Tampilkan postingan dengan label peresmian. Tampilkan semua postingan

Dari Peresmian Monumen Pena

Prasasti Monumen Pena

Banyak sudah monumen yang dibangun oleh berbagai kalangan baik pemerintah maupun masyarakat untuk menandai sebuah peristiwa penting yang dipandang bernilai sejarah. Tujuan utamanya agar peristiwa itu dapat dikenang sepanjang masa. Kenangan yang mungkin saja berlatar belakang peristiwa heroik, bernuansa kepahlawanan. Bisa juga suatu peristiwa tragis semisal bencana alam yang menelan korban sangat banyak. Apapun latar belakang peristiwa yang menyertainya, fungsi monumen tak bergeser jauh dari sebuah tanda kenangan.

Tak jauh beda dengan lainnya, Monumen Pena yang berdiri di depan Gedung Pertemuan Prabasanti di Kompleks Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kebumen juga merupakan sebuah tanda untuk mengenang keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar atau Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan untuk Front Barat di sekitar Gombong Selatan pada Perang Kemerdekaan I 1947. Monumen ini digagas oleh Atiatoen Wirjosoemarto, seorang mantan siswi Sekolah Guru Putri (SGP) Jalan Jati Yogyakarta yang saat itu ditugaskan sebagai Staf Putri Markas Pusat Pelajar (MPP) yang tak lain merupakan markas besar atau pusat kendali operasi pasukan pelajar pejuang kemerdekaan dari Jl. Tugu Kulon No. 70 Yogyakarta. Sekadar mengingatkan, kala itu, Yogya adalah ibukota pemerintahan Republik Indonesia.

Front Barat atau menurut satu pelaku yang masih hidup saat tulisan ini dibuat yakni Bapak Djokowoerjo Sastradipradja (baca Jokowuryo Sastradipraja, Prof.Dr.drh., mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor) disebut sebagai Front Jawa Tengah bagian Selatan adalah wilayah yang dinilai strategis sebagai basis pertahanan bagi pasukan atau laskar-laskar perjuangan rakyat dalam menegakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Front atau medan laga yang dilintasi garis demarkasi sepanjang Kali Kemit dari Karanggayam yang berbukit di Sebelah Utara sampai Puring di bibir pantai Samudera Hindia. Pada saat itu, pasukan pendudukan Belanda telah menguasai Gombong setelah menduduki Banyumas dalam usaha gerak maju ke Yogya.

Sebenarnya, sudah ada dua markas reguler Tentara Pelajar di sekitar wilayah itu. Pertama, di Karanganyar yang dipimpin oleh Panudju Widajat (baca Panuju Widayat) dan wakilnya David Sulistyanto asal Banyumas. Markas kedua ada di kota Kebumen yang dipimpin oleh Sadar Sudarsono dan wakilnya adalah Samijo (baca Samiyo), menempati rumah orangtua Sri Kartini yang kini jadi gedung SMP Muhammadiyah I Kebumen. Kedua markas itu masih aktif beroperasi sebagaimana layaknya suatu pusat komando teritorial. Mengapa MPP masih perlu mengoperasikan sebuah markas darurat ?

Pasukan pelajar pejuang kemerdekaan Indonesia memiliki banyak sebutan. Tentara Pelajar (TP) dan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) adalah dua dari banyak sebutan bagi pelajar sekolah menengah di berbagai wilayah dan jurusan. Nama TP banyak dipakai di wilayah Jawa Tengah dan Barat. Sementara itu, TRIP khusus di Jawa Timur. Di Jawa Barat, namanya ditambah Siliwangi jadi TP Siliwangi dan di Solo dengan sebutan TP Solo atau TP Detasemen II.  Begitu juga yang ada di wilayah karesidenan Kedu dan Banyumas. Di Kedu ada dua wilayah, Utara dan Selatan. Karena itu ada dua nama, TP Kedu Utara dan Selatan. Sedangkan di wilayah Banyumas ada dua sebutan yang popular yaitu Mas TP dan IMAM (Indonesia Merdeka Atau (pilih) Mati). Di karesidenan Semarang dan sekitarnya ada sebutan TP SA/CSA (Student Army). Di sebagian wilayah Pulau Sumatera juga ada sebutan TP Sumatera.

Dari berbagai nama kesatuan pelajar pejuang kemerdekaan itu awalnya adalah bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan. Yang tak kalah menarik adalah nama TGP (Tentara Genie Pelajar) yang semua anggotanya adalah pelajar Sekolah Menengah Teknik (dulu disebut ST, setara SMP) dan Sekolah Teknik Tinggi (setara STM/SMK sekarang). Mereka kebanyakan menangani tugas-tugas teknis : perbaikan/ perawatan senjata, membuat jembatan darurat dan banyak tugas teknis lainnya.

Sisi lain yang menarik dan khas adalah nama-nama pasukan pelajar yang anggotanya berasal dari luar Pulau Jawa. Persatuan Pelajar Indonesia - Sulawesi (PERPIS) adalah yang paling terkenal karena mereka bukan hanya berasal dari satu daerah atau pulau Sulawesi saja. Ada anggota Perpis yang berasal dari Sumatera Utara (Batak) semisal Willy Hutauruk atau Herman Fernandez dari Flores  yang gugur di Palagan Sidobunder, Kebumen. Ada juga yang berasal dari Kalimantan semisal Linus Djentamat yang menyelamatkan Juki, brendgun buatan Jepang bersama Djokowoerjo dari Jogja. Dengan kata lain, nama pasukan pelajar pejuang kemerdekaan tidak selalu identik dengan keterwakilan wilayah karena faktor mobilitas mereka sangat tinggi baik pada masa Perang Kemerdekaan I (1947) maupun II (1949). Seorang anggota TP Siliwangi bisa jadi bagian dari Mas TP Banyumas, TP Kedu Selatan atau TP Solo karena adanya pergerakan pasukan RI dari Jawa Barat ke kantong-kantong gerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikenal dengan istilah "longmarch".

Keberadaan pasukan pelajar di Indonesia boleh disebut unik. Mereka membentuk dan mengorganisasi kekuatan internal IPI sebagai kekuatan tempur (kombatan) maupun kepalangmerahan (petugas kesehatan/relawan PMI). Di seluruh dunia, mungkin hanya IPI Bagian Pertahanan atau Tentara Pelajar yang dibentuk atas inisiatif sendiri. Di negara lain, termasuk Belanda, pasukan yang anggotanya berasal dari pelajar atau mahasiswa dipanggil sebagai wajib militer oleh negara atau pemerintahnya. Mengenai pembentukan pasukan pelajar di sini

Sepanjang usaha menelusuri jejak keberadaan dan pengoperasian Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat, penulis mengalami banyak kendala teknis dan kultural. Kendala teknis mengemuka karena minimalnya bukti administratif seperti surat tugas dan sebagainya. Menurut penuturan penggagas Monumen Pena, almarhumah Atiatoen yang dikuatkan dengan tulisan pelaku Prof. Dr. Djokowoerjo, jejak utama markas darurat adalah keberadaan asrama yang kini bernama Gedung Pertemuan Prabasanti di kompleks Gereja Kristen Jawa di Jalan Pemuda No. 140 (ketika itu masih bernama Jalan Stasiun) Kebumen. Tetapi, dari aspek kultural, khususnya untuk nilai kejujuran penulis sangat menyakini cerita kedua pelaku yang sama-sama kokoh pendirian untuk tetap memelihara "isi" lebih bernilai dari pada bentuk formalitasnya. Apalagi bekas asrama ini masih dipertahankan sesuai dengan bentuk aslinya. Jadi, artefak budayanya menguatkan.

Nama atau sebutan Monumen Pena adalah pengembangan nilai intrinsik dan filosofi gagasan yang semula disebut Tetenger Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade XVII TNI pada Perang Kemerdekaan I - 1947 di Kebumen. Secara ringkas, gagasan membangun monumen ini berasal dari perbincangan sersan (serius tapi santai) dua sahabat yang berkumpul di dalam acara pemancangan tanda bambu runcing di makam Kartiko di Desa Panjer, Kebumen pada awal tahun 2002. Keduanya adalah Atiatoen dan Agustinus. Saat markas darurat beroperasi sekitar 3 (tiga) bulan sejak akhir Mei sampai awal (tanggal 5) September 1947, Atiatoen ditugaskan sebagai staf putri. Sementara itu, Agustinus adalah putra ke 7 Pendeta GKJ, Bapak Reksodihardjo yang meminjamkan rumah dinas kepanditaannya untuk kantor serta aula gereja sebagai asrama markas darurat. Kebetulan, Agustinus berteman akrab dengan kakak kandung Atiatoen yang bernama Affandi atau lebih akrab disebut dengan nama panggilannya : Pandi Gondek. Agustinu dan Pandi Gondek adalah anggota Tentara Pelajar di Markas Kebumen yang terletak di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah I di Jl. Kapt. P. Tendean Kebumen).

Meski jadi anggota TP di Kebumen dan markas darurat berada di lingkungan rumah tinggal orang tuanya, Agustinus jarang sekali berkunjung ke asrama. Apalagi masuk kantor markas darurat. Kecuali jika Pandi Gondek memaksanya singgah untuk bertemu sang adik kandung atau teman seperjuangan yang dikenalnya. Di dalam keluarga Atiatoen, ada tiga orang yang aktif dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Selain mas Pandi dan dirinya, ada seorang kakak kandung Atiatoen yang menjadi petinggi militer di wilayah Kebumen saat itu yakni Achmad Dimjatie sejak awal kemerdekaan (ketika TNI masih bernama BKR - Badan Keamanan Rakyat  atau TKR - Tentara Keamanan Rakyat maupun ketika telah bernama TRI - Tentara Republik Indonesia serta TNI - Tentara Nasional Indonesia). Mas Dim, panggilan akrab Achmad Dimjatie, adalah komandan pasukan TRI saat terjadi pertempuran di desa Sidobunder yang menyebabkan gugurnya 24 orang anggota pasukan pelajar pejuang kemerdekaan (TP). Kesaksian ini pernah diucapkan oleh Anggoro selaku mantan komandan Seksi 320 TP Batalyon 300 dalam acara reuni Keluarga Besar Tentara Pelajar Kedu Selatan di Wisma Ganesha Purworejo tahun 1995.

Kepada penulis, pakde Dimjatie menuturkan cerita pergerakan pasukan pelajar di Front Barat. Beliau juga menguatkan kisah yang pernah diceritakan almarhuman Ibu Atiatoen kepada penulis tentang nama dan sosok seorang Linus Djentamat yang tinggi dan pendiam dari Kalimantan ketika dimintai tolong untuk memetik buah kelapa dan nangka di kebun belakang rumah keluarga untuk menu penghuni asrama markas darurat. Sayang sekali, ketika Bapak Alex Rumambi (almarhum) berkunjung ke rumah, penulis tak dapat menemui beliau karena tengah berada di luar kota. Singkat kata, secara kultural, sejarah keberadaan dan pengoperasian markas darurat dapat dipertanggung-jawabkan.

Perubahan nama Tetenger menjadi Monumen Pena sebenarnya adalah usul penulis kepada penggagas (Ibu Atiatoen) setelah bentuk dasar bangunan selesai dirancang dan disetujui. Secara filosofi, satu bagian penting dari lambang Tentara Pelajar adalah pena bulu yang melukiskan dunia kependidikan adalah dasar utama keberadaan pasukan pelajar atau Tentara Pelajar. Namun bentuk pena yang dipilih adalah pena yang punya mata dan gagang kayu atau sejenisnya. Hasil guratan pena ini sangat tebal atau tegas, menggambarkan ketegasan sikap penggagas tentang kebenaran hakiki.

Selain sisi simbobik di atas, keberadaan pasukan pelajar (pejuang kemerdekaan) telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Bangsa Indonesia menegakkan kemerdekaannya. Buku "Peran Pelajar dalam Perjuangan dan Pembangunan" yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi TNI (1995) dengan segala kekurangannya menguatkan hal itu. Juga beragam karya purna bakti baik berupa monumen, wisma, lembaga pendidikan atau apapun bentuk serta skalanya.
Pena memiliki dua bagian utama. Mata pena dan gagang pena. Dalam posisi terbalik, mata pena ada di bagian atas dan gagangnya di bawah. Mata pena kemudian dibentuk seperti tiara, mahkota bersusun tiga yang menggambarkan periodisasi perjalanan pasukan pelajar ini. Periode pertama adalah ketika pasukan pelajar ini bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan yang diwakili dengan warna coklat gelap. Berikutnya adalah bagian yang menggambarkan posisi pasukan pelajar sebagai bagian dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam wadah Brigade XVII. Dan bagian terakhir yang berwarna hitam adalah periode demobilisasi atau purna bakti. Semua anggota pasukan pelajar diberi pilihan oleh Pemerintah untuk melanjutkan karir di lingkungan militer atau kembali ke bangku sekolah dan kuliah sebagai manusia sipil.

Pada gagang pena juga terdapat penggambaran situasi perjalanan bangsa Indonesia. Yakni fase atau periode penjajahan yang berupa fondasi berkedalaman 0,5 m di dalam tanah dan lantai dasar yang disimbolkan dengan warna hitam  sebagai periode kegelapan. Di lantai yang berbentuk segi empat berwarna dasar hitam dengan garis merah yang memisahkan dua periode kegelapan yaitu periode penjajahan bangsa-bangsa Eropa dan periode pendudukan asing pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai penyerahan kembali kedaulatan pada akhir Desember 1949.

Bagian gagang yang paling utama adalah berbentuk buku terbuka yang berwarna putih bersih. Mewakili masa pencerahan pasca penjajahan asing. Buku adalah sumber ilmu dan kebajikan. Di dalam buku yang terbuka, bangsa Indonesia semestinya mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaannya sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Dengan “buku”, cakrawala pandang kita seharusnya lebih terbuka sebagai bangsa yang maju dan beradab.

Satu hal yang menjadi kado istimewa dalam acara peresmian monumen ini adalah pesan dari pelaku sejarah, Prof. Dr. drh. Djokowoerjo Sastradipradja yang kisah lengkapnya ada di sini kepada penulis via grup Facebook Gematepe. Isinya adalah sebagai berikut:

Ananda Toto  Karyanto dan Generasi Penerus Seangkatannya, Pelaku Pembangunan yang saya kasihi,

Pertama-tama saya ingin menyampaikan apresiasi saya dan saya yakin juga mewakili teman-teman generasi pendahulu pembela proklamasi yang kini masih ada diantara kita maupun yang sudah wafat, atas inisiative anda dan kawan2 yang telah berhasil mendirikan monumen tetenger pada sebuah tapak perjuangan para Ibu-ibu dan Bapak-bapak generasi pejuang di daerah Kebuman/Front Jawa Tengah Selatan pada masa perang kemerdekaan, yaitu Monumen PENA di Kota Kebumen. Kami sangat menghargai prakarsa para penggagas sebab fungsi dari suatu tetenger/monumen adalah begitu besar secara historis maupun futuristik, karena tetenger itu mengingatkan kepada kita-kita yang masih hidup betapa mulianya peran perjuangan generasi terdahulu dalam membela negara, juga megajarkan sebagai suri-tauladan kepada generasi-generasi yang akan datang tentang nilai-nilai luhur sebuah perjuangan dan semangat itu agar membimbing generasi-generasi pendatang dalam tugas pembangunan negara. Semoga Tuhan YME meridloi amal bakti kita semua. Dengan ingatan tertuju ke Kebuman, 10 November 2013, I. Djokowoerjo Sastradipradja  (ex angg. TP Bat. 300 Cie 320 Sie 321 Anggoro).

Jika realita yang terjadi saat ini berbeda dari idealisme kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diperjuangkan dengan pengorbanan nyawa para syuhada, harta benda penduduk, kekayaan alam dan keihlasan berjuang para penegak kemerdekaan; buku sejarah tak salah. Karena kehidupan ini terus berjalan dan kesaksianlah yang harus ditegakkan. Apakah kita yang hidup saat ini akan terus memelihara kebodohan dengan cara suka mengasihani diri dan memperlakukan amanat kemerdekaan bangsa berlalu tanpa makna ? Semua akan kembali ke dalam nurani dan keyakinan pribadi masing-masing. Buku-buku sejarah adalah cermin. Hanya yang “buruk muka” cermin itu menjadi terbelah. 

Bp. Agustinus Reksodihardjo 84 thn tetap bersemangat '45





Tandatanngan serah terima bangunan dari KBTP kepada GKJ

Bp. Pendeta Reksodihardjo





Lurah Panjer dan Ketua DHC '45 Kab. Kebumen



Keluarga besar Bp, Agustinus Reksodihardjo


Bp. dan Ibu Agustinus Reksodihardjo




Penggungtingan pita - saat penting setelah 10 tahun digagas

Tetap semangat dalam kerentaan: Bp Agustinus siap gunting pita



Sosok pejuang kemerdekaan RI - Agustinus Reksodihardjo


Penyerahan sumbangan tanda kasih pelaku sejarah kepada GKJ





Tandatangan serah terima bangunan 2

Siswi SMA Masehi Kebumen ikut hadir

Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

Isi Buku Kenangan Monumen Pena - I

Rencana isi tulisan prasasti

Pengantar
Menjelang peresmian Monumen Pena yang menandai keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat Pada Perang Kemerdekaan I-1947 yang rencananya akan dilaksanakan secara sangat sederhana dan hanya melibatkan lingkungan internal Keluarga Besar Tentara Pelajar serta undangan terbatas bertepatan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2013 di depan Gedung Pertemuan Prabasanti Kompleks Gereja Kristen Jawa Jalan Pemuda Kebumen, selaku Pelaksana Teknis, saya menerbitkan tulisan serial menngingat keterbatasan ruang, waktu dan dana mulai hari ini. Tulisan serial ini adalah bagian dari upaya sosialiasi untuk mengatasi kendala tersebut.

Sekapur Sirih

Banyak sudah monumen, tugu peringatan dan tempat tertentu yang bernilai sejarah bagi masyarakat, bangsa dan negera Indonesia diadakan sebagai tanda sebuah peristiwa bersejarah yang menandai kehadiran fisik Tentara Pelajar (TP) dalam kancah perjuangan Bangsa Indonesia mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hampir atau bahkan semua tanda itu digagas dan/atau disetujui oleh “para tokoh” yang kebanyakan diantaranya adalah pejabat penting di lingkungan sipil maupun militer. Dan dengan satu catatan yang mungkin sangat penting yaitu berhubungan dengan posisi sebagai pasukan tempur atau dalam Konvensi Jenewa disebut kombatan. Pada umumnya, gambaran seperti inilah yang menjadi simbol utama dalam mewakilkan sebuah peristiwa heroik (bernilai kepahlawanan). Satu segi yang mungkin juga dianggap penting adalah formalitas, dikuatkan dengan bukti formal seperti Surat Keputusan (SK) Veteran, tanda jasa dan lain-lain.
Gambaran umum di atas mungkin saja benar, tapi tidak selalu tepat. Karena dalam realita perjuangan bangsa Indonesia menegakkan arti dan makna kemerdekaannya, banyak warga masyarakat biasa yang memberi sumbangsih tidak kecil dan tak pernah menggapai segi formalitas di atas karena beragam alasan. Satu diantaranya adalah bahwa keikutsertaannya dalam kancah perjuangan bangsa adalah panggilan jiwa atau kewajiban moral yang harus ditunaikan sebagai darma bakti kepada tanah air, bangsa dan negara. Formalitas tak lagi dianggap penting yang kedudukannya tak lebih dari selembar kertas, sebuah benda mati “tak bernyawa”.
Keadaan dan keberadaan Markas Darurat Front Barat di lingkungan Gereja Kristen Jawa Jalan Stasiun (sekarang jalan Pemuda) Kebumen, gaungnya tak sekuat peristiwa puncak dari sebuah proses pengerahan sebagian besar kekuatan Markas Pusat Pelajar yang menjadi pusat komando Tentara Pelajar di Jalan Tugu Kulon 70 Yogyakarta. Yaitu pertempuran dua hari di sekitar Desa Sidobunder Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen pada tanggal 1 dan 2 September 1947. Pada persitiwa itu, secara formal dicatat sejumlah 20 orang anggota TP gugur. Sementara itu, pengakuan dari pelaku dan orang terakhir yang meninggalkan killing field dari sebuah pertempuran tak berimbang tersebut, ada 24 orang teman seperjuangannya menjadi korban meninggal yang beliau catat dan laporkan kepada Markas TP di Karanganyar sebagai markas komando di garis terdepan selaku pemberi perintah dalam mengevakuasi korban.
Perbedaan jumlah formal dan riil tersebut adalah sebagian sisi peka dalam pencatatan dan/atau pengakuan atas sebuah peristiwa sejarah. Bagi sebagian orang, perbedaan itu tidak menjadi hal penting karena hanya mencakup sisi formal. Sisi atau aspek yang dinilai lebih penting adalah memelihara ”isi”-nya, Mengenai cara dan upaya memberi makna atas penghargaan tertinggi bagi kemanusiaan. Di sisi ini, formalitas atau pengakuan resmi secara tertulis tak lagi dinilai penting dan bermakna bagi kelangsungan hidup manusia pada umumnya.
Makna itu saya tangkap sebagai sinyal kuat bahwa seorang Atiatoen yang menggagas kehadiran sebuah Tetenger Rumah Perjuangan Pada Perang Kemerdekaan I – 1947 Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade XVII TNI di lingkungan Gereja Kristen Jawa di Jalan Stasiun Kebumen itu merasa bertanggung-jawab secara penuh atas proses perwujudannya setelah beragam upaya kooperatif dilakukan tapi tak berjalan lancar. Sikap merdeka (mandiri) selalu dikedepankan agar segala sesuatu yang dilakukan senantiasa bermakna  meski harus bersusah payah. Tidak ada kerugian apapun sepanjang kita mampu memelihara roh perjuangan dalam menggapai derajat tertinggi manusia yang paripurna.
Keteguhan hati beliau membuat saya yang selama ini mendampingi tak pernah kehilangan rasa bangga dan hormat. Betapa seorang perempuan luar biasa selalu bersikap biasa dan sederhana. Mengenal karakter militer dengan baik tapi tak ingin militeristik. Bagi beliau, menjadi pejuang adalah panggilan nurani. Bukan untuk mendapat pengakuan yang dinilai individualistik.
Jangan pernah mengasihani diri karena itu pangkal kebodohan. Dan memelihara kebodohan adalah sama artinya dengan membiarkan amanat berlalu tanpa makna. Dua hal yang sangat disukai oleh kaum penjajah: bodoh dan hianat. Perjuangan kita untuk merdeka adalah memerangi keduanya. Jangan pernah terkecoh, camkan itu !
Pesan almarhumah Ibu Atiatoen itulah yang terus diupayakan di segala suasana dengan segala risiko yang harus dihadapi. Betapa beliau begitu kuat mempertahankan sikap untuk tidak pernah meminta pengakuan diri sebagai veteran pejuang kemerdekaan. Surat tugas dan semua dokumen yang berkaitan identitas diri sebagai pejuang kemerdekaan harus dimusnahkan seperti yang diperintahkan oleh kakak kandungnya, Affandi, sebelum tentara penjajah sampai di rumahnya saat kota Kebumen diduduki. Memang kedua anak pasangan Mochammad Djadjoeli dan Siti Chotidjah ini aktif di kancah perjuangan bersama Tentara Pelajar. Sementara itu, saudara kandung lainnya yakni Achamd Dimjatie telah lebih dulu bergabung dalam jalur komando formal TKR (Tentara Keamanan Rakyat) atau TRI (Tentara Rakyat Indonesia) yang merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Informasi awal keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar diperoleh dari kakak beliau ini.
Tiga bersaudara ini memang diakui oleh rekan-rekannya sebagai orang yang memegang teguh prinsip kejuangannya. Sementara itu, Affandi melanjutkan pendidikan dan menamatkan STM di Malang bersama Agustinus Reksodihardjo yang telah menjadi teman akrab sejak di Tentara Pelajar. Demikian juga Atiatoen yang memilih jalan hidupnya sebagai guru SR/SD.
Kisah tiga bersaudara ini menguatkan keyakinan saya bahwa formalitas memang penting. Tetapi jauh lebih penting adalah memelihara makna kejuangan yang senantiasa membawa manfaat bagi banyak orang. Dan hari-hari terakhir ini, dalam situasi sosial dan politk kian tidak lebih baik dari sebelumnya, memang cukup sulit mempertahankan makna kejuangan yang sejatinya.

Kebumen, 10 November 2013.
Toto Karyanto.

Posted in , , , , , | Leave a comment