Tampilkan postingan dengan label heroisme. Tampilkan semua postingan

Peristiwa di Balik Monumen Jalan Tentara Pelajar di Kebumen (I)


Prolog

Sesungguhnya, pengalaman, semangat persatuan, perjuangan serta pengabdian kepada bangsa dan negara yang sepi ing pamrih, rame ing gawe semasa perang kemerdekaan Republik Indonesia adalah nyata, menjadi pengikat batin sesama pejuang kemerdekaan. Termasuk pelajar yang saat itu masih duduk di bangku sekolah setingkat SMP atau SMA atas inisiatif sendiri atau bersama yang lain bergabung dalam laskar-laskar perjuangan yang ada. Sebagian besar diantaranya masuk dalam berbagai kesatuan Tentara Pelajar. Banyak tindakan dan sikap luhur yang sepantasnya dapat dicontoh oleh generasi penerus dalam melaksanakan pembangunan nasional.

Sadar akan tanggung jawab meneruskan perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka dianggap perlu adanya monumen Jalan Tentara Pelajar. Sangat diharapkan bahwa monumen yang akan diresmikan hari ini, Jum'at - 10 November 1989 berdampak positif bagi upaya pelestarian nilai-nilai kejuangan bagi generasi penerus. Khususnya para pelajar, mahasiswa, pemuda serta masyarakat umum di Kebumen akan mampu memaknai jiwa patriotisme dan semangat juang para pelajar pejuang kemerdekaan tersebut.

Keluarga besar Tentara Pelajar adalah kelompok masyarakat yang dengan suka rela ikut serta menggunakan hak selaku warga negara dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia sejak awal  Proklamasi sampai berakhirnya Perang Kemerdekaan dengan cara membentuk dan menjalankan kesatuan-kesatuan bersenjata dan tetap mempertahankan statusnya sebagai pelajar. Kedua peran itu diatur menurut kebutuhan dan kesempatan yang ada saat itu. Karena mengikuti proses belajar mengajar juga penting artinya bagi permbangunan di masa depan.

Perang Kemerdekaan I    

Perjanjian Linggajati yang disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Belanda mengalami kebuntuan dalam pelaksanaannya karena pihak Belanda menginginkan pengakuan kedaulatan atas wilayah-wilayah yang dikuasainya. Ada perlawanan sengit dari para pemimpin laskar perjuangan kepada pemerintah RI yang menyebabkan jatuhnya Kabinet Syahrir III pada tanggal 3 Juli 1947. Kemudian tentara pendudukan Belanda melancarkan aksi polisionil sepihak yang dikenal dengan sebutan Agresi Militer pada tanggal 27 Juli 1947 ke seluruh wilayah RI. Setelah berhasil menduduki Jawa Barat, pasukan Belanda melebarkan wilayah agresinya ke Jawa Tengah melalui Cirebon. Setelah menduduki Purwokerto, Belanda terus melakukan gerak maju ke arah Gombong melalui tiga jurusan yakni Sumpyuh, Sempor dan Ayah. 
Buku Peresmian Monumen
Jalan Tentara Pelajar di Kebumen

Pasukan Tentara Pelajar dari Seksi 333 yang dipimpin David Sullistyanto dan Sumardi bersama laskar-laskar perjuangan lainnya melakukan taktik bumi hangus. Akibatnya, pasukan Belanda dapat ditahan oleh TNI di sekitar Desa Kemit yang merupakan perbatasan antara Gombong dan Karanganyar. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh TP untuk mundur ke arah Timur dan membentuk pertahanan di Karanganyar. Anggota pasukan TP Sie 333 ini tersebar di beberapa lokasi yakni Karanggayam, Candi, Wanareja, Kali Kemit dan Puring. Setelah berkumpul di Markas Karanganyar, sebagian diantaranya ditarik ke Purworejo dan digantikan oleh Seksi 335 pimpinan Sutrisno. Mereka ditempatkan di sepanjang garis demarkasi di Desa Grenggeng dan Kuwarasan. Kisah selanjutnya ada di sini. 

Komandan Seksi 321, Anggoro
di Mubes KBTP Kedu Selatan  - Purworejo 1992
Staf Putri Markas Pusat Pelajar pada Markas Darurat Front Barat
ATIATOEN  saat ikut Mubes KBTP Kedu Selatan di Purworejo 1992

Pasukan Tentara Pelajar Kebumen yang tergabung dalam Seksi 332 bermarkas di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah 1 dipimpin oleh Sadar Sudarsono dan wakilnya Panudju Widayat memperkuat pertahanan di sepanjang garis demarkasi, terutama di Desa Candi dan Wanareja menggantikan Seksi 331 dan 333. Pada hari kedua penugasan, seksi ini telah menghadapi gerak maju pasukan Belanda yang dilengkapi berbagai senjata berat. Dalam pertempuran itu, Daryadi gugur dan kemudian dimakamkan di Kebumen. Sementara Oentoeng Soewito menderita luka terkena serpihan kanon, Kalam tertembak di tangan kiri dan Soewarso tertermbak di paha kanan. Akhirnya, pasukan TP dari Seksi 332 ditarik mundur dan digantikan Seksi 331 dari Purworejo yang dipimpin oleh Toewoeh. Pasukan ini ditempatkan di Desa Wanareja dengan tugas utama melakukan pengintaian. Diantara waktu penugasan yang berlangsung sekitar dua minggu, Seksi 331 menahan serangan 4 truk oenuh pasukan Belanda yang berasal dari arah Desa Panjatan yang diperkuat tank. Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur setelah tank dilumpuhkan dengan trekbom yang di pasang di desa Panjatan.

Markas TP Kompi 330 Batalyon 300 berada di Hotel Van Laar Purworejo juga berfungsi sebagai asrama bagi pasukan yang dikirim ke front Barat (Gombong dan sekitarnya). Akibat perjanjian Renville, pasukan TP dari Batalyon 500 (Tegal dan Pekalongan) mundur ke kantong gerilya dan bergabung dengan Kompi 330. Pada akhir Agustus 1947, markas kompi 330 menerima kedatangan Kepala Staf Batalyon 300, Moedojo, yang membawa surat perintah penugasan pasukan ke front Barat. Pasukan TP yang ditugaskan saat itu berasal dari Seksi 321 yang dipimpin oleh Anggoro, Sementara itu, komandan Kompi 320 yakni Tjok Saroso Hoerip membawahi sejumlah pasukan TP yang ada di Jogja dan pasukan Pelajar Sulawesi (Perpis) yang dipimpin oleh Maulwi Saelan. Kisah selengkapnya ada di sini dan di sini .
  

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Mengenang Perjalanan Sie Rusmin Nurjadin Masuk Kota Semarang


Oleh : H. Suwignyo

Pengantar

Akhir tahun 1949, hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) memutuskan pasukan Angkatan Bersenjata RI secara bertahap akan masuk kota Semarang dan sebaliknya, pasukan Belanda ditarik mundur dari kota itu. Tanggal 27 Desember 1949 adalah hari yang ditetapkan dalam KMB sebagai hari “penyerahan kedaulatan”. Maka, sebelum tanggal itu pasukan TNI harus masuk kota Semarang (juga Surabaya, Bandung dan Jakarta). Oleh pimpinan TNI yang diperintahkan masuk Semarang adalah pasukan TP (Brigade 17). Didampingi Batalyon dan Brigade SS yang telah berada di sekitar kota itu.

Masuk Kota Gombong

Sekitar 10 Desember 1949, Seksi (Sie) Sumardi yang dipersiapkan masuk Gombong mulai bergerak dari Kuwarasan di Selatan ke Jatinegara (Sempor, Utara Gombong). Di sana mereka bertemu pasukan Suwarno Bulet yang semula ada di Kebumen. Empat hari kemudian, kedua pasukan ini masuk Gombong dan dari Selatan masuk juga pasukan “Werkudoro” dipimpin Kapten Sumantoro. Keduanya bertemu di lapangan dekat benteng dan melakukan apel bersama. Pasukan TP menempati dua rumah bekas anggota KNIL di depan benteng dengan tugas utama patrol kota dan mengawal kereta api dari Gombong ke Stasiun Ijo. Di tengah penugasan ini, dua anggota  pasukan TP: mas Sumardi dan mas Rusmin dipanggil menghadiri reorganisasi di tubuh Detasemen III dengan hasil sebagai berikkut:
1.      Anggota Kompi II dan V yang setingkat SMA masuk Kompi II, sisanya masuk Kompi V.
2.      Anggota Kompi III dan IV yang setingkat SMA masuk Kompi III dipimpin oleh mas Wiyono. Sisanya masuk Kompi IV dan dipimppin oleh mas Suwarno.
3.      Ex Seksi Subiyono, Sumardi dan Suwarno/Panuju Widayat yang setingkat SMA masuk Seksi Rusmin Nuryadin sebagai Seksi I Kompi III Detasemen III Brigade 17 TNI. Seksi inilah yang ditugaskan masuk Kota Semarang.
Tidak semua anggota Seksi Rusmin ikut. Dua diantaranya: Nico Suparman dan Yusuf Sudirjo karena sangat kangen dengan keluarga, mereka pergi ke Jakarta dan meneruskan sekolah di kota ini.

