Renungan Suci

Ex Anggota TP Brigade 17 saat Mubes Purworejo 1992.


Di tengah dingin malam menggigit kulit
Kukenang perjalanan jauh
di antara jerit tangis anak-anak negeri
kaki kurus kering menapak
Tanda hari kan berganti
Nuansa alam merdeka menanti detik
Proklamasi ...

Kami...Bangsa Indonesia 
Dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. 
Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Hari ini enampuluh sembilan tahun lalu
Bangsa yang berada di tanah jajahan Netherlandsche Indie 
menyatakan diri jadi bangsa merdeka
Lepas dari penjajahan yang tak berperikemanusiaan dan berkeadilan

Hari ini pula
kurasakan .... satu penghianatan
atas janji merdeka .....
yang akan bawa Indonesia berperikemanusiaan
yang kan jalani kehidupan berkeadilan 
tuju gerbang merdeka, bersatu dan berdaulat

Hari ini...saat Merah Putih dikibarkan di angkasa
perikemanusiaan itu kian menghilang dari garis edarnya
dan keadilan tak lagi berpihak
pada janji merdeka !!!

Kian banyak para penjajah bangsa
tertawa berbahak di atas luka dan derita sesama
Berbangga hati pada diri....

Wahai para penjajah negeri...
kehidupan itu senantiasa berjalan
dan kesaksian akan selalu ditegakkan
Bukan pada tiang-tiang bendera
pada merah putih yang kian pudar
dalam tanah air nan kering kerontang
pada nurani yang semakin menghilang...

Wahai para penjajah negeri...
Kami bukan tulang belulang berserak tanpa daya
Merah pudar yang kau kabarkan
berlumur darah merah pejuang sejati
Berani dan tetap berani ....
Suarakan kebenaran hakiki
Tegak dalam suci nurani
perjuangan rakyat sejati

Indonesia Merdeka harga mati
tak ada tawar menawar 
dan tanpa kompromi

Indonesia Merdeka kuatkan tekad
berbakti pada pertiwi tanpa henti

Kebumen, 17 Agustus 2014 jam 00.30 WIB

Toto Karyanto

Posted in , , , , , | 1 Comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Kebumen, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia

Pembentukan Pasukan Tentara Pelajar

Pada permulaan tahun 1946 para pemuda pelajar di Purworejo membentuk IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) Cabang Purworejo yang meliputi tiga sekolah yaitu SMP Negeri, SKP (Sekolah Kepandaian Putri) dan Sekolah Pertukangan Negeri (kemudian hari menjadi Sekolah Teknik Pertama). Dalam suatu raoat yang diselenggarakan di GNI (Gedung Nasional Indonesia) terpilih sebagai Ketua : Imam Pratignyo (SMP), Oetari (SKP) Wakil Ketua dan Soejati (Sekretaris). 

IPI Purworejo semula hanya cabang, tapi dengan pindahnya IPI Pusat dari Jakarta ke Jogja, IPI Cabang Purworejo diubah menjadi IPI Daerah Kedu Selatan yang mencakup cabang Purworejo dan Kebumen. Ketua IPI Cabang Purworejo merangkap sebagai Ketua IPI Bagian Pertahanan dijabat oleh Imam Pratignyo. Pasukan IPI ini menjadi pasukan Tentara Pelajar. Rapat pembentukan dan peresmiannya diikuti sekitar 60 orang siswa-siswi SMP Negeri dan Sekolah Pertukangan. Dalam rapat ini juga ditunjuk selaku komandan pasukan adalah Wijono (SMP )dan wakilnya Toewoeh (ST). Setelah itu dibentuk pula IPI Bagian Pertahanan di Kebumen dan Gombong. 

Atas petunjuk Mahatma, Ketua Markas Pertahanan Jawa Tengah yang berkedudukan di Solo, IPI Bagian Pertahanan Daerah Kedu Selatan diubah namanya menjadi Markas Pertahanan Kedu Selatan. Ketuanya, Imam Pratignyo, otomatis menjadi komandan markas yang meliputi tiga Seksi : Purworejo (dipimpin oleh Wijono), Kebumen (Sadar Sudarsono) dan Gombong (David Sulistyanto). 

Markas Pertahanan Daerah Kedu Selatan semula menempati bangunan di Jl. Kutoarjo (terakhir digunakan sebagai SMA Kristen). Karena digunakan oleh BPRI (Barisan Pembela RI), markas ini berpindah ke sebuah paviliun di sebelah kanan Kabupaten Purworejo. Karena diperlukan ruang yang besar untuk menampung pasukan yang datang dari berbagai daerah pertempuran (front), oleh Bapak Muritno (Bupati Purworejo saat itu) diberilah tempat yang sesuai di Hotel Van Laar. Hotel terbesar di Purworejo saat itu.

Kegiatan di markas didanai secara swadaya oleh para pemuda pelajar dengan cara membuat badan usaha, memborong bioskop, main sandiwara dan lain-lain. Setelah bergabung dengan Markas Pertahanan Pelajar Jawa Tengah baru ada bantuan keuangan dalam melaksanakan tugas taktis pengiriman pasukan ke front.

Pasukan Tentara Pelajar dikirim ke front Ambarawa dan Srondol (Semarang) secara bergilir atas perintah MPP Jawa Tengah. Perkembangan selanjutnya, MPP Kedu Selatan bergabung dengan MPP Resimen B pimpinan Subroto di Solo. Sedianya, MPP yang merupakan MPP Pusat di Jogja akan terdiri dari 3 resimen yakni Resimen A : TRIP Jawa Timur, Resimen B TP Jawa Tengah dan Resimen C TP Jawa Barat. Karena terjadi perkembangan baru dengan terbentuknya batalyon-batalyon TP di Jawa Tengah yaitu Batalyon 100 yang dipimpin Prakoso (Solo), Batalyon 200 dipimpin Marwoto (Salatiga) dan Batalyon 300 dipimpin Martono (Jogja). Sementara itu di Jawa Barat dibentuk Batalyon 400 yang dipimpin oleh Salamun AT. Untuk memudahkan komando taktis, MPP Kedu Selatan dilebur ke dalam Batalyon 300 menjadi Kompie 330 yang dipimpin oleh Wijono dan wakilnya, Imam Pratignyo.

Sumber : Sejarah Perjoangan Tentara Pelajar, Yayasan Bakti TP Kedu, Cetakan I, 1987, halaman 15 - 18
Wijono dan Imam Pratignyo-repro.

Posted in , , , , , , , , | 1 Comment

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Dari catatan dan cerita sejarah, perjuangan Bangsa Indonesia menggapai kemerdekaannya dilakukan oleh banyak pihak dan dari beragam latar belakang. Keanekaragaman kekuatan inilah yang membuat semangat perjuangan memerdekakan diri orang-orang dan suku bangsa di wilayah yang acapkali disebut Nusantara, Netherlandsche Indie dan sebutan lain yang kini bernama Indonesia tak pernah padam. Semangat bersatu dalam pikiran dan langkah kemudian diejawantahkan dalam berbagai aktivitas pergerakan. Persatuan dan kesatuan adalah benang merah yang lambat laun berubah menjadi tali temali gagasan, tindakan dan visi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dari sinilah muncul Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua : Indonesia Merdeka!. Dengan kata lain, energi utama kaum pergerakan bagi Bangsa Indonesia adalah ke-bhinkatunggalika-an.

Dari catatan sejarah pula kira tahu bahwa paham politik Soekarno yang nasionalis-marksistis banyak berbeda atau bahkan bertentangan dengan paham sosialis-religius yang dipegang oleh Moh.Hatta. Tapi dalam urusan perjuangan, keduanya bersatu paham, Indonesia harus merdeka ! Tanpa kemerdekaan, kita akan terus menjadi bangsa terjajah. Tak akan pernah mampu menjadi bangsa yang berdaulat. Apalagi menggapai suasana kehidupan yang adil dan makmur. Karena penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Jika kita mau belajar dari dua tokoh kunci kemerdekaan bangsa ini saja, banyak hal pelik yang membelenggu kehidupan saat ini bisa dipecahkan selama roh atau semangatnya tetap dipelihara sesuai kadarnya. Tentu saja, yang pertama dan utama adalah mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan sebenar-benarnya. Bahwa manusia dan seluruh isi alam semesta ini ada karena nikmatNya. Dan kesadaran ini dinyatakan secara tegas dalam Mukadimah UUD 1945: Berkat rahmat Allah dan didorong keinginan luhur berkehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Jelas sekali pernyataan ini.

Sebagai wujud nyata mensyukuri nikmat kemerdekaan, semestinya kita, segenap Bangsa Indonesia, mau dan harus mampu mendulukan persatuan dan kesatuan di atas segala perbedaan. Karena itu, mengedepankan egosentrisme pribadi maupun kelompok pada dasarnya adalah sama dengan mengkufuri nikmat kemerdekaan. Apalagi untuk urusan sepele hanya karena ingin disebut hebat.  


Terlalu mahal biaya sosial yang telah dibayarkan oleh segenap warga Bangsa Indonesia untuk tetap mempertahankan roh kemerdekaannya. Banyak sudah peristiwa kelam dari panggung politik maupun ekonomi yang berakhir sia-sia dan justru menanamkan benih-benih kebencian maupun kehancuran karena egosentrisme pribadi maupun kelompok. Tragedi kemanusiaan di tahun 1965 maupun 1998 adalah sebagian contoh kesia-siaan itu. Haruslah kita mengulangi kebodohan itu ? 
Bersama Oom Agustinus Reksodihardjo saat peresmian Monumen Pena 10 Nov 2013

Posted in , , , , , , | 1 Comment

Anies Baswedan – Anak Asuh Tentara Pelajar


Oleh: Toto Karyanto.

Saya tak kenal pribadi Anies Baswedan secara langsung. Ketika masih mahasiswa UGM, banyak tulisan yang dimuat buletin kampusnya menjadi bahan referensi saya dalam menyusun karya tulis pada mata kuliah Ekonomi Indonesia. Setahu saya, dia bukan anak keturunan Tentara Pelajar. Tapi mampu menerjemahkan ”jiwa perjuangan” pasukan pelajar/mahasiswa pejuang kemerdekaan ini jauh lebih baik dan tepat sasaran dibandingkan kami yang anak keturunan langsung lewat Gerakan Indonesia Mengajar.

Di kancah politik, saya tak pernah percaya pada institusi partai politik manapun sejak mendapat hak pilih 32 tahun yang lalu. Meski pernah ikut serta membesarkan gerakan ProMega di Kebumen, tapi tak tertarik meneruskan perjalanan di jalur kepartaian. Bukan karena trauma, tapi telah mengendus adanya praktik sektarian yang kian menguat sampai saat ini. Apalagi punya pengalaman yang sangat sulit dipahami dengan logika apapun ketika menginisiasi dan mengawal perjalanan #RUUKepalangmerahan yang sampai sekarang tak jelas perkembangannya bersama para suka-Relawan Palang Merah Indonesia(PMI ) seantero negeri hanya karena ulah satu atau beberapa orang anggota Panitia Khusus (Pansus.) RUU yang sangat dinantikan oleh para sukaRelawan PMI sebagai payung hukum nasional dalam menjalankan misi dan aksi kemanusiaan di berbagai situasi bencana alam maupun saat terjadi konflik bersenjata.

Karena itu, ketika memutuskan untuk bergabung dengan organisasi relawan Anies Baswedan, banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Pertama, sikap teman-teman sukaRelawan PMI yang telah menyatakan diri akan menanggalkan hak pilihnya alias golput dalam Pemilu Legislatif 9 April 2014 mendatang. Siap menerima cercaan, makian dan sikap sinis. Kedua, sikap masyarakat di lingkungan sekitar yang selama ini tahu sikap netral saya terhadap kegiatan politik praktis. Ketiga, dan seterusnya... berkaitan dengan berbagai aktivitas kemasyarakatan saya dan istri.

Apapun yang terjadi nanti, terjadilah. Keputusan telah diambil dengan segala risikonya. Saya ikut TurunTangan karena yakin dengan integritas pribadi Anies Baswedan. Bukan sebab lain, apalagi mengejar popularitas, kedudukan dan harta. Hanya karena kesetiaanku pada bangsa dan negara dari buaian sampai liang lahat.
     
Saya anak keturunan mantan anggota Tentara Pelajar. Ayah kami, Djasmin, pertama kali ikut berjuang menegakkan kemerdekaan di wilayah Bandung bergabung dengan Ikatan Pelajar Indonesia Bagian Pertahanan Jawa Barat yang lebih dikenal sebagai Tentara Pelajar Siliwangi (TPS). Ketika Bandung diduduki Belanda bersama tentara sekutu, sebagian besar kekuatan perjuangan  TPS melakukan longmarch ke Jawa Tengah. Ayah ikut di dalamnya dan sampai di Purworejo. Di sana beliau bergabung dengan Kompi Wiyono sebelum melanjutkan perjalanan ke Solo dalam rangka mencari sekolah dan menemukannya di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama Kanisius yang setingkat SMP. Di kota ini, ayah bergabung dengan beberapa pasukan Kompi Prakoso diantaranya Seksi Budiarjo bersama Jayadi Jepang.

Sementara itu, ibu yang bersekolah di Sekolah Guru Putri (SGP) Jalan Jati Yogyakarta ditugaskan oleh sekolahnya mengikuti latihan dasar kemiliteran angkatan ke 2 bersama ibu kandung Sri Mulyani Indrawati (mantan Menteri Keuangan RI dan sekarang menjabat Direktur Palaksana Bank Dunia), Retno Sriningsih, yang juga dilakukan oleh banyak pelajar sekolah menengah di ibukota RI sementara, Yogyakarta. Cerita selengkapnya tentang Tentara Pelajar dan kiprah ibu di kancah perjuangan menegakkan kemerdekaan Bangsa Indonesia ada di sini.


Ketika ex anggota Tentara Pelajar (TP) mengadakan reuni di kota Purworejo, saya berkesempatan mengenal sekilas sosok Pakde Koes (Prof.Dr. Kusnadi Hardjasumantri,SH) dan Pakde Kunto (Prof.Dr.Kunto Wibisono). Di arena sambung rasa antar generasi, saya mengenal sifat Pakde Koes yang sangat tegas dan cenderung kaku (zakelijk). Khas sifat kombatan (anggota pasukan tempur). Berbeda dengan sifat dan sikap Pakde Kunto yang halus. Tentang kedua mantan anggota TP ini, saya mendapat informasi yang sepotong-sepotong. Tapi semua informasi itu memang menegaskan kesan saya tentang sikap Pakde Koes khususnya.

Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

Dari Peresmian Monumen Pena

Prasasti Monumen Pena

Banyak sudah monumen yang dibangun oleh berbagai kalangan baik pemerintah maupun masyarakat untuk menandai sebuah peristiwa penting yang dipandang bernilai sejarah. Tujuan utamanya agar peristiwa itu dapat dikenang sepanjang masa. Kenangan yang mungkin saja berlatar belakang peristiwa heroik, bernuansa kepahlawanan. Bisa juga suatu peristiwa tragis semisal bencana alam yang menelan korban sangat banyak. Apapun latar belakang peristiwa yang menyertainya, fungsi monumen tak bergeser jauh dari sebuah tanda kenangan.

Tak jauh beda dengan lainnya, Monumen Pena yang berdiri di depan Gedung Pertemuan Prabasanti di Kompleks Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kebumen juga merupakan sebuah tanda untuk mengenang keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar atau Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan untuk Front Barat di sekitar Gombong Selatan pada Perang Kemerdekaan I 1947. Monumen ini digagas oleh Atiatoen Wirjosoemarto, seorang mantan siswi Sekolah Guru Putri (SGP) Jalan Jati Yogyakarta yang saat itu ditugaskan sebagai Staf Putri Markas Pusat Pelajar (MPP) yang tak lain merupakan markas besar atau pusat kendali operasi pasukan pelajar pejuang kemerdekaan dari Jl. Tugu Kulon No. 70 Yogyakarta. Sekadar mengingatkan, kala itu, Yogya adalah ibukota pemerintahan Republik Indonesia.

Front Barat atau menurut satu pelaku yang masih hidup saat tulisan ini dibuat yakni Bapak Djokowoerjo Sastradipradja (baca Jokowuryo Sastradipraja, Prof.Dr.drh., mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor) disebut sebagai Front Jawa Tengah bagian Selatan adalah wilayah yang dinilai strategis sebagai basis pertahanan bagi pasukan atau laskar-laskar perjuangan rakyat dalam menegakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Front atau medan laga yang dilintasi garis demarkasi sepanjang Kali Kemit dari Karanggayam yang berbukit di Sebelah Utara sampai Puring di bibir pantai Samudera Hindia. Pada saat itu, pasukan pendudukan Belanda telah menguasai Gombong setelah menduduki Banyumas dalam usaha gerak maju ke Yogya.

Sebenarnya, sudah ada dua markas reguler Tentara Pelajar di sekitar wilayah itu. Pertama, di Karanganyar yang dipimpin oleh Panudju Widajat (baca Panuju Widayat) dan wakilnya David Sulistyanto asal Banyumas. Markas kedua ada di kota Kebumen yang dipimpin oleh Sadar Sudarsono dan wakilnya adalah Samijo (baca Samiyo), menempati rumah orangtua Sri Kartini yang kini jadi gedung SMP Muhammadiyah I Kebumen. Kedua markas itu masih aktif beroperasi sebagaimana layaknya suatu pusat komando teritorial. Mengapa MPP masih perlu mengoperasikan sebuah markas darurat ?

Pasukan pelajar pejuang kemerdekaan Indonesia memiliki banyak sebutan. Tentara Pelajar (TP) dan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) adalah dua dari banyak sebutan bagi pelajar sekolah menengah di berbagai wilayah dan jurusan. Nama TP banyak dipakai di wilayah Jawa Tengah dan Barat. Sementara itu, TRIP khusus di Jawa Timur. Di Jawa Barat, namanya ditambah Siliwangi jadi TP Siliwangi dan di Solo dengan sebutan TP Solo atau TP Detasemen II.  Begitu juga yang ada di wilayah karesidenan Kedu dan Banyumas. Di Kedu ada dua wilayah, Utara dan Selatan. Karena itu ada dua nama, TP Kedu Utara dan Selatan. Sedangkan di wilayah Banyumas ada dua sebutan yang popular yaitu Mas TP dan IMAM (Indonesia Merdeka Atau (pilih) Mati). Di karesidenan Semarang dan sekitarnya ada sebutan TP SA/CSA (Student Army). Di sebagian wilayah Pulau Sumatera juga ada sebutan TP Sumatera.

Dari berbagai nama kesatuan pelajar pejuang kemerdekaan itu awalnya adalah bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan. Yang tak kalah menarik adalah nama TGP (Tentara Genie Pelajar) yang semua anggotanya adalah pelajar Sekolah Menengah Teknik (dulu disebut ST, setara SMP) dan Sekolah Teknik Tinggi (setara STM/SMK sekarang). Mereka kebanyakan menangani tugas-tugas teknis : perbaikan/ perawatan senjata, membuat jembatan darurat dan banyak tugas teknis lainnya.

Sisi lain yang menarik dan khas adalah nama-nama pasukan pelajar yang anggotanya berasal dari luar Pulau Jawa. Persatuan Pelajar Indonesia - Sulawesi (PERPIS) adalah yang paling terkenal karena mereka bukan hanya berasal dari satu daerah atau pulau Sulawesi saja. Ada anggota Perpis yang berasal dari Sumatera Utara (Batak) semisal Willy Hutauruk atau Herman Fernandez dari Flores  yang gugur di Palagan Sidobunder, Kebumen. Ada juga yang berasal dari Kalimantan semisal Linus Djentamat yang menyelamatkan Juki, brendgun buatan Jepang bersama Djokowoerjo dari Jogja. Dengan kata lain, nama pasukan pelajar pejuang kemerdekaan tidak selalu identik dengan keterwakilan wilayah karena faktor mobilitas mereka sangat tinggi baik pada masa Perang Kemerdekaan I (1947) maupun II (1949). Seorang anggota TP Siliwangi bisa jadi bagian dari Mas TP Banyumas, TP Kedu Selatan atau TP Solo karena adanya pergerakan pasukan RI dari Jawa Barat ke kantong-kantong gerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikenal dengan istilah "longmarch".

Keberadaan pasukan pelajar di Indonesia boleh disebut unik. Mereka membentuk dan mengorganisasi kekuatan internal IPI sebagai kekuatan tempur (kombatan) maupun kepalangmerahan (petugas kesehatan/relawan PMI). Di seluruh dunia, mungkin hanya IPI Bagian Pertahanan atau Tentara Pelajar yang dibentuk atas inisiatif sendiri. Di negara lain, termasuk Belanda, pasukan yang anggotanya berasal dari pelajar atau mahasiswa dipanggil sebagai wajib militer oleh negara atau pemerintahnya. Mengenai pembentukan pasukan pelajar di sini

Sepanjang usaha menelusuri jejak keberadaan dan pengoperasian Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat, penulis mengalami banyak kendala teknis dan kultural. Kendala teknis mengemuka karena minimalnya bukti administratif seperti surat tugas dan sebagainya. Menurut penuturan penggagas Monumen Pena, almarhumah Atiatoen yang dikuatkan dengan tulisan pelaku Prof. Dr. Djokowoerjo, jejak utama markas darurat adalah keberadaan asrama yang kini bernama Gedung Pertemuan Prabasanti di kompleks Gereja Kristen Jawa di Jalan Pemuda No. 140 (ketika itu masih bernama Jalan Stasiun) Kebumen. Tetapi, dari aspek kultural, khususnya untuk nilai kejujuran penulis sangat menyakini cerita kedua pelaku yang sama-sama kokoh pendirian untuk tetap memelihara "isi" lebih bernilai dari pada bentuk formalitasnya. Apalagi bekas asrama ini masih dipertahankan sesuai dengan bentuk aslinya. Jadi, artefak budayanya menguatkan.

Nama atau sebutan Monumen Pena adalah pengembangan nilai intrinsik dan filosofi gagasan yang semula disebut Tetenger Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade XVII TNI pada Perang Kemerdekaan I - 1947 di Kebumen. Secara ringkas, gagasan membangun monumen ini berasal dari perbincangan sersan (serius tapi santai) dua sahabat yang berkumpul di dalam acara pemancangan tanda bambu runcing di makam Kartiko di Desa Panjer, Kebumen pada awal tahun 2002. Keduanya adalah Atiatoen dan Agustinus. Saat markas darurat beroperasi sekitar 3 (tiga) bulan sejak akhir Mei sampai awal (tanggal 5) September 1947, Atiatoen ditugaskan sebagai staf putri. Sementara itu, Agustinus adalah putra ke 7 Pendeta GKJ, Bapak Reksodihardjo yang meminjamkan rumah dinas kepanditaannya untuk kantor serta aula gereja sebagai asrama markas darurat. Kebetulan, Agustinus berteman akrab dengan kakak kandung Atiatoen yang bernama Affandi atau lebih akrab disebut dengan nama panggilannya : Pandi Gondek. Agustinu dan Pandi Gondek adalah anggota Tentara Pelajar di Markas Kebumen yang terletak di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah I di Jl. Kapt. P. Tendean Kebumen).

Meski jadi anggota TP di Kebumen dan markas darurat berada di lingkungan rumah tinggal orang tuanya, Agustinus jarang sekali berkunjung ke asrama. Apalagi masuk kantor markas darurat. Kecuali jika Pandi Gondek memaksanya singgah untuk bertemu sang adik kandung atau teman seperjuangan yang dikenalnya. Di dalam keluarga Atiatoen, ada tiga orang yang aktif dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Selain mas Pandi dan dirinya, ada seorang kakak kandung Atiatoen yang menjadi petinggi militer di wilayah Kebumen saat itu yakni Achmad Dimjatie sejak awal kemerdekaan (ketika TNI masih bernama BKR - Badan Keamanan Rakyat  atau TKR - Tentara Keamanan Rakyat maupun ketika telah bernama TRI - Tentara Republik Indonesia serta TNI - Tentara Nasional Indonesia). Mas Dim, panggilan akrab Achmad Dimjatie, adalah komandan pasukan TRI saat terjadi pertempuran di desa Sidobunder yang menyebabkan gugurnya 24 orang anggota pasukan pelajar pejuang kemerdekaan (TP). Kesaksian ini pernah diucapkan oleh Anggoro selaku mantan komandan Seksi 320 TP Batalyon 300 dalam acara reuni Keluarga Besar Tentara Pelajar Kedu Selatan di Wisma Ganesha Purworejo tahun 1995.

Kepada penulis, pakde Dimjatie menuturkan cerita pergerakan pasukan pelajar di Front Barat. Beliau juga menguatkan kisah yang pernah diceritakan almarhuman Ibu Atiatoen kepada penulis tentang nama dan sosok seorang Linus Djentamat yang tinggi dan pendiam dari Kalimantan ketika dimintai tolong untuk memetik buah kelapa dan nangka di kebun belakang rumah keluarga untuk menu penghuni asrama markas darurat. Sayang sekali, ketika Bapak Alex Rumambi (almarhum) berkunjung ke rumah, penulis tak dapat menemui beliau karena tengah berada di luar kota. Singkat kata, secara kultural, sejarah keberadaan dan pengoperasian markas darurat dapat dipertanggung-jawabkan.

Perubahan nama Tetenger menjadi Monumen Pena sebenarnya adalah usul penulis kepada penggagas (Ibu Atiatoen) setelah bentuk dasar bangunan selesai dirancang dan disetujui. Secara filosofi, satu bagian penting dari lambang Tentara Pelajar adalah pena bulu yang melukiskan dunia kependidikan adalah dasar utama keberadaan pasukan pelajar atau Tentara Pelajar. Namun bentuk pena yang dipilih adalah pena yang punya mata dan gagang kayu atau sejenisnya. Hasil guratan pena ini sangat tebal atau tegas, menggambarkan ketegasan sikap penggagas tentang kebenaran hakiki.

Selain sisi simbobik di atas, keberadaan pasukan pelajar (pejuang kemerdekaan) telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Bangsa Indonesia menegakkan kemerdekaannya. Buku "Peran Pelajar dalam Perjuangan dan Pembangunan" yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi TNI (1995) dengan segala kekurangannya menguatkan hal itu. Juga beragam karya purna bakti baik berupa monumen, wisma, lembaga pendidikan atau apapun bentuk serta skalanya.
Pena memiliki dua bagian utama. Mata pena dan gagang pena. Dalam posisi terbalik, mata pena ada di bagian atas dan gagangnya di bawah. Mata pena kemudian dibentuk seperti tiara, mahkota bersusun tiga yang menggambarkan periodisasi perjalanan pasukan pelajar ini. Periode pertama adalah ketika pasukan pelajar ini bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan yang diwakili dengan warna coklat gelap. Berikutnya adalah bagian yang menggambarkan posisi pasukan pelajar sebagai bagian dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam wadah Brigade XVII. Dan bagian terakhir yang berwarna hitam adalah periode demobilisasi atau purna bakti. Semua anggota pasukan pelajar diberi pilihan oleh Pemerintah untuk melanjutkan karir di lingkungan militer atau kembali ke bangku sekolah dan kuliah sebagai manusia sipil.

Pada gagang pena juga terdapat penggambaran situasi perjalanan bangsa Indonesia. Yakni fase atau periode penjajahan yang berupa fondasi berkedalaman 0,5 m di dalam tanah dan lantai dasar yang disimbolkan dengan warna hitam  sebagai periode kegelapan. Di lantai yang berbentuk segi empat berwarna dasar hitam dengan garis merah yang memisahkan dua periode kegelapan yaitu periode penjajahan bangsa-bangsa Eropa dan periode pendudukan asing pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai penyerahan kembali kedaulatan pada akhir Desember 1949.

Bagian gagang yang paling utama adalah berbentuk buku terbuka yang berwarna putih bersih. Mewakili masa pencerahan pasca penjajahan asing. Buku adalah sumber ilmu dan kebajikan. Di dalam buku yang terbuka, bangsa Indonesia semestinya mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaannya sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Dengan “buku”, cakrawala pandang kita seharusnya lebih terbuka sebagai bangsa yang maju dan beradab.

Satu hal yang menjadi kado istimewa dalam acara peresmian monumen ini adalah pesan dari pelaku sejarah, Prof. Dr. drh. Djokowoerjo Sastradipradja yang kisah lengkapnya ada di sini kepada penulis via grup Facebook Gematepe. Isinya adalah sebagai berikut:

Ananda Toto  Karyanto dan Generasi Penerus Seangkatannya, Pelaku Pembangunan yang saya kasihi,

Pertama-tama saya ingin menyampaikan apresiasi saya dan saya yakin juga mewakili teman-teman generasi pendahulu pembela proklamasi yang kini masih ada diantara kita maupun yang sudah wafat, atas inisiative anda dan kawan2 yang telah berhasil mendirikan monumen tetenger pada sebuah tapak perjuangan para Ibu-ibu dan Bapak-bapak generasi pejuang di daerah Kebuman/Front Jawa Tengah Selatan pada masa perang kemerdekaan, yaitu Monumen PENA di Kota Kebumen. Kami sangat menghargai prakarsa para penggagas sebab fungsi dari suatu tetenger/monumen adalah begitu besar secara historis maupun futuristik, karena tetenger itu mengingatkan kepada kita-kita yang masih hidup betapa mulianya peran perjuangan generasi terdahulu dalam membela negara, juga megajarkan sebagai suri-tauladan kepada generasi-generasi yang akan datang tentang nilai-nilai luhur sebuah perjuangan dan semangat itu agar membimbing generasi-generasi pendatang dalam tugas pembangunan negara. Semoga Tuhan YME meridloi amal bakti kita semua. Dengan ingatan tertuju ke Kebuman, 10 November 2013, I. Djokowoerjo Sastradipradja  (ex angg. TP Bat. 300 Cie 320 Sie 321 Anggoro).

Jika realita yang terjadi saat ini berbeda dari idealisme kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diperjuangkan dengan pengorbanan nyawa para syuhada, harta benda penduduk, kekayaan alam dan keihlasan berjuang para penegak kemerdekaan; buku sejarah tak salah. Karena kehidupan ini terus berjalan dan kesaksianlah yang harus ditegakkan. Apakah kita yang hidup saat ini akan terus memelihara kebodohan dengan cara suka mengasihani diri dan memperlakukan amanat kemerdekaan bangsa berlalu tanpa makna ? Semua akan kembali ke dalam nurani dan keyakinan pribadi masing-masing. Buku-buku sejarah adalah cermin. Hanya yang “buruk muka” cermin itu menjadi terbelah. 

Bp. Agustinus Reksodihardjo 84 thn tetap bersemangat '45





Tandatanngan serah terima bangunan dari KBTP kepada GKJ

Bp. Pendeta Reksodihardjo





Lurah Panjer dan Ketua DHC '45 Kab. Kebumen



Keluarga besar Bp, Agustinus Reksodihardjo


Bp. dan Ibu Agustinus Reksodihardjo




Penggungtingan pita - saat penting setelah 10 tahun digagas

Tetap semangat dalam kerentaan: Bp Agustinus siap gunting pita



Sosok pejuang kemerdekaan RI - Agustinus Reksodihardjo


Penyerahan sumbangan tanda kasih pelaku sejarah kepada GKJ





Tandatangan serah terima bangunan 2

Siswi SMA Masehi Kebumen ikut hadir

Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

SukaRelawan PMI Dari Jaman ke Jaman


Kata relawan tak dikenal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam jaringan). Yang ada hanya su-ka-rela-wan yakni orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan). Kata ini kian banyak digunakan pasca reformasi dengan munculnya beragam kelompok-kelompok masyarakat yang melakukan sebagian aktivitas serupa dengan Perhimpunan Nasional (national society) Kepalangmerahan di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama singkat PMI (Palang Merah Indonesia). Sebagian dari kelompok itu memilih sisi manfaat dari pada formalitas. Ada banyak nama yang muncul dan berkibar di saat terjadi bencana alam utamanya. Satu diantaranya menyebut diri sebagai Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang konon telah mendapat legalitas dari Kementerian Hukum dan HAM RI sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat. Untuk hal terakhir, tidak akan dibahas lebih jauh dalam tulisan ini.

Sejak Henry Dunant membentuk perhimpunan para penolong kemanusiaan bagi korban konflik bersenjata khususnya yang kemudian lebih dikenal sebagai Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, banyak gagasan dan langkah-langkahnya yang diadopsi oleh para aktivis dan pejuang hak asasi manusia di berbagai penjuru dunia. Apa yang menjadi landasan utama perjuangan mereka ? Hanya satu kata: merdeka ! meski dinyatakan dengan sebutan lain semisal persamaan hak dan sebagainya.  Dan untuk kata yang satu itu, Indonesia yang kita kenal sekarang ini ada.

Dalam proses perjuangan Indonesia mencapai derajat sebagai bangsa yang merdeka, suka-relawan Palang Merah berperan aktif di dalamnya. Ada sebutan lain yang digunakan sebagai pengganti istilah sukarelawan yaitu anggota atau petugas. Sebagian besar adalah perempuan karena yang lelaki lebih berperan sebagai kombatan (pasukan tempur atau laskar perjuangan bersenjata). Dalam buku Seribu Wajah Wanita Pejuang Dalam Kancah Revolusi ’45 (Grasindo, 1995) banyak kita dapati kisah nyata para sukarelawan PMI dalam beragam gaya bahasa dan suasana. Tetapi sulit dipisahkan dari profesi dokter, perawat dan rumah sakit.

Satu kisah yang cukup menarik adalah penuturan Anneke yang anak Bupati Cianjur dan selalu memilih ikut republik. Ringkasan ceritanya, dalam mengangkut tawanan perang dan peti senjata, Anneke adalah mahasiswi kedokteran yang diberi tugas oleh komandan pasukan republik (sekarang TNI), Mayor Suroto Kunto, untuk mengawal dan menyerahkan tawanan perang kepada Komite Internasional Palang Merah (International Committee of Red Cross) tahun 1946 karena kemampuan bahasa Belanda dan Perancis dinilai fasih. Para tawanan itu kebanyakan manula dan anak-anak, orang Belanda dan indo Belanda, yang telah lama ditahan oleh bala tentara Jepang. Selama perjalanan dari Purwakarta ke Manggarai Jakarta yang cukup lama dengan kereta api berbahan bakar kayu itu, sempat terjadi dialog yang menjadi kunci jawaban mengapa ia bergabung dengan laskar perjuangan.
Perawat..kemana kami akan dibawa?  Apa anda seorang ekstrimis, saya harap bukan”, kata seorang tawanan dalam bahasa Belanda.
Anneke menjawab ” Kita akan ke Batavia dan saya berjuang untuk kemerdekaan tanah air saya”.

Dari kata ekstrimis yang digaris-bawahi dan tebal kita tahu bahwa para pejuang kemerdekaan dituduh sebagai ”orang jahat” oleh warga bangsa penjajah yang mungkin mereka hanya pegawai rendahan atau kacung. Kata itu setara dengan sebutan teroris saat ini. Betapa hina dinanya manusia yang dijajah baik oleh orang asing, apalagi bangsa sendiri. Perlakuan seperti itu mirip dengan pemberian istilah rombongan liar bagi sukarelawan PMI berdedikasi yang menyebut diri sebagai Relawan Palangmerah Indonesia (RPI).

Militansi suka-relawan PMI telah terbentuk sejak jaman penjajahan dan terus dipelihara oleh para pelaku yang mendedikasikan dirinya bagi tujuan organisasi. Artinya, kesetiaan mereka tidak pada orang, tapi pada tujuan PMI. Karena itu, ketika ”para orang” yang berada di jajaran formal organisasi tak lagi mampu membawa PMI menuju tujuannya sebagai Perhimpunan Nasional yang melaksanakan mandat Negara Kesatuan Republik dan sebagai anggota Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah  yang bekerja menurut 7 Prinsip Dasar, maka suka-relawan tergerak nuraninya untuk segera bergerak melaksanakan kedua mandat itu.

Pergerakan suka-relawan PMI mengawal perjalanan #RUUKepalangmerahan sebenarnya alamiah. Suasana yang serba tak jelas dan tak lagi mengindahkan adab karena ingin menghapus jejak sejarah tentu saja tak mungkin dibiarkan sampai kapanpun serta dengan risiko apapun. Kesetiaan pada tujuan membuat pergerakan ini sangat fleksibel tak akan kehilangan gregetnya. Semua suka-relawan dapat menjadi pemimpin sebagaimana sering terjadi di lapangan. Mati satu tumbuh seribu dan seterusnya. 

Posted in , , , , , | 2 Comments

Kakekku Preman, Ayah Juga, Aku.... (Bagian V - akhir)

Foto: googling

Banyak orang enggan disebut preman karena kesan umum yang terlanjur negatif. Sebenarnya, semua orang sipil (bukan militer) dan partikelir (swasta) adalah preman yang sebenarnya. Entah bagaimana asal usulnya, sebutan preman dipakai untuk menunjuk orang yang berperilaku kasar, liar, suka memaksakan kehendak, menonjolkon kemampuan otot dan lain-lain sikap asosial.

Seorang pemberani dan memegang sikap hidup acapkali mendapat sebutan yang kurang lebih sama dengan preman. Jika yang dimaksud preman adalah seperti gambaran di atas, berapa banyak “priyayi”, orang-orang yang nampak lembut penampilan, tutur bahasa dan tindak tanduknya justru lebih berbahaya bagi sebagian besar masyarakat. Yang terpopuler adalah para koruptor dan manipulator di berbagai lembaga Negara atau pemerintah. Ini dari sudut pandang korban. Aku (saya) sangat yakin jika seorang koruptor kelas teri mampu melumpuhkan ratusan, bahkan ribuan orang lain karena tindakannya. Begitu juga terhadap para manipulator di lembaga-lembaga publik: legislatif, eksekutif dan khususnya yudikatif. Satu produk undang-undang yang dimanipulasi untuk kepentingan sesaat berakibat ratusan ribu atau jutaan orang kehilangan masa depan.

Dalam realitas kehidupan sosial kita akhir-akhir ini, ada kecenderungan menyudutkan seseorang dengan sebutan preman. Egosentrisme dan sektarianisme yang kian mengemuka dalam pola hidup masyarakat, kita dengan mudah memberi “cap preman” kepada orang lain yang memegang sikap hidupnya dengan risiko kehilangan nyawa. Apalagi hanya harta benda yang pasti dapat dicarikan gantinya Tetapi cap itu segera berganti jadi “pahlawan” di saat ia merasa terlindungi dengan kehadirannya, terutama ketika situasi genting atau darurat.

Ambiguitas, hermaprodisitas dan sejenisnya sebenarnya merupakan sumber kekacauan utama dalam kehidupan masyarakat kita sejak masa penjajahan. Karena itu, seorang pejuang sejati tak akan pernah meninggalkan keyakinan yang dipegang sampai nyawa meregang. Dengan sikap itu pula, Indonesia Merdeka ada. Tak ada rasa takut sedikitpun ketika disisihkan dari arena pergulatan hidup yang tak berpola, diisi oleh orang-orang yang tak segan melacurkan diri untuk melapangkan jalan meraih ambisi pribadi maupun kelompok. Merekalah yang sebenarnya paling pantas disebut preman dalam konteks kekinian. Pelacuran intelektualitas yang merebak di segala sisi kehidupan jauh lebih berbahaya dibanding  “preman – isme !!!”.

Karena itulah, aku tak ingin meninggalkan identitas “preman” yang telah disandang turun temurun dalam keluarga. Jika seorang pelajar perempuan saja berani menghadapi tantangan maut di tengah hujan peluru di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, mengapa yang hidup di jaman aman harus bersikap pengecut? Hidup adalah perjuangan, bukan hanya ada di dalam syair lagu. Dan perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya bukan hanya terjadi di saat melawan penjajah asing. Penjajahan oleh pribumi justru lebih mengerikan dan itulah yang terjadi saat ini. Ketika banyak orang “merasa berhak”, tapi tak pernah melakukan kewajibannya dengan benar dan baik.

Lihatlah burung-burung bangkai itu
ada yang perlente dan kemayu
mengoyak sampah kehidupan
Dalam sombong dan pongah
dalam putus asa yang tiada berperi
mengais sampah, menebar aroma busuk
dan menyimpannya dalam saku
pundi-pundi kertas segala rupa
di atas derita sesama
dalam pedih hati yang terluka
menanti ajal kan tiba

Kepada sang garuda aku berjanji
tak kan surut sampai ajal menjemput
tak kan mundur sebelum bertempur
dan tak kan ada sepakat dengan hianat

Karena aku sang preman…..
bukan centeng  yang suka petantang petenteng
bukan pula pengecut yang suka mencatut

karena aku sang preman….
bukan orang tak beriman
bukan pula bajingan yang kurang sopan
apalagi  pejabat yang berjahat

***

Anganku terus mengembara ke masa silam. Hari itu, ratusan orang bergerak meradang dari satu sisi ke sisi lain penghuni kota. Api kecil di depan kantor polisi telah membesar dan menghanguskan banyak harta benda dan seorang tuna daksa keturunan Tionghoa. Naluri menggerakkan langkah kaki ini ke kompleks Pecinan yang jaraknya hanya sejengkal dari barisan massa yang mengamuk, menumpahkan segala amarah tanpa arah tujuan yang jelas.

Ajang bagi para petualang untuk memanfaatkan kesempatan itu meraup keuntungan. Berbekal lembaran kertas bergambar, mereka menjual diri dengan imbalan uang untuk suatu perlindungan yang tak pernah diwujudkan. Preman politik berbaur dengan preman otot dan para peminum alkohol kelas teri.  Lagu “ Hanoman Obong” jadi sangat popular melebihi lagu wajib yang dinyanyikan saat upacara 17 Agustus-an. Api terus menjalar ke segala arah, harta benda ludes dijarah. Apa sebab mereka marah tiada berarah??? Siapa yang menggerakkan ??

Aku ingat satu kata keluar dari mulut kepala polisi pada malam pertama. “ Sisakan sedikit buat kita !”. Yah… memang benar kasus itu ditangani oleh pihak kepolisian dengan mendatangkan sejumlah anggota pasukan Brimob dan tentara dari berbagai daerah dan kesatuan. Ada sebagian kecil yang berseragam hitam ala petani, tapi menyandang M16. Bahkan rumah keluarga kami sempat jadi pos sementara setelah ibuku menyilakan, Beliau mengingatkan kejadian serupa di tahun 1965.

Saat itu, kekacauan terjadi di mana-mana. Isu pemberontakan oleh dewan jenderal yang salah satunya dikomandoi orang kelahiran kotaku membuat suasana kian mencekam. Apalagi tersiar kabar jika Kodim telah dikuasi oleh kelompok mereka. Dan sang komandan diusir dari pos oleh wakilnya. Ayah dan sejumlah kecil bekas Tentara Pelajar seolah tergerak untuk segera bertindak. Ada 30-an orang terkumpul dan menunjuk Kepala Kantor Transmigrasi sebagai komandan pasukan pelajar pejuang kemerdekaan itu. Ayah jadi wakil dan sekaligus komandan patroli. Mereka meminta bantuan kepolisian Negara untuk menyediakan sejumlah senjata api yang ada di sana. Kebanyakan dari jenis LE yang semi otomatis dan berkaras panjang. Markas sementara ditetapkan di rumah kami. 

Waktu memang akan menunjuk arah yang sama suatu ketika. Ada pengulangan dan itulah yang nampaknya kurasakan saat melakukan hal serupa dengan ayah di masa lalu. Bedanya, aku tak beratribut dan tetap memelihara sikap selaku “preman”.  Bukan anggota militer atau yang disetarakan dengannya. Hampir sebulan tak pernah tidur malam dan lebih dari 6 jam sehari semalam. Ada satu tanda yang memudahkan orang-orang di sekeliling dalam membangun tidurku. Jika suara dengkur itu telah datar, silakan. Begitulan yang selalu kukatakan kepada mereka.

Di antara beragam hal yang kuhadapi di masa genting itu, ada dua yang terus diingat. Pertama, mengantarkan anak Bupati dari satu titik singgah ke rumah dinas yang jaraknya tak begitu jauh, tapi rawan. Kedua dan hampir menghilang adalah sebutan atau icon “unduhan”. Icon ini sangat popular dan jadi “trade mark kepremanan”-ku. Satu sindiran buat para pengunduh, yaitu orang-orang yang merasa berjasa setelah kondisi aman. Tadinya, icon ini sekadar menggantikan istilah “pahlawan kesiangan” yang sangat kutentang karena melecehkan makna pahlawan.

Itulah cerita sang preman. Kesamaan peran dengan ayah mungkin suatu kebetulan, tapi bukan satu kebenaran. Dan karenanya, aku bangga jadi sang preman. Orang bebas, merdeka. Tetap sipil, bukan militer. Hanya satu cara untuk memelihara makna, “bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa”. Semua biasa dan biasa saja semuanya. Tinggal cara kita mewujudkan makna itu, meski tanpa atribut. Semoga.

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Catatan Akhir Tahun 2013 - Bagian I

Foto. Antaranews.

Pergeseran nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebenarnya merupakan suatu keniscayaan bagi Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa dan budaya. Hal yang diharapkan tentu saja munculnya kesadaran untuk menguatkan peradaban dan keadaban. Karena bangsa yang memiliki peradaban kuat akan mampu menghadapi perubahan yang pasti terjadi ke arah yang lebih positif. Demikian juga sebaliknya. Satu bangsa akan terjerumus dalam kehinaan ketika perubahan keadaan yang terjadi lebih banyak menonjolkan hal-hal yang negatif.

Sepanjang waktu pasca Bangsa Indonesia berjuang meraih dan menegakkan kemerdekaan, semakin banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa pergeseran nilai kemanusiaan yang adil dan beradab cenderung mengarah pada sisi negatif. Konflik sosial dan politik seolah tanpa ada penyelesaian memadai secara substantif. Dalam panggung politik khususnya, kebanyakan pemimpin tak pernah memberi contoh yang menunjukkan bahwa sikap kenegarawanan sebagai cara paling beradab dan modern dalam menyelesaikan konflik itu. Bahkan sebaliknya, terlalu menonjolkan sektarianisme yang berbungkus aneka rupa perilaku narsistis. Akibatnya, setiap terjadi konflik sosial maupun politik secara nasional, dapat dipastikan berdampak dendam kesumat dari pihak yang menjadi korbannya.

Perilaku kenegarawanan justru muncul dari kalangan pemimpin informal dan perguruan tinggi tententu.  Selain Bung Hatta yang bertahan dengan idealisme politik non partisan, sangat sulit menemukan sosok yang sebanding dengan Proklamator dan penggagas Siasat Ekonomi ini. Apalagi di atasnya. Para pemimpin politik dari perguruan tinggi dan organisasi-organisasi sosial yang semula menampakkan perilaku positif, ketika masuk dalam lingkaran kekuasaan formal tak mampu lagi mempertahankan kapasitas intelektualitasnya sebagai upaya melakukan perubahan internal. Entah karena gamang, tak lagi punya nyali atau kuatnya faktor kontaminatif di dalam lingkungan baru, mereka seperti kehilangan daya. Akhirnya, masyarakat awam kembali harus menelan kekecewaan dan begitu seterusnya dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Partai politik yang seharusnya berperan utama sebagai pusat pendidikan politik masyarakat dalam hal perilaku kenegarawanan dan wawasan kebangsaan tak pernah beranjak dari posisinya sebagai alat kekuasaan kelompok orang tertentu saja. Kelompok itu lebih sering  menampakkan perilaku feodalistik ketimbang demokratik sebagaimana diamanatkan oleh isi Mukadimah UUD 1945. Kesetiaan buta terhadap sekte-sekte politik yang dianut para elit pemimpinnya. Bukan kesetiaan pada tujuan perjuangan bangsa Indonesia yang berujung pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam beberapa catatan sebelumnya, saya menyoroti dua hal (tema) besar yakni diaspora Indonesia dan relawan kemanusiaan. Pada tema diaspora Indonesia, banyak hal menarik yang patut diangkat menjadi bahan pembelajaran bersama selaku bangsa beradab. Mereka yang merasa punya keterikatan dengan sejarah dan budaya Indonesia dan berkehidupan di berbagai belahan dunia serta menjalani beragam profesi, ingin menunjukkan diri kepada orang-orang, lembaga dan sejumlah pihak di tanah lahir, tanah air atau kampung halaman Indonesia bahwa keberadaannya selayaknya tetap diakui sebagai bagian dari Indonesia. Indonesia yang bisa berarti wilayah kekuasaan suatu negara, satu suku bangsa atau sisi unik yang hanya bisa dijelaskan dengan rasa. Cinta tanah air dan ragam budaya yang tak hanya indah dipandang, tapi juga nyaman disandang. Kenyamanan yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang mapan secara ekonomi dan sosial yang diperoleh dari proses pencapaian pribadi berkarakter. Memenangi pertarungan pribadi di bawah bayang-bayang muram inferioritas masyarakat umum di tanah lahir atau kampung halaman Indonesia.

Menyandang atribut keindonesiaan yang sering dilanda konflik sosial dan politik bukan hal mudah dalam berperikehidupan di manca negara. Hal itu tercermin dalam perlakuan pemerintah dan mungkin juga masyarakat setempat kepada para TKI di Malaysia misalnya. Sementara itu, nasib yang lebih baik dialami oleh orang-orang yang memiliki kemampuan profesional yang memadai seperti para ahli, teknisi, dosen dan sebagainya. Contohnya, Hadi Nur, seorang profesor kimia yang masih berusia 44 tahun dari Ranah Minang yang menjadi Staf Pengajar di Universiti Teknologi Malaysia. Sebelum itu, ada satu nama yang sangat popular di tahun 1980-an, Dr. Sadono Sukirno dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang satu bukunya “ Ekonomi Pembangunan” merupakan referensi nasional.

Dua orang diaspora Indonesia di Malayasia adalah sebuah contoh kecil betapa berharganya mereka di negeri orang dibanding di negeri atau tanah lahirnya. Sebagaimana dipaparkan oleh Hadi Nur, banyak pemimpin formal maupun informal di Malaysia bertalian sangat erat dengan sejarah dan budaya Indonesia. Mereka sukses di berbagai bidang kehidupan dan dihargai sepadan. Misalnya, Dato’ Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Rajak yang saat ini menjabat Perdana Menteri adalah keturunan Sultan Gowa di Sulawesi.  Jadi, mengapa kita harus meradang saat batik dan beberapa artefak budaya Indonesia dinyatakan (di-claim) oleh warga Malaysia yang sangat mungkin dia atau mereka jauh lebih Indonesia dari pada orang Indonesia yang ada di negeri sendiri ? Benarkah model-model ekspresif seperti itu merupakan bukti kuat bahwa nasionalisme orang-orang di dalam negeri masih sangat sempit sebagaimana diungkapkan Indah Morgan (diaspora Indonesia di Inggris) dalam satu wawancara dengan Radio Australia beberapa saat sebelum berlangsung Kongres II Diaspora Indonesia di Jakarta pada 18-20 Agustus 2013 lalu ?

Sempitnya pemahaman nasionalisme dapat dilihat dari penampilan tim-tim olahraga, terutama sepakbola. Betapa kuat dukungan kepada tim untuk memenangi satu pertandingan internasional. Jargon dan yel-yel digaungkan bertalu-talu di berbagai media. Entah berapa besar sumber daya yang harus dikorbankan. Begitu tim yang begitu dielukan kalah, apalagi telak, semua gegap gempita sering berbalik arah jadi caci maki dan sumpah serapah. Tak terkecuali dari orang-orang yang semula ingin mendapat pengakuan/ keuntungan dari situasi emosional ini. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh Dubes RI untuk Amerika Serikat, Dr. Dino Pati Djalal, tentang sinisme publik.  

Yang menarik dari perjalanan Diaspora Indonesia justru sikap anak keturunan “budak belian” di Suriname. Sejarah mencatat bahwa para leluhur mereka dibawa paksa oleh pemerintah penjajahan Belanda dipekerjakan sebagai tenaga kerja kasar tanpa bayar selain makan minum yang kondisinya mungkin juga sangat minimum. Kini, bukan sekadar bangkit melawan perbudakan, tapi mampu menyejajarkan diri dengan warga bangsa lain di seluruh penjuru jagad raya dan menduduki posisi-posisi strategis. Soewarto Mustadja misalnya, anak keturunan orang Desa Kalirancang Kecamatan Alian di Kebumen yang kini jadi Menteri Dalam Negeri Suriname. Dalam posisinya yang begitu penting, beliau masih menjaga eksistensi budaya dan tak segan mengakui asal muasal dirinya dari sebuah desa yang tergolong miskin pada saat itu sampai beberapa dasawarsa paska kemerdekaan.

Banyak hal menarik dari kiprah Diaspora Indonesia. Pernyataan mantan Presiden B.J. Habibie tentang kelangkaan lapangan kerja yang sesuai dengan kapasitas keahlian mereka sangat perlu mendapat perhatian. Jangan hanya reaktif dan meradang saat bagian dari identitas budaya kita diklaim milik penduduk negeri jiran tanpa menelusur sejarah yang menyertai. Bila ternyata mereka memang (sebenarnya) masih merupakan bagian dari Bangsa Indonesia yang tersisih karena tekanan ekonomi maupun politik diskriminatif dalam negeri. (bersambung..tema: relawan kemanusiaan..).

Posted in , , , , , , , | Leave a comment