Catatan Akhir Tahun 2013 - Bagian I

Foto. Antaranews.

Pergeseran nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebenarnya merupakan suatu keniscayaan bagi Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa dan budaya. Hal yang diharapkan tentu saja munculnya kesadaran untuk menguatkan peradaban dan keadaban. Karena bangsa yang memiliki peradaban kuat akan mampu menghadapi perubahan yang pasti terjadi ke arah yang lebih positif. Demikian juga sebaliknya. Satu bangsa akan terjerumus dalam kehinaan ketika perubahan keadaan yang terjadi lebih banyak menonjolkan hal-hal yang negatif.

Sepanjang waktu pasca Bangsa Indonesia berjuang meraih dan menegakkan kemerdekaan, semakin banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa pergeseran nilai kemanusiaan yang adil dan beradab cenderung mengarah pada sisi negatif. Konflik sosial dan politik seolah tanpa ada penyelesaian memadai secara substantif. Dalam panggung politik khususnya, kebanyakan pemimpin tak pernah memberi contoh yang menunjukkan bahwa sikap kenegarawanan sebagai cara paling beradab dan modern dalam menyelesaikan konflik itu. Bahkan sebaliknya, terlalu menonjolkan sektarianisme yang berbungkus aneka rupa perilaku narsistis. Akibatnya, setiap terjadi konflik sosial maupun politik secara nasional, dapat dipastikan berdampak dendam kesumat dari pihak yang menjadi korbannya.

Perilaku kenegarawanan justru muncul dari kalangan pemimpin informal dan perguruan tinggi tententu.  Selain Bung Hatta yang bertahan dengan idealisme politik non partisan, sangat sulit menemukan sosok yang sebanding dengan Proklamator dan penggagas Siasat Ekonomi ini. Apalagi di atasnya. Para pemimpin politik dari perguruan tinggi dan organisasi-organisasi sosial yang semula menampakkan perilaku positif, ketika masuk dalam lingkaran kekuasaan formal tak mampu lagi mempertahankan kapasitas intelektualitasnya sebagai upaya melakukan perubahan internal. Entah karena gamang, tak lagi punya nyali atau kuatnya faktor kontaminatif di dalam lingkungan baru, mereka seperti kehilangan daya. Akhirnya, masyarakat awam kembali harus menelan kekecewaan dan begitu seterusnya dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Partai politik yang seharusnya berperan utama sebagai pusat pendidikan politik masyarakat dalam hal perilaku kenegarawanan dan wawasan kebangsaan tak pernah beranjak dari posisinya sebagai alat kekuasaan kelompok orang tertentu saja. Kelompok itu lebih sering  menampakkan perilaku feodalistik ketimbang demokratik sebagaimana diamanatkan oleh isi Mukadimah UUD 1945. Kesetiaan buta terhadap sekte-sekte politik yang dianut para elit pemimpinnya. Bukan kesetiaan pada tujuan perjuangan bangsa Indonesia yang berujung pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam beberapa catatan sebelumnya, saya menyoroti dua hal (tema) besar yakni diaspora Indonesia dan relawan kemanusiaan. Pada tema diaspora Indonesia, banyak hal menarik yang patut diangkat menjadi bahan pembelajaran bersama selaku bangsa beradab. Mereka yang merasa punya keterikatan dengan sejarah dan budaya Indonesia dan berkehidupan di berbagai belahan dunia serta menjalani beragam profesi, ingin menunjukkan diri kepada orang-orang, lembaga dan sejumlah pihak di tanah lahir, tanah air atau kampung halaman Indonesia bahwa keberadaannya selayaknya tetap diakui sebagai bagian dari Indonesia. Indonesia yang bisa berarti wilayah kekuasaan suatu negara, satu suku bangsa atau sisi unik yang hanya bisa dijelaskan dengan rasa. Cinta tanah air dan ragam budaya yang tak hanya indah dipandang, tapi juga nyaman disandang. Kenyamanan yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang mapan secara ekonomi dan sosial yang diperoleh dari proses pencapaian pribadi berkarakter. Memenangi pertarungan pribadi di bawah bayang-bayang muram inferioritas masyarakat umum di tanah lahir atau kampung halaman Indonesia.

Menyandang atribut keindonesiaan yang sering dilanda konflik sosial dan politik bukan hal mudah dalam berperikehidupan di manca negara. Hal itu tercermin dalam perlakuan pemerintah dan mungkin juga masyarakat setempat kepada para TKI di Malaysia misalnya. Sementara itu, nasib yang lebih baik dialami oleh orang-orang yang memiliki kemampuan profesional yang memadai seperti para ahli, teknisi, dosen dan sebagainya. Contohnya, Hadi Nur, seorang profesor kimia yang masih berusia 44 tahun dari Ranah Minang yang menjadi Staf Pengajar di Universiti Teknologi Malaysia. Sebelum itu, ada satu nama yang sangat popular di tahun 1980-an, Dr. Sadono Sukirno dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang satu bukunya “ Ekonomi Pembangunan” merupakan referensi nasional.

Dua orang diaspora Indonesia di Malayasia adalah sebuah contoh kecil betapa berharganya mereka di negeri orang dibanding di negeri atau tanah lahirnya. Sebagaimana dipaparkan oleh Hadi Nur, banyak pemimpin formal maupun informal di Malaysia bertalian sangat erat dengan sejarah dan budaya Indonesia. Mereka sukses di berbagai bidang kehidupan dan dihargai sepadan. Misalnya, Dato’ Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Rajak yang saat ini menjabat Perdana Menteri adalah keturunan Sultan Gowa di Sulawesi.  Jadi, mengapa kita harus meradang saat batik dan beberapa artefak budaya Indonesia dinyatakan (di-claim) oleh warga Malaysia yang sangat mungkin dia atau mereka jauh lebih Indonesia dari pada orang Indonesia yang ada di negeri sendiri ? Benarkah model-model ekspresif seperti itu merupakan bukti kuat bahwa nasionalisme orang-orang di dalam negeri masih sangat sempit sebagaimana diungkapkan Indah Morgan (diaspora Indonesia di Inggris) dalam satu wawancara dengan Radio Australia beberapa saat sebelum berlangsung Kongres II Diaspora Indonesia di Jakarta pada 18-20 Agustus 2013 lalu ?

Sempitnya pemahaman nasionalisme dapat dilihat dari penampilan tim-tim olahraga, terutama sepakbola. Betapa kuat dukungan kepada tim untuk memenangi satu pertandingan internasional. Jargon dan yel-yel digaungkan bertalu-talu di berbagai media. Entah berapa besar sumber daya yang harus dikorbankan. Begitu tim yang begitu dielukan kalah, apalagi telak, semua gegap gempita sering berbalik arah jadi caci maki dan sumpah serapah. Tak terkecuali dari orang-orang yang semula ingin mendapat pengakuan/ keuntungan dari situasi emosional ini. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh Dubes RI untuk Amerika Serikat, Dr. Dino Pati Djalal, tentang sinisme publik.  

Yang menarik dari perjalanan Diaspora Indonesia justru sikap anak keturunan “budak belian” di Suriname. Sejarah mencatat bahwa para leluhur mereka dibawa paksa oleh pemerintah penjajahan Belanda dipekerjakan sebagai tenaga kerja kasar tanpa bayar selain makan minum yang kondisinya mungkin juga sangat minimum. Kini, bukan sekadar bangkit melawan perbudakan, tapi mampu menyejajarkan diri dengan warga bangsa lain di seluruh penjuru jagad raya dan menduduki posisi-posisi strategis. Soewarto Mustadja misalnya, anak keturunan orang Desa Kalirancang Kecamatan Alian di Kebumen yang kini jadi Menteri Dalam Negeri Suriname. Dalam posisinya yang begitu penting, beliau masih menjaga eksistensi budaya dan tak segan mengakui asal muasal dirinya dari sebuah desa yang tergolong miskin pada saat itu sampai beberapa dasawarsa paska kemerdekaan.

Banyak hal menarik dari kiprah Diaspora Indonesia. Pernyataan mantan Presiden B.J. Habibie tentang kelangkaan lapangan kerja yang sesuai dengan kapasitas keahlian mereka sangat perlu mendapat perhatian. Jangan hanya reaktif dan meradang saat bagian dari identitas budaya kita diklaim milik penduduk negeri jiran tanpa menelusur sejarah yang menyertai. Bila ternyata mereka memang (sebenarnya) masih merupakan bagian dari Bangsa Indonesia yang tersisih karena tekanan ekonomi maupun politik diskriminatif dalam negeri. (bersambung..tema: relawan kemanusiaan..).

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

RELAWAN PMI MENGGUGAT - BAGIAN II






Tindak lanjut aksi 3 Desember 2013, kami telah beraudiensi dengan dua fraksi besar di DPR RI yakni FPDIP pada 4 Desember dan FPGolkar 5 Desember 2013 bersamaan dengan perayaan Hari Relawan Se Dunia yang ditetapkan oleh Persatuan Bangsa Bangsa (United Nations). Kedua fraksi sangat responsif dan respektif dengan semua penjelasan delegasi Relawan PMI yang berjumlah 18 orang dan didampingi oleh Kepala Bidang Relawan Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia Bp. H. Muas, SH. Intinya, mereka memandang sangat urgen untuk mengagendakan RUU Kepalangmerahan pada masa sidang 2013/2014 yang akan berakhir Maret 2014. Bahkan FPG merasa "disepelekan" oleh Ketua Pansus yang tak pernah berusaha mengundang para anggota Pansus RUU Kepalangmerahan untuk bersidang dan membahas materi RUU. (Pernyataan anggota Panitia Khusus #RUUKEPALANGMERAHAN dari Fraksi Partai Golkar dari SulseL, Ibu Riyani Sudirman pada audiensi tadi pagi)





Calon anggota Korps Sukarela PMI Kota Bandung


Aksi simpatik Relawan PMI di gedung DPR RI
 
Tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan
Semangat membara di antara sikap santun dan kordinatif
 
Taufan K dari Bali- Penggagas Petisi Sahkan #RUUKepalangmerahan
 
Di Fraksi PDIP DPR RI
Di tengah usaha teman-teman Relawan PMI se Indonesia melanjutkan aksi simpatik dan unik 3 Desember 2013 yang mendesak agar RUU Kepalangmerahan segera diagendakan dan disahkan sebelum masa akhir persidangan DPR RI periode 2009 - 2014 di Gedung DPR RI, satu inisiator yang mendorong lahirnya RUU Kepalangmerahan sejak 1995, sdr. Seven Audi Sapta dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa pada Jumat dinihari di Jogjakarta. Bersama alm. Christobal (Jakarta Selatan) dan Titus (Jogja) , ketiganya sangat gigih dan konsisten memperjuangkan "hak rakyat Indonesia" dalam Konvensi Jenewa 1945 yakni menguatkan badan hukum dan UU 59/1968 tentang tanda pellindung bagi Perhimpunan Nasional Palang Merah Indonesia. Bahkan, satu wasiat alm. sdr. Chirstobal sebagaimana diterima oleh sdr. Andi Gumilar, agar setelah RUU Kepalangmerahan diagendakan dan disahkan, segera ada perwakilan Relawan PMI mengibarkan bendera Merah Putih dan Lambang PMI di Jenewa, Swiss. Tak dapat dilupakan adalah alm. Elang Surya Lesmana, mahasiswa Universitas Trisakti yang jadi "tumbal Gerakan Reformasi" yang ditembak mati oleh pihak yang tidak dikenal pada Kerusuhan Sosial 13 - 15 Mei 1998 di Jakarta. Mereka adalah pahlawan kemanusiaan sejati bersama sejumlah nama Relawan PMI lain dalam berbagai medan tugas. Selamat jalan teman !

Pimpinan Rapat Dengar Pendapat FP Golkar dan Relawan PMI tentang#RUUKepalangmerahan
Perwakilan Relawan PMI se Indonesia
 
Delegasi Relawan PMI di Ruang Fraksi Partai Golkar DPR RI

Pada dua kali kesempatan beraudiensi dengan dua fraksi besar DPR RI yakni FPDIP dan FP Golkar, kami membawa suara asli Relawan PMI yakni "Kami tak pernah takut mati untuk membela Merah Putih dan PMI" sebagaimana dinyatakan dengan tegas oleh Alvis Syamsi, Relawan PMI Jakarta Pusat yang telah berkecimpung dalam beragam aktivitas pendidikan, penanganan bencana maupun konflik bersenjata di PMI selama lebih dari 37 tahun. Kedua fraksi cukup paham dan berjanji untuk mendorong pengesahan RUU Kepalangmerahan segera dengan segala konsekuensinya. Termasuk menyapu bersih para "pengotor negara dan cita-cita luhur Bangsa Indonesia".

Selaku pribadi, generasi muda Tentara Pelajar dan Relawan PMI sejak 1979, saya selalu mengingatkan agar semua rakyat Indonesia, khususnya anggota Pansus RUU Kepalangmerahan tidak menghianati negara dan bangsanya. Semboyan Tentara Pelajar " Pengabdianku kepada bangsa dan negara, dari buaian sampai ke liang lahat" kian tertanam kuat dalam nurani dan gerak langkah Relawan PMI .

Banyak lagi fakta sejarah yang akan relawan PMI ungkapkan pada masyarakat luas. Bahwa mengganti lambang PMI di Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah bentuk nyata usaha "membubarkan negara". Relakah kita ???

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Relawan PMI Menggugat ! - Bagian I

Kreasi : Seno Suharyo

Perjalanan menuju upaya penguatan dasar hukum negara Republik Indonesia atas penanda-tanganan Konvensi Jenewa 1949 dalam konstruksi hukum nasional semestinya harus dilakukan segera.

Mungkin banyak di antara kita yang tidak tahu ada 5(lima) dekrit Bung Karno sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, Inilah ke lima pernyataan sikap (dekrit) tsb:
1.    Dekrit tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka.
2.    Dekrit tentang Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang kemudian dibacakan pada 17 Agustus 1945.
3.    Dekrit tentang Pekik Kebangsaan Indonesia "MERDEKA !"
4.    Dekrit tentang Palang Merah Indonesia yang kemudian didelegasikan kepada Bung Hatta untuk mengamankan kelahiran PMI pada 17 September 1945 sebagai Perhimpunan Nasional kepalangmerahan ( acuan utama prinsip dasar kesatuan, satu lambang untuk satu negara).
5.    Dekrit tentang pembentukan Tentara Nasional Indonesia pada 5 Oktober 1945.

Dari bukti sejarah yang dipaparkan oleh Kabid Relawan PMI Pusat, H.M. Muas, SH; pada audiensi dengan FPDIP hari Kamis, 5 Desember 2013, yang bertepatan dengan perayaan Hari Relawan se Dunia sesuai ketetapan PBB (United Nations), relawan PMI mengajikan satu fakta sejarah yang tercecer dan berserakan di berbagai penjuru dunia. Fakta lain ada ada di sini.

Dari bulan Juni atau Juli 2013, ketika kami menganalisis situasi kejiwaan pada perjalanan hak inisiatif DPR yaitu dengan munculnya Rancangan Undang-Undang Kepalangmerahan, bersama Seno Suharyo dari Surabaya, saya memunculkan gagasan untuk menguatkan posisi tawar PMI yang “menunjukkan indikasi akan diobok-obok” oleh satu atau beberapa partai politik yang mengatasnamakan mayoritas penduduk Indonesia. Indikasi kuat upaya tsb nampak semakin kuat dan gencar dilaksanakan setelah gagal mengangkat isu pemberlakuan kembali Piagam Jakarta. Kelicikan dan kepicikan terus bergulir mengatasnamakan agama Islam. Sebagai awam tahu, Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh isi alam semesta ini. Bukan hanya dunia manusia. Apalagi sekadar ilusi polisi lacur yang telah menjual keprihatinan warga negara akibat terkena musibah bencana alam jadi komoditas politik murahan.

Secara kebetulan, kami yang menerima informasi awal dari Tim Advokasi RUU Kepalangmerahan dari Markas Besar (Pengurus Pusat) PMI, setelah melakukan kajian taktis dan strategis,  segera mengambil inisiatif untuk menggalang dukungan berupa pengumpulan tanda tangan relawan PMI khususnya dan stakeholders PMI yang dimulai di Kabupaten Bogor jelang perayaan hari lahir PMI 17 September 2012. Dari kota hujan ini, gerakan melebar ke Kalimantan, Bali dan Sumatera. Pulau Jawa sangat terlambat merespon karena “ketakutan berlebih”. Gerakan ini kemudian mengerucut di tengah arena Temu Karya Nasional V Relawan PMI di Selorejo, Ngantang Kabupaten Malang saat sarasehan yang mendatangkan Ketua DPR RI sebagai pembicara utama. Dengan inisiatif teman-teman yang telah sangat lama berkecimpung dalam beragam kegiatan pelatihan, penanganan bencana alam maupun konflik bersenjata, Ketua DPR RI Dr. Marzuki Alie berjanji bahwa proses politik di DPR RI akan terus bergulir (ternyata bertolak belakang dengan fakta yang kami temukan di lapangan di dalam audiensi dengan partai-partai politik besar di DPR RI).

Fitria Sidiqah dan Andi "Melar" Gumilar dua dari bebarapa pemuka aksi Relawan PMI Menggugat

Pada acara stand up volunteer yang digagas dan dilaksanakan rekan-rekan dari Kampoeng Relawan muncul informasi yang cukup mengejutkan tentang keberadaan 5 dekrit (pernyataan sikap) dari Bung Karno selaku tokoh utama proklamasi kemerdekaan RI. Selain beberapa hal penting yang berkaitan dengan hak-hak dan posisi relawan PMI khususnya serta relawan kemanusiaan pada umumnya. Dari sini kemudian gerakan bergulir melalui media sosial. Informasi dari anggota utama Tim Advokasi PP PMI untuk RUU Kepalangmerahan, sdr. Fitria Sidiqah, menggugah kembali semangat untuk lebih kuat dan keras mendorong adanya dasar hukum negara atas ratifikasi Konvensi Jenewa 1949 sebagaimana dituangkan dalam UU No. 59 tahun 1968 tentang tanda pelindung bagi unit kesehatan militer (TNI) dan perhimpunan nasional, Palang Merah Indonesia.



Tanda-tanda ketidakjelasan upaya legislatif di DPR untuk mewujudkan RUU Kepalangmerahan sebagai bagian penting dalam konstruksi hukum nasional semakin jelas ketika sekitar 500 Relawan PMI se Indonesia mendatangi gedung DPR RI untuk menagih janji Ketua DPR RI, Dr. Marzuki Alie kepada para relawan PMI baik di TKN V Malang 27 Juni 2013 maupun melalui jawaban-jawaban atas pertanyaan relawan PMI melalui layanan pesan singkat atau sms (short message service). Atas inisiatif dan kemampuan masing-masing relawan PMI yang merasa terpanggil untuk melakukan konspirasi hati , kami bergerak dan terus bergerak secara dialogis dan aksi lapangan. Selama 4 (empat) kali bersiap di Markas Kota Jakarta Selatan, kami tetap berusaha merancang dan melakukan gerakan simpatik kepada pihak-pihak internal maupun eksternal. Kebesaran jiwa, ketulusan dan dorongan Pengurus PMI Kota Jakarta Selatan yang dipimpin oleh Bapak Dadang Dasuki dan Bang Adnan, semua relawan PMI yang menginisiasi dan menggerakkan aksi 3 Desember 2013 “dimanusiakan secara wajar dan tulus”. (bersambung)

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

MAJU TERUS PANTANG MUNDUR

Monumen Tentara Pelajar di Bandung

Oleh : Entin Suryanah

Pada tahun 1944 dibentuk Organisasi Palang Merah Indonesia yang dipimpin oleh dokter Hardjoloekito. Semua pelajar wanita kelas II dan III SMP didaftar sebagai anggota. Saya ditugaskan di Rumah sakit Bayuasih Purwakarta, di mana kemudian dokter Hardjoloekito ikut dipindahkan.Sementara itu, dokter Leimena digantikan oleh dokter Musa dari Bandung.

Kebetulan, di Purwakarta saat itu tengah dibuka Chu Gakoyang setingkat SMP. Sekalipun tinggal di asrama, saya diberi kemudahan untuk melanjutkan di Chu Gako. Sebagai anggota Palang Merah, saya melaksanakan tugas di Pos Palang Merah RS Bayuasih selepas waktu sekolah sekitar jam 15.00. Pos ini ada di halaman rumah dinas dokter Hardjoloekito. Kami tidak dapat belajar secara penuh karena harus mengikuti latihan kemiliteran di sekolah. Semula pelatihan diadakan di aula sekolah.

Di tahun 1945, kesibukan saya semakin bertambah. Selain di Pos PMI, kadang-kadang kami dikirim ke front di Bekasi, Karawang, Rengasdengklok dan Subang. Bahkan pernah pula ditugaskan di lokasi pertempuran Lembang dan Ciater Bandung. Selain aktif di PMI, sesekali kami diikutsertakan dalam tugas penggeledahan di kereta api dan mengikuti pasukan. Seberat apapun tugas yang diberikan, kami melaksanakannya dengan gembira. Kami digembleng di Bandung selama enam bulan. Semua anggota PMI disatukan dan ditempatkan di pos yang berbeda-beda.

Pos tetap kami di Purwakarta, tetapi ditugaskan berpindah-pindah karena jumlah anggota sangat sedikit. Meski demikian, kami tetap bergembira karena selalu bersatu padu dalam satu tujuan, Indonesia Merdeka. Menjelang Proklamasi, kami semakin giat berlatih. Lapangan Tegallega menjadi tempat yang bersejarah bagi kami. Di sana, kami dilatih kepalangmerahan, dapur umum, jadi kurir dan staf pertahanan. Kami juga dilatih sebagai mata-mata dan banyak tugas lain. Semua itu kami lakukan demi kemerdekaan. Begitu sumpah kami saat itu.

Sehari sebelum proklamasi dikumandangkan, kami diperintahkan bersiaga atas segala kemungkinan oleh Kolonel Sidik. Banyak sekali tamu berdatangan ke Rengasdengklok. Lalu kami mengatur pembagian tugas. Ada yang ditempatkan di Tambun, Klender dan Karawang selain di Rengasdengklok.

Pada awal 1946, saya ditugaskan oleh dokter Hardjoloekito ke Rumah Sakit Rancabadak Bandung untuk membantu di sana. Ketika sampai di rumah sakit tersebut, kami tahu bahwa mereka memang perlu perhatian lebih. Dari Bandung kemudian kami ditugaskan di Rumah Sakit Subang dan bertemu dokter Sukono yang tengah sibuk mengatur rencana penyelamatan pasien di rumah sakit tersebut.

Tanggal 23 Maret 1946, datang perintah untuk segera mengosongkan kota Bandung. Atas perintah itu, kami segera memindahkan pasien, obat dan peralatan rumah sakit ke luar kota. Dalam batin kami bergelora semangat untuk mengusir penjajah. Dengan perginya Jepang, mestinya kemerdekaan sudah berada di depan mata. Dan para patriot bangsa tentu akan berbisik “Teruskanlah pertempuran sampai titik darah penghabisan, agar kemerdekaan tercapai. Dan demi kemerdekaan, kami berkorban”. Bisikan itu terus berkecamuk di dada kami. Benci rasanya melihat bangsa Indonesia yang berhianat, dan benci yang tidak terhingga kepada penjajah yang serakah.

Malam menjelang 24 Maret 1946, Bandung dibumi-hanguskan oleh tentara RI  dalam peristiwa yang dikenal sebagai Bandung Lautan Api.  Saya tengah bersiap dipindah-tugaskan ke Karawang Timur. Saat itu, komando ada di tangan Mayjen AH Nasution dan Kolonel Bratamanggala. Saya mendapat tugas rangkap sebagai Staf Pertahanan Daerah Sabang. Meski demikian, saya tidak melepas tugas sebagai anggota PMI dan juru rawat dokter Sungkono di Rumah Sakit Subang. Selain itu, saya juga membantu pelatihan kepalangmerahan, misalnya PPPK, kepada karyawan wanita, para istri pegawai dan istri guru.

Pada akhir tahun 1946 keadaan semakin gawat dan banyak terjadi kekacauan dari para penghianat bangsa di berbagai tempat. Tidak hanya terjadi di sekitar Subang. Di Jawa Tengah, Belanda yang melanggar perjanjian Renville menyerang dan menduduki berbagai wilayah. Begitu pula di Jogja, Lapangan Terbang Maguwo telah diduduki. Sementara itu, Muso dan PKI melakukan pemberontakan di beberapa kota di Jawa Timur terutama Madiun. Dalam peristiwa ini gugur seorang teman saya, dokter Sudjono yang selalu bertugas bersama sejak di Purwakarta dan Subang.

Saya bertemu dokter Mustopo dan Ibu Djohan selaku komandan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Sebelum terjadi pertempuran 10 November 1945, saya sempat berkunjung ke Surabaya dai Purwakarta dalam rangka kunjungan balasan antar PMI. Dalam pertempuran itu, dua rekan kami gugur sebagai kusuma bangsa. (bersambung)

Sumber:
Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi ’45, Buku Pertama, Grasindo Jakarta, 1995 halaman 35 – 41.
      

Posted in , , , | Leave a comment

SUMBANGAN ANGGOTA PMI


Oleh: Maryati

Pada masa pergolakan revolusi tahun 1945, saya ada di Jakarta. Namun karena keadaan tidak aman, maka saya bersama orang tua pindah ke Bumiayu Jawa Tengah. Selama di sana, saya turut serta dalam latihan PMI yang dipimpin Bapak Istijar, seorang mantri kesehatan setempat. 

Tahun 1947, saya mengikuti latihan WAPP di Yogyakarta, di bawah pimpinan ibu asrama, Yo Chaerul Saleh beserta lainnya selaku tenaga pengajar. Serta mbak Rien Sutirin sebagai kepala pasukan. Kegiatan yang dilakukan selama latihan antara lain, pagi hari kami berlatih di Akademi Militer dan petangnya kami belajar di asrama dengan mendatangkan guru. Selesai latihan kami ditempatkan di Rumah Sakit Petronella (kemudian jadi RS Bethesda) di bawah pimpinan dokter LGY Samalo selama tiga bulan. Setelah itu, kami menjalani latihan terakhir atau latihan besar-besaran di sekitar Candi Borobudur selama dua minggu, di mana dalam latihan itu hadir Jendral Soedirman.

Setelah selesai latihan, kemudia kami ditempatkan di berbagai lokasi. Sebagian di Jawa Timur Saya bersama Supiyati kembali ke kampung halaman di Bumiayu untuk bergabung kembali dengan PMI.

Tahun 1948, daerah kami diserang musuh (Belanda). Dalam melakukan perlawanan, kami dari PMI bergabung dengan tentara dari Tegal, yaitu Resimen XIII dibawah pimpinan Bapak Kasimin, Bapak Gondosuwito dan bapak Suryadi (Sektor Langlang Buana). Sejak itu dan seterusnya, kami turut serta dalam beberapa pertempuran sebagai anggota PMI di garis belakang. Dan bertugas merawat orang-orang yang luka dari medan perang. Jika perlu, hal itu kami lakukan dengan naik turun gunung. Selanjutnya kami diperintahkan hijrah ke Banjarnegara.

Ketika bertugas di Banjarnegara, saya mendapat cuti selama tiga bulan. Setelah itu, saya ditempatkan di Karang Kobar bersama anggota Batalyon I Resimen XIII. Bapak Kasimin selaku komandan pasukan memerintahkan "yang bergabung supaya kembali ke kesatuan masing-masing". Pasukan yang tergabung dalam batalyon I terdiri dari beberapa anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), ALRI, PMI dan Angkatan Darat RI.

Bersama Supiyati, saya kembali ke Jogja. Rencananya kemballi ke WAPP, tapi semua penghuni asrama kosong karena telah menempatkan diri di pos masing-masing. Kemudian kami bergabung di RS PKU Muhammadiyah jalan Ngabean yang dipimpin oleh dokter Ismail sebagai perawat. Hail itu terjadi sampai tahun 1950 dan setelahnya kami kembali ke Jakarta. 

Posted in , , , , | Leave a comment

MEMPERTAHANKAN POS PALANG MERAH



oleh : Jopie Fatimah

Setelah Indonesia dikuasai oleh Jepang, di tiap-tiap daerah atau kampung dibentuk organisasi wanita yang disebut Fujinkai. Kebetulan, ibu Ida Subekti dan saya tinggal di satu RT yang sama di kelurahan Petojo Kebon Singkong. Oleh Fujinkai, kami ditugaskan mengikuti kursus Ilmu Kesehatan dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan yang diselenggarakan oleh Jawatan Kesehatan Kota Jakarta. Setelah selesai, kami ditugaskan menjadi pekerja sosial di RW yang masing-masing yang dipimpin oleh seorang dokter. Ibu Subekti menyediakan rumahnya menjadi Pos PPPK.
 
Tahun 1943, Haritarti mengajak saya bekerja di Keputrian Pergerakan Tiga A. Kami mendirikan suatu lembaga putri, bertempat di Jl. Segara (gedung bekas kantor Klaasenz). Lembaga ini dipimpin olrh Ibu Sukendah Hanafi. Tugas kami adalah mengumpulkan putri-putri dari daerah dan kampung, diberi ketrampilan membuat sandal dan sepatu dari kayu dan bagor (karung goni) serta membuat kecap dan lain-lain. Dengan maksud agar mereka tidak diganggu oleh tentara Jepang yang kadang-kadanng menjadikannya sebaga gundik. Mereka diasramakan, dan hasil pekerjaan tangan itu menjadi sumber biaya keperluan asrama.
Di samping itu, yang ingin mempelajari Ilmu Pengetahuan Umum diberi kesempatan kursus mata pelajaran sosiologi ekonomi oleh Bung Hatta. Dan Ilmu Kependidikan oleh Ki Hadjar Dewantara maupun Pak Said dari Perguruan Taman Siswa.
 
Juga dibentuk Barisan Pemuda Asia Raya yang mendapat latihan militer dan baris berbaris. Kamipun tak mau ketinggalan dengan membentuk Barisan Putri Asia Raya yang dipimpin oleh Ibu Dalimah dan Ibu Yo Abdurrahman. Kami mendapat pelajaran bercocok tanam dan memelihara ikan mujair. Asrama kami di Pegangsaan Timur (kemudian jadi Megaria). Suatu hari, ketika mendapat berita bahwa pemerintah Jepang kalah melawan Sekutu, maka Barisan Putera dan Putri diubah namanya menjadi Barisan Pemuda dan Barisan Putri.
Kemudian kami beraksi mencari usaha untuk mendapatkan kunci-kunci gudang yang ditinggalkan oleh tentara Jepang, berisi perlengkapan, di bawah pimpinan Ibu Yo Chaerul Saleh. Setelah berhasil mengambil bahan kain putih dan merah lalu kami menjahitnya menjadi bendera merah putih untuk dibagikan kepada masyarakat. Pembuatan bendera ini bertempat di rumah Bung Chaerul Saleh. Kami dibagi berkelompok,  ada yang menjahit dan melipat, ada pula yang membagi bagikan kepada para lurah untuk dibagikan kepada warga masyarakat. Bendera-bendera itu harus dikibarkan setelah Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tangga 17 Agustus 1945 jam 10 pagi.
 
Pada tanggal 19 September 1945, para pemuda mengadakan rapat raksasa di Lapangan Ikeda. Tepat ketika Bung Karno naik panggung yang telah disiapkan dan meneriakkan pekik "MERDEKA", tentara Jepang mulai menembak ke arah massa yang ada di tengah lapangan. Barisan Pemuda segera menyelamatkan Bung Karno untuk diamankan. Di sinilah meluapnya semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tidak mau lagi dijajah oleh siapapun. Kami mulai berkeliling kota dengan bersorak-sorak memekikkan salam merdeka dan merusak semua bangunan peninggalan Belanda dan Jepang. Aksi ini dipimpin oleh Ibu Malidar dan lain-lain. Daerah yang paling berbahaya adalah Jl. Abdurrahman Saleh, Kramat Sentiong dan Kramat VI. Di sini bersembunyi orang-orang bekas militer Belanda.
Ibu Ida Subekti juga membentuk Pos PalangMerah , dibantu oleh putra-putri dari daerah Petojo dan Pesing. Kemudian pindah ke Tanah Abang. Kebon Sirih Park. Pos yang ada di Jl. Musi Petojo diserahkan kepada saya, dibantu oleh beberapa kawan putra-putri lainnya. Kami mendapat rumah dari Mr. Kasman Singodimejo, yaitu bekas rumah beliau di Jalan Musi 2 yang ada teleponnya. Pos yang dipimpin oleh Ibu Subekti berpindah-pindah tempat. Pos PPPK kami ada di Jl. Tangerang sampai ke Jatibaru. Pos kami sangat sibuk ketika diserangnya Garnisun Petojo Jaga Monyet. Kami turut membantu mengantar korban ke Rumah Sakit Salemba (RSUP kemudian RSCM ). Hampir semua pos sibuk bekerja.
 
Ketika para pemuda dan anggota TKR berangkat ke Cikampek, Pos Petojo menjadi sepi. Hanya kaum putri saja yang mempertahankan pos. Kemudian kami diminta oleh teman-teman yang ada di Cikampek untuk mengumpulkan dana, bahan makanan dan lain-lain untuk keperluan mereka yang ada di perbatasan. Pada kesempatan ini, kami mendapat rintangan dari beberapa tetangga, dikatakan bahwa kami dari Pos PPPK. Mereka salah taksir, karena di tempat kami sudah banyak Koninlijke Leger masuk dan bersembunyi di rumah-rumah Indo. Pos kami dipindahkan ke Jatibaru dan membantu Ibu Marguna, menjaga masuknya mata-mata musuh dari Stasiun Tanah Abang asal Tangerang. Mata-mata ini kebanyakan wanita Tionghoa. Mereka menyembunyikan granat-granat tangan di sanggul.
 
Selesai membantu Ibu Marguna, saya diminta membantu oleh Ibu Lasmijah Wardi (Hardi) untuk mencari beras ke Cikampek dan Karawang, dengan mengendarai truk. selanjutnya membantu beliau di dapur umum.


*****


Disadur dari buku ketiga:
Seribu Wajah Wanita Pejuang Dalam Kancah   Revolusi '45
Penyunting: Dra.Hj. Irna H.N. Hadi Soewito
Yayasan Wirawati Catur Panca (tanpa tahun terbit)

Posted in , , , , | Leave a comment