Berangkat Ke Semarang

Pasukan TP dari Gombong diberangkatkan dengan kereta api ke Kutoarjo. Dari sini, kami bergabung dengan pasukan Subiyono (Purworejo) kemudian dilanjutkan dengan bus menuju Blabak – Magelang lewat Salaman dan Borobudur. Hal itu terjadi atas permintaan dari teman-teman TP yang ada di Magelang untuk meramaikan tugas mereka memasuki Kota Magelang selama dua hari (20-21 Desember 1949). Baru pada 22 Desember, kami berangkat ke Semarang dari Stasiun Blabak dengan perintah agar di kota Magelang dan memasuki Ambarawa, semua jendela harus ditutup. Dari Ambarawa kami dibawa dengan kereta ke Kedungjati menunggu kedatangan kereta dari Solo.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami dibawa se stasiun Alastuwo yang jaraknya sekitar 12 Km dari kota Semarang. Dari sini kami dijemput dengan truk militer yang dikemudikan oleh anggota pasukan dari Kompi II, Dulman (kalau tidak salah ingat). Menjelang maghrib, pasukan Garuda (sebutan untuk Kompi III) mulai masuk kota dan manuju satu sekolah (SMP Kanisius) Poncol bersama teman-teman dari Kompi II Yogya yang melakukan longmarch sambil membawa dua buah senapan ukuran 12,7. Di tempat ini kami langsung mendapat pembagian seragam baru berwarna khaki dan sepatu boot militer banyak yang kedodoran. Sementara itu, seragam lama drill hitam kami simpan. Hanya sekitar dua hari kami berada di Poncol dan segera dipindah-tugaskan ke Sektor Timur bagian Utara menempati rumah-rumah penduduk di Kelurahan Bogangan. Tak lama kami bertahan di situ, kemudian dipindah lagi ke Mlaten di Handelsschool bersama semua pasukan TP sampai saat demobilisasi pada April 1951.




Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN BANGSA DAN NEGARANYA BAGIAN III


Tentara Pelajar Terbentuk


Setelah kemerdekaan diproklamasikam 17 Agustus 1945 yang disambut gembira dan gegap gempita oleh seluruh bangsa Indonesia sekalipun dalam  kewaspadaan dan kesiap-siagaan yang sangat tinggi terutana dari kalangan pemuda, pelajar dan mahasiswa. Di mana-mana terjadi perebutan kekuasaan dari Balatentara Jepang yang memang sudah kalah perang. Di Semarang, para pelajar yang bergabung dalam AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), Gasemse (Gabungan Sekolah Menengah Semarang) serta laskar-laskar bantuan pelajar lainnya pada tanggal 19 Agustus 1945 melakukan hal sama dan menyebabkan banyak jatuh korban,  gugur sebagai kusuma bangsa. Menyadari besarnya potensi kekuatan perjuangan dari kalangan pelajar maka dibentuk Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) dalam suatu kongres nasional pelajar di Sitihinggil Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada pertengahan November 1945.

Dengan adanya Maklumat Pemerintah 5 Oktober 1945 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), IPI menyesuaikan diri dengan membentuk Bagian Pertahanan dan Markas Pertahanan Pelajar yang berpusat di Yogyakarta (sebutan popular markas ini adalah markas TP Tugu Kulon yang sekarang jadi museum Tentara Pelajar di Jl. Diponegoro dekat Pasar Kranggan, pen). IPI Bagian Pertahanan dibagi menjadi 3 resimen dan 1 batalyon yaitu :

1.      Resimen A untuk daerah – wilayah di Jawa Timur.
2.      Resimen B untuk daerah – wilayah di Jawa Tengah.
3.      Resimen C untuk daerah – wilayah di Jawa Barat.
4.      Batalyon  Tentara Genie Pelajar (TGP).

Sebutan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) diubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan disempurnakan sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada tanggal 3 Juni 1947. Karena itu, Tentara Pelajar di Jawa Timur lebih dikenal sebagai TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).

Pembagian daerah – wilayah untuk Resimen A adalah sebagai berikut:
·         Batalyon 1.000 di Mojokerto
·         Batalyon 2.000 di Madiun
·         Batalyon 3.000 di Kediri
·         Batalyon 4.000 di Jember
·         Batalyon 5.000 di Malang

Resimen B di daerah – wilayah juga dibagi menjadi 5 Batalyon yaitu:

·         Batalyon 100 di Solo
·         Batalyon 200 di Pati
·         Batalyon 300 di Yogyakarta
·         Batalyon 400 di Cirebon
·         Batalyon 500 di Pekalongan

Resimen C yang bergerak di wilayah Jawa Barat terkenal dengan sebutan TP Siliwangi dan dibagi menjadi 4 batalyon yaitu Batalyon I, II, III dan IV.


TENTARA PELAJAR ORGANIK MASUK TNI BRIGADE KE XVII

Dunia berkembang, jaman beralih, dan  perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara tetap tumbuh semakin mengakar. Penataan sarana perjuangan semakin tertib dan mantap. Demikian pula di dalam Tentara Pelajar. Di tengah suasana sibuk menghadapi infiltrasi musuh, masih ada kesempatan untuk berbenah. Dari bentuk non organik militer disempurnakan dalam tatanan dan jajaran kemiliteran bersamaan dengan reorganisasi dan rasionalisasi di tubuh Angkatan Perang berdasarkan Penetapan Presiden No. 1 tanggal 2 Januari 1948 dan disempurnakan pada tanggal 4 Mei 1948.

Dari Surat Perintah Panglima Besar TNI tanggal 25 Maret 1948 yang isinya perintah reorganisasi dan rasionalisasi, Angkatan Perang RI dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu Pasukan Mobil, Pasukan Teritorial dan Pasukan Cadangan (Reserve). Tentara Pelajar masuk dalam Pasukan Cadangan (Kesatuan Reserve Umum – KRU) W yang pelaksanaannya dimulai dari 15 Mei 1948. Melihat gelagat tentara Belanda yang akan melanggar perjajian Remville, maka pemerintah mengeluarkan “Perintah Siasat I” yang intinya tentang pokok-pokok peran gerilya dan wingate (kembali masuk ke kantong-kantong gerilya). TP Siliwangi yang semula melangkah dengan “hijrah” ke Jawa Tengah,  dengan adanya perintah tersebut kembali ke wilayahnya yakni di Jawa barat.

Di masa gencatan senjata, pata pimpinan Tentara Pelajar tetap memikirkan kegiatan belajar –mengajar para anggotanya dengan cara mendirikan sekolah peralihan. Sebagai pasukan cadangan, Tentara Pelajar menjalankan tugas ganda sebagai pelajar yang harus memikirkan masa depannya. Dan selaku pasukan cadangan, mereka harus bersiaga dengan menjata tetap di tangan untuk mengawal bangsa dan negaranya dari ancaman musuh asing maupun pemberontakan dari kalangan bangsa sendiri seperti pemberontakan PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikenal sebagai Madiun Affair. Sementara itu, Nampak peningkatan kegiatan Tentara Belanda. Tanggal 28 Oktober 1948, pemerintah membentuk Markas Komando Djawa (MBKD) sebagai pusat kendali militer untuk seluruh P. Jawa.    Sebagai pasukan cadangan di KRU W, Tentara Pelajar masuk jajaran orgnisasi TNI sebagai TP Brigade 17 TNI. Belum sempat menyempurnakan organisasi TP yang sebenarnya terdiri dari 3 detasemen ini, agresi tentara Belanda ke ibukota RI di Yogyakarta telah terjadi dan menawan sebagian besar pimpinan pemerintah RI. Inilah awal terjadinya perang gerilya bagi organisasi pasukan pelajar tersebut.


SUSUNAN PIMPINAN
TENTARA PELAJAR TNI BRIGADE XVII

1.      Sebelum terjadi Agresi Belanda (Perang Kemerdekaan II):

·         Komandan
:
Letkol. Soedarto
o   Wakil Komandan
:
Mayor Soewarto



·         Komandan Batalyon Aktif

·         Mayor Isman
·         Mayor Achmadi



·         Komandan Batalyon Reserve

·         Kapten Hartono
·         Kapten Suyono



·      Komandan Pasukan Zeni Pelajar

·         Kapten Hartawan

2.      Setelah terjadi Agresi Belanda (Perang Kemerdekaan II):

·         Komandan
:
Letkol. Soedarto
·         Wakil Komandan
:
Mayor Isman



Komandan :


1.      Detasemen I
2.      Detasemen II
3.      Detasemen III
4.      Detasemen IV
5.      Detasemen V

Mayor Isman
Mayor Achmadi
Mayor Martono
Kapten Solichin
Kapten Hartawan
TRIP Jawa Timur
TP Solo
TP Yogya
TP Siliwangi
TGP
Staf Brigade
:
Mayor Soewardi
Kapten Hartono
Kapten Soejono





Batalyon 55
:
Mayor Mashuri
TP SA/CSA



Posted in , , , , | Leave a comment

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN NEGARA DAN BANGSANYA Bagian II

Perundingan di atas Kapal Renville


Peran Pelajar Pejuang dalam Perang Kemerdekaan

Pelajar pejuang mengambil prakarsa melatih para pemuda di desa-desa untuk melaksanakan strategi pertahanan rakyat semesta. Yang berasal dari Sekolah Teknik dalam Tentara Genie pelajar berprakarsa membuat senjata diantaranya granat tangan, tekidanto, bom Molotov, bom tarik dan sebagainya. Pemuda Pelajar yang kemudian bernama dalam Tentara Pelajar mengintegrasikan diri dengan kekuatan perjuangan lain dan ikut aktif dalam berbagai front seperti Jrakah, Candiroto dan Ambarawa di Semarang. Penugasan ke front dilakukan secara bergilir dan gabungan antar pasukan. Bagi yang belum mendapat giliran akan dibekali dengan pemahaman tentang strategi pertahanan rakyat semesta (people defense), bela Negara dan teknik-teknik kemiliteran seperti membuat rintangan di jalan, lubang-lubang perlindungan, pengumpulan bahan makanan dan sebagainya. Pada umumnya, para pemuda dan pelajar yang tidak ikut bergabung dalam pasukan-pasukan organik Tentara Pelajar, bergabung dengan KODM (Komando Order Distrik Militer) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Di pagi buta, 21 Juli 1947, pasukan Belanda melakukan aksi polisionil di berbagai tempat. Mojokerto, Malang dan Salatiga berhasil diduduki satu per satu. Pasukan Belanda yang ada di kota Semarang bergerak menuju Solo, tetapi berhasil dihambat di Salatiga oleh TNI dan laskar pejuang lainnya. Di Tenggara hanya sampai Kedungjati. Pasukan yang bergerak di sisi Timur hanya sampai di Tanggulangin, sebelum masuk kota Kudus. Sementara itu, gerak pasukan Belanda juga dihambat oleh Tentara Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati). Dengan sistem bergilir, semakin banyak anggota pasukan Tentara Pelajar meninggalkan bangku-bangku sekolahnya dengan satu tekad atau sumpah “ Kami tidak akan kembali ke bangku sekolah sebelum tentara penjajah enyah dari bumi Indonesia”.   Tugas Tentara Pelajar selain menahan laju pasukan Belanda bersama TNI, juga melakukan sabotase, penghadangan dan gangguan terhadap pos-pos atau markas pasukan Belanda.

Ciase Fire (Gencatan Senjata)

Atas perintah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK – PBB), terhitung sejak             1 Agustus 1947 diadakan gengcatan senjata di bawah pengawasan Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia dan Belgia. Perundingan dilaksanakan di atas kapal Renville milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) pada tanggal 8 Desember 1947. Isi perjanjian Renville diantaranya adalah agar pasukan gerilya ditarik dari daerah-daerah kantong ke wilayah RI. Meski sangat mengecewakan para pejuang, tetapi komando Jenderal Sudirman selaku panglima besar tetap dipatuhi. Saat-saat seperti itu biasanya dimanfaatkan oleh sebagian anggota Tentara Pelajar untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat atau yang terdekat dengan pos mereka. Kesiap-siagaan terhadap kemungkinan adanya serangan dadakan dari pasukan Belanda tetap dilakukan di pos atau markas masing-masing mengingat pengalaman atas kelicikan tentara penjajah tsb.  Satu diantara banyak saksi bisu atas kelicikan tentara penjajah Belanda diabadikan sebagai nama jembatan kereta api di kota Kebumen (pen).

Tugu Renville

Jembatan Renville

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN NEGARA DAN BANGSANYA - BAGIAN I




Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kepeloporan pemuda sebelum abad 19, maka dalam mengungkapkan kepeloporan pemuda pelajar sebagai cukilan sejarah, kami hanya akan memulai dari peristiwa yang terjadi pada abad 19. Lahirnya Boedi Oetomo (BO), 20 Mei 1908, yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Kebangkitan Nasional, hidup di jaman kolonial. Karena itu, gerakan nasionalisme untuk membela bangsanya dari penindasan dan kemiskinan yang mereka lakukan tidak terang-terangan. BO yang dipimpin oleh Soetomo melakukan diskusi tentang penderitaan dan masa depan bangsanya. Gerakan BO membangkitkan jiwa kebangsaan para muda dan mendapat dukungan luas dari berbagai organisasi yang seazas. Maka, di Jakarta dalam arahan pemuda Satiman, Kadarman dan lain-lain membentuk satu organisasi yang diberi nama Trikoro Dharmo yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java. Tujuan organisasi pemuda pelajar ini adalah kebebasan bangsa dan negaranya dari penjajahan Belanda. Pergerakan Jong Java mendorong pertumbuhkan kesadaran atas kebangsaan di berbagai pulau dengan berdirinya Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon dan Jong Islamieten Bond yang dilahirkan oleh para Pemuda Muslim. Mereka kemudian mendirikan Perhimpunan Masa Muda Indonesia yang selanjutnya diubah menjadi Jong Indonesia. Inilah cikal bakal berdirinya organisasi Pemuda Indonesia yang menyelenggarakan Kongres Pemuda I di tahun 1926 dan II pada 27 dan 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Kepeloporan pemuda menuju kemerdekaan bangsa dan negaranya juga terjadi di luar negeri, yakni Belanda.  Moch. Hatta dan kawan-kawan mendirikan Perhimpunan Indonesia yang terdiri dari para mahasiswa dan pelajar yang  tengah menimba ilmu di negeri kincir angin itu. Pecahnya Perang Dunia II menyebabkan penyerahan kekuasaan atas tanah air Indonesia dari Belanda kepada Jepang pada 28 Maret 1942.



Masa Ujian Berat bagi Pemuda – Pelajar Indonesia   

Dengan dalih demi kejayaan “ Dai Tooa (Asia Timur Raya)”, para pemuda dan pelajar dilatih keprajuritan secara paksa. Kehidupan rakyat kian berat dan sengsara. Kekayaan alam dikuras habis dan tenaga rakyat ditindas dengan kerja paksa tanpa bayar (romusha). Situasi yang demikian beratnya justru menumbuhkan semangat perlawanan para pemuda dan pelajar untuk memerdekakan diri dan bangsanya.  Oleh para pemimpin pemuda, pelajar dan rakyat, situasi itu dimanfaatkan untuk membentuk Barisan Pemuda ( Seinendan ), Pembantu Polisi  (Keibodan), Barisan Pelopor (Gyugun Syuinsintai), Pembantu Balatentara Jepang  (Heiho), dan Pembela Tanah Air  (Peta). Para pelajar juga membentuk perhimpunan yang disebut Syoto Chugakko  (SMP) dan Chugakko  (SMA/SMK). Mereka dilatih kyoren (latihan dasar kemiliteran) dan kendo (memakai pedang kayu). Satu peristiwa penting dalam masa penjajahan Jepang adalah pemberontakan Peta di Blitar yang dipimpin oleh Supriyadi. Kekejaman penjajahan Jepang di tanah air berakhir ketika tentara sekutu yang dipimpin Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 14 dan 15 Agustus 1945. Atas hal itu, sebagian besar balatentara Jepang pulang ke tanah airnya. Tetapi sebagian kecil masih bertahan di benteng-benteng pertahanan bawah tanah atau gua-gua yang telah mereka siapkan untuk upaya penyelamatan diri (bersembunyi). 



Posted in , , , , , , , , | 1 Comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia