ada yang hidup)!’, kata mereka.
“ Iyo … Londo-ne wonten pundi ?”, kata saya mengulang pertanyaan tadi.
“ Teng Ler (di sebelah Utara)”, jawab mereka.
“Sing nang Kidul kono… (yang ada di Selatan..bagaimana) ?”, tanyaku.
“Sampun Ngaler sedaya … (sudah ke Utara semua) “.

Setelah dibantu berdiri, saya minta diantar menuju pasukan kami. Dua orang diantara mereka mengantar saya menuju desa di sebelah Selatan dan melewati jalan yang dipakai pasukan Belanda untuk menyiapkan serangan semalam. Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri melihat jenasah Gunarso. Beberapa orang penduduk masih merawat jenasah teman-teman yang gugur. Kedua orang yang menolong saya, sampai saat ini tak pernah tahu di mana mereka tinggal. 

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Di Balik Nama Monumen Mata Pena



Memberi nama satu tanda peringatan bagi sebuah tempat bersejarah adalah bagian dari tradisi yang berlaku di lingkungan Tentara Pelajar. Penamaan biasanya bermakna simbolik. Misalnya untuk Monumen Palagan Sidobunder yang menggunakan media dua pohon beringin yang diberi nama sesuai pemberian Keraton Yogyakarta. Tradisi yang secara kultural adalah penghormatan atas nilai sosial dan historis.
Seperti telah beberapa kali dipaparkan, memberi nama atas kehadiran/keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I tahun 1947 yang berada di lingkungan GKJ Kebumen bukan hal yang mudah dilakukan. Penulis yang diberi kepercayaan penuh oleh penggagas (Bp. Agustinus Reksodihardjo dan almarhumah Ibu Atiatoen harus belajar jadi “supermankarena tidak punya bekal pengalaman di bidang rancang bangun dan realisasi (pembangunan monumen). Hanya sedikit kebisaan menggabung-gabungkan makna (othak athik waton gathuk lan maton) dari setiap cerita yang berkembang di dalamnya. Setelah jadi rancangan dasar dan disetujui, penulis harus belajar juga jadi perancang bangunan (arsitek), pelaksana teknis (pemborong ?) serta akuntan sekaligus. Dalam posisi seperti ini memang semula ada rasa “keterpaksaan” karena menghadapi banyak kendala: formal (kedua penggagas bukan “petinggi” di masanya), struktural  (ada friksi antara yang asli dan aspal/ asli tapi palsu) dan terutama soal finansial. Dari semua kendala yang terpetakan akhirnya harus mampu dikalahkan oleh kesadaran untuk melakukan darma bakti kepada orang tua dan bangsa/negara khususnya tanggung-jawab kemanusiaan atas sejarah peradaban manusia Indonesia yang jadi pokoknya.

Penjelasan Umum:

1.    Keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat adalah nyata, setidaknya diakui oleh para pelaku (selain oleh kedua penggagas) dan dibuktikan dengan adanya monumen Palagan Sidobunder yang diresmikan awal tahun 1982.
2.   Kandungan nilai historis (dibuktikan dari usaha keluarga pelaku : Herman Fernandez) dan cerita pelaku yang banyak disebut (Bp. Alex Rumamby, mantan Dubes RI untuk Swiss yang pernah berkunjung dan menguatkan cerita alm. Ibu Atiatoen) dan dikuatkan oleh tulisan yang disusun sendiri oleh pelaku: Bp. Djokowoerjo Sastradipradja, Prof;Dr;drh; RIM, serta menjadi salah satu referensi penting bagi penyusunan buku sejarah: Peran Pelajar dalam Perang Kemerdekaan yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi Angkatan Bersenjata RI cetakan I tahun 1985.
3.   Penggagas utama (alm. Ibu Atiatoen) adalah staf putri yang bertugas mengurus “urusan belakang (dapur umum dan kepalangmerahan) dan sering dipandang sebelah mata karena bukan kombatan yang selalu berada di garis depan. Sementara penggagas yang lain, Bp. Agustinus Reksodihardjo bukan tokoh penting di seputar penempatan Markas Darurat maupun front Barat selain sebagai putra Pendeta Reksodihardjo yang memberi ijin lisan pemanfaatan rumah dinasnya sebagai kantor markas dan aula GKJ untuk asrama markas.
4.   Cerita (penuturan lisan) mantan Wakil Komandan Markas Tentara Pelajar Kebumen, Bp. David Sulistianto kepada penulis dalam satu kesempatan tatap muka di Yogyajarta 1983-1985. Nama ini juga sering disebut oleh petinggi KODM Kebumen saat itu, Achamd Dimjatie, yang kebetulan adalah kakak kandung penggagas (Atiatoen) dan berperan penting dalam penempatan pasukan TNI (TRI) di Palagan Sidobunder.

Dari berbagai sumber itu, kemudian saya coba maknai dengan pembuatan desain dasar seperti yang dapat dipaparkan pada gambar di bawah ini:

1.       Nama-nama yang diusulkan:
a.      Tetenger Patilasan Bekas Rumah Perjuangan Tentara Pelajar di Front Barat (Gombong Selatan) pada Perang Kemerdekaan ke 1 tahun 1947.
b.      Monumen Mata Pena.
2.       Ijin pembangunan dari GKJ (dokumen asli disimpan oleh Ibu Amini Soeroto selaku warga GKJ Kebumen dan dipercaya oleh kedua penggagas utama).
3.      Penggalangan Dana.
4.      Pembangunan Fisik.
5.      Pemeliharaan.
6.      Peresmian dan serah terima.

Pada tulisan ini, butir ke 2 sampai 6 tidak dibahas.



 Penjelasan Singkat tentang Nama Monumen Mata Pena

Mata (biasa disebut juga dengan istilah: kepala) pena adalah bagian terpenting dari sebuah pena yang digunakan untuk menorehkan tulisan, gambar dan lain-lain. Mata pena melambangkan asal  Tentara Pelajar dari kaum terdidik yang akhir-akhir ini sering disebut sebagai masyarakat madani (civil society). Di banyak tempat, mereka adalah pembaru dan pendobrak.
Tentara Pelajar di Indonesia adalah satu-satunya yang ada di dunia. Di negara lain, kaum terdidik yang dijadikan tentara adalah peserta wajib militer yang dibentuk dan dipanggil oleh pemerintah/ negaranya  untuk melakukan tugas-tugas kemiliteran di dalam maupun luar negeri. Sementara itu, Tentara Pelajar ada karena inisiatif sendiri (panggilan jiwa/nurani)  kaum terdidik dalam menjawab situasi dan kondisi negara saat itu.

Mata Pena pada monumen ini bersusun tiga sesuai pembagian masa:
  1. Masa perjuangan, ketika para anggota Tentara Pelajar berperan dalam perjuangan menegakkan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 antara 1946 – 1950/51) yaitu rentang waktu terbentuk, beraktivitas dan demobilisasi. Masa ini dilambangkan dengan warna tanah (sand) yang berarti keberadaan Tentara Pelajar adalah untuk tanah air-nya.
  2. Masa aktif adalah masa-masa yang dilalui para (bekas) Tentara Pelajar setelah demobillisasi baik di lingkungan sipil maupun militer sesuai pilihan masing-masing. Masa ini dilambangkan dengan warna hijau muda yaitu masa aktif masing-masing (bekas) anggota Tentara Pelajar dalam berkiprah di masyarakat. Sebagai kaum terdidik, mereka memiliki kontribusi nyata di lingkungannya (secara umum).
  3. Masa purna bakti yaitu masa-masa setelah batas masa aktif (pensiun secara umum) dilambangkan dengan hitam.


Gagang Pena terdiri dari dua bagian yaitu : 
  1. Utama (yang biasa dipegang) berbentuk buku terbuka, melambangkan keterbukaan wawasan kaum terdidik yang berpijak pada ilmu pengetahuan dan teknologi (pengertian umum). Buku juga dimaksudkan sebagai catatan sejarah. Digambarkan dengan warna putih yang berarti suci. Bahwa buku adalah simbol peradaban manusia modern yang semestinya bersih dari sifat-sifat kotor manusia: sombong, tamak dll. 
  2. Ujung gagang sebagai faktor penyeimbang. Dalam hal ini dilambangkan mewakili masa pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Disusun dalam dua bagian. Bagian terbawah berwarna hitam (masa penjajahan) dan kelabu (masa pergerakan nasional).

 Demikian gambaran sekilas tentang makna di balik nama Monumen Mata Pena.

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Rencana Pemasangan Prasasti Monumen Mata Pena


Monumen Mata Pena yang menjadi tanda keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I, 1947 secara fisik telah selesai dibuat dalam jangka waktu lebih dari 6 tahun sejak peletakan batu pertama awal Maret 2002. Monumen ini digagas oleh alm. Ibu Atiatoen yang saat itu bertugas sebagai Staf Putri, melengkapi kepengurusan markas yang diketuai oleh Moedojo dan Tjiptardjo dari Markas Pusat Pelajar Tugu Kulon Yogyakarta, bersama Bapak Agustinus Reksodihardjo yang merupakan putra pendeta GKJ saat itu, Reksodihardjo. Cerita tentang hal ini ada di sini

Meski telah diselesaikan, Monumen Mata Pena belum diresmikan dan diserah-terimakan kepada Majelis maupun warga GKJ yang memiliki otoritas atas lahan dan bangunan di kompek gereja tsb. Karena itu, Bapak Agustinus Reksodihardjo selaku penggagas mengutus anggota keluarganya, mas Samikun,  untuk berkordinasi dengan saya selaku ahli waris almarhumah Ibu Atiatoen. Pertemuan singkat kami, saya diharapkan menyiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan rencana peresmian tanggal 2 September 2013. Satu materi yang kami bahas adalah pembuatan prasasti sebagaimana layaknya kelengkapan suatu monumen atau tugu peringatan. Mengingat kondisi kesehatan Bapak Agustinus Reksodihardjo dan anggota TP lain yang masih hidup relatif terganggu karena faktor usia, maka untuk memudahkan penyamaan persepsi dengan semua pihak yang mengetahui hal ihwal Monumen Mata Pena dimohon kesediaannya untuk mencermati dan mengoreksi rancangan bentuk maupun isi prasasti.



Bahan untuk membuat Prasasti dipilih antara batu pualam (marmer putih) atau batu alam. Ada dua prasasti yang akan dipasang pada dinding dalam Monumen Mata Pena yaitu :

  1. Persembahan dari TP untuk warga GKJ Kebumen sebagai ungkapan terima kasih keluarga besar ex Tentara Pelajar Bridgade XVII yang telah membantu upaya pengoperasian Markas Darurat.
  2. Prasasti tentang nana-nama anggota Tentara Pelajar yang gugur dalam pertempuran di sekitar desa Sidobunder pada Perang Kemerdekaan RI. Daftar nama yang akan dicantumkan adalah daftar yang disusun oleh Bp. Djokowoerjo Sastradipradja selaku pelaku yang  selamat dan  menjadi petunjuk jalan pencarian serta pengambilan jenasah korban. Kisah selengkapnya ada  di sini
Rincian isi tulisan dalam Prasasti Persembahan (1) maupun Nama Anggota TP yang gugur di Palagan Sidobunder adalah sebagai berikut:


Utusan Bp. Agustinus Reksodihardjo, mas Samikun (kanan) 

Peresmian direncanakan akan dilaksanakan pada hari/tanggal : Senin, 2 September 2013 sekaligus memperingati 66 tahun Pertempuran Sidobunder 2 September 1947. Dalam sisa waktu sekitar 4 bulan, kami berharap ada masukan dari para pelaku dan/atau anggota keluarga pelaku agar dapat menyempurnakan niat memuliakan para syuhada Tentara Pelajar yang gugur di medan laga tsb demi tegaknya NKRI dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Semoga. 

Posted in , , , , , , | 4 Comments Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN NEGARA DAN BANGSANYA Bagian II

Perundingan di atas Kapal Renville


Peran Pelajar Pejuang dalam Perang Kemerdekaan

Pelajar pejuang mengambil prakarsa melatih para pemuda di desa-desa untuk melaksanakan strategi pertahanan rakyat semesta. Yang berasal dari Sekolah Teknik dalam Tentara Genie pelajar berprakarsa membuat senjata diantaranya granat tangan, tekidanto, bom Molotov, bom tarik dan sebagainya. Pemuda Pelajar yang kemudian bernama dalam Tentara Pelajar mengintegrasikan diri dengan kekuatan perjuangan lain dan ikut aktif dalam berbagai front seperti Jrakah, Candiroto dan Ambarawa di Semarang. Penugasan ke front dilakukan secara bergilir dan gabungan antar pasukan. Bagi yang belum mendapat giliran akan dibekali dengan pemahaman tentang strategi pertahanan rakyat semesta (people defense), bela Negara dan teknik-teknik kemiliteran seperti membuat rintangan di jalan, lubang-lubang perlindungan, pengumpulan bahan makanan dan sebagainya. Pada umumnya, para pemuda dan pelajar yang tidak ikut bergabung dalam pasukan-pasukan organik Tentara Pelajar, bergabung dengan KODM (Komando Order Distrik Militer) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Di pagi buta, 21 Juli 1947, pasukan Belanda melakukan aksi polisionil di berbagai tempat. Mojokerto, Malang dan Salatiga berhasil diduduki satu per satu. Pasukan Belanda yang ada di kota Semarang bergerak menuju Solo, tetapi berhasil dihambat di Salatiga oleh TNI dan laskar pejuang lainnya. Di Tenggara hanya sampai Kedungjati. Pasukan yang bergerak di sisi Timur hanya sampai di Tanggulangin, sebelum masuk kota Kudus. Sementara itu, gerak pasukan Belanda juga dihambat oleh Tentara Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati). Dengan sistem bergilir, semakin banyak anggota pasukan Tentara Pelajar meninggalkan bangku-bangku sekolahnya dengan satu tekad atau sumpah “ Kami tidak akan kembali ke bangku sekolah sebelum tentara penjajah enyah dari bumi Indonesia”.   Tugas Tentara Pelajar selain menahan laju pasukan Belanda bersama TNI, juga melakukan sabotase, penghadangan dan gangguan terhadap pos-pos atau markas pasukan Belanda.

Ciase Fire (Gencatan Senjata)

Atas perintah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK – PBB), terhitung sejak             1 Agustus 1947 diadakan gengcatan senjata di bawah pengawasan Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia dan Belgia. Perundingan dilaksanakan di atas kapal Renville milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) pada tanggal 8 Desember 1947. Isi perjanjian Renville diantaranya adalah agar pasukan gerilya ditarik dari daerah-daerah kantong ke wilayah RI. Meski sangat mengecewakan para pejuang, tetapi komando Jenderal Sudirman selaku panglima besar tetap dipatuhi. Saat-saat seperti itu biasanya dimanfaatkan oleh sebagian anggota Tentara Pelajar untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat atau yang terdekat dengan pos mereka. Kesiap-siagaan terhadap kemungkinan adanya serangan dadakan dari pasukan Belanda tetap dilakukan di pos atau markas masing-masing mengingat pengalaman atas kelicikan tentara penjajah tsb.  Satu diantara banyak saksi bisu atas kelicikan tentara penjajah Belanda diabadikan sebagai nama jembatan kereta api di kota Kebumen (pen).

Tugu Renville

Jembatan Renville

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia