Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Catatan Akhir Tahun 2013 - Bagian I

Foto. Antaranews.

Pergeseran nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebenarnya merupakan suatu keniscayaan bagi Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa dan budaya. Hal yang diharapkan tentu saja munculnya kesadaran untuk menguatkan peradaban dan keadaban. Karena bangsa yang memiliki peradaban kuat akan mampu menghadapi perubahan yang pasti terjadi ke arah yang lebih positif. Demikian juga sebaliknya. Satu bangsa akan terjerumus dalam kehinaan ketika perubahan keadaan yang terjadi lebih banyak menonjolkan hal-hal yang negatif.

Sepanjang waktu pasca Bangsa Indonesia berjuang meraih dan menegakkan kemerdekaan, semakin banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa pergeseran nilai kemanusiaan yang adil dan beradab cenderung mengarah pada sisi negatif. Konflik sosial dan politik seolah tanpa ada penyelesaian memadai secara substantif. Dalam panggung politik khususnya, kebanyakan pemimpin tak pernah memberi contoh yang menunjukkan bahwa sikap kenegarawanan sebagai cara paling beradab dan modern dalam menyelesaikan konflik itu. Bahkan sebaliknya, terlalu menonjolkan sektarianisme yang berbungkus aneka rupa perilaku narsistis. Akibatnya, setiap terjadi konflik sosial maupun politik secara nasional, dapat dipastikan berdampak dendam kesumat dari pihak yang menjadi korbannya.

Perilaku kenegarawanan justru muncul dari kalangan pemimpin informal dan perguruan tinggi tententu.  Selain Bung Hatta yang bertahan dengan idealisme politik non partisan, sangat sulit menemukan sosok yang sebanding dengan Proklamator dan penggagas Siasat Ekonomi ini. Apalagi di atasnya. Para pemimpin politik dari perguruan tinggi dan organisasi-organisasi sosial yang semula menampakkan perilaku positif, ketika masuk dalam lingkaran kekuasaan formal tak mampu lagi mempertahankan kapasitas intelektualitasnya sebagai upaya melakukan perubahan internal. Entah karena gamang, tak lagi punya nyali atau kuatnya faktor kontaminatif di dalam lingkungan baru, mereka seperti kehilangan daya. Akhirnya, masyarakat awam kembali harus menelan kekecewaan dan begitu seterusnya dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Partai politik yang seharusnya berperan utama sebagai pusat pendidikan politik masyarakat dalam hal perilaku kenegarawanan dan wawasan kebangsaan tak pernah beranjak dari posisinya sebagai alat kekuasaan kelompok orang tertentu saja. Kelompok itu lebih sering  menampakkan perilaku feodalistik ketimbang demokratik sebagaimana diamanatkan oleh isi Mukadimah UUD 1945. Kesetiaan buta terhadap sekte-sekte politik yang dianut para elit pemimpinnya. Bukan kesetiaan pada tujuan perjuangan bangsa Indonesia yang berujung pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam beberapa catatan sebelumnya, saya menyoroti dua hal (tema) besar yakni diaspora Indonesia dan relawan kemanusiaan. Pada tema diaspora Indonesia, banyak hal menarik yang patut diangkat menjadi bahan pembelajaran bersama selaku bangsa beradab. Mereka yang merasa punya keterikatan dengan sejarah dan budaya Indonesia dan berkehidupan di berbagai belahan dunia serta menjalani beragam profesi, ingin menunjukkan diri kepada orang-orang, lembaga dan sejumlah pihak di tanah lahir, tanah air atau kampung halaman Indonesia bahwa keberadaannya selayaknya tetap diakui sebagai bagian dari Indonesia. Indonesia yang bisa berarti wilayah kekuasaan suatu negara, satu suku bangsa atau sisi unik yang hanya bisa dijelaskan dengan rasa. Cinta tanah air dan ragam budaya yang tak hanya indah dipandang, tapi juga nyaman disandang. Kenyamanan yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang mapan secara ekonomi dan sosial yang diperoleh dari proses pencapaian pribadi berkarakter. Memenangi pertarungan pribadi di bawah bayang-bayang muram inferioritas masyarakat umum di tanah lahir atau kampung halaman Indonesia.

Menyandang atribut keindonesiaan yang sering dilanda konflik sosial dan politik bukan hal mudah dalam berperikehidupan di manca negara. Hal itu tercermin dalam perlakuan pemerintah dan mungkin juga masyarakat setempat kepada para TKI di Malaysia misalnya. Sementara itu, nasib yang lebih baik dialami oleh orang-orang yang memiliki kemampuan profesional yang memadai seperti para ahli, teknisi, dosen dan sebagainya. Contohnya, Hadi Nur, seorang profesor kimia yang masih berusia 44 tahun dari Ranah Minang yang menjadi Staf Pengajar di Universiti Teknologi Malaysia. Sebelum itu, ada satu nama yang sangat popular di tahun 1980-an, Dr. Sadono Sukirno dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang satu bukunya “ Ekonomi Pembangunan” merupakan referensi nasional.

Dua orang diaspora Indonesia di Malayasia adalah sebuah contoh kecil betapa berharganya mereka di negeri orang dibanding di negeri atau tanah lahirnya. Sebagaimana dipaparkan oleh Hadi Nur, banyak pemimpin formal maupun informal di Malaysia bertalian sangat erat dengan sejarah dan budaya Indonesia. Mereka sukses di berbagai bidang kehidupan dan dihargai sepadan. Misalnya, Dato’ Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Rajak yang saat ini menjabat Perdana Menteri adalah keturunan Sultan Gowa di Sulawesi.  Jadi, mengapa kita harus meradang saat batik dan beberapa artefak budaya Indonesia dinyatakan (di-claim) oleh warga Malaysia yang sangat mungkin dia atau mereka jauh lebih Indonesia dari pada orang Indonesia yang ada di negeri sendiri ? Benarkah model-model ekspresif seperti itu merupakan bukti kuat bahwa nasionalisme orang-orang di dalam negeri masih sangat sempit sebagaimana diungkapkan Indah Morgan (diaspora Indonesia di Inggris) dalam satu wawancara dengan Radio Australia beberapa saat sebelum berlangsung Kongres II Diaspora Indonesia di Jakarta pada 18-20 Agustus 2013 lalu ?

Sempitnya pemahaman nasionalisme dapat dilihat dari penampilan tim-tim olahraga, terutama sepakbola. Betapa kuat dukungan kepada tim untuk memenangi satu pertandingan internasional. Jargon dan yel-yel digaungkan bertalu-talu di berbagai media. Entah berapa besar sumber daya yang harus dikorbankan. Begitu tim yang begitu dielukan kalah, apalagi telak, semua gegap gempita sering berbalik arah jadi caci maki dan sumpah serapah. Tak terkecuali dari orang-orang yang semula ingin mendapat pengakuan/ keuntungan dari situasi emosional ini. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh Dubes RI untuk Amerika Serikat, Dr. Dino Pati Djalal, tentang sinisme publik.  

Yang menarik dari perjalanan Diaspora Indonesia justru sikap anak keturunan “budak belian” di Suriname. Sejarah mencatat bahwa para leluhur mereka dibawa paksa oleh pemerintah penjajahan Belanda dipekerjakan sebagai tenaga kerja kasar tanpa bayar selain makan minum yang kondisinya mungkin juga sangat minimum. Kini, bukan sekadar bangkit melawan perbudakan, tapi mampu menyejajarkan diri dengan warga bangsa lain di seluruh penjuru jagad raya dan menduduki posisi-posisi strategis. Soewarto Mustadja misalnya, anak keturunan orang Desa Kalirancang Kecamatan Alian di Kebumen yang kini jadi Menteri Dalam Negeri Suriname. Dalam posisinya yang begitu penting, beliau masih menjaga eksistensi budaya dan tak segan mengakui asal muasal dirinya dari sebuah desa yang tergolong miskin pada saat itu sampai beberapa dasawarsa paska kemerdekaan.

Banyak hal menarik dari kiprah Diaspora Indonesia. Pernyataan mantan Presiden B.J. Habibie tentang kelangkaan lapangan kerja yang sesuai dengan kapasitas keahlian mereka sangat perlu mendapat perhatian. Jangan hanya reaktif dan meradang saat bagian dari identitas budaya kita diklaim milik penduduk negeri jiran tanpa menelusur sejarah yang menyertai. Bila ternyata mereka memang (sebenarnya) masih merupakan bagian dari Bangsa Indonesia yang tersisih karena tekanan ekonomi maupun politik diskriminatif dalam negeri. (bersambung..tema: relawan kemanusiaan..).

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Kumpulan Cerita Pilu di Sekitar Perayaan Hari Kemerdekaan



Sidik yang merupakan mantan pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Tentara Pelajar nasional, memasuki sembilan puluh tahun lebih. Warga Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen, ini telah pikun dan sering keluar rumah sendirian, tak jarang ia juga membawa senjata tajam sehingga membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
Kakek belasan cucu dan lima anak ini juga sulit diajak berkomunikasi, selain fungsi pendengarannya telah berkurang, kenangan masa perjuangan begitu lekat di ingatannya. Hampir semua jenis pertanyaan selalu dijawab dengan cerita kegigihan para pejuang untuk memperebutkan kemerdekaan.


Pertempuran lima hari di Semarang merupakan peristiwa yang paling diingat, karena banyak rekan-rekan seperjuangannya yang gugur, beruntung saat itu ia bersama sejumlah pejuang lainnya berhasil selamat setelah mundur sementara dari medan perang. Baca juga mengenang perjalanan Sie Rusmin masuk kota Semarang (pen).
Meski telah mempertaruhkan nyawanya untuk mengusir penjajah, tak serta merta ia mendapatkan penghidupan yang layak setelah kemerdekaan, tak mudah baginya untuk mendapatkan gaji pensiun veteran.



Surat keputusan Departemen Pertahanan tentang gelar kehormatan pejuang yang diperoleh pada tahun 1951 juga tidak lantas membuatnya langsung mendapatkan gaji pensiun veteran, baru sekitar 17 tahun terakhir ia mendapatkan tunjangan hari tua untuk para pejuang, itupun melalui proses berbelit yang sangat lama dan menelan biaya besar. Bahkan rumah dan sawah telah dijual untuk mengurus dana pensiun tersebut. Kisah pilu mantan pejuang kemerdekaandi Demak

Banyak cerita serupa yang dialami oleh para pejuang kemerdekaan Bangsa Indonesia. Meski Bung Karno menyatakan jargon jas merah, jangan (pernah) melupakan sejarah. Tapi cerita pilu Pak Sidik dan yang lain seolah tiada pernah ada upaya serius dari pemerintah baik melalui dinas sosial dan khususnya Kantor Administrasi Veteran (Kaminvet) yang ada di Kabupaten/Kota. Kasus penelantaran dan penghilangan administrasi di Kaminvet sudah sering terjadi entah disengaja atau tidak. Bahkan kejadiannya menimpa orang yang mendirikan dan aktif dalam Batalyon Veteran dan Demobilisan (Yonved) sebagai cikal bakal LVRI (Legiun Veteran RI). 

Kisah-kisah: Mantan pejuang hidup tak layak di hutan ; Catatan pilu kemerdekaan di mata mantan para veteran atau Kami Sekarang Hidup Susah adalah bagian kecil dari ketidakmampuan pemerintah mengelola administrasi negara. Banyak yang asli pejuang ditelantarkan, tapi yang aspal (asli sertifikat, palsu perbuatan) atau benar-benar palsu (karena punya sertifikat asli, tapi tak pernah dikenal di lingkungan komunitas yang jadi bahan cerita untuk kesaksian dalam kisah perjuangannya) justru mendapat tempat terhormat.
Peserta Peresemian Monumen dan Jalan Tentara Pelajar Kebumen 10 Nov 2000

Membedakan pejuang asli, aspal atau palsu sebenarnya cukup mudah. Yang asli senantiasan menjaga sikap mandiri (merdeka) secara ekonomi, sosial maupun politik. Dan tak pernah mau dibelas-kasihani. Sementara itu, yang aspal dan palsu mudah dikenali dari kebiasaannya mengumbar cerita dari suatu peristiwa yang tak pernah dialami serta menyukai formalitas yang atributif.  


Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Catatan Perjalanan Hari Merdeka - Diaspora Indonesia Pulang Kampung


Peringatan hari kemerdekaan bagi satu bangsa biasanya mengandung dua dimensi utama seremonial dan historikal. Bagi Indonesia yang berusia 68 tahun pada 2013, peristiwa yang akan diperingati secara nasional beberapa hari ke depan ini, nampaknya ada satu suasana yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Yakni kehadiran sejumlah orang yang telah lama melanglang buana karena berbagai sebab tapi merasa punya ikatan kultural sangat kuat dengan tanah air, kampung halaman atau Ibu Pertiwi. Mereka adalah Diaspora Indonesia. Satu istilah yang belum banyak dikenal oleh masyarakat awam di dalam negeri.

Kehadiran para Diaspora Indonesia di tengah suasana memperingati satu hari yang sangat bersejarah, Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 ke 68 ini cukup unik karena hampir bersamaan waktu dengan peristiwa rutin tahunan yang sangat akbar dalam banyak hal : jumlah manusia, uang yang beredar, sponsor yang terlibat dan lain-lain yang popular dengan sebutan mudik (menuju udik) atau Pulang Kampung di saat merayakan Lebaran atau Idul Fitri. Meski tanpa publikasi memadai baik dari pemerintah, terutama Desk Diaspora Indonesia pada Kementerian Luar Negeri RI serta Jejaring Diaspora Indonesia (Indonesia Diaspora Network) maupun media massa umum khususnya televisi yang akhir-akhir ini lebih banyak diisi dengan iklan pencitraan calon presiden dan wakil presiden.

Dari gambaran kecil di atas kita akan tahu betapa banyak hal besar yang ditinggalkan, diabaikan atau dibiarkan dalam ketidak-jelasan hanya untuk mengejar bayang-bayang semu semisal pencitraan politik tadi. Diakui atau tidak, masyarakat semakin tidak peduli dengan perilaku politisi yang tak pernah beranjak dewasa. Meski dibalut suasana lain, publikasi para politisi yang mendului masa kampanye jelas bukan contoh pendidikan politik yang baik. Mereka masih memakai asumsi sempit bahwa masyarakat Indonesia akan mudah dibodohi dengan iklan dan janji-janji politik yang kenyataan selama ini ibarat jauh panggang dari apinya. Selain itu tentu merupakan pemborosan sejumlah sumber daya yang mestinya akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat dirasakan dampak positifnya bagi kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat luas.  

Promosi politik yang berlebih itu justru menimbulkan kesan buruk tidak hanya bagi dirinya, tapi juga buat partai politik dan semua pihak yang sangat mungkin disangkut-pautkan dengan sang calon. Tidak percaya diri atau sebaliknya, norak atau narsis, lebay, alay  dan sejenisnya. Semakin sering muncul, orang akan kian merasa mual karena yang disuguhkan sesuatu monoton dan tidak mencerminkan adanya peluang menumbuhkan harapan. Sementara itu, harapan adalah satu-satunya pintu masuk menuju kepercayaan. Kalau kesan ini yang muncul secara umum, tiada lagi calon pemimpin bangsa yang dapat diharapkan dapat mengubah suasana dan nasib Indonesia setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Mungkin akan ada pertanyaan, apa sih yang bisa diharapkan dari kehadiran para Diaspora Indonesia yang akan menyelenggarakan Kongres II di Jakarta Convention Center 18 – 20 Agustus 2013? Mereka sudah cukup lama meninggalkan tanah airnya. Apakah mereka masih punya kesadaran berbangsa dan bernegara ? Jangan-jangan akan melakukan hal-hal seperti para koruptor yang melarikan uang rakyat ke manca negara seperti Eddy Tanzil, Hendra Rahardja dan lain-lain ? Atau, apakah keindonesiaan mereka hanya untuk melapangkan jalan ambisi perorangan atau kelompoknya ?

Pertanyaan serupa dengan yang di atas memang sangat mungkin terjadi dan menghantui para politisi sektarian. Sejak beberapa saat menelisik perjalanan Diaspora Indonesia di berbagai negara khususnya USA, Inggris, Belanda, Australia dan Malaysia, ditemukan banyak fakta menarik yang selama ini masih misterius atau tidak diangkat sebagai berita konsumsi publik. Pertama, diaspora yang berasal dari program politik di jaman pemerintahan Presiden Soekarno yang ingin menyamai kejayaan bangsa Jepang dengan mengirim sejumlah mahasiswa dan tenaga ahli belajar ilmu pengetahuan serta teknologi di sejumlah negara Eropa Timur. Pergantian haluan politik dari sosialisme ala Bung Karno ke arah militerisme - feodalistik ala Jendral Soeharto menjadi satu alasan penting mereka memutuskan diri tidak kembali ke tanah air dan berkehidupan di berbagai negara yang mau menerima diri serta menghargai keahlian intelektual mereka. Dengan kata lain, alasan menjadi diaspora adalah faktor trauma politik. 

Kedua dan terbanyak dialami oleh keturunan Tionghoa adalah trauma sosial. Ada beberapa peristiwa besar yang menyebabkan sejumlah WNI keturunan Tionghoa memutuskan berkehidupan di manca negara semisal G30S dan terakhir kerusuhan politik Mei 1998. Pada dua peristiwa itu, entah berapa ratus atau ribu orang yang mengambil keputusan jadi diaspora. Satu diantaranya adalah Margareth Wang yang kini jadi artis Mandarin terkenal dan bermukim di Taiwan. Bagi para WNI keturunan Tionghoa ini, ada catatan khusus. Akibat politik penjajah Belanda dan Inggris (Rafles) yang menganak-emaskan mereka di satu sisi dan menindas pribumi di sisi lainnya, bibit kecemburuan sosial terus tumbuh dan berkembang sangat subur sampai kemerdekaan telah diproklamasikan. Oleh sejumlah pejabat publik (pemerintah dan politisi) yang menganut feodalisme tadi bahkan dipupuk dengan beragam cara. Inilah tantangan besar baik yang berada di dalam maupun di luar negeri  yang mestinya dapat dijawab dengan karya nyata. Beberapa nama besar semisal Soe Hok Gie, PK Ojong dan Kwik Kian Gie tak diragukan kadar nasionalismenya dibanding Achmad Fatonah dan sejenisnya.  




Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Lambang Pehimpunan Nasional Kepalangmerahan di Indonesia: Palang Merah atau Bulan Sabit Merah ?


Prinsip Dasar Kesatuan dalam Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Gerakan) mengharuskan bahwa di setiap negara hanya ada satu perhimpunan nasional, Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. Dalam menentukan pilihan lambang, setiap negara diberikan kebebasan menetapkannya sesuai peraturan perundangan yang berlaku di negara itu. Namun tetap harus mengacu pada semua prinsip dasar Gerakan : kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan. Serta aturan yang ada di dalam Konvensi Jenewa beserta Protokol Tambahan-nya.

Ruang ini adalah terbuka untuk mendiskusikan hal di atas dengan cara dewasa dan beradab. 

Beberapa bahan :

  1. inilah-isi-draft-dan-penjelasan-ruu kepalangmerahan
  2. Satu Negara Satu Lambang_Blog Marzuki Alie
  3. baleg-tugaskan-tim-kecil-sempurnakan-ruu-kepalangmerahan
  4. alasan-fpks-ngotot-lambang-pmi-diganti-bulan-sabit-merah
  5. Indonesia Punya UU Kepalangmerahan, DPR RI Segera Sahkan
  6. pmi-desak-ruu-kepalangmerahan-segera-ditetapkan
  7. baleg-serap-aspirasi-masyarakat-ntb-terkait-ruu-kepalang-merahan
  8. ruu-kepalangmerahan-fraksi-fraksi-di-dpr-mendukung-keberadaan-bsmi
  9. pks-berulah-logo-pmi-diubah
  10. inilah-yang-harus-dilakukan-apabila-logo-pmi-berubah-menjadi-bulan-sabit-merah
  11. lambang-pmi-diganti
  12. pks-meminta-pmi-ganti-logo
  13. rahasia-di-balik-lambang-palang-merah
  14. kajian-isu-lambang-palang-merah-redcross-sebagai-lambang-tim-medis
  15. simbol-bulan-sabit-vs-palang-merah-di-pmi-menghangat
  16. implikasi-pergantian-lambang-palang-merah
  17. akhirnya-baleg-sepakat-uu-pmi-bernama-kepalangmerahan
  18. ruu-kepalangmerahan-akan-dalami-keberadaan-pmi-dan-bsmi
  19. bsmi-menolak-ruu-kepalangmerahan
  20. Mayoritas Fraksi Setuju Pakai Lambang Palang Merah
  21. dukung-bsmi-melawan-monopoli-ruu-pmi
  22. lambang-palang-merah-tak-boleh-kaitkan-dengan-agama
  23. mayoritas-fraksi-dpr-setujui-ruu-kepalangmerahan-dibawa-ke-paripurna
  24. Catatan Akhir Tahun Seorang Relawan PMI

Bahan-bahan video:
  1. Masyarakat Kab. Bintan Kepri
Masyarakat Kab. Bintan Kepri



Plesiran ke Denmark dan Turki

Posted in , , , , | Leave a comment

Asal Mula Nama Indonesia



Yang dimaksud dengan Indonesia ialah Indonesia dalam pengertian geografis dan bangsa. Menurut pengertian geogiafis, Indonesia berarti bagian bumi yang membentang dari 95°-141° Bujur Timur, dan 6° Lintang Utara sampai 11 Lintang Selatan. Sedangkan Indonesia dalam arti bangsa yang secara politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam wilayah tersebut.
Istilah Indonesia untuk pertama kalinya ditemukan oleh seorang ahli etnologi Inggris bernama James Richardson Logan pada tahun 1850 dalam ilmu bumi. Istilah Indonesia digunakan juga oleh G.W. Earl dalam bidang etnologi. G.W. Earl menyebut Indonesians dan Melayunesians bagi penduduk Kepulauan Melayu.
Pada tahun 1862 istilah Indonesia digunakan oleh orang Inggris bemama Maxwell dalam karangannya berjudul The Island of Indonesia (Kepulauan Indonesia) dalam hubungannya dengan ilmu bumi. Istilah Indonesia semakin populer ketika seorang ahli etnologi Jerman bernama Adolf Bastian menggunakan istilah Indonesia pada tahun 1884 dalam hubungannya dengan etnologi.
Kata Indonesia berasal dari kata Latin indus yang berarti Hindia dan kata Yunani nesos yang berarti pulau, nesioi (jamak) berarti pulau-pulau. Dengan demilcian, kata Indonesia berarti pulau-pulau Hindia.
Indonesia dikenal pula dengan sebutan Nusantara. Kata Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti hubungan. Jadi, Nusantara berarti rangkaian pulau-pulau.
Bangsa Indonesia pertama kali menggunakan nama Indonesia secara politik. Istilah Indonesia untuk pertama kalinya digunakan oleh Perhimpunan Indonesia, yaitu organisasi yang didirikan oleh pelajar-pelajar Indonesia di Negeri Belanda pada tahun 1908. Organisasi tersebut pertama kali bemama Indische Vereeniging. Kemudian nama itu diganti menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1922. Selanjutnya pada tahun 1922 juga namanya diganti Perhimpunan Indonesia.
Pada tahun 1928 Kongres Pemuda II di Jakarta menggunakan istilah Indonesia dalam hubungan dengan persatuan bangsa. Kongres Pemuda tersebut pada tanggal 28 Oktober 1928 menghasilkan Sumpah Pemuda yang di dalamnya tercantum nama Indonesia. Istilah Indonesia secara resmi digunakan sebagai nama negara kita pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sumber : Asal Mula Nama Indonesia

Posted in , , , , | Leave a comment

Sejarah Penjajahan Belanda di Indonesia


Indonesia mengukir kisah perjuangan yang panjang dalam perjalanannya. Kemerdekaan yang kita dapatkan sekarang bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Bangsa Indonesia dulu sering dijajah oleh negara lain, salah satunya yang akan saya bahas adalah Sejarah Penjajahan Belanda di Indonesia. Belanda menjajah Indonesia selama lebih kurang 350 tahun. Berikut ini ulasannya. (sumber: http://kumpulansejarah-aris.blogspot.com/)

Posted in , , , , , | 2 Comments