Sebuah Pilihan Nama Tetenger Patilasan Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Brigade XVII TNI Di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I – 1947


Pengantar


Perang Kemerdekaan I – 1947 terjadi di banyak medan laga dan dilakukan oleh berbagai kekuatan, laskar pejuang  dan/atau Tentara Nasional Indonesia (termasuk saat bernama Tentara Keamanan Rakyat/TKR). Tentara Pelajar berdiri atas inisiati para pegiat Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) saat melakukan Kongres I di Sitihinggil Kompleks Keraton Yogyakarta pada Juni 1946. Pertama kali muncul memakai nama atau sebutan Bagian Pertahanan IPI sebagai unit khusus untuk mewadahi para pelajar setingkat SMP dan SMA yang merasa terpanggil jiwa raga-nya mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai alasan utama. Setelah mengalami beragam proses konsolidasi dan aktualisasi diri, kemudian muncul nama Tentara Pelajar (Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera); Tentara Republik Idonesia Pelajar (TRIP – Jawa Timur); Tentara Genie (baca zeni) Pelajar (TGP – kebanyakan anggotanya pelajar sekolah teknik – ST/STM); Student Army (SA/CSA – kebanyakan ada di sekitar eks Karesidenan Semarang dan Pati) dan beberapa nama lain seperti Corps Mahasiswa (CM); TP IMAM (Indonesia Merdeka Atau Mati).

Sebagai Ibukota Negara sementara, Yogyakarta juga menjadi pusat kekuatan perjuangan menegakkan Proklamasi Kemerdekaan RI. IPI Bagian Pertahanan juga melakukan hal serupa dengan nama Markas Pusat Pelajar (MPP) di Tugu Kulon (sekarang jadi Museum TP di Jl. Diponegoro sebelah Barat Pasar Kranggan) sebelum pindah ke beberapa tempat.

Menurut penuturan almarhumah Ibu Atiatoen yang bergabung sejak awal pembentukannya, beliau mendapat surat perintah dari Kepala Staf Putri Markas Pusat Pelajar, mBak Sri Daruni, pada penugasan keduanya akan ditempatkan di Markas Darurat untuk Front Barat yang berada di Kompleks Gereja Kristen Jawa Jalan Stasiun (sekarang bernama Jalan Pemuda) Kebumen selama menjalani libur kenaikan kelas sekitar akhir Juli 1947. Berbekal surat perintah itu, Atiatoen segera menemui Kepala Markas yakni mas Moedojo (baca Mudoyo) dan mas Tjiptardjo (baca: Ciptarjo) wakilnya. Keduanya menempati satu rumah di selatan GKJ yang sebenarnya merupakan rumah dinas pendeta GKJ. Sementara asrama darurat bagi pasukan pelajar ini ditempakan pada aula di lingkungan gereja.

Secara kebetulan, Atiatoen mengenal cukup baik keluarga Bapak Reksodihardjo yang menjabat sebagai pendeta GKJ. Ditambah dengan hubungan akrab salah seorang putra beliau yang bernama Agustinus dengan kakak kandungnya, Affandi yang akrab dipanggil Pandi Gondhek, asrama itu dilengkapi ruang dan perlengkapan dapur umum serta seorang juru tanak nasi bernama Fatonah serta seorang pria desa Legok Pejagoan yang lupa namanya sebagai pencari kayu dan kebutuhan logistik dapur umum.  

Keadaan Markas maupun Asrama darurat relatif biasa pada awal sampai pertengahan Agustus 1947. Tetapi berubah hiruk pikuk oleh suara-suara khas remaja menjelang dewasa yang hendak menghadapi suasana khusus uji nyali dan hasil latihan dasar kemiliteran di medan tempur sesungguhnya. Begitu banyaknya Markas Pusat mengirim pasukan ke front Barat dan kesibukan menyiapkan nuk (nasi bungkus) membuat Atiatoen tak memiliki kesempatan untuk mengenal siapa dan dari mana saja pasukan pelajar itu berasal. Tapi ia sempat bertanya tentang asal mereka kepada Pelajar Kalimantan yang membantu dirinya mengambil sayuran dan kelapa di kebun belakang rumah orang tuanya.  Dari hal semacam itu, ia tahu bahwa Markas Pusat sangat serius dalam menangani Front Barat. Semua kekuatan pelajar pejuang dikerahkan. Entah itu bernama TP, TRIP, TGP, SA/CSA, Pelajar Sulawesi (Perpis), Kalimantan, Flores, Ambon dan lain-lain. Semua diangkut dengan kereta api. Karena jaraknya hanya sekitar 150 meter dari stasiun, semua pasukan pelajar yang berada di bawah kordinasi Markas Pusat melaporkan kedatangan mereka. Ada yang sebentar dan melanjutkan perjalanan ke Markas Karanganyar. Tetapi banyak juga yang menginap satu dua hari di markas darurat yang ikut dikelola bersama teman-teman sedaerah yang bersekolah di Sekolah Guru Putri (SGP) Jalan Jati Yogyakarta.  Mereka adalah Oemijatoen (kakak kelas dan adik kandung Komandan Batalyon 300 mas Martono asal Meles Karanganyar); Rasini (kakak kelas asal Meles Karanganyar), Oemi Wasilah (teman seangkatan, Kebumen) serta Suprapti yang rumahnya berhadapan dengan kantor markas.

Satu hal yang sangat diingat oleh Atiatoen yakni suasana lain dari biasanya. Saat itu, ada sejumlah pasukan yang kabarnya merupakan gelombang terakhir datang mengambil jatah nasi bungkus di dapur umum. Seseorang yang dipanggil dengan nama Lowo membuat suasana di dapur umum tambah gaduh dengan gurauan dan tingkahnya. Karena itu, sebagai penanggung jawab, Atiatoen mengeluarkan suara keras menghardik Lowo agar tidak mengganggu pekerjaan mereka. Dasar remaja menjelang dewasa, sambil berlalu, Lowo membuat kegaduhan lainnya.

Pagi itu, 1 September 1947, Ataitoen datang terlambat ke tempat tugasnya. Nampak wajah mas Tjiptardjo sangat tegang, berbeda dari biasanya yang ramah. Ia hanya berkata singkat ” mbak.. hari ini teman-teman di dapur umum bisa istirahat cukup setelah membereskan sisa kotoran semalam.. teman-teman tengah stelling (siaga perang) dan ada yang stoot (sedang bertempur). Lusa kan hari kelahiran Ratu Wilhelmina… biasanya ada serangan besar”. Atiatoen mengangguk dan segera menuju dapur.

Hari kedua September tak ada suara engah dan peluit kereta api. Kantor markas tutup dan asrama kosong. Tapi sangat bersih dan rapi. Melihat suasana itu, Atiatoen segera menuju paviliun gereja yang ditempati Bapak Rekso selama rumah dinasnya dipakai oleh Tentara Pelajar. Yu Fatonah tengah menanak nasi di dapur. Ibu Rekso segera menghampiri begitu beliau melihat Atiatoen menuju ke tempat tinggalnya.
Beliau berkata. “ nak.. sebaiknya kamu pulang saja. Pagi-pagi sekali,  mas Moedojo pamit. Katanya mau kembali ke Jogja barang satu dua hari. Sedangkan mas Tjiptardjo katanya akan ke markas TP Kebumen di Kauman. Jadi kantor markas kosong”. Setelah pamit, Atiatoen segera berjalan kaki ke rumahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari asrama.

Belum sampai di halaman rumah, ia dihampiri mas Pandi Gondek.
“ Dik Toen…kamu di rumah saja. Jaga ayah dan keluarga. Belanda mengamuk di Puring. Kalau sampai ke sini, ungsikan semua keluarga ke Utara lewat jalur tengah. Jalur Timur yang biasa kita pakai sudah diduduki Belanda”.
Meski semua anggota keluarga sudah lebih dulu mengungsi, Atiatoen tetap bertahan di dalam rumahnya.
Malam itu sangat gelap dan ia tak berani menyakan pelita. Menjelang tengah malam ada sejumlah orang bersepatu berusaha mendobrak pintu rumahnya yang terbuat dari kayu jati tua. Karena tak berhasil, mereka berlalu sambil menembak beberapa bagian rumahnya. Dari ucapan yang terdengar, mereka adalah NICA (orang Indonesia yang dijadikan tentara penjajah Belanda).
Malam itu benar-benar mencekam. Dan menjelang matahari terbit, Atiatoen segera menuju asrama lewat pintu belakang rumahnya.  

Kantor markas memang masih tutup. Tapi mas Tjiptardjo sudah ada di kediaman Bapak Rekso. Atiatoen segera menghampirinya. Sejenak kemudian, mas Tjip berkata:
“ mBak… kita kehilangan banyak teman seperjuangan di Sidobunder. Teman-teman dari markas Kauman yang baru pulang dari sana memberi tahu kejadiannya. Mungkin siang nanti ada sejumlah peti jenasah yang harus kita siapkan buat teman-teman yang gugur dan akan dibawa ke Jogja. Pak Rekso menyanggupi untuk menyediakan peti jenasah itu. mBak Toen bisa langsung ke dapur menyiapkan makan siang teman-teman yang mengawal jenasah atau kembali dari front. Di teras asrama memang tengah terjadi kesibukan sejumlah tukang kayu menyiapkan peti jenasah.

Menjelang siang, ada sedikitnya lima peti yang telah disiapkan bagi jenasah pelajar pejuang yang gugur di medan laga Sidobunder. Atiatoen tak sempat melihat nama yang tertera. Ternyata hanya ada satu jenasah yang dibawa ke markas yaitu almarhum Harry (Suryo Haryono). Hal ini dikuatkan oleh pakde Djokowoerjo-pen. 

Suasana sedih memang terasa, meski tak menghanyutkan. Dasar ramaja puber, ada saja cara untuk mengalihkan suasana duka yang sangat mendalam bagi keluarga besar Tentara Pelajar dan bangsa Indonesia umumnya. Ternyata tanggal 3 September 1947 adalah hari terakhir keberadaan asrama dan markas darurat setelah  jenasah yang disemayamkan di teras asrama dibawa ke stasiun dan dilanjutkan ke Jogja. Semua syuhada dari  pelajar pejuang kemerdekaan itu dibawa ke Semaki setelah sampai stasiun Tugu dalam penghormatan yang besar dari warga di sepanjang jalan yang dilalui.


Proses Pembuatan Tetenger   

Ringkasan cerita di atas adalah sumber utama bagi saya dalam menyusun rancang bangun dan Usulan Pembuatan Tetenger Patilasan Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Batalyon 300di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I – 1947. Sepanjang setengah tahun gagasan itu hanya disampaikan secara lisan pada berbagai pertemuan ex Tentara Pelajar di Kebumen dan Jogjakarta, tanggapan umum cenderung datar atau dingin. Sementara itu, hubungan telepon antara Ibu Atiatoen di Kebumen dan Bapak Agustinus Reksodihardjo di Bandung semakin sering terjadi untuk saling menguatkan.

Seperti biasa, Ibu Atiatoen segera meminta saya untuk menghitung jumlah uang yang harus di siapkan untuk mewujudkan gagasan itu. Bersama Ibu Rasini, kami membentuk Panitia Kecil dengan susunan sebagai berikut:



Susunan Panitia Kecil
Pembangunan Tetenger Rumah Perjuangan Tentara Pelajar
Markas Darurat Front Barat pada Perang Kemerdekaan I – 1947

Penasihat
:
1.      Thomo Sudirman (Bandung)
2.      Agustinus Reksodihardjo (Bandung)
3.      Salmon HS (Kebumen-saudara kandung David Sulistyanto)
Ketua
:
Umar Soekarno, BE (Ketua Paguyuban III – 17 Rayon Kebumen
Sekretaris
:
1.      Toto Karyanto
2.      Rasini
Bendahara
:
Atiatoen
Kordinator Lapangan
:
Amini Soeroto (mewakili anggota Majelis GKJ Kebumen)
Pelaksana
:
Toto Karyanto


Setelah Usulan tertulis (Proposal) disebar – luaskan  dalam jangka waktu sekitar setengah tahun, tanggapan pertama dari Bp. Supangat yang saat itu menjadi anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dengan cara memindah-bukukan sejumlah dana seperti tercantum dalam Laporan Keuangan di atas.  Sementara itu, seperti biasanya pula, anggota Paguyuban III 17 di Kebumen hanya memberi tanggapan lisan dan  dorongan moral. 

Karena alasan “sungkan” dengan penyumbang dan pihak GKJ, Ibu Atiatoen memberanikan diri mewujudkan bangunan itu dengan resiko apapun agar dana segar segera cair yaitu meminjam uang di bank dengan jaminan SK pensiun selaku guru SD selama 36 tahun mengabdi. Langkah awal dilakukan. Sekadar menjadi tanda, peletakan batu pertama dilakukan sendiri oleh Ketua Panitia tanpa upacara. Meski beberapa rekan sejawat dan sejumlah wakil kantor pemerintah telah diundang (minimal diberitahu langsung oleh Ibu Atiatoen) tapi tak ada yang hadir untuk memberi sedikit pelipur lara (kalau tak bisa disebut penghargaan bagi pejuang kemerdekaan yang bertaruh nyawa untuk semua orang yang menikmatinya saat ini). Dalam jangka waktu sekitar dua minggu, wujud nyata bangunan itu mulai nampak dalam balutan papan-papan cor beton. Ternyata sisa dana pinjaman dan beberapa sumbangan yang masuk ke kas Panitia tak mampu menopang biaya penyempurnaan bangunan Tetenger yang tersisa sekitar 30%. Sampai beberapa bulan balutan papan albasiah itu mulai lapuk ditelan masa dan membuat Majelis Gereja prihatin. Melalui Kordinator Lapangan, Ibu Amini Suroto, Panitia mendapat teguran halus. Kembali Ibu Atiatoen “menyekolahkan” tanda jasanya untuk mendapatkan dana segar. Singkat kata, Tetenger itu dapat diwujudkan dalam keadaan yang paling sederhana.




Bangunan yang persis berada di depan aula GKJ atau sekarang disebut Gedung Prabasanti itu sangat sederhana dan belum sempat diresmikan. Apalagi diserahterimakan kepada GKJ selaku pemilik lahan dan penyumbang utama dalam menyelenggarakan kegiatan Markas Darurat Tentara PeLajar dari Markas Pusat (sering disebut sebagai Batalyon 300) untuk Front Barat sebagai ungkapan rasa terima kasih. Sehingga, ketika bangunan itu mulai terlihat kusam, pihak GKJ merawatnya dengan cara mengecat dan menjaga keutuhan bangunan.

Dari semua anggota Panitia,  yang masih hidup sampai saat ini tinggal berdua yakni Bapak Agustinus Reksodihardjo dan saya. Agar diketahui, jumlah eks anggota Tentara Pelajar tak mungkin bertambah. Tapi seballiknya, sangat mungkin berkurang seiring dengan perjalanan usia. Setelah Bapak Thomo Sudirman, menyusul kemudian Bapak Salmon HS, Bapak Umar Sukarno, Ibu Rasini dan terakhir Ibu Atiatoen pada 26 Juli 2010 setelah dirawat selama lebih dari 6 (enam) bulan di rumah dan 40 hari di tiga rumah sakit.  Akhirnya, kabar gembira datang dari telepon Bapak Agustinus Reksodihardjo yang selama lebih dari lima tahun tidak saling memberi kabar dengan kami. Semoga di sisa usia ini, kami mampu mewujudkan amanat itu dengan benar dan baik.




Mata Pena… Mata Hati

Mata Pena
ada di antara goresan
tinta emas para  pejuang kemerdekaan
yang tinggalkan bangku sekolah
jauh keluarga dan sanak saudara
tuk berbakti kepada negeri
yang tengah dihinakan
dan dinistakan
kemurkaan itu
dari wajah-wajah bengis penjajah
penghisap darah, keringat dan air mata
tanah airku negeri nan kaya

Mata Pena
mata hati  yang melihat kesombongan itu
dan hianat para durjana pelacur negeri
tak pernah jijik menjilat ludah sendiri
tak pernah malu mesti ditelanjangi
dan tak berasa risi dengan gerahnya kebodohan
karena mereka tak bermata
hati beku dalam selimut congkak

Selama pena menggores buku
sumber-sumber ilmu tiada kering
Meski debu kian memburu
dan angan-angan pengumbar nafsu
Angkara murka tak pernah bersukma

Mata Pena ... mata hati
tetap membara dalam nurani
tanpa ragu dalam berbakti
tiada enggan tuk berbudi
Bagimu negeri dan Ibu Pertiwi
Kami berbakti
Karena merdeka itu hakiki
tiada ada yang menandingi
Selain kehendak Ilahi

This entry was posted in ,,,,. Bookmark the permalink. Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

2 Responses to Sebuah Pilihan Nama Tetenger Patilasan Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Brigade XVII TNI Di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I – 1947

  1. sungguh suatu pengorbanan yang tulus dari hati sanubari untuk berdirinya suatu negri

  2. mereka adalah sejumput debu di padang gersang kejujuran, konsistensi dan tentu saja ketulusan berbuat benar di saat yang sesuai yakni menyambut panggilan ibu pertiwi. Semoga dapat menjadi cermin hidup dari pada sekadar satu bangunan beton yang bernama, tapi tak bermakna.

Leave a Reply