Tampilkan postingan dengan label Monumental. Tampilkan semua postingan

Gema Purna Bakti I



Ada satu kebiasaan yang sampai sekarang sulit saya pahami dari tradisi di lingkungan (bekas) Pelajar Pejuang Kemerdekaan atau yang lebih dikenal dengan nama Tentara Pelajar (termasuk semua sebutan serupa : TRIP, TGP, SA/SCA, TPS, IMAM dan sebagainya). Meski jadi anak keturunan langsung, mereka selalu menyapa dengan sebutan mas atau mbak. Kalau ada sebutan lain, misalnya zus, hampir dapat dipastikan ia bukan pelaku. Mungkin suami atau istri pelaku. Dengan sebutan ini tak ada sekat sosial yang membatasi meski jabatan formal atau strata sosialnya lebih tinggi. Ikatan batin mereka sangat kuat bagi yang pernah mengalami peristiwa khusus bersama dan cukup lama.
Tradisi lain adalah memberikan “tanda penghargaan” baik bagi anggota/kesatuan maupun masyarajat umum. Dalam pengantar buku “Peringatan Palagan Sidobunder” (1984, Paguyuban III-17) dan Air Minum Lempuyang (1987), mas Mui selalu tampil sebagai penulisnya. Di antara beragam isi, saya sangat tertarik dengan penjelasan di bawah ini.

Apa perlunya memperingati ?

Tidak cukup sehari untuk mengupas jawaban atas pertanyaan itu. Yang jelas, bagi warga PERPIS (Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi) dan warga Tentara Pelajar Batalyon 300, peristiwa Palagan Sidobunder adalah kenang-kenangan khusus.  Ijinkan saya mengutip pidato La Sinrang berikut:
" ...berhentinya perlawanan kita terhadap musuh karena sudah tidak ada sebutir pelurupun yang kita miliki. ...... sejarah dan Bangsa memberi predikat Pahlawan kepada teman-teman yang gugur di Sidobunder sini pada tanggal 2 September 1947, tiga puluh tahun yang lalu.
Kita semua, terutama adik-adik remaja patut kiranya mengikuti jejak mereka. Tidak hanya di tahun 1947 pahlawan diperlukan. Tanah air memerlukan pahlawan pada masa sekarang dan masa-masa mendatang. Kepahlawanan tidak harus sama dan sebangun dengan tahun 1947....." 

Demikianlah pidato 
La Sinrang  di hadapan jemaah anjangsana di Sidobunder sini pada 20 Desember 1979.

Mengapa berterima-kasih?

Terima kasih terhadap mental emas serta budi luhur warga Sidobunder yang telah menganggap dan memperlakukan kami sebagai anak kandung sendiri.
.. kalau tadi saya tak kuat menahan air mata saking mongkog mendengar ucapan “ ..hutang TP kepada rakyat semasa Perang Kemerdekaan dahulu sungguh besar, … semoga hutang itu terbayar lunas sebelum maghrib…”
Sebenarnya hutang yang besar adalah hutang kami seangkatan TP, sampai saat ini kami belum mampu mencicilnya sama sekali (mBah Tlepong, mantan Lurah Desa Sugihwaras Buayan Kebumen, 12 Peberuari 1982).

Dialog sederhana yang menyiratkan makna sangat mendalam. TP yang saat itu masih remaja atau menjelang dewasa adalah pasukan yang dibentuk oleh para pelajar sendiri dari berbagai sekolah menengah, umum maupun kejuruan. Sebagian besar diantaranya hanya berlatih dasar-dasar kemiliteran seperti baris barbaris, pengenalan beberapa jenis  senjata, bela diri dan kepalangmerahan dalam waktu singkat sekitar dua atau tiga minggu. Waktu pelatihan dilaksanakan setelah masa ujian/ulangan catur wulan. Jadi tidak mengganggu proses belajar dan mengajar. Begitu penuturan almarhumah Ibu Atiatoen yang pernah menjabat sebagai Staf Putri di Markas Darurat Front Barat tahun 1947.

Setelah masa bakti dinyatakan berakhir secara formal, semua anggota TP diberi pilihan melanjutkan sekolah atau karir militer dalam satu fase yang disebut masa demobilisasi yang dimulai kwartal pertama 1951 sampai beberapa bulan kemudian. Ada yang jadi sarjana dan guru besar seperti Kusnadi Hardjasumantri (UGM), Koento Wibisono (UNS) dan Djokowoerjo Sastradipradja (IPB). Sementara yang berkarir di militer di antaranya adalah Rusmin Nuryadin (AU) dan Solichin GP (AD). Ketika berkumpul, mereka akan melepas semua atribut formalnya. Semua saling menyapa dengan sebutan mas/mbak (tidak seperti sekarang yang banyak membanggakan gelar dibanding bertanggung-jawab atas sebutan itu). Satu tradisi yang menggambarkan suasana akrab dan saling menghargai. Cermin kehidupan kaum terdidik yang menjunjung tinggi adab.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian di atas adalah kerendahan hati para mantan anggota Pelajar Pejuang Kemerdekaan adalah penghormatan bagi warga masyarakat yang pernah disinggahi beberapa saat lamanya. Terutama ketika berhadapan dengan situasi genting dan penting selalu diingat sebagai “hutang” yang harus dilunasi sebelum ajal tiba atau berkurang drastis kemampuan sosialnya. Prosesi “bayar utang” seringkali berujung fasilitas umum semisal balai dan kantor desa (Sidobunder, Kebumen), bak penampungan air minum (Lempuyang, Temanggung) serta sejumlah monumen/ tugu peringatan (Rejodani, Sleman) dan makam khusus (Wareng, Purworejo). Atau sekolah (SMAN 1 Purworejo) serta penginapan/wisma (Ganesha, Purworejo) dan sebagainya.

