Tampilkan postingan dengan label Patriotisme. Tampilkan semua postingan

Peristiwa di Balik Monumen Jalan Tentara Pelajar di Kebumen (I)


Prolog

Sesungguhnya, pengalaman, semangat persatuan, perjuangan serta pengabdian kepada bangsa dan negara yang sepi ing pamrih, rame ing gawe semasa perang kemerdekaan Republik Indonesia adalah nyata, menjadi pengikat batin sesama pejuang kemerdekaan. Termasuk pelajar yang saat itu masih duduk di bangku sekolah setingkat SMP atau SMA atas inisiatif sendiri atau bersama yang lain bergabung dalam laskar-laskar perjuangan yang ada. Sebagian besar diantaranya masuk dalam berbagai kesatuan Tentara Pelajar. Banyak tindakan dan sikap luhur yang sepantasnya dapat dicontoh oleh generasi penerus dalam melaksanakan pembangunan nasional.

Sadar akan tanggung jawab meneruskan perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka dianggap perlu adanya monumen Jalan Tentara Pelajar. Sangat diharapkan bahwa monumen yang akan diresmikan hari ini, Jum'at - 10 November 1989 berdampak positif bagi upaya pelestarian nilai-nilai kejuangan bagi generasi penerus. Khususnya para pelajar, mahasiswa, pemuda serta masyarakat umum di Kebumen akan mampu memaknai jiwa patriotisme dan semangat juang para pelajar pejuang kemerdekaan tersebut.

Keluarga besar Tentara Pelajar adalah kelompok masyarakat yang dengan suka rela ikut serta menggunakan hak selaku warga negara dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia sejak awal  Proklamasi sampai berakhirnya Perang Kemerdekaan dengan cara membentuk dan menjalankan kesatuan-kesatuan bersenjata dan tetap mempertahankan statusnya sebagai pelajar. Kedua peran itu diatur menurut kebutuhan dan kesempatan yang ada saat itu. Karena mengikuti proses belajar mengajar juga penting artinya bagi permbangunan di masa depan.

Perang Kemerdekaan I    

Perjanjian Linggajati yang disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Belanda mengalami kebuntuan dalam pelaksanaannya karena pihak Belanda menginginkan pengakuan kedaulatan atas wilayah-wilayah yang dikuasainya. Ada perlawanan sengit dari para pemimpin laskar perjuangan kepada pemerintah RI yang menyebabkan jatuhnya Kabinet Syahrir III pada tanggal 3 Juli 1947. Kemudian tentara pendudukan Belanda melancarkan aksi polisionil sepihak yang dikenal dengan sebutan Agresi Militer pada tanggal 27 Juli 1947 ke seluruh wilayah RI. Setelah berhasil menduduki Jawa Barat, pasukan Belanda melebarkan wilayah agresinya ke Jawa Tengah melalui Cirebon. Setelah menduduki Purwokerto, Belanda terus melakukan gerak maju ke arah Gombong melalui tiga jurusan yakni Sumpyuh, Sempor dan Ayah. 
Buku Peresmian Monumen
Jalan Tentara Pelajar di Kebumen

Pasukan Tentara Pelajar dari Seksi 333 yang dipimpin David Sullistyanto dan Sumardi bersama laskar-laskar perjuangan lainnya melakukan taktik bumi hangus. Akibatnya, pasukan Belanda dapat ditahan oleh TNI di sekitar Desa Kemit yang merupakan perbatasan antara Gombong dan Karanganyar. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh TP untuk mundur ke arah Timur dan membentuk pertahanan di Karanganyar. Anggota pasukan TP Sie 333 ini tersebar di beberapa lokasi yakni Karanggayam, Candi, Wanareja, Kali Kemit dan Puring. Setelah berkumpul di Markas Karanganyar, sebagian diantaranya ditarik ke Purworejo dan digantikan oleh Seksi 335 pimpinan Sutrisno. Mereka ditempatkan di sepanjang garis demarkasi di Desa Grenggeng dan Kuwarasan. Kisah selanjutnya ada di sini. 

Komandan Seksi 321, Anggoro
di Mubes KBTP Kedu Selatan  - Purworejo 1992
Staf Putri Markas Pusat Pelajar pada Markas Darurat Front Barat
ATIATOEN  saat ikut Mubes KBTP Kedu Selatan di Purworejo 1992

Pasukan Tentara Pelajar Kebumen yang tergabung dalam Seksi 332 bermarkas di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah 1 dipimpin oleh Sadar Sudarsono dan wakilnya Panudju Widayat memperkuat pertahanan di sepanjang garis demarkasi, terutama di Desa Candi dan Wanareja menggantikan Seksi 331 dan 333. Pada hari kedua penugasan, seksi ini telah menghadapi gerak maju pasukan Belanda yang dilengkapi berbagai senjata berat. Dalam pertempuran itu, Daryadi gugur dan kemudian dimakamkan di Kebumen. Sementara Oentoeng Soewito menderita luka terkena serpihan kanon, Kalam tertembak di tangan kiri dan Soewarso tertermbak di paha kanan. Akhirnya, pasukan TP dari Seksi 332 ditarik mundur dan digantikan Seksi 331 dari Purworejo yang dipimpin oleh Toewoeh. Pasukan ini ditempatkan di Desa Wanareja dengan tugas utama melakukan pengintaian. Diantara waktu penugasan yang berlangsung sekitar dua minggu, Seksi 331 menahan serangan 4 truk oenuh pasukan Belanda yang berasal dari arah Desa Panjatan yang diperkuat tank. Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur setelah tank dilumpuhkan dengan trekbom yang di pasang di desa Panjatan.

Markas TP Kompi 330 Batalyon 300 berada di Hotel Van Laar Purworejo juga berfungsi sebagai asrama bagi pasukan yang dikirim ke front Barat (Gombong dan sekitarnya). Akibat perjanjian Renville, pasukan TP dari Batalyon 500 (Tegal dan Pekalongan) mundur ke kantong gerilya dan bergabung dengan Kompi 330. Pada akhir Agustus 1947, markas kompi 330 menerima kedatangan Kepala Staf Batalyon 300, Moedojo, yang membawa surat perintah penugasan pasukan ke front Barat. Pasukan TP yang ditugaskan saat itu berasal dari Seksi 321 yang dipimpin oleh Anggoro, Sementara itu, komandan Kompi 320 yakni Tjok Saroso Hoerip membawahi sejumlah pasukan TP yang ada di Jogja dan pasukan Pelajar Sulawesi (Perpis) yang dipimpin oleh Maulwi Saelan. Kisah selengkapnya ada di sini dan di sini .
  

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Benarkah Terorisme Jadi Ancaman Utama Integritas Nasional?

Ayah & Ibu saat ikut Mubes TP Kedu Selatan di Purworejo 1995

Dari Satu ke Lain Peristiwa Genting di Kebumen (Bagian I)
Hari ini, Kamis 9 Mei 2013, dorongan untuk menulis masalah terorisme di Indonesia tak lagi mampu dibendung. Meski masih diliputi oleh pemahaman dangkal tentang banyak hal yang berkait dengan aktivitas terorisme di Indonesia khususnya, kejadian di Dusun Kembaran, Desa Ungaran, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen yang digambarkan oleh banyak media massa (TV dan berita online surat-surat kabar terkemuka) serta media sosial (terutama Facebook) menjadi puncak gelisah saya atas hal itu. Juga komentar di sini yang mengaitkan peristiwa itu dengan kejadian masa lampau yang tak pernah diungkap kebenarannya dengan menyebut Kebumen sebagai basis PKI. Karena itu, sebagai keturunan langsung Djasmin Wirjosoemarto yang bertugas sebagai Komandan Peleton Tugas Khusus Batalyon Veteran dan Demobilisan ex Tentara Pelajar Brigade 17 TNI yang diperbantukan pada "Team Pepekuper Dim 0709 di Kebumen pasca tragedi Lubang Buaya dan pembunuhan sejumlah jenderal TNI Angkatan Darat yang popular disebut Peristiwa G30S/PKI, saya ingin mengungkap sebagian kecil pengalaman almarahum ayah dalam menjalankan tugas itu. Hal ini bukan dimaksudkan agar kami mendapat simpati, pujian atau penghargaan dari pihak manapun. Tujuan utamanya adalah memberikan sedikit pencerahan bahwa proses perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia dalam menegakkan makna Proklamasi Kemerdekaan  mengalami banyak peristiwa tragis dan berdarah sampai sekarang. Dengan porsi kecil ini, saya berharap ada penambahan dan/atau pengurangan isi agar verifiable objective evidences (didukung dengan bukti-bukti obyektif yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya). 

*****

Ayah (topi biru) berbincang dengan ex DanKie TP SA/CSA, Muktio
saat peringatan 40 tahun Serangan Umum Solo 1949

Perjalanan Karir Militer:

Tragedi kemanusiaan di Lubang Buaya Jakarta Timur dan pembunuhan sejumlah jenderal/ perwira TNI Angkatan Darat yang disebut-sebut dilakukan oleh Pasukan Pengawal Presiden (Soekarno), Cakrabirawa, pimpinan Letkol Untung adalah peristiwa yang sangat berdarah, menelan korban mati ribuan orang dan menyisakan trauma berkepanjangan. Partai Komunis Indonesia (PKI) dinyatakan sebagai "dalang" peristiwa itu. Dan Letkol Untung yang kelahiran Desa Suratrunan, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen dituduh sebagai eksekutor utama bersama sejumlah anggota pasukan yang dipimpin dirinya. Satu korban yang juga berasal dari Kebumen, Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, mati dengan cara sia-sia (bukan dalam peperangan) pada peristiwa itu. Singkatnya, ada dua orang Kebumen yang menjadi tokoh dalam tragedi kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah Indonesia Merdeka. 

Beberapa bulan setelah peristiwa di Jakarta tadi, sejumlah orang (menurut penuturan alm. ayah 11 orang) menjelang Subuh mendatangi rumah kami lewat pintu belakang. Ayah yang pernah mengenyam dinas militer setelah aktif menjadi anggota Tentara Pelajar (semula ikut TP Siliwangi pimpinan Solichin GP "hijrah" ke kantong-kantong gerilya yang diklaim pasukan pendudukan asing sebagai wilayah RI dan bergabung dengan TP Kedu (Sie 320) sebelum bergabung dengan pasukan Prakosa (TP Solo) dan Muktio (TP SA/CSA)  dan terakhir menjadi double fighter   bersama  seseorang yang dijuluki Jayadi Jepang di berbagai kesatuan di wilayah Solo Raya ). Di tengah perjalanan karir yang kian memuncak, ayah mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan kemiliterannya di SSKAD (sekarang Seskoad) dan berkenalan dekat dengan Sarwo Edie Wibowo. Di sekolah khusus itu, ayah mengalami masa kritis karena divonis sebagai orang yang paling bertanggung-jawab atas kematian instruktur berkebangsaan Belanda dalam suatu "duel maut". Akibatnya, ayah kehilangan peluang menjadi perwira tinggi TNI AD dan harus diturunkan pangkat dari Letnan Dua menjadi Sersan. Serta masuk penjara militer beberapa saat sebelum dilepas dan ditempatkan di staf personalia sebuah kesatuan di sekitar Bandung, Jawa Barat. Karena keberadaannya di kesatuan itu tidak jelas, ayah memutuskan untuk desersi dan menjadi buron Polisi Militer (PM). Meski berstatus buron, tak sekalipun ada upaya serius menangkap dan memenjarakannya meski berkali-kali papasan dengan patroli PM. Seolah dibiarkan tapi dibatasi ruang geraknya agar tak sampai diketahui umum. Itulah yang menyebabkan ayah pergi ke Jakarta dan melamar jadi supir di Kedubes Jerman Barat. Di tempat inilah semua kisah perjalanan karir kemiliteran ayah ingin dihapuskan.

Setelah menikahi ibu yang juga mantan anggota TP di Staf Putri MPP (Markas Pusat Pelajar/ Markas Besar Tentara Pelajar) Yogyakarta dan pernah mendapat tugas di kampung halaman serta guru SD di Kebumen, di saat karir menanjak selaku staff employee Kedubes Jerman Barat 1955, ayah mengajukan pengunduran diri . Karena ibu tak mau dipindah-tugaskan ke Jakarta mengikuti  ayah. Akhirnya Kebumen jadi tempat hidup ayah sampai wafat di tahun 1997. Di rumah yang dibangun dari hasil kerja kerasnya sebagai manajer ekspor impor sebuah perusahaan dagang pertekstilan di Kompleks Pecinan, Gg. Warung, Semarang, kami lahir dan dibesarkan dalam pola asuh yang unik. Percampuran antara cara militer dan kelenturan sikap seorang guru. Dalam cara ini, kami belajar tentang cara-cara seseorang yang pernah menjadi intelejen, Terutama dalam cara memperlakukan dokumen penting dan sebagainya. Dan peristiwa Subuh itu, ketika usia belum genap 3 tahun, baru  saya sadari maknanya setelah ayah wafat. 

Inti sari peristiwa Subuh itu, dua orang berpakaian petani dan berwarna hitam masuk ke dalam rumah menyerahkan sepucuk surat yang disaksikan ibu sebagai surat perintah dari Letkol/Kol. Sarwo Edie Wibowo, komandan mereka. Selesai dibaca dan dipahami isinya, surat itu dibakar. Satu di antara kedua tamu tak diundang itu menyerahkan sebuah keranjang ayam yang dibuat dari anyaman daun kelapa. Isinya, satu pucuk senapan otomatis AK 47 berpopor lipat dan satu pistol FN beserta peluru dalam lipatan kain yang terpisah. Cerita ibu, ayah berkata " Baik..saya terima tugas dan kiriman ini dengan baik. Silakan adik-adik menempati kamar depan ", yang dijawab dengan sikap hormat layaknya anak buah kepada komandan pasukannya. Keduanya berpisah, satu orang menuju kamar depan untuk mengeluarkan barang  dan satu lagi keluar rumah memanggil teman-temannya yang menunggu di rerimbunan tanaman di halaman belakang rumah kami. Perbincangan selanjutnya antara ayah dan komandan pasukan itu tak lagi dapat didengar ibu karena beliau segera menuju dapur menyiapkan suguhan buat tamu misteriusnya. Kebetulan sore sebelumnya, ayah memanen singkong yang banyak tumbuh di halaman belakang. 

Pasukan yang kemudian ibu ketahui dari RPKAD itu menempati kamar depan sebagai markas serba guna selama satu minggu. Mereka selalu keluar malam sehabis maghrib dan kembali sebelum subuh dengan tetap berseragam petani. Sesekali sang komandan keluar kamar di siang hari dan berbincang dengan ibu di ruang keluarga. Sepanjang waktu satu minggu itu, ayah selalu keluar rumah di siang hari memakai sepeda. Pada hari ke 7, beberapa saat setelah hari gelap, dua buah jip masuk halaman depan dan terus ke belakang. Dua orang supir berpakaian dan berperalatan tempur turun dang menghampiri ayah yang telah menunggu di sana. Setelah pasukan yang menempati rumah kami naik di jip belakang dan menyilakan ayah duduk di jip depan, tanpa upacara mereka meninggalkan rumah dengan cepat. Kata ibu, pasukan RPKAD akan menempati satu gedung di kompleks Pemda sebagai markas komando (kini jadi gedung KPU Kab. Kebumen). Jadi, selama satu minggu terakhir ayah bersama pak Subiyanto yang saat itu selaku Kepala Kantor Transmigrasi Kab. Kebumen dan selaku Komandan Peleton Yonved Be 17 Kebumen mencari tempat untuk markas komando pasukan RPKAD. 

Sepeninggal pasukan tadi, rumah kami selalu didatangi oleh para ex anggota TP dan Mobpel (Mobilisasi Pelajar). Dari 40 orang yang terdaftar, akhirnya dipilih 26 anggota Peleton Khusus dari Batalyon Veteran dan Dembolisan Pelajar (Yonved) ex Brigade 17/TP yang diperbantukan kepada Kodim 0709 Kebumen sebagai Team Pemeriksa Peperkuper (kepanjangannya tidak saya ketahui). Mereka adalah anggota pasukan Yonved TP Be 17 yang bersama sejumlah pasukan RPKAD dan Polri merebut kembali Makodim 0709 Kebumen dari penguasaan Wadandim yang diindikasi sebagai anggota "Dewan Revolusi". Tidak disebutkan ada atau tidaknya korban jiwa dalam peristiwa itu. Kejadian persisnya tak pernah diceritakan oleh ayah sampai beliau wafat. Begitu kuatnya memegang rahasia, seolah telah bersepakat, ibu juga tak pernah memberitahu meski didesak berulang kali sampai beliau wafat karena sakit di tahun 2010. Pesan yang selalu ibu sampaikan kepada anak-anaknya yaitu agar sekuat daya menjaga sikap sebagaimana kedua orang tua kami lakukan untuk urusan sepenting itu. 

         Logo TP dan TRIP


Posted in , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PERAN PELAJAR PEJUANG DALAM PERANG KEMERDEKAAN Bagian IV (terakhir)



PELAJAR PEJUANG MASUK KOTA SEMARANG

Perang kemerdekaan telah dinyatakan usai dengan adanya perundingan damai Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Pemerintah Belanda dan Indonesia yang lebih dikenal dengan Perjanjian Roem Rooyen. Karena dua tokoh utama yang menandatanginya adalah Mr. Moch. Roem (Indonesia) dan van Rooyen (Belanda). Hal ini dilakukan di kedua Negara, Indonesia dan Belanda. Serah terima pemerintahan ditandai dengan penarikan pasukan Belanda di kota-kota besar. Termasuk di dalam perjanjian itu adalah pelepasan para pemimpin pemerintah RI yang ditawan oleh Belanda. Gencatan senjata berlaku sejak 11 Agustus 1949 secara menyeluruh. Di Solo, di bawah komando Letkol Slamet Riyadi melakukan Serangan Perpisahan selama 4 hari dari tanggal 7 sampai 10 Agustus 1949.

Di Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam  menyiapkan kembalinya Pemerintah RI memerintahkan gencatan senjata sejak 14 Juni 1949. Penarikan mundur pasukan Belanda dari Ibukota RI itu telah dimulai sejak 1 Juni 1949. Presiden Ir. Soekarno dan Wakilnya Moch. Hatta kembali ke Yogyakarta 6 Juli 1949.  Selama masa gencatan senjata, pasukan TP tetap siaga sampai ada perintah untuk meninggalkan pos gerilyanya.

November 1949 serdadu Belanda telah ditarik mundur dari Surakarta, Yogyakarta, Kedu, Banyumas, Pekalongan dan Pati ke Semarang dan Salatiga. Berdasarkan pengalaman perang gerilya yang dilandasi oleh loyalitas dan dedikasi tinggi, perintah masuk dan menerima penyerahan kota Semarang oleh Gubernur Milliter dan Panglima Divisi II Gatot Subroto dilaksanakan dengan patuh oleh pasukan Tentara Pelajar dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Dalam melaksanakan perintah itu, tidak seluruh kekuatan dikerahkan. Ada sebagian yang tetap tinggal di pos masing-masing. Bebarapa induk pasukan seperti Corps Mahasiswa (CM), Tentara Geni Pelajar (TGP) dan Mobilisasi Pelajar (Mobpel) bahkan tidak mengirimkan pasukannya.

Pasukan Tentara Pelajar yang masuk kota Semarang adalah dari Detasemen II (Solo, 2 kompi) yakni Kompi Prakoso dan Marwoto. Kompi Marwoto selain dari TP Solo, juga ada angota yang berasal dari seks-seksi : Purwokerto, Wonosobo, Pekalongan, Semarang dan Pati.  Dari TP SA (Strum Abteilung) dibawah komando Muktio, dan dari Detasemen III Yogyakarta dibawah pimpinan Mustafa Supangat. Pasukan TP Yogya ini terdiri dari TP Yogya sendiri ditambah seksi-seksi: Gombong dan Magelang. Mereka berangkat dengan cara berjalan kaki melawati bukit dan gunung 6 Desember 1949 sampai di Mranggeng 12 Desember 1949. Pasukan TP Detasemen II dan SA diberangkatkan 21 Desember 1949.

Sementara itu, pertahanan kota Semarang dibagi menjadi 4 sektor yaitu I di bagian Utara, II di Timur, III di Selatan dan IV di bagian Barat. Kompi Muktio (TP SA) ditempatkan di Sektor I; Kompi Mustafa Supangat di Sektor II, Kompi Prakoso di Sektor III dan Kompi Marwoto di Sektor IV. Karena merasa senasib – sepenanggungan, pasukan TP saling akrab dan mudah menyatu dengan rakyat. Apalagi pasukan TP mendului kedatangan pasukan TNI regular.

Tanggal 26 Desember 1949, pasukan TP dari semua sektor mulai  menerima serah terima dari serdadu Belanda sekitar jam 17.00. Semua pos vital dan strategis ditempati bersama antara TP dan Belanda. Seperti pos pelabuhan, kilang minyak, listrik, air minum dan sebagainya. Pada jam 00.00 tanggal 27 Desember 1949, semua serdadu Belanda ditarik keluar dan digantikan sepenuhnya oleh pasukan TP di pos-pos vital dan strategis itu. Peran pasukan TP selain menjaga keamanan dengan cara berpatroli, juga melakukan tugas di pos polisi militer bersama Militaire Politie (MP) Belanda. Meski berada di tempat sama, ketegangan antara anggota pasukan TP dan MP Belanda sesekali terjadi dalam skala kecil. Biasanya, insiden terjadi karena anggota pasukan TP memiliki sikap teguh menjaga harga diri sebagai bangsa merdeka dan dalam rentang usia yang relatif masih muda. Dari beradu mulut sampai perkelahian satu lawan satu memang sulit dihindari.  

Posted in , , , , | Leave a comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Semarang, Indonesia

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN BANGSA DAN NEGARANYA BAGIAN III


Tentara Pelajar Terbentuk


Setelah kemerdekaan diproklamasikam 17 Agustus 1945 yang disambut gembira dan gegap gempita oleh seluruh bangsa Indonesia sekalipun dalam  kewaspadaan dan kesiap-siagaan yang sangat tinggi terutana dari kalangan pemuda, pelajar dan mahasiswa. Di mana-mana terjadi perebutan kekuasaan dari Balatentara Jepang yang memang sudah kalah perang. Di Semarang, para pelajar yang bergabung dalam AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), Gasemse (Gabungan Sekolah Menengah Semarang) serta laskar-laskar bantuan pelajar lainnya pada tanggal 19 Agustus 1945 melakukan hal sama dan menyebabkan banyak jatuh korban,  gugur sebagai kusuma bangsa. Menyadari besarnya potensi kekuatan perjuangan dari kalangan pelajar maka dibentuk Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) dalam suatu kongres nasional pelajar di Sitihinggil Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada pertengahan November 1945.

Dengan adanya Maklumat Pemerintah 5 Oktober 1945 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), IPI menyesuaikan diri dengan membentuk Bagian Pertahanan dan Markas Pertahanan Pelajar yang berpusat di Yogyakarta (sebutan popular markas ini adalah markas TP Tugu Kulon yang sekarang jadi museum Tentara Pelajar di Jl. Diponegoro dekat Pasar Kranggan, pen). IPI Bagian Pertahanan dibagi menjadi 3 resimen dan 1 batalyon yaitu :

1.      Resimen A untuk daerah – wilayah di Jawa Timur.
2.      Resimen B untuk daerah – wilayah di Jawa Tengah.
3.      Resimen C untuk daerah – wilayah di Jawa Barat.
4.      Batalyon  Tentara Genie Pelajar (TGP).

Sebutan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) diubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan disempurnakan sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada tanggal 3 Juni 1947. Karena itu, Tentara Pelajar di Jawa Timur lebih dikenal sebagai TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).

Pembagian daerah – wilayah untuk Resimen A adalah sebagai berikut:
·         Batalyon 1.000 di Mojokerto
·         Batalyon 2.000 di Madiun
·         Batalyon 3.000 di Kediri
·         Batalyon 4.000 di Jember
·         Batalyon 5.000 di Malang

Resimen B di daerah – wilayah juga dibagi menjadi 5 Batalyon yaitu:

·         Batalyon 100 di Solo
·         Batalyon 200 di Pati
·         Batalyon 300 di Yogyakarta
·         Batalyon 400 di Cirebon
·         Batalyon 500 di Pekalongan

Resimen C yang bergerak di wilayah Jawa Barat terkenal dengan sebutan TP Siliwangi dan dibagi menjadi 4 batalyon yaitu Batalyon I, II, III dan IV.


TENTARA PELAJAR ORGANIK MASUK TNI BRIGADE KE XVII

Dunia berkembang, jaman beralih, dan  perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara tetap tumbuh semakin mengakar. Penataan sarana perjuangan semakin tertib dan mantap. Demikian pula di dalam Tentara Pelajar. Di tengah suasana sibuk menghadapi infiltrasi musuh, masih ada kesempatan untuk berbenah. Dari bentuk non organik militer disempurnakan dalam tatanan dan jajaran kemiliteran bersamaan dengan reorganisasi dan rasionalisasi di tubuh Angkatan Perang berdasarkan Penetapan Presiden No. 1 tanggal 2 Januari 1948 dan disempurnakan pada tanggal 4 Mei 1948.

Dari Surat Perintah Panglima Besar TNI tanggal 25 Maret 1948 yang isinya perintah reorganisasi dan rasionalisasi, Angkatan Perang RI dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu Pasukan Mobil, Pasukan Teritorial dan Pasukan Cadangan (Reserve). Tentara Pelajar masuk dalam Pasukan Cadangan (Kesatuan Reserve Umum – KRU) W yang pelaksanaannya dimulai dari 15 Mei 1948. Melihat gelagat tentara Belanda yang akan melanggar perjajian Remville, maka pemerintah mengeluarkan “Perintah Siasat I” yang intinya tentang pokok-pokok peran gerilya dan wingate (kