Tampilkan postingan dengan label Cerita Seputar Pelaku. Tampilkan semua postingan

Peristiwa di Balik Monumen Jalan Tentara Pelajar di Kebumen (I)


Prolog

Sesungguhnya, pengalaman, semangat persatuan, perjuangan serta pengabdian kepada bangsa dan negara yang sepi ing pamrih, rame ing gawe semasa perang kemerdekaan Republik Indonesia adalah nyata, menjadi pengikat batin sesama pejuang kemerdekaan. Termasuk pelajar yang saat itu masih duduk di bangku sekolah setingkat SMP atau SMA atas inisiatif sendiri atau bersama yang lain bergabung dalam laskar-laskar perjuangan yang ada. Sebagian besar diantaranya masuk dalam berbagai kesatuan Tentara Pelajar. Banyak tindakan dan sikap luhur yang sepantasnya dapat dicontoh oleh generasi penerus dalam melaksanakan pembangunan nasional.

Sadar akan tanggung jawab meneruskan perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka dianggap perlu adanya monumen Jalan Tentara Pelajar. Sangat diharapkan bahwa monumen yang akan diresmikan hari ini, Jum'at - 10 November 1989 berdampak positif bagi upaya pelestarian nilai-nilai kejuangan bagi generasi penerus. Khususnya para pelajar, mahasiswa, pemuda serta masyarakat umum di Kebumen akan mampu memaknai jiwa patriotisme dan semangat juang para pelajar pejuang kemerdekaan tersebut.

Keluarga besar Tentara Pelajar adalah kelompok masyarakat yang dengan suka rela ikut serta menggunakan hak selaku warga negara dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia sejak awal  Proklamasi sampai berakhirnya Perang Kemerdekaan dengan cara membentuk dan menjalankan kesatuan-kesatuan bersenjata dan tetap mempertahankan statusnya sebagai pelajar. Kedua peran itu diatur menurut kebutuhan dan kesempatan yang ada saat itu. Karena mengikuti proses belajar mengajar juga penting artinya bagi permbangunan di masa depan.

Perang Kemerdekaan I    

Perjanjian Linggajati yang disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Belanda mengalami kebuntuan dalam pelaksanaannya karena pihak Belanda menginginkan pengakuan kedaulatan atas wilayah-wilayah yang dikuasainya. Ada perlawanan sengit dari para pemimpin laskar perjuangan kepada pemerintah RI yang menyebabkan jatuhnya Kabinet Syahrir III pada tanggal 3 Juli 1947. Kemudian tentara pendudukan Belanda melancarkan aksi polisionil sepihak yang dikenal dengan sebutan Agresi Militer pada tanggal 27 Juli 1947 ke seluruh wilayah RI. Setelah berhasil menduduki Jawa Barat, pasukan Belanda melebarkan wilayah agresinya ke Jawa Tengah melalui Cirebon. Setelah menduduki Purwokerto, Belanda terus melakukan gerak maju ke arah Gombong melalui tiga jurusan yakni Sumpyuh, Sempor dan Ayah. 
Buku Peresmian Monumen
Jalan Tentara Pelajar di Kebumen

Pasukan Tentara Pelajar dari Seksi 333 yang dipimpin David Sullistyanto dan Sumardi bersama laskar-laskar perjuangan lainnya melakukan taktik bumi hangus. Akibatnya, pasukan Belanda dapat ditahan oleh TNI di sekitar Desa Kemit yang merupakan perbatasan antara Gombong dan Karanganyar. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh TP untuk mundur ke arah Timur dan membentuk pertahanan di Karanganyar. Anggota pasukan TP Sie 333 ini tersebar di beberapa lokasi yakni Karanggayam, Candi, Wanareja, Kali Kemit dan Puring. Setelah berkumpul di Markas Karanganyar, sebagian diantaranya ditarik ke Purworejo dan digantikan oleh Seksi 335 pimpinan Sutrisno. Mereka ditempatkan di sepanjang garis demarkasi di Desa Grenggeng dan Kuwarasan. Kisah selanjutnya ada di sini. 

Komandan Seksi 321, Anggoro
di Mubes KBTP Kedu Selatan  - Purworejo 1992
Staf Putri Markas Pusat Pelajar pada Markas Darurat Front Barat
ATIATOEN  saat ikut Mubes KBTP Kedu Selatan di Purworejo 1992

Pasukan Tentara Pelajar Kebumen yang tergabung dalam Seksi 332 bermarkas di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah 1 dipimpin oleh Sadar Sudarsono dan wakilnya Panudju Widayat memperkuat pertahanan di sepanjang garis demarkasi, terutama di Desa Candi dan Wanareja menggantikan Seksi 331 dan 333. Pada hari kedua penugasan, seksi ini telah menghadapi gerak maju pasukan Belanda yang dilengkapi berbagai senjata berat. Dalam pertempuran itu, Daryadi gugur dan kemudian dimakamkan di Kebumen. Sementara Oentoeng Soewito menderita luka terkena serpihan kanon, Kalam tertembak di tangan kiri dan Soewarso tertermbak di paha kanan. Akhirnya, pasukan TP dari Seksi 332 ditarik mundur dan digantikan Seksi 331 dari Purworejo yang dipimpin oleh Toewoeh. Pasukan ini ditempatkan di Desa Wanareja dengan tugas utama melakukan pengintaian. Diantara waktu penugasan yang berlangsung sekitar dua minggu, Seksi 331 menahan serangan 4 truk oenuh pasukan Belanda yang berasal dari arah Desa Panjatan yang diperkuat tank. Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur setelah tank dilumpuhkan dengan trekbom yang di pasang di desa Panjatan.

Markas TP Kompi 330 Batalyon 300 berada di Hotel Van Laar Purworejo juga berfungsi sebagai asrama bagi pasukan yang dikirim ke front Barat (Gombong dan sekitarnya). Akibat perjanjian Renville, pasukan TP dari Batalyon 500 (Tegal dan Pekalongan) mundur ke kantong gerilya dan bergabung dengan Kompi 330. Pada akhir Agustus 1947, markas kompi 330 menerima kedatangan Kepala Staf Batalyon 300, Moedojo, yang membawa surat perintah penugasan pasukan ke front Barat. Pasukan TP yang ditugaskan saat itu berasal dari Seksi 321 yang dipimpin oleh Anggoro, Sementara itu, komandan Kompi 320 yakni Tjok Saroso Hoerip membawahi sejumlah pasukan TP yang ada di Jogja dan pasukan Pelajar Sulawesi (Perpis) yang dipimpin oleh Maulwi Saelan. Kisah selengkapnya ada di sini dan di sini .
  

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Benarkah Terorisme Jadi Ancaman Utama Integritas Nasional?

Ayah & Ibu saat ikut Mubes TP Kedu Selatan di Purworejo 1995

Dari Satu ke Lain Peristiwa Genting di Kebumen (Bagian I)
Hari ini, Kamis 9 Mei 2013, dorongan untuk menulis masalah terorisme di Indonesia tak lagi mampu dibendung. Meski masih diliputi oleh pemahaman dangkal tentang banyak hal yang berkait dengan aktivitas terorisme di Indonesia khususnya, kejadian di Dusun Kembaran, Desa Ungaran, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen yang digambarkan oleh banyak media massa (TV dan berita online surat-surat kabar terkemuka) serta media sosial (terutama Facebook) menjadi puncak gelisah saya atas hal itu. Juga komentar di sini yang mengaitkan peristiwa itu dengan kejadian masa lampau yang tak pernah diungkap kebenarannya dengan menyebut Kebumen sebagai basis PKI. Karena itu, sebagai keturunan langsung Djasmin Wirjosoemarto yang bertugas sebagai Komandan Peleton Tugas Khusus Batalyon Veteran dan Demobilisan ex Tentara Pelajar Brigade 17 TNI yang diperbantukan pada "Team Pepekuper Dim 0709 di Kebumen pasca tragedi Lubang Buaya dan pembunuhan sejumlah jenderal TNI Angkatan Darat yang popular disebut Peristiwa G30S/PKI, saya ingin mengungkap sebagian kecil pengalaman almarahum ayah dalam menjalankan tugas itu. Hal ini bukan dimaksudkan agar kami mendapat simpati, pujian atau penghargaan dari pihak manapun. Tujuan utamanya adalah memberikan sedikit pencerahan bahwa proses perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia dalam menegakkan makna Proklamasi Kemerdekaan  mengalami banyak peristiwa tragis dan berdarah sampai sekarang. Dengan porsi kecil ini, saya berharap ada penambahan dan/atau pengurangan isi agar verifiable objective evidences (didukung dengan bukti-bukti obyektif yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya). 

*****

Ayah (topi biru) berbincang dengan ex DanKie TP SA/CSA, Muktio
saat peringatan 40 tahun Serangan Umum Solo 1949

Perjalanan Karir Militer:

Tragedi kemanusiaan di Lubang Buaya Jakarta Timur dan pembunuhan sejumlah jenderal/ perwira TNI Angkatan Darat yang disebut-sebut dilakukan oleh Pasukan Pengawal Presiden (Soekarno), Cakrabirawa, pimpinan Letkol Untung adalah peristiwa yang sangat berdarah, menelan korban mati ribuan orang dan menyisakan trauma berkepanjangan. Partai Komunis Indonesia (PKI) dinyatakan sebagai "dalang" peristiwa itu. Dan Letkol Untung yang kelahiran Desa Suratrunan, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen dituduh sebagai eksekutor utama bersama sejumlah anggota pasukan yang dipimpin dirinya. Satu korban yang juga berasal dari Kebumen, Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, mati dengan cara sia-sia (bukan dalam peperangan) pada peristiwa itu. Singkatnya, ada dua orang Kebumen yang menjadi tokoh dalam tragedi kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah Indonesia Merdeka. 

Beberapa bulan setelah peristiwa di Jakarta tadi, sejumlah orang (menurut penuturan alm. ayah 11 orang) menjelang Subuh mendatangi rumah kami lewat pintu belakang. Ayah yang pernah mengenyam dinas militer setelah aktif menjadi anggota Tentara Pelajar (semula ikut TP Siliwangi pimpinan Solichin GP "hijrah" ke kantong-kantong gerilya yang diklaim pasukan pendudukan asing sebagai wilayah RI dan bergabung dengan TP Kedu (Sie 320) sebelum bergabung dengan pasukan Prakosa (TP Solo) dan Muktio (TP SA/CSA)  dan terakhir menjadi double fighter   bersama  seseorang yang dijuluki Jayadi Jepang di berbagai kesatuan di wilayah Solo Raya ). Di tengah perjalanan karir yang kian memuncak, ayah mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan kemiliterannya di SSKAD (sekarang Seskoad) dan berkenalan dekat dengan Sarwo Edie Wibowo. Di sekolah khusus itu, ayah mengalami masa kritis karena divonis sebagai orang yang paling bertanggung-jawab atas kematian instruktur berkebangsaan Belanda dalam suatu "duel maut". Akibatnya, ayah kehilangan peluang menjadi perwira tinggi TNI AD dan harus diturunkan pangkat dari Letnan Dua menjadi Sersan. Serta masuk penjara militer beberapa saat sebelum dilepas dan ditempatkan di staf personalia sebuah kesatuan di sekitar Bandung, Jawa Barat. Karena keberadaannya di kesatuan itu tidak jelas, ayah memutuskan untuk desersi dan menjadi buron Polisi Militer (PM). Meski berstatus buron, tak sekalipun ada upaya serius menangkap dan memenjarakannya meski berkali-kali papasan dengan patroli PM. Seolah dibiarkan tapi dibatasi ruang geraknya agar tak sampai diketahui umum. Itulah yang menyebabkan ayah pergi ke Jakarta dan melamar jadi supir di Kedubes Jerman Barat. Di tempat inilah semua kisah perjalanan karir kemiliteran ayah ingin dihapuskan.

Setelah menikahi ibu yang juga mantan anggota TP di Staf Putri MPP (Markas Pusat Pelajar/ Markas Besar Tentara Pelajar) Yogyakarta dan pernah mendapat tugas di kampung halaman serta guru SD di Kebumen, di saat karir menanjak selaku staff employee Kedubes Jerman Barat 1955, ayah mengajukan pengunduran diri . Karena ibu tak mau dipindah-tugaskan ke Jakarta mengikuti  ayah. Akhirnya Kebumen jadi tempat hidup ayah sampai wafat di tahun 1997. Di rumah yang dibangun dari hasil kerja kerasnya sebagai manajer ekspor impor sebuah perusahaan dagang pertekstilan di Kompleks Pecinan, Gg. Warung, Semarang, kami lahir dan dibesarkan dalam pola asuh yang unik. Percampuran antara cara militer dan kelenturan sikap seorang guru. Dalam cara ini, kami belajar tentang cara-cara seseorang yang pernah menjadi intelejen, Terutama dalam cara memperlakukan dokumen penting dan sebagainya. Dan peristiwa Subuh itu, ketika usia belum genap 3 tahun, baru  saya sadari maknanya setelah ayah wafat. 

Inti sari peristiwa Subuh itu, dua orang berpakaian petani dan berwarna hitam masuk ke dalam rumah menyerahkan sepucuk surat yang disaksikan ibu sebagai surat perintah dari Letkol/Kol. Sarwo Edie Wibowo, komandan mereka. Selesai dibaca dan dipahami isinya, surat itu dibakar. Satu di antara kedua tamu tak diundang itu menyerahkan sebuah keranjang ayam yang dibuat dari anyaman daun kelapa. Isinya, satu pucuk senapan otomatis AK 47 berpopor lipat dan satu pistol FN beserta peluru dalam lipatan kain yang terpisah. Cerita ibu, ayah berkata " Baik..saya terima tugas dan kiriman ini dengan baik. Silakan adik-adik menempati kamar depan ", yang dijawab dengan sikap hormat layaknya anak buah kepada komandan pasukannya. Keduanya berpisah, satu orang menuju kamar depan untuk mengeluarkan barang  dan satu lagi keluar rumah memanggil teman-temannya yang menunggu di rerimbunan tanaman di halaman belakang rumah kami. Perbincangan selanjutnya antara ayah dan komandan pasukan itu tak lagi dapat didengar ibu karena beliau segera menuju dapur menyiapkan suguhan buat tamu misteriusnya. Kebetulan sore sebelumnya, ayah memanen singkong yang banyak tumbuh di halaman belakang. 

Pasukan yang kemudian ibu ketahui dari RPKAD itu menempati kamar depan sebagai markas serba guna selama satu minggu. Mereka selalu keluar malam sehabis maghrib dan kembali sebelum subuh dengan tetap berseragam petani. Sesekali sang komandan keluar kamar di siang hari dan berbincang dengan ibu di ruang keluarga. Sepanjang waktu satu minggu itu, ayah selalu keluar rumah di siang hari memakai sepeda. Pada hari ke 7, beberapa saat setelah hari gelap, dua buah jip masuk halaman depan dan terus ke belakang. Dua orang supir berpakaian dan berperalatan tempur turun dang menghampiri ayah yang telah menunggu di sana. Setelah pasukan yang menempati rumah kami naik di jip belakang dan menyilakan ayah duduk di jip depan, tanpa upacara mereka meninggalkan rumah dengan cepat. Kata ibu, pasukan RPKAD akan menempati satu gedung di kompleks Pemda sebagai markas komando (kini jadi gedung KPU Kab. Kebumen). Jadi, selama satu minggu terakhir ayah bersama pak Subiyanto yang saat itu selaku Kepala Kantor Transmigrasi Kab. Kebumen dan selaku Komandan Peleton Yonved Be 17 Kebumen mencari tempat untuk markas komando pasukan RPKAD. 

Sepeninggal pasukan tadi, rumah kami selalu didatangi oleh para ex anggota TP dan Mobpel (Mobilisasi Pelajar). Dari 40 orang yang terdaftar, akhirnya dipilih 26 anggota Peleton Khusus dari Batalyon Veteran dan Dembolisan Pelajar (Yonved) ex Brigade 17/TP yang diperbantukan kepada Kodim 0709 Kebumen sebagai Team Pemeriksa Peperkuper (kepanjangannya tidak saya ketahui). Mereka adalah anggota pasukan Yonved TP Be 17 yang bersama sejumlah pasukan RPKAD dan Polri merebut kembali Makodim 0709 Kebumen dari penguasaan Wadandim yang diindikasi sebagai anggota "Dewan Revolusi". Tidak disebutkan ada atau tidaknya korban jiwa dalam peristiwa itu. Kejadian persisnya tak pernah diceritakan oleh ayah sampai beliau wafat. Begitu kuatnya memegang rahasia, seolah telah bersepakat, ibu juga tak pernah memberitahu meski didesak berulang kali sampai beliau wafat karena sakit di tahun 2010. Pesan yang selalu ibu sampaikan kepada anak-anaknya yaitu agar sekuat daya menjaga sikap sebagaimana kedua orang tua kami lakukan untuk urusan sepenting itu. 

         Logo TP dan TRIP


Posted in , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Di Balik Nama Monumen Mata Pena



Memberi nama satu tanda peringatan bagi sebuah tempat bersejarah adalah bagian dari tradisi yang berlaku di lingkungan Tentara Pelajar. Penamaan biasanya bermakna simbolik. Misalnya untuk Monumen Palagan Sidobunder yang menggunakan media dua pohon beringin yang diberi nama sesuai pemberian Keraton Yogyakarta. Tradisi yang secara kultural adalah penghormatan atas nilai sosial dan historis.
Seperti telah beberapa kali dipaparkan, memberi nama atas kehadiran/keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I tahun 1947 yang berada di lingkungan GKJ Kebumen bukan hal yang mudah dilakukan. Penulis yang diberi kepercayaan penuh oleh penggagas (Bp. Agustinus Reksodihardjo dan almarhumah Ibu Atiatoen harus belajar jadi “supermankarena tidak punya bekal pengalaman di bidang rancang bangun dan realisasi (pembangunan monumen). Hanya sedikit kebisaan menggabung-gabungkan makna (othak athik waton gathuk lan maton) dari setiap cerita yang berkembang di dalamnya. Setelah jadi rancangan dasar dan disetujui, penulis harus belajar juga jadi perancang bangunan (arsitek), pelaksana teknis (pemborong ?) serta akuntan sekaligus. Dalam posisi seperti ini memang semula ada rasa “keterpaksaan” karena menghadapi banyak kendala: formal (kedua penggagas bukan “petinggi” di masanya), struktural  (ada friksi antara yang asli dan aspal/ asli tapi palsu) dan terutama soal finansial. Dari semua kendala yang terpetakan akhirnya harus mampu dikalahkan oleh kesadaran untuk melakukan darma bakti kepada orang tua dan bangsa/negara khususnya tanggung-jawab kemanusiaan atas sejarah peradaban manusia Indonesia yang jadi pokoknya.

Penjelasan Umum:

1.    Keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat adalah nyata, setidaknya diakui oleh para pelaku (selain oleh kedua penggagas) dan dibuktikan dengan adanya monumen Palagan Sidobunder yang diresmikan awal tahun 1982.
2.   Kandungan nilai historis (dibuktikan dari usaha keluarga pelaku : Herman Fernandez) dan cerita pelaku yang banyak disebut (Bp. Alex Rumamby, mantan Dubes RI untuk Swiss yang pernah berkunjung dan menguatkan cerita alm. Ibu Atiatoen) dan dikuatkan oleh tulisan yang disusun sendiri oleh pelaku: Bp. Djokowoerjo Sastradipradja, Prof;Dr;drh; RIM, serta menjadi salah satu referensi penting bagi penyusunan buku sejarah: Peran Pelajar dalam Perang Kemerdekaan yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi Angkatan Bersenjata RI cetakan I tahun 1985.
3.   Penggagas utama (alm. Ibu Atiatoen) adalah staf putri yang bertugas mengurus “urusan belakang (dapur umum dan kepalangmerahan) dan sering dipandang sebelah mata karena bukan kombatan yang selalu berada di garis depan. Sementara penggagas yang lain, Bp. Agustinus Reksodihardjo bukan tokoh penting di seputar penempatan Markas Darurat maupun front Barat selain sebagai putra Pendeta Reksodihardjo yang memberi ijin lisan pemanfaatan rumah dinasnya sebagai kantor markas dan aula GKJ untuk asrama markas.
4.   Cerita (penuturan lisan) mantan Wakil Komandan Markas Tentara Pelajar Kebumen, Bp. David Sulistianto kepada penulis dalam satu kesempatan tatap muka di Yogyajarta 1983-1985. Nama ini juga sering disebut oleh petinggi KODM Kebumen saat itu, Achamd Dimjatie, yang kebetulan adalah kakak kandung penggagas (Atiatoen) dan berperan penting dalam penempatan pasukan TNI (TRI) di Palagan Sidobunder.

Dari berbagai sumber itu, kemudian saya coba maknai dengan pembuatan desain dasar seperti yang dapat dipaparkan pada gambar di bawah ini:

1.       Nama-nama yang diusulkan:
a.      Tetenger Patilasan Bekas Rumah Perjuangan Tentara Pelajar di Front Barat (Gombong Selatan) pada Perang Kemerdekaan ke 1 tahun 1947.
b.      Monumen Mata Pena.
2.       Ijin pembangunan dari GKJ (dokumen asli disimpan oleh Ibu Amini Soeroto selaku warga GKJ Kebumen dan dipercaya oleh kedua penggagas utama).
3.      Penggalangan Dana.
4.      Pembangunan Fisik.
5.      Pemeliharaan.
6.      Peresmian dan serah terima.

Pada tulisan ini, butir ke 2 sampai 6 tidak dibahas.



 Penjelasan Singkat tentang Nama Monumen Mata Pena

Mata (biasa disebut juga dengan istilah: kepala) pena adalah bagian terpenting dari sebuah pena yang digunakan untuk menorehkan tulisan, gambar dan lain-lain. Mata pena melambangkan asal  Tentara Pelajar dari kaum terdidik yang akhir-akhir ini sering disebut sebagai masyarakat madani (civil society). Di banyak tempat, mereka adalah pembaru dan pendobrak.
Tentara Pelajar di Indonesia adalah satu-satunya yang ada di dunia. Di negara lain, kaum terdidik yang dijadikan tentara adalah peserta wajib militer yang dibentuk dan dipanggil oleh pemerintah/ negaranya  untuk melakukan tugas-tugas kemiliteran di dalam maupun luar negeri. Sementara itu, Tentara Pelajar ada karena inisiatif sendiri (panggilan jiwa/nurani)  kaum terdidik dalam menjawab situasi dan kondisi negara saat itu.

Mata Pena pada monumen ini bersusun tiga sesuai pembagian masa:
  1. Masa perjuangan, ketika para anggota Tentara Pelajar berperan dalam perjuangan menegakkan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 antara 1946 – 1950/51) yaitu rentang waktu terbentuk, beraktivitas dan demobilisasi. Masa ini dilambangkan dengan warna tanah (sand) yang berarti keberadaan Tentara Pelajar adalah untuk tanah air-nya.
  2. Masa aktif adalah masa-masa yang dilalui para (bekas) Tentara Pelajar setelah demobillisasi baik di lingkungan sipil maupun militer sesuai pilihan masing-masing. Masa ini dilambangkan dengan warna hijau muda yaitu masa aktif masing-masing (bekas) anggota Tentara Pelajar dalam berkiprah di masyarakat. Sebagai kaum terdidik, mereka memiliki kontribusi nyata di lingkungannya (secara umum).
  3. Masa purna bakti yaitu masa-masa setelah batas masa aktif (pensiun secara umum) dilambangkan dengan hitam.


Gagang Pena terdiri dari dua bagian yaitu : 
  1. Utama (yang biasa dipegang) berbentuk buku terbuka, melambangkan keterbukaan wawasan kaum terdidik yang berpijak pada ilmu pengetahuan dan teknologi (pengertian umum). Buku juga dimaksudkan sebagai catatan sejarah. Digambarkan dengan warna putih yang berarti suci. Bahwa buku adalah simbol peradaban manusia modern yang semestinya bersih dari sifat-sifat kotor manusia: sombong, tamak dll. 
  2. Ujung gagang sebagai faktor penyeimbang. Dalam hal ini dilambangkan mewakili masa pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Disusun dalam dua bagian. Bagian terbawah berwarna hitam (masa penjajahan) dan kelabu (masa pergerakan nasional).

 Demikian gambaran sekilas tentang makna di balik nama Monumen Mata Pena.

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Gema Purna Bakti I



Ada satu kebiasaan yang sampai sekarang sulit saya pahami dari tradisi di lingkungan (bekas) Pelajar Pejuang Kemerdekaan atau yang lebih dikenal dengan nama Tentara Pelajar (termasuk semua sebutan serupa : TRIP, TGP, SA/SCA, TPS, IMAM dan sebagainya). Meski jadi anak keturunan langsung, mereka selalu menyapa dengan sebutan mas atau mbak. Kalau ada sebutan lain, misalnya zus, hampir dapat dipastikan ia bukan pelaku. Mungkin suami atau istri pelaku. Dengan sebutan ini tak ada sekat sosial yang membatasi meski jabatan formal atau strata sosialnya lebih tinggi. Ikatan batin mereka sangat kuat bagi yang pernah mengalami peristiwa khusus bersama dan cukup lama.
Tradisi lain adalah memberikan “tanda penghargaan” baik bagi anggota/kesatuan maupun masyarajat umum. Dalam pengantar buku “Peringatan Palagan Sidobunder” (1984, Paguyuban III-17) dan Air Minum Lempuyang (1987), mas Mui selalu tampil sebagai penulisnya. Di antara beragam isi, saya sangat tertarik dengan penjelasan di bawah ini.

Apa perlunya memperingati ?

Tidak cukup sehari untuk mengupas jawaban atas pertanyaan itu. Yang jelas, bagi warga PERPIS (Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi) dan warga Tentara Pelajar Batalyon 300, peristiwa Palagan Sidobunder adalah kenang-kenangan khusus.  Ijinkan saya mengutip pidato La Sinrang berikut:
" ...berhentinya perlawanan kita terhadap musuh karena sudah tidak ada sebutir pelurupun yang kita miliki. ...... sejarah dan Bangsa memberi predikat Pahlawan kepada teman-teman yang gugur di Sidobunder sini pada tanggal 2 September 1947, tiga puluh tahun yang lalu.
Kita semua, terutama adik-adik remaja patut kiranya mengikuti jejak mereka. Tidak hanya di tahun 1947 pahlawan diperlukan. Tanah air memerlukan pahlawan pada masa sekarang dan masa-masa mendatang. Kepahlawanan tidak harus sama dan sebangun dengan tahun 1947....." 

Demikianlah pidato 
La Sinrang  di hadapan jemaah anjangsana di Sidobunder sini pada 20 Desember 1979.

Mengapa berterima-kasih?

Terima kasih terhadap mental emas serta budi luhur warga Sidobunder yang telah menganggap dan memperlakukan kami sebagai anak kandung sendiri.
.. kalau tadi saya tak kuat menahan air mata saking mongkog mendengar ucapan “ ..hutang TP kepada rakyat semasa Perang Kemerdekaan dahulu sungguh besar, … semoga hutang itu terbayar lunas sebelum maghrib…”
Sebenarnya hutang yang besar adalah hutang kami seangkatan TP, sampai saat ini kami belum mampu mencicilnya sama sekali (mBah Tlepong, mantan Lurah Desa Sugihwaras Buayan Kebumen, 12 Peberuari 1982).

Dialog sederhana yang menyiratkan makna sangat mendalam. TP yang saat itu masih remaja atau menjelang dewasa adalah pasukan yang dibentuk oleh para pelajar sendiri dari berbagai sekolah menengah, umum maupun kejuruan. Sebagian besar diantaranya hanya berlatih dasar-dasar kemiliteran seperti baris barbaris, pengenalan beberapa jenis  senjata, bela diri dan kepalangmerahan dalam waktu singkat sekitar dua atau tiga minggu. Waktu pelatihan dilaksanakan setelah masa ujian/ulangan catur wulan. Jadi tidak mengganggu proses belajar dan mengajar. Begitu penuturan almarhumah Ibu Atiatoen yang pernah menjabat sebagai Staf Putri di Markas Darurat Front Barat tahun 1947.

Setelah masa bakti dinyatakan berakhir secara formal, semua anggota TP diberi pilihan melanjutkan sekolah atau karir militer dalam satu fase yang disebut masa demobilisasi yang dimulai kwartal pertama 1951 sampai beberapa bulan kemudian. Ada yang jadi sarjana dan guru besar seperti Kusnadi Hardjasumantri (UGM), Koento Wibisono (UNS) dan Djokowoerjo Sastradipradja (IPB). Sementara yang berkarir di militer di antaranya adalah Rusmin Nuryadin (AU) dan Solichin GP (AD). Ketika berkumpul, mereka akan melepas semua atribut formalnya. Semua saling menyapa dengan sebutan mas/mbak (tidak seperti sekarang yang banyak membanggakan gelar dibanding bertanggung-jawab atas sebutan itu). Satu tradisi yang menggambarkan suasana akrab dan saling menghargai. Cermin kehidupan kaum terdidik yang menjunjung tinggi adab.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian di atas adalah kerendahan hati para mantan anggota Pelajar Pejuang Kemerdekaan adalah penghormatan bagi warga masyarakat yang pernah disinggahi beberapa saat lamanya. Terutama ketika berhadapan dengan situasi genting dan penting selalu diingat sebagai “hutang” yang harus dilunasi sebelum ajal tiba atau berkurang drastis kemampuan sosialnya. Prosesi “bayar utang” seringkali berujung fasilitas umum semisal balai dan kantor desa (Sidobunder, Kebumen), bak penampungan air minum (Lempuyang, Temanggung) serta sejumlah monumen/ tugu peringatan (Rejodani, Sleman) dan makam khusus (Wareng, Purworejo). Atau sekolah (SMAN 1 Purworejo) serta penginapan/wisma (Ganesha, Purworejo) dan sebagainya.

Keunikan pasukan kaum terdidik ini sebenarnya sangat banyak. Tapi tidak semuanya mampu dipertahankan maknanya karena tergilas jaman yang tiada berarah. Entah sebab apa, hanya sedikit anak keturunan mereka yang bersedia secara suka rela dan konsisten memelihara tradisi adab tadi.  Sementara itu, yang masih melakukan sering berbentur tembok kesombongan sectarian dalam segala bentuk dan nuansanya. Bagi mereka “ kesetiaanku pada bangsa dan tanah air dari buaian sampai liang lahat” memang banyak terbukti. Mungkin hanya seorang Kusni Kasdut yang melanggarnya. Atau banyak yang tersembunyi ? Wallahu a’lam bissawab. 
Tulisan yang sama ada di  sini

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Rencana Pemasangan Prasasti Monumen Mata Pena


Monumen Mata Pena yang menjadi tanda keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I, 1947 secara fisik telah selesai dibuat dalam jangka waktu lebih dari 6 tahun sejak peletakan batu pertama awal Maret 2002. Monumen ini digagas oleh alm. Ibu Atiatoen yang saat itu bertugas sebagai Staf Putri, melengkapi kepengurusan markas yang diketuai oleh Moedojo dan Tjiptardjo dari Markas Pusat Pelajar Tugu Kulon Yogyakarta, bersama Bapak Agustinus Reksodihardjo yang merupakan putra pendeta GKJ saat itu, Reksodihardjo. Cerita tentang hal ini ada di sini

Meski telah diselesaikan, Monumen Mata Pena belum diresmikan dan diserah-terimakan kepada Majelis maupun warga GKJ yang memiliki otoritas atas lahan dan bangunan di kompek gereja tsb. Karena itu, Bapak Agustinus Reksodihardjo selaku penggagas mengutus anggota keluarganya, mas Samikun,  untuk berkordinasi dengan saya selaku ahli waris almarhumah Ibu Atiatoen. Pertemuan singkat kami, saya diharapkan menyiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan rencana peresmian tanggal 2 September 2013. Satu materi yang kami bahas adalah pembuatan prasasti sebagaimana layaknya kelengkapan suatu monumen atau tugu peringatan. Mengingat kondisi kesehatan Bapak Agustinus Reksodihardjo dan anggota TP lain yang masih hidup relatif terganggu karena faktor usia, maka untuk memudahkan penyamaan persepsi dengan semua pihak yang mengetahui hal ihwal Monumen Mata Pena dimohon kesediaannya untuk mencermati dan mengoreksi rancangan bentuk maupun isi prasasti.



Bahan untuk membuat Prasasti dipilih antara batu pualam (marmer putih) atau batu alam. Ada dua prasasti yang akan dipasang pada dinding dalam Monumen Mata Pena yaitu :

  1. Persembahan dari TP untuk warga GKJ Kebumen sebagai ungkapan terima kasih keluarga besar ex Tentara Pelajar Bridgade XVII yang telah membantu upaya pengoperasian Markas Darurat.
  2. Prasasti tentang nana-nama anggota Tentara Pelajar yang gugur dalam pertempuran di sekitar desa Sidobunder pada Perang Kemerdekaan RI. Daftar nama yang akan dicantumkan adalah daftar yang disusun oleh Bp. Djokowoerjo Sastradipradja selaku pelaku yang  selamat dan  menjadi petunjuk jalan pencarian serta pengambilan jenasah korban. Kisah selengkapnya ada  di sini
Rincian isi tulisan dalam Prasasti Persembahan (1) maupun Nama Anggota TP yang gugur di Palagan Sidobunder adalah sebagai berikut:


Utusan Bp. Agustinus Reksodihardjo, mas Samikun (kanan) 

Peresmian direncanakan akan dilaksanakan pada hari/tanggal : Senin, 2 September 2013 sekaligus memperingati 66 tahun Pertempuran Sidobunder 2 September 1947. Dalam sisa waktu sekitar 4 bulan, kami berharap ada masukan dari para pelaku dan/atau anggota keluarga pelaku agar dapat menyempurnakan niat memuliakan para syuhada Tentara Pelajar yang gugur di medan laga tsb demi tegaknya NKRI dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Semoga. 

Posted in , , , , , , | 4 Comments Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

Mengenang Perjalanan Sie Rusmin Nurjadin Masuk Kota Semarang


Oleh : H. Suwignyo

Pengantar

Akhir tahun 1949, hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) memutuskan pasukan Angkatan Bersenjata RI secara bertahap akan masuk kota Semarang dan sebaliknya, pasukan Belanda ditarik mundur dari kota itu. Tanggal 27 Desember 1949 adalah hari yang ditetapkan dalam KMB sebagai hari “penyerahan kedaulatan”. Maka, sebelum tanggal itu pasukan TNI harus masuk kota Semarang (juga Surabaya, Bandung dan Jakarta). Oleh pimpinan TNI yang diperintahkan masuk Semarang adalah pasukan TP (Brigade 17). Didampingi Batalyon dan Brigade SS yang telah berada di sekitar kota itu.

Masuk Kota Gombong

Sekitar 10 Desember 1949, Seksi (Sie) Sumardi yang dipersiapkan masuk Gombong mulai bergerak dari Kuwarasan di Selatan ke Jatinegara (Sempor, Utara Gombong). Di sana mereka bertemu pasukan Suwarno Bulet yang semula ada di Kebumen. Empat hari kemudian, kedua pasukan ini masuk Gombong dan dari Selatan masuk juga pasukan “Werkudoro” dipimpin Kapten Sumantoro. Keduanya bertemu di lapangan dekat benteng dan melakukan apel bersama. Pasukan TP menempati dua rumah bekas anggota KNIL di depan benteng dengan tugas utama patrol kota dan mengawal kereta api dari Gombong ke Stasiun Ijo. Di tengah penugasan ini, dua anggota  pasukan TP: mas Sumardi dan mas Rusmin dipanggil menghadiri reorganisasi di tubuh Detasemen III dengan hasil sebagai berikkut:
1.      Anggota Kompi II dan V yang setingkat SMA masuk Kompi II, sisanya masuk Kompi V.
2.      Anggota Kompi III dan IV yang setingkat SMA masuk Kompi III dipimpin oleh mas Wiyono. Sisanya masuk Kompi IV dan dipimppin oleh mas Suwarno.
3.      Ex Seksi Subiyono, Sumardi dan Suwarno/Panuju Widayat yang setingkat SMA masuk Seksi Rusmin Nuryadin sebagai Seksi I Kompi III Detasemen III Brigade 17 TNI. Seksi inilah yang ditugaskan masuk Kota Semarang.
Tidak semua anggota Seksi Rusmin ikut. Dua diantaranya: Nico Suparman dan Yusuf Sudirjo karena sangat kangen dengan keluarga, mereka pergi ke Jakarta dan meneruskan sekolah di kota ini.

Berangkat Ke Semarang

Pasukan TP dari Gombong diberangkatkan dengan kereta api ke Kutoarjo. Dari sini, kami bergabung dengan pasukan Subiyono (Purworejo) kemudian dilanjutkan dengan bus menuju Blabak – Magelang lewat Salaman dan Borobudur. Hal itu terjadi atas permintaan dari teman-teman TP yang ada di Magelang untuk meramaikan tugas mereka memasuki Kota Magelang selama dua hari (20-21 Desember 1949). Baru pada 22 Desember, kami berangkat ke Semarang dari Stasiun Blabak dengan perintah agar di kota Magelang dan memasuki Ambarawa, semua jendela harus ditutup. Dari Ambarawa kami dibawa dengan kereta ke Kedungjati menunggu kedatangan kereta dari Solo.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami dibawa se stasiun Alastuwo yang jaraknya sekitar 12 Km dari kota Semarang. Dari sini kami dijemput dengan truk militer yang dikemudikan oleh anggota pasukan dari Kompi II, Dulman (kalau tidak salah ingat). Menjelang maghrib, pasukan Garuda (sebutan untuk Kompi III) mulai masuk kota dan manuju satu sekolah (SMP Kanisius) Poncol bersama teman-teman dari Kompi II Yogya yang melakukan longmarch sambil membawa dua buah senapan ukuran 12,7. Di tempat ini kami langsung mendapat pembagian seragam baru berwarna khaki dan sepatu boot militer banyak yang kedodoran. Sementara itu, seragam lama drill hitam kami simpan. Hanya sekitar dua hari kami berada di Poncol dan segera dipindah-tugaskan ke Sektor Timur bagian Utara menempati rumah-rumah penduduk di Kelurahan Bogangan. Tak lama kami bertahan di situ, kemudian dipindah lagi ke Mlaten di Handelsschool bersama semua pasukan TP sampai saat demobilisasi pada April 1951.




Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

PERAN PELAJAR PEJUANG DALAM PERANG KEMERDEKAAN Bagian IV (terakhir)



PELAJAR PEJUANG MASUK KOTA SEMARANG

Perang kemerdekaan telah dinyatakan usai dengan adanya perundingan damai Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Pemerintah Belanda dan Indonesia yang lebih dikenal dengan Perjanjian Roem Rooyen. Karena dua tokoh utama yang menandatanginya adalah Mr. Moch. Roem (Indonesia) dan van Rooyen (Belanda). Hal ini dilakukan di kedua Negara, Indonesia dan Belanda. Serah terima pemerintahan ditandai dengan penarikan pasukan Belanda di kota-kota besar. Termasuk di dalam perjanjian itu adalah pelepasan para pemimpin pemerintah RI yang ditawan oleh Belanda. Gencatan senjata berlaku sejak 11 Agustus 1949 secara menyeluruh. Di Solo, di bawah komando Letkol Slamet Riyadi melakukan Serangan Perpisahan selama 4 hari dari tanggal 7 sampai 10 Agustus 1949.

Di Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam  menyiapkan kembalinya Pemerintah RI memerintahkan gencatan senjata sejak 14 Juni 1949. Penarikan mundur pasukan Belanda dari Ibukota RI itu telah dimulai sejak 1 Juni 1949. Presiden Ir. Soekarno dan Wakilnya Moch. Hatta kembali ke Yogyakarta 6 Juli 1949.  Selama masa gencatan senjata, pasukan TP tetap siaga sampai ada perintah untuk meninggalkan pos gerilyanya.

November 1949 serdadu Belanda telah ditarik mundur dari Surakarta, Yogyakarta, Kedu, Banyumas, Pekalongan dan Pati ke Semarang dan Salatiga. Berdasarkan pengalaman perang gerilya yang dilandasi oleh loyalitas dan dedikasi tinggi, perintah masuk dan menerima penyerahan kota Semarang oleh Gubernur Milliter dan Panglima Divisi II Gatot Subroto dilaksanakan dengan patuh oleh pasukan Tentara Pelajar dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Dalam melaksanakan perintah itu, tidak seluruh kekuatan dikerahkan. Ada sebagian yang tetap tinggal di pos masing-masing. Bebarapa induk pasukan seperti Corps Mahasiswa (CM), Tentara Geni Pelajar (TGP) dan Mobilisasi Pelajar (Mobpel) bahkan tidak mengirimkan pasukannya.

Pasukan Tentara Pelajar yang masuk kota Semarang adalah dari Detasemen II (Solo, 2 kompi) yakni Kompi Prakoso dan Marwoto. Kompi Marwoto selain dari TP Solo, juga ada angota yang berasal dari seks-seksi : Purwokerto, Wonosobo, Pekalongan, Semarang dan Pati.  Dari TP SA (Strum Abteilung) dibawah komando Muktio, dan dari Detasemen III Yogyakarta dibawah pimpinan Mustafa Supangat. Pasukan TP Yogya ini terdiri dari TP Yogya sendiri ditambah seksi-seksi: Gombong dan Magelang. Mereka berangkat dengan cara berjalan kaki melawati bukit dan gunung 6 Desember 1949 sampai di Mranggeng 12 Desember 1949. Pasukan TP Detasemen II dan SA diberangkatkan 21 Desember 1949.

Sementara itu, pertahanan kota Semarang dibagi menjadi 4 sektor yaitu I di bagian Utara, II di Timur, III di Selatan dan IV di bagian Barat. Kompi Muktio (TP SA) ditempatkan di Sektor I; Kompi Mustafa Supangat di Sektor II, Kompi Prakoso di Sektor III dan Kompi Marwoto di Sektor IV. Karena merasa senasib – sepenanggungan, pasukan TP saling akrab dan mudah menyatu dengan rakyat. Apalagi pasukan TP mendului kedatangan pasukan TNI regular.

Tanggal 26 Desember 1949, pasukan TP dari semua sektor mulai  menerima serah terima dari serdadu Belanda sekitar jam 17.00. Semua pos vital dan strategis ditempati bersama antara TP dan Belanda. Seperti pos pelabuhan, kilang minyak, listrik, air minum dan sebagainya. Pada jam 00.00 tanggal 27 Desember 1949, semua serdadu Belanda ditarik keluar dan digantikan sepenuhnya oleh pasukan TP di pos-pos vital dan strategis itu. Peran pasukan TP selain menjaga keamanan dengan cara berpatroli, juga melakukan tugas di pos polisi militer bersama Militaire Politie (MP) Belanda. Meski berada di tempat sama, ketegangan antara anggota pasukan TP dan MP Belanda sesekali terjadi dalam skala kecil. Biasanya, insiden terjadi karena anggota pasukan TP memiliki sikap teguh menjaga harga diri sebagai bangsa merdeka dan dalam rentang usia yang relatif masih muda. Dari beradu mulut sampai perkelahian satu lawan satu memang sulit dihindari.  

Posted in , , , , | Leave a comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Semarang, Indonesia

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN BANGSA DAN NEGARANYA BAGIAN III


Tentara Pelajar Terbentuk


Setelah kemerdekaan diproklamasikam 17 Agustus 1945 yang disambut gembira dan gegap gempita oleh seluruh bangsa Indonesia sekalipun dalam  kewaspadaan dan kesiap-siagaan yang sangat tinggi terutana dari kalangan pemuda, pelajar dan mahasiswa. Di mana-mana terjadi perebutan kekuasaan dari Balatentara Jepang yang memang sudah kalah perang. Di Semarang, para pelajar yang bergabung dalam AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), Gasemse (Gabungan Sekolah Menengah Semarang) serta laskar-laskar bantuan pelajar lainnya pada tanggal 19 Agustus 1945 melakukan hal sama dan menyebabkan banyak jatuh korban,  gugur sebagai kusuma bangsa. Menyadari besarnya potensi kekuatan perjuangan dari kalangan pelajar maka dibentuk Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) dalam suatu kongres nasional pelajar di Sitihinggil Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada pertengahan November 1945.

Dengan adanya Maklumat Pemerintah 5 Oktober 1945 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), IPI menyesuaikan diri dengan membentuk Bagian Pertahanan dan Markas Pertahanan Pelajar yang berpusat di Yogyakarta (sebutan popular markas ini adalah markas TP Tugu Kulon yang sekarang jadi museum Tentara Pelajar di Jl. Diponegoro dekat Pasar Kranggan, pen). IPI Bagian Pertahanan dibagi menjadi 3 resimen dan 1 batalyon yaitu :

1.      Resimen A untuk daerah – wilayah di Jawa Timur.
2.      Resimen B untuk daerah – wilayah di Jawa Tengah.
3.      Resimen C untuk daerah – wilayah di Jawa Barat.
4.      Batalyon  Tentara Genie Pelajar (TGP).

Sebutan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) diubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan disempurnakan sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada tanggal 3 Juni 1947. Karena itu, Tentara Pelajar di Jawa Timur lebih dikenal sebagai TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).

Pembagian daerah – wilayah untuk Resimen A adalah sebagai berikut:
·         Batalyon 1.000 di Mojokerto
·         Batalyon 2.000 di Madiun
·         Batalyon 3.000 di Kediri
·         Batalyon 4.000 di Jember
·         Batalyon 5.000 di Malang

Resimen B di daerah – wilayah juga dibagi menjadi 5 Batalyon yaitu:

·         Batalyon 100 di Solo
·         Batalyon 200 di Pati
·         Batalyon 300 di Yogyakarta
·         Batalyon 400 di Cirebon
·         Batalyon 500 di Pekalongan

Resimen C yang bergerak di wilayah Jawa Barat terkenal dengan sebutan TP Siliwangi dan dibagi menjadi 4 batalyon yaitu Batalyon I, II, III dan IV.


TENTARA PELAJAR ORGANIK MASUK TNI BRIGADE KE XVII

Dunia berkembang, jaman beralih, dan  perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara tetap tumbuh semakin mengakar. Penataan sarana perjuangan semakin tertib dan mantap. Demikian pula di dalam Tentara Pelajar. Di tengah suasana sibuk menghadapi infiltrasi musuh, masih ada kesempatan untuk berbenah. Dari bentuk non organik militer disempurnakan dalam tatanan dan jajaran kemiliteran bersamaan dengan reorganisasi dan rasionalisasi di tubuh Angkatan Perang berdasarkan Penetapan Presiden No. 1 tanggal 2 Januari 1948 dan disempurnakan pada tanggal 4 Mei 1948.

Dari Surat Perintah Panglima Besar TNI tanggal 25 Maret 1948 yang isinya perintah reorganisasi dan rasionalisasi, Angkatan Perang RI dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu Pasukan Mobil, Pasukan Teritorial dan Pasukan Cadangan (Reserve). Tentara Pelajar masuk dalam Pasukan Cadangan (Kesatuan Reserve Umum – KRU) W yang pelaksanaannya dimulai dari 15 Mei 1948. Melihat gelagat tentara Belanda yang akan melanggar perjajian Remville, maka pemerintah mengeluarkan “Perintah Siasat I” yang intinya tentang pokok-pokok peran gerilya dan wingate (kembali masuk ke kantong-kantong gerilya). TP Siliwangi yang semula melangkah dengan “hijrah” ke Jawa Tengah,  dengan adanya perintah tersebut kembali ke wilayahnya yakni di Jawa barat.

Di masa gencatan senjata, pata pimpinan Tentara Pelajar tetap memikirkan kegiatan belajar –mengajar para anggotanya dengan cara mendirikan sekolah peralihan. Sebagai pasukan cadangan, Tentara Pelajar menjalankan tugas ganda sebagai pelajar yang harus memikirkan masa depannya. Dan selaku pasukan cadangan, mereka harus bersiaga dengan menjata tetap di tangan untuk mengawal bangsa dan negaranya dari ancaman musuh asing maupun pemberontakan dari kalangan bangsa sendiri seperti pemberontakan PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikenal sebagai Madiun Affair. Sementara itu, Nampak peningkatan kegiatan Tentara Belanda. Tanggal 28 Oktober 1948, pemerintah membentuk Markas Komando Djawa (MBKD) sebagai pusat kendali militer untuk seluruh P. Jawa.    Sebagai pasukan cadangan di KRU W, Tentara Pelajar masuk jajaran orgnisasi TNI sebagai TP Brigade 17 TNI. Belum sempat menyempurnakan organisasi TP yang sebenarnya terdiri dari 3 detasemen ini, agresi tentara Belanda ke ibukota RI di Yogyakarta telah terjadi dan menawan sebagian besar pimpinan pemerintah RI. Inilah awal terjadinya perang gerilya bagi organisasi pasukan pelajar tersebut.


SUSUNAN PIMPINAN
TENTARA PELAJAR TNI BRIGADE XVII

1.      Sebelum terjadi Agresi Belanda (Perang Kemerdekaan II):

·         Komandan
:
Letkol. Soedarto
o   Wakil Komandan
:
Mayor Soewarto



·         Komandan Batalyon Aktif

·         Mayor Isman
·         Mayor Achmadi



·         Komandan Batalyon Reserve

·         Kapten Hartono
·         Kapten Suyono



·      Komandan Pasukan Zeni Pelajar

·         Kapten Hartawan

2.      Setelah terjadi Agresi Belanda (Perang Kemerdekaan II):

·         Komandan
:
Letkol. Soedarto
·         Wakil Komandan
:
Mayor Isman



Komandan :


1.      Detasemen I
2.      Detasemen II
3.      Detasemen III
4.      Detasemen IV
5.      Detasemen V

Mayor Isman
Mayor Achmadi
Mayor Martono
Kapten Solichin
Kapten Hartawan
TRIP Jawa Timur
TP Solo
TP Yogya
TP Siliwangi
TGP
Staf Brigade
:
Mayor Soewardi
Kapten Hartono
Kapten Soejono





Batalyon 55
:
Mayor Mashuri
TP SA/CSA



Posted in , , , , | Leave a comment