Kamis, 21 Februari 2013

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN NEGARA DAN BANGSANYA Bagian II

Perundingan di atas Kapal Renville


Peran Pelajar Pejuang dalam Perang Kemerdekaan

Pelajar pejuang mengambil prakarsa melatih para pemuda di desa-desa untuk melaksanakan strategi pertahanan rakyat semesta. Yang berasal dari Sekolah Teknik dalam Tentara Genie pelajar berprakarsa membuat senjata diantaranya granat tangan, tekidanto, bom Molotov, bom tarik dan sebagainya. Pemuda Pelajar yang kemudian bernama dalam Tentara Pelajar mengintegrasikan diri dengan kekuatan perjuangan lain dan ikut aktif dalam berbagai front seperti Jrakah, Candiroto dan Ambarawa di Semarang. Penugasan ke front dilakukan secara bergilir dan gabungan antar pasukan. Bagi yang belum mendapat giliran akan dibekali dengan pemahaman tentang strategi pertahanan rakyat semesta (people defense), bela Negara dan teknik-teknik kemiliteran seperti membuat rintangan di jalan, lubang-lubang perlindungan, pengumpulan bahan makanan dan sebagainya. Pada umumnya, para pemuda dan pelajar yang tidak ikut bergabung dalam pasukan-pasukan organik Tentara Pelajar, bergabung dengan KODM (Komando Order Distrik Militer) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Di pagi buta, 21 Juli 1947, pasukan Belanda melakukan aksi polisionil di berbagai tempat. Mojokerto, Malang dan Salatiga berhasil diduduki satu per satu. Pasukan Belanda yang ada di kota Semarang bergerak menuju Solo, tetapi berhasil dihambat di Salatiga oleh TNI dan laskar pejuang lainnya. Di Tenggara hanya sampai Kedungjati. Pasukan yang bergerak di sisi Timur hanya sampai di Tanggulangin, sebelum masuk kota Kudus. Sementara itu, gerak pasukan Belanda juga dihambat oleh Tentara Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati). Dengan sistem bergilir, semakin banyak anggota pasukan Tentara Pelajar meninggalkan bangku-bangku sekolahnya dengan satu tekad atau sumpah “ Kami tidak akan kembali ke bangku sekolah sebelum tentara penjajah enyah dari bumi Indonesia”.   Tugas Tentara Pelajar selain menahan laju pasukan Belanda bersama TNI, juga melakukan sabotase, penghadangan dan gangguan terhadap pos-pos atau markas pasukan Belanda.

Ciase Fire (Gencatan Senjata)

Atas perintah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK – PBB), terhitung sejak             1 Agustus 1947 diadakan gengcatan senjata di bawah pengawasan Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia dan Belgia. Perundingan dilaksanakan di atas kapal Renville milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) pada tanggal 8 Desember 1947. Isi perjanjian Renville diantaranya adalah agar pasukan gerilya ditarik dari daerah-daerah kantong ke wilayah RI. Meski sangat mengecewakan para pejuang, tetapi komando Jenderal Sudirman selaku panglima besar tetap dipatuhi. Saat-saat seperti itu biasanya dimanfaatkan oleh sebagian anggota Tentara Pelajar untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat atau yang terdekat dengan pos mereka. Kesiap-siagaan terhadap kemungkinan adanya serangan dadakan dari pasukan Belanda tetap dilakukan di pos atau markas masing-masing mengingat pengalaman atas kelicikan tentara penjajah tsb.  Satu diantara banyak saksi bisu atas kelicikan tentara penjajah Belanda diabadikan sebagai nama jembatan kereta api di kota Kebumen (pen).

Tugu Renville

Jembatan Renville
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

FlagCounter

Flag Counter
Diberdayakan oleh Blogger.