Keunikan pasukan kaum terdidik ini sebenarnya sangat banyak. Tapi tidak semuanya mampu dipertahankan maknanya karena tergilas jaman yang tiada berarah. Entah sebab apa, hanya sedikit anak keturunan mereka yang bersedia secara suka rela dan konsisten memelihara tradisi adab tadi.  Sementara itu, yang masih melakukan sering berbentur tembok kesombongan sectarian dalam segala bentuk dan nuansanya. Bagi mereka “ kesetiaanku pada bangsa dan tanah air dari buaian sampai liang lahat” memang banyak terbukti. Mungkin hanya seorang Kusni Kasdut yang melanggarnya. Atau banyak yang tersembunyi ? Wallahu a’lam bissawab. 
Tulisan yang sama ada di  sini

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Rencana Pemasangan Prasasti Monumen Mata Pena


Monumen Mata Pena yang menjadi tanda keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I, 1947 secara fisik telah selesai dibuat dalam jangka waktu lebih dari 6 tahun sejak peletakan batu pertama awal Maret 2002. Monumen ini digagas oleh alm. Ibu Atiatoen yang saat itu bertugas sebagai Staf Putri, melengkapi kepengurusan markas yang diketuai oleh Moedojo dan Tjiptardjo dari Markas Pusat Pelajar Tugu Kulon Yogyakarta, bersama Bapak Agustinus Reksodihardjo yang merupakan putra pendeta GKJ saat itu, Reksodihardjo. Cerita tentang hal ini ada di sini

Meski telah diselesaikan, Monumen Mata Pena belum diresmikan dan diserah-terimakan kepada Majelis maupun warga GKJ yang memiliki otoritas atas lahan dan bangunan di kompek gereja tsb. Karena itu, Bapak Agustinus Reksodihardjo selaku penggagas mengutus anggota keluarganya, mas Samikun,  untuk berkordinasi dengan saya selaku ahli waris almarhumah Ibu Atiatoen. Pertemuan singkat kami, saya diharapkan menyiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan rencana peresmian tanggal 2 September 2013. Satu materi yang kami bahas adalah pembuatan prasasti sebagaimana layaknya kelengkapan suatu monumen atau tugu peringatan. Mengingat kondisi kesehatan Bapak Agustinus Reksodihardjo dan anggota TP lain yang masih hidup relatif terganggu karena faktor usia, maka untuk memudahkan penyamaan persepsi dengan semua pihak yang mengetahui hal ihwal Monumen Mata Pena dimohon kesediaannya untuk mencermati dan mengoreksi rancangan bentuk maupun isi prasasti.



Bahan untuk membuat Prasasti dipilih antara batu pualam (marmer putih) atau batu alam. Ada dua prasasti yang akan dipasang pada dinding dalam Monumen Mata Pena yaitu :

  1. Persembahan dari TP untuk warga GKJ Kebumen sebagai ungkapan terima kasih keluarga besar ex Tentara Pelajar Bridgade XVII yang telah membantu upaya pengoperasian Markas Darurat.
  2. Prasasti tentang nana-nama anggota Tentara Pelajar yang gugur dalam pertempuran di sekitar desa Sidobunder pada Perang Kemerdekaan RI. Daftar nama yang akan dicantumkan adalah daftar yang disusun oleh Bp. Djokowoerjo Sastradipradja selaku pelaku yang  selamat dan  menjadi petunjuk jalan pencarian serta pengambilan jenasah korban. Kisah selengkapnya ada  di sini
Rincian isi tulisan dalam Prasasti Persembahan (1) maupun Nama Anggota TP yang gugur di Palagan Sidobunder adalah sebagai berikut:


Utusan Bp. Agustinus Reksodihardjo, mas Samikun (kanan) 

Peresmian direncanakan akan dilaksanakan pada hari/tanggal : Senin, 2 September 2013 sekaligus memperingati 66 tahun Pertempuran Sidobunder 2 September 1947. Dalam sisa waktu sekitar 4 bulan, kami berharap ada masukan dari para pelaku dan/atau anggota keluarga pelaku agar dapat menyempurnakan niat memuliakan para syuhada Tentara Pelajar yang gugur di medan laga tsb demi tegaknya NKRI dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Semoga. 

Posted in , , , , , , | 4 Comments Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN NEGARA DAN BANGSANYA Bagian II

Perundingan di atas Kapal Renville


Peran Pelajar Pejuang dalam Perang Kemerdekaan

Pelajar pejuang mengambil prakarsa melatih para pemuda di desa-desa untuk melaksanakan strategi pertahanan rakyat semesta. Yang berasal dari Sekolah Teknik dalam Tentara Genie pelajar berprakarsa membuat senjata diantaranya granat tangan, tekidanto, bom Molotov, bom tarik dan sebagainya. Pemuda Pelajar yang kemudian bernama dalam Tentara Pelajar mengintegrasikan diri dengan kekuatan perjuangan lain dan ikut aktif dalam berbagai front seperti Jrakah, Candiroto dan Ambarawa di Semarang. Penugasan ke front dilakukan secara bergilir dan gabungan antar pasukan. Bagi yang belum mendapat giliran akan dibekali dengan pemahaman tentang strategi pertahanan rakyat semesta (people defense), bela Negara dan teknik-teknik kemiliteran seperti membuat rintangan di jalan, lubang-lubang perlindungan, pengumpulan bahan makanan dan sebagainya. Pada umumnya, para pemuda dan pelajar yang tidak ikut bergabung dalam pasukan-pasukan organik Tentara Pelajar, bergabung dengan KODM (Komando Order Distrik Militer) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Di pagi buta, 21 Juli 1947, pasukan Belanda melakukan aksi polisionil di berbagai tempat. Mojokerto, Malang dan Salatiga berhasil diduduki satu per satu. Pasukan Belanda yang ada di kota Semarang bergerak menuju Solo, tetapi berhasil dihambat di Salatiga oleh TNI dan laskar pejuang lainnya. Di Tenggara hanya sampai Kedungjati. Pasukan yang bergerak di sisi Timur hanya sampai di Tanggulangin, sebelum masuk kota Kudus. Sementara itu, gerak pasukan Belanda juga dihambat oleh Tentara Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati). Dengan sistem bergilir, semakin banyak anggota pasukan Tentara Pelajar meninggalkan bangku-bangku sekolahnya dengan satu tekad atau sumpah “ Kami tidak akan kembali ke bangku sekolah sebelum tentara penjajah enyah dari bumi Indonesia”.   Tugas Tentara Pelajar selain menahan laju pasukan Belanda bersama TNI, juga melakukan sabotase, penghadangan dan gangguan terhadap pos-pos atau markas pasukan Belanda.

Ciase Fire (Gencatan Senjata)

Atas perintah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK – PBB), terhitung sejak             1 Agustus 1947 diadakan gengcatan senjata di bawah pengawasan Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia dan Belgia. Perundingan dilaksanakan di atas kapal Renville milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) pada tanggal 8 Desember 1947. Isi perjanjian Renville diantaranya adalah agar pasukan gerilya ditarik dari daerah-daerah kantong ke wilayah RI. Meski sangat mengecewakan para pejuang, tetapi komando Jenderal Sudirman selaku panglima besar tetap dipatuhi. Saat-saat seperti itu biasanya dimanfaatkan oleh sebagian anggota Tentara Pelajar untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat atau yang terdekat dengan pos mereka. Kesiap-siagaan terhadap kemungkinan adanya serangan dadakan dari pasukan Belanda tetap dilakukan di pos atau markas masing-masing mengingat pengalaman atas kelicikan tentara penjajah tsb.  Satu diantara banyak saksi bisu atas kelicikan tentara penjajah Belanda diabadikan sebagai nama jembatan kereta api di kota Kebumen (pen).

Tugu Renville

Jembatan Renville

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN NEGARA DAN BANGSANYA - BAGIAN I




Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kepeloporan pemuda sebelum abad 19, maka dalam mengungkapkan kepeloporan pemuda pelajar sebagai cukilan sejarah, kami hanya akan memulai dari peristiwa yang terjadi pada abad 19. Lahirnya Boedi Oetomo (BO), 20 Mei 1908, yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Kebangkitan Nasional, hidup di jaman kolonial. Karena itu, gerakan nasionalisme untuk membela bangsanya dari penindasan dan kemiskinan yang mereka lakukan tidak terang-terangan. BO yang dipimpin oleh Soetomo melakukan diskusi tentang penderitaan dan masa depan bangsanya. Gerakan BO membangkitkan jiwa kebangsaan para muda dan mendapat dukungan luas dari berbagai organisasi yang seazas. Maka, di Jakarta dalam arahan pemuda Satiman, Kadarman dan lain-lain membentuk satu organisasi yang diberi nama Trikoro Dharmo yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java. Tujuan organisasi pemuda pelajar ini adalah kebebasan bangsa dan negaranya dari penjajahan Belanda. Pergerakan Jong Java mendorong pertumbuhkan kesadaran atas kebangsaan di berbagai pulau dengan berdirinya Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon dan Jong Islamieten Bond yang dilahirkan oleh para Pemuda Muslim. Mereka kemudian mendirikan Perhimpunan Masa Muda Indonesia yang selanjutnya diubah menjadi Jong Indonesia. Inilah cikal bakal berdirinya organisasi Pemuda Indonesia yang menyelenggarakan Kongres Pemuda I di tahun 1926 dan II pada 27 dan 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Kepeloporan pemuda menuju kemerdekaan bangsa dan negaranya juga terjadi di luar negeri, yakni Belanda.  Moch. Hatta dan kawan-kawan mendirikan Perhimpunan Indonesia yang terdiri dari para mahasiswa dan pelajar yang  tengah menimba ilmu di negeri kincir angin itu. Pecahnya Perang Dunia II menyebabkan penyerahan kekuasaan atas tanah air Indonesia dari Belanda kepada Jepang pada 28 Maret 1942.



Masa Ujian Berat bagi Pemuda – Pelajar Indonesia   

Dengan dalih demi kejayaan “ Dai Tooa (Asia Timur Raya)”, para pemuda dan pelajar dilatih keprajuritan secara paksa. Kehidupan rakyat kian berat dan sengsara. Kekayaan alam dikuras habis dan tenaga rakyat ditindas dengan kerja paksa tanpa bayar (romusha). Situasi yang demikian beratnya justru menumbuhkan semangat perlawanan para pemuda dan pelajar untuk memerdekakan diri dan bangsanya.  Oleh para pemimpin pemuda, pelajar dan rakyat, situasi itu dimanfaatkan untuk membentuk Barisan Pemuda ( Seinendan ), Pembantu Polisi  (Keibodan), Barisan Pelopor (Gyugun Syuinsintai), Pembantu Balatentara Jepang  (Heiho), dan Pembela Tanah Air  (Peta). Para pelajar juga membentuk perhimpunan yang disebut Syoto Chugakko  (SMP) dan Chugakko  (SMA/SMK). Mereka dilatih kyoren (latihan dasar kemiliteran) dan kendo (memakai pedang kayu). Satu peristiwa penting dalam masa penjajahan Jepang adalah pemberontakan Peta di Blitar yang dipimpin oleh Supriyadi. Kekejaman penjajahan Jepang di tanah air berakhir ketika tentara sekutu yang dipimpin Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 14 dan 15 Agustus 1945. Atas hal itu, sebagian besar balatentara Jepang pulang ke tanah airnya. Tetapi sebagian kecil masih bertahan di benteng-benteng pertahanan bawah tanah atau gua-gua yang telah mereka siapkan untuk upaya penyelamatan diri (bersembunyi). 



Posted in , , , , , , , , | 1 Comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

Pendidikan Yang Tercerabut dari Akarnya



Pendidikan dan kebudayaan ibarat dua sisi mata uang. Jika satu sisinya diabaikan, mata uang itu tak bernilai lagi. Dan itulah yang terjadi akhir-akhir ini di sekeleliling kita.

Dunia pendidikan nasional adalah indikator utama maju mundurnya suatu bangsa. Ki Hadjar Dewantara menggagas filosofi pendidikan nasional sebagai tata nilai dari ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. Di depan memberi contoh, di tengah menyemangati dan di belakang memberi dorongan. Maknanya sangat jelas yaitu arah yang ingin dituju dalam menyelenggarakan pendidikan adalah menjadikan manusia Indonesia bermartabat. Dihargai setara dengan manusia lain di seluruh penjuru dunia. Khususnya dengan bangsa-bangsa yang telah maju di Eropa dan Amerika Serikat. Dan itu pula alasan para pejuang terus bergiat menyuarakan dan mewujudkan kemerdekaan bangsa.

Sejak kemerdekaan Bangsa Indonesia dikumandangkan 17 Agustus 1945, dunia pendidikan nasional memang berjalan. Beragam lembaga pendidikan baik formal maupun non formal terus bertumbuh dan berusaha menjawab dinamika perkembangan kehidupan masyarakat. Saat ini, di hampir semua  tempat ada lembaga pendidikan setidaknya untuk tingkat dasar. Bahkan ada upaya  dari kalangan muda yang sangat patriotik dan berwawasan ke depan melalui program Indonesia mengajar (lihat di : https://indonesiamengajar.org/ ) yang digagas oleh ilmuwan dan Rektor Universitas Paramadina Jakarta serta mantan aktivis kampus, Dr. Anis Baswedan. Beliau mengaku dekat dan terinspirasi oleh upaya mantan anggota Tentara Pelajar (TP) yang juga Rektor Universitas Gadjahmada Yogyakarta, Prof. Dr. Kusnadi Hardjasumantri,SH yang telah mengawali program PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) dalam upaya mengatasi kesenjangan pendidikan di tingkat SMA khususnya di luar Pulau Jawa.  



Sebagai pribadi yang pernah mengenal Pakde Kus, panggilan akrab Prof. Kusnadi, saya memang tidak begitu dekat dengan beliau. Tetapi pada satu kesempatan diskusi antar generasi yang digagas oleh Persatuan Keluarga Besar  Pelajar Pejuang Kemedekaan (PKBPPK) di Wisma Fadel Jakarta setelah perayaan hari Kemederkaan RI ke 45 di Istora Senayan sehari sebelumnya yang sangat akbar itu, saya menanyakan tentang arah yang ingin dicapai dari reuni atau pembentukan organisasi/ paguyuban ex TP. Dengan nada khas, beliau menjawab pertanyaan itu bahwa reuni adalah hak kami (anggota ex TP/PPK). Soal regenerasi adalah proses alamiah yang memerlukan inisiatif bersama dan bukan masalah kontekstual semacam KKN sekarang. Meski sangat kecewa, saya dapat memahami makna jawaban itu.

PTM dan Indonesia Mengajar adalah inisiatif warga bangsa yang sadar dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan gagasan Ki Hadjar Dewantara yakni manusia Indonesia yang cerdas dan bermartabat. Memacu kecerdasan tanpa fondasi budaya yang kokoh berakibat manusia kehilangan jati dirinya sebagai mahluk sosial dan berderajat tertinggi di antara semua mahluk ciptaan Sang Khalik. Kondisi inilah yang tengah berlangsung di dunia pendidikan nasional Indonesia di semua tingkatan. Pendidikan yang tercerabut dari akarnya yaitu kebudayaan.

Mari kita cermati realita kehidupan yang ada di sekitar. Lembaga pendidikan formal hanya mengejar angka kredit agar dapat mencapai predikat tertinggi dengan segala cara. Peserta didik dicekoki dengan beragam materi pengetahuan dengan jadwal pertemuan yang sangat ketat. Program full day school mendadak jadi popular dan trend setter. RSBI (Rancangan Sekolah Berbasis Internasional) seolah jadi barometer kemajuan tanpa memedulikan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Yang penting berlabel go international dan menerapkan perbanyakan materi berbahasa Inggris. Biar lengkap, setiap peserta didik harus memiliki laptop atau notebook seperti yang terlihat di negara-negara maju. Internet adalah satu referensi penting dalam mengisi materi di kelas. Tapi, semua bentuk penonjolan "keunggulan" itu hanya artifisial. Mereka kemudian menjadi asyik dengan diri dan komunitas kecilnya. Tak heran menjadikan pola pikir dan terutama pola tindak cenderung terkotak di sekitarnya saja. Dunia yang begitu luas ini seolah dapat dieliminasi dengan kotak itu.

Kebiasaan meng-copy paste atau klik kanan seolah menjadi hal yang tak perlu dirisaukan dampak negatifnya bagi perkembangan otak dan kepribadian peserta didik. Ditambah dengan gaya hidup orientatif sempit (sekadar menonjolkan bentuk dan melupakan isi), generasi muda Indonesia saat ini cenderung manja, cengeng, acuh dan pragmatis. Tak perlu bersusah payah memahami etika untuk disebut “bermartabat”. Apalagi memahami budaya nasional yang terlanjur dikesankan hanya menonjolkan sisi artefaknya. Sementara itu, nilai kearifan yang ada di dalam budaya biarlah diurus oleh para budayawan. Tanpa mengenal budaya nasional atau lokal, orientasi  peserta didik adalah mengisi dunia kerja dengan bekal sertifikat formal. Akibatnya, semakin hari kian banyak orang bangga dengan gelar atau sebutan formal dari pada menghargai jerih payah orang lain yang meniti perjalanan hidupnya satu demi satu tangga. Toh dengan cara instan dan berbayar semua hal dapat diselesaikan. Dan… inilah buah karya Rafles dalam karya sastra Bambang Oeban “Tembang Negeri Terjajah”. Kemana hilangnya makna kemerdekaan yang diperjuangkan anak-anak bangsa dan bukan pemberian bangsa asing itu ???

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Donasi GeMaTePe


Saya memberanikan diri memasang "Donasi GeMaTePe" untuk mengumpulkan dana dari para pengunjung dan pembaca blog ini. Dana yang terkumpul dalam rekening Bank BRI Cabang Kebumen Kota No. 003201032491505 atas nama R. Toto Karyanto, SE. Dana ini akan disalurkan untuk melakukan berbagai aktivitas :
  1. Pemeliharaan monumen/ tugu peringatan atau tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan Tentara Pelajar, khususnya di Kabupaten Kebumen dan wilayah Kedu (Utara maupun Selatan) yang diantaranya adalah:

  •     Monumen Palagan Sidobunder di depan Balai Desa Sidobunder Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen
  •   Monumen Ganesha di bekas Terminal Prembun, Kecamatan Prembun Kabupaten Kebumen,
  •    Monumen  Tentara Pelajar Kedu Selatan di Jalan Tentara Pelajar Kota Kebumen
  •    Monumen Pena di Kompleks Gereja Kristen Jawa. Jalan Pemuda Kota Kebumen,
  •   Tugu Renville di sebelah Timur Jembatan Renville atau jembatan kereta api di atas Sungai Luk Ulo Kota Kebumen
  •    Makam Tentara Pelajar di Desa Wareng Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo.

  1. Merintis penyusunan buku Perjuangan Tentara Pelajar di masa Perang Kemerdekaan dan sesudahnya.
  2. Mendukung pengembangan kegiatan budaya, terutama perteateran di Kabupaten Kebumen 
  3. Memfasilitasi upaya perintisan kegiatan ekonomi kreatif berbasis muatan lokal di Kabupaten Kebumen.
  4. Dan lain-lain kegiatan sosial dan olahraga yang memacu pengembangan karakter keindonesiaan.
Atas kesediaannya disampaikan terima kasih. Semoga manfaat.

Posted in , , , , , | Leave a comment

Kakekku Preman, Ayah Juga. Aku…??? (Bag. V… terasa akhir)



Banyak orang enggan disebut preman karena kesan umum yang terlanjur negatif. Sebenarnya, semua orang sipil (bukan militer) dan partikelir (swasta) adalah preman yang sebenarnya. Entah bagaimana asal usulnya, sebutan preman dipakai untuk menunjuk orang yang berperilaku kasar, liar, suka memaksakan kehendak, menonjolkon kemampuan otot dan lain-lain sikap asosial.

Seorang pemberani dan memegang sikap hidup acapkali mendapat sebutan yang kurang lebih sama dengan preman. Jika yang dimaksud preman adalah seperti gambaran di atas, berapa banyak “priyayi”, orang-orang yang nampak lembut penampilan, tutur bahasa dan tindak tanduknya justru lebih berbahaya bagi sebagian besar masyarakat. Yang terpopuler adalah para koruptor dan manipulator di berbagai lembaga Negara atau pemerintah. Ini dari sudut pandang korban. Aku (saya) sangat yakin jika seorang koruptor kelas teri mampu melumpuhkan ratusan, bahkan ribuan orang lain karena tindakannya. Begitu juga terhadap para manipulator di lembaga-lembaga publik: legislatif, eksekutif dan khususnya yudikatif. Satu produk undang-undang yang dimanipulasi untuk kepentingan sesaat berakibat ratusan ribu atau jutaan orang kehilangan masa depan.

Dalam realitas kehidupan sosial kita akhir-akhir ini, ada kecenderungan menyudutkan seseorang dengan sebutan preman. Egosentrisme dan sektarianisme yang kian mengemuka dalam pola hidup masyarakat, kita dengan mudah memberi “cap preman” kepada orang lain yang memegang sikap hidupnya dengan risiko kehilangan nyawa. Apalagi hanya harta benda yang pasti dapat dicarikan gantinya Tetapi cap itu segera berganti jadi “pahlawan” di saat ia merasa terlindungi dengan kehadirannya, terutama ketika situasi genting atau darurat.

Ambiguitas, hermaprosiditas dan sejenisnya sebenarnya merupakan sumber kekacauan utama dalam kehidupan masyarakat kita sejak masa penjajahan. Karena itu, seorang pejuang sejati tak akan pernah meninggalkan keyakinan yang dipegang sampai nyawa meregang. Dengan sikap itu pula, Indonesia Merdeka ada. Tak ada rasa takut sedikitpun ketika disisihkan dari arena pergulatan hidup yang tak berpola, diisi oleh orang-orang yang tak segan melacurkan diri untuk melapangkan jalan meraih ambisi pribadi maupun kelompok. Merekalah yang sebenarnya paling pantas disebut preman dalam konteks kekinian. Pelacuran intelektualitas yang merebak di segala sisi kehidupan jauh lebih berbahaya dibanding  “preman – isme !!!”.

Karena itulah, aku tak ingin meninggalkan identitas “preman” yang telah disandang turun temurun dalam keluarga. Jika seorang pelajar perempuan saja berani menghadapi tantangan maut di tengah hujan peluru di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, mengapa yang hidup di jaman aman harus bersikap pengecut? Hidup adalah perjuangan, bukan hanya ada di dalam syair lagu. Dan perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya bukan hanya terjadi di saat melawan penjajah asing. Penjajahan oleh pribumi justru lebih mengerikan dan itulah yang terjadi saat ini. Ketika banyak orang “merasa berhak”, tapi tak pernah melakukan kewajibannya dengan benar dan baik.

Lihatlah burung-burung bangkai itu
ada yang perlente dan kemayu
mengoyak sampah kehidupan
Dalam sombong dan pongah
dalam putus asa yang tiada berperi
mengais sampah, menebar aroma busuk
dan menyimpannya dalam saku
pundi-pundi kertas segala rupa
di atas derita sesama
dalam pedih hati yang terluka
menanti ajal kan tiba

Kepada sang garuda aku berjanji
tak kan surut sampai ajal menjemput
tak kan mundur sebelum bertempur
dan tak kan ada sepakat dengan hianat

Karena aku sang preman…..
bukan centeng  yang suka petantang petenteng
bukan pula pengecut yang suka mencatut

karena aku sang preman….
bukan orang tak beriman
bukan pula bajingan yang kurang sopan
apalagi  pejabat yang berjahat

***

Anganku terus mengembara ke masa silam. Hari itu ratusan orang bergerak meradang dari satu sisi ke sisi lain penghuni kota. Api kecil di depan kantor polisi telah membesar dan menghanguskan banyak harta benda dan seorang tuna daksa keturunan Tionghoa. Naluri menggerakkan langkah kaki ini ke kompleks pecinan yang jaraknya hanya sejengkal dari barisan massa yang mengamuk, menumpahkan segala amarah tanpa arah tujuan yang jelas.

Ajang bagi para petualang untuk memanfaatkan kesempatan itu meraup keuntungan. Berbekal lembaran kertas bergambar, mereka menjual diri dengan imbalan uang untuk suatu perlindungan yang tak pernah diwujudkan. Preman politik berbaur dengan preman otot dan para peminum alkohol kelas teri.  Lagu “ Hanoman Obong” jadi sangat popular melebihi lagu wajib yang dinyanyikan saat upacara 17 Agustus-an. Api terus menjalar ke segala arah, harta benda ludes dijarah. Apa sebab mereka marah tiada berarah??? Siapa yang menggerakkan ??

Aku ingat satu kata keluar dari mulut kepala polisi pada malam pertama. “ Sisakan sedikit buat kita !”. Yah… memang benar kasus itu ditangani oleh pihak kepolisian dengan mendatangkan sejumlah anggota pasukan Brimob dan tentara dari berbagai daerah dan kesatuan. Ada sebagian kecil yang berseragam hitam ala petani, tapi menyandang M16. Bahkan rumah keluarga kami sempat jadi pos sementara setelah ibuku menyilakan, Beliau mengingatkan kejadian serupa di tahun 1965.

Saat itu, kekacauan terjadi di mana-mana. Isu pemberontakan oleh dewan jenderal yang salah satunya dikomandoi orang kelahiran kotaku membuat suasana kian mencekam. Apalagi tersiar kabar jika Kodim telah dikuasi oleh kelompok mereka. Dan sang komandan diusir dari pos oleh wakilnya. Ayah dan sejumlah kecil bekas Tentara Pelajar seolah tergerak untuk segera bertindak. Ada 30-an orang terkumpul dan menunjuk Kepala Kantor Transmigrasi sebagai komandan pasukan pelajar pejuang kemerdekaan itu. Ayah jadi wakil dan sekaligus komandan patroli. Mereka meminta bantuan kepolisian Negara untuk menyediakan sejumlah senjata api yang ada di sana. Kebanyakan dari jenis LE yang semi otomatis dan berkaras panjang. Markas sementara ditetapkan di rumah kami (kelanjutan cerita ini ada dalam tulisan….).

Waktu memang akan menunjuk arah yang sama suatu ketika. Ada pengulangan dan itulah yang nampaknya kurasakan saat melakukan hal serupa dengan ayah di masa lalu. Bedanya, aku tak beratribut dan tetap memelihara sikap selaku “preman”.  Bukan anggota militer atau yang disetarakan dengannya. Hampir sebulan tak pernah tidur malam dan lebih dari 6 jam sehari semalam. Ada satu tanda yang memudahkan orang-orang di sekeliling dalam membangun tidurku. Jika suara dengkur itu telah datar, silakan. Begitulan yang selalu kukatakan kepada mereka.

Di antara beragam hal yang kuhadapi di masa genting itu, ada dua yang terus diingat. Pertama, mengantarkan anak Bupati dari satu titik singgah ke rumah dinas yang jaraknya tak begitu jauh, tapi rawan. Kedua dan hampir menghilang adalah sebutan atau icon “unduhan”. Icon ini sangat popular dan jadi “trade mark kepremanan”-ku. Satu sindiran buat para pengunduh, yaitu orang-orang yang merasa berjasa setelah kondisi aman. Tadinya, icon ini sekadar menggantikan istilah “pahlawan kesiangan” yang sangat kutentang karena melecehkan makna pahlawan.

Itulah cerita sang preman. Kesamaan peran dengan ayah mungkin suatu kebetulan, tapi bukan satu kebenaran. Dan karenanya, aku bangga jadi sang preman. Orang bebas, merdeka. Tetap sipil, bukan militer. Hanya satu cara untuk memelihara makna, “bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa”. Gak lebay, bukan pula alay. Semua biasa dan biasa. Tinggal cara kita mewujudkan makna itu, meski tanpa atribut. Semoga.

Posted in , , , , | Leave a comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

Proposal Pemugaran dan Peresmian Monumen Pena

PATILASAN RUMAH PERJUANGAN
PADA PERANG KEMERDEKAAN I – 1947
TENTARA PELAJAR BATALYON 300 BRIGADE XVII TNI
DI KEBUMEN

P R O P O S A L


PENDAHULUAN


Adalah sebuah kenyataan bahwa perilaku sebagian masyarakat kita akhir-akhir ini cenderung egosentris dan komersial. Banyak sendi kehidupan kebangsaan Indonesia yang bertumpu pada nilai-nilai luhur perjuangan kemanusiaan, terutama dalam hal mempertahankan  martabatnya sebagai mahluk yang beradab dan beradab semakin melemah. Rasa kebersamaan dan saling menghormati  secara tulus semakin sulit ditemui dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini sangat jauh berbeda dari sikap perjuangan kita ketika terlibat dalam upaya mempertahankan amanat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Didorong oleh kenyetaan di atas dan keinginan beberapa anggota yang berdomisili di Kebumen, khususnya yang pernah bertugas di bagian dapur umum dan kepalang-merahan muncul gagasan membangun tetenger atau tanda bagi Rumah Perjuangan yang dulu disebut Markas Darurat Tentara Pelajar Balayon 300 Brigade XVII Tentara Nasional Indonesia. Dengan tujuan utama meninggalkan kenangan abadi kepada anak keturunan dan masyarakat Kebumen pada umumnya agar diapresiasi secara patut. Terlepas dari hasil proses apresiatif itu, ada secercah harapan agar bangunan yang akan berdiri di sekitar Kompleks Gereja Kristen Jawa di Jalan Pemuda Kebumen ini dapat menjadi cermin diri. Bahwa di tempat itu pernah ada pergulatan hidup yang dilakukan oleh sebagian kaum terdidik dai beragam latar belakang pribadi dan kelompok untuk mencapai satu tujuan. INDONESIA TETAP NEGARA – BANGSA MERDEKA YANG BERDAULAT.
Filosofi pembangunan tetenger ini adalah kesederhanaan dan optimism sebagai upaya maksimal manusiawi. Dengan demikian, pembangunan fisik tetenger Patilasan Rumah Perjuangan di Kompleks Gereja Kristen Jawa Kebumen adalah proses apresiatif  yang berujung pada kesadaran kebangsaan tanpa batas ruang dan waktu. Oleh karena itu, dasar pemikirannya adalah mengutamakan isi dari pada bentuk sebagai wujud kesederhanaan serta kemandirian dan berwawasan luas untuk mengimplimentasikan optimisme. Kesederhanaan lebih mengedepankan kemudahan dalam mewujudkan rencana pengerjaan dan pemeliharaan bangunan. Serta penyampaian pesan yang mengundang kesadaran pribadi. Sehingga proses apresiatif berlangsung secara alamiah dan bersinambung.
Sementara itu, optimism yang didorong oleh kesadaran pribadi menumbuhkan kembali komitmen kemandirian sebagaimana dilakukan para anggota Tentara Pelajar. Meskipun ada bayang-bayang egosentrisme pribadi, kelompok atau apapun bentuk kecenderungan lainnya pernah melintas di benak pencetus gagasan, tetapi kesadaran yang kuat atas nilai kebersamaan, kesukarelaan dan sikap pantang menyerah akhirnya menepis semua itu. Juga perasaan rendah diri selaku orang daerah. Atau sebaliknya, tinggi hati karena merasa diri penting. Karena satu keyakinan yang selama ini kita pegang yaitu: sekali dan selamanya kita tetap Tentara Pelajar.
Kesadaran lain yang mendorong optimisme adalah identitas diri selaku kaum terpelajar yang harus selalu membuka luas cakrawala pandang tentang makna masa depan. Hal ini terwakili oleh bentuk dasar berupa pena dalam posisi terbalik atau siap menorehkan sesuatu yang bermakna. Seperti kita tahu, pena dari bulu ayam  adalah bagian yang sangat penting dalam lambang Tentara Pelajar.  Dengan pena manusia berkarya bagi diri, sesama manusia dan Sang Pencipta alam semesta.
Posisi pena terbalik melambangkan kekinian anggota Tentara Pelajar yang sebagian besar telah purna tugas sesuai bidang yang ditekuni. Yang memilih berkarir di  TNI tentu telah purnawiraan. Sementara yang di lingkungan sudah pension dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Meskipun demikian, tugas mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tetap ada selama hayat di kandung badan. Karena semboyan Tentara Pelajar adalah kesetiaanku pada bangsa dan Negara dari buaian sampai liang lahat.
Pena dalam keadaan terbalik juga melambangkan ketulusan menjaga martabat Tentara Pelajar yang hanya ada di Indonesia. Bersih dari segala noda tinta artinya tuntas setiap melaksanakan tugas panggilan Negara – bangsa. Tak pernah ragu untuk mawas diri dan selalu siap untuk memperbaiki kesalahan diri maupun masyarakat luas. Tanpa tendensi ingin dipuji atau dihargai. Sebagai kaum terpelajar, penghargaan tertinggi itu terjadi saat mampu memberi manfaat bagi pencerahan tata nilai kemerdekaan.
Penerapan filosofi pena pada tetenger ini diwujudkan dalam bentuk pengelompokan bagian-bagian bangunan. Layaknya sebuah bangunan itu ada fondasi, bentuk dasar bangunan dan atap atau puncak bangunan. Fondasi bangunan tetenger terdiri dari dua bagian yaitu lapis terbawah yang terbenam di tanah melambangkan episode penjajahan yang gelap. Karena itu diwakili oleh warna hitam. Tebal bagian yang muncul ke permukaan tanah sekitar 20cm dengan luas 2,25m2 (1,5 x 1,5 m). Di atasnya terdapat fondasi serupa lantai seluas 3,08m2 (1,76 m x 1,76 m). Keduanya menggunakan konstruksi beton cor.
Pilar atau bangunan utama berbentu serupa buku dalam keadaan terbuka. Hal ini dimaksudkan untuk melambangkan bahwa Tentara Pelajar berasal dari lingkungan masyarakat yang terdidik, kaum terpelajar dan masyarakat sipil. Bukan dari lingkungan militer, meskipun bernama depan Tentara. Buku adalah sumber ilmu dan kebajikan. Dalam keadaan terbuka, buku selalu dibaca dan dipahami maknanya. Terbuka untuk menambah pengetahuan baru dan atas segala upaya memperbaiki keadaan. Karena itu, dilihat dari sisi belakang, buku Nampak dalam keadaan tegak dan kokoh. Konstruksi cor dipilih untuk alas an efisiensi waktu dan biaya serta kemudahan dalam pemeliharaan. Luas bangunan utama ini sekitar 2,44m2.
Di sisi puncak, terdapat bangunan berbentuk mata pena yang terlihat seperti berlian bersusun tiga. Mata pena adalah bagian terpenting dalam menggoreskan pengetahuan, berbagi pengalaman dan pencerahan melalui ilmu pengetahuan umum maupun teknologi. Bagian paling dalam (pertama) menggambarkan awal terbentuknya Tentara Pelajar yaitu berasal dari Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan yang diwakili warna coklat muda ( khaqi ). Lapis berikutnya (kedua) berwarna hijau muda yang melambangkan episode Tentara Pelajar sebagai bagian Tentara Nasional Indonesia (TNI) Brigade XVII. Terakhir atau lapis terluar berwarna hitam sebagai lambing keabadian. Pada sisi ini terdapat logo Tentara Pelajar di bawah ini:

Logo Tentara Pelajar


Rancangan Tulisan di Puncak Tetenger


Desain Tetenger – Tampak Depan




Desain Dasar Tetenger – Tampak Belakang





Rencana Biaya Pemugaran dan Peresmian Tetenger 


Uraian

Jumlah
A.    Pemugaran Sederhana:

1)      Pengecatan Ulang:
a.    Bagian fondasi
b.    Bagian Pilar/Bangunan Utama
c.    Bagian Puncak
d.   Tenaga Kerja : 2 x 1orang x Rp 40.000,-

Jumlah biaya pengecatan ulang
2)   Pemasangan Tulisan Tetenger di Puncak bangunan:
a.       Bahan-bahan:
b.      Tenaga kerja: 3 x 2orang x Rp 40.000,-
Jumlah biaya pemasangan tulisan Tetenger

Rp120.000,-
180.000,-
     90.000,-
      80.000,-



Rp328.000,-
    120.000,-





Rp     470.000,-





Rp     448.000,-
Jumlah Biaya Pemugaran sederhana

Rp     918.000,-
B.     Peresmian:
1)   Prasasti
2)   Administrasi dan umum
3)   Cetak Buklet : 500 x Rp 8.000,-
4)   Undangan : 50 x Rp 12.500,-
5)   Sewa SOUND
6)   Performing art (kostum, make up, asesori dll)
7)   Souvenir :   200 x Rp   5.000,-
8)   Konsumsi : 200 x Rp 10.000,-
9)   Dokumentasi dan Dekorasi
10)                        Transportasi
a. Pengisi acara
b.Tamu khusus












Rp300.000,-
    600.000,-


Rp  1.500.000,-
267.500,-
4.000.000,-
625.000,-
250.000.-
1.000.000,-
1.000.000,-
2.000.000,-
1.000.000,-



900.000,-
Jumlah Biaya Peresmian

Rp12.542.500,-
Total Taksiran Biaya Pemugaran dan Peresmian Tetenger
Rp13.460.500,-



PENUTUP

Betapapun besar niat dan usaha manusia dalam mewujudkan harapan dan keinginannya, semua akan kembali pada kuasaNya. Dengan segala keterbatasan yang ada pada saya selaku Penerima Amanat almarhumah Ibu Atiatoen dan Ibu Rasini sebagai pelaku sejarah, penggagas dan donator utama bangunan TETENGER PATILASAN RUMAH PERJUANGAN PADA PERANG KEMERDEKAAN I – 1947 TENTARA PELAJAR BATALYON 300 BRIGADE XVII DI KEBUMEN, akhir tahun 2002 telah menyelesaikan satu tahap penting yaitu mewujudkan bentuk dasar bangunan sebagaimana nampak pada foto di bawah ini.



 Satu hal penting yang saya pegang selama ini adalah pesan almarhumah Ibu Atiatoen  
¨Bukan yang banyak itu baik, tapi yang baik pastilah yang banyak¨

Karena itu dan dilandasi kesadaran sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pendahuluan Proposal ini, saya ingin mengungkap rasa bahagia dan terima kasih yang sangat tulus atas :
1)      Ijin Majelis GKJ Kebumen yang member ijin pendirian bangunan di lingkungan GKJ, tepatnya depan Gedung Prabasanti.
2)      Dukungan semangat, gagasan, masukan dan dana para mantan anggota Tentara Pelajar khususnya kesempatan menghirup udara kemerdekaan bangsa Indonesia yang ikut dipertahankan dengan peperangan fisik maupun mental.
3)      Semua pihak yang telah membantu berupa apaun atas terwujudnya gagasan tersebut.

Tiada gading yang tak retak, semua yang sempurna hanya milikNya semata.

Kebumen, akhir Pebruari 2011


Toto Karyanto
 





Posted in | Leave a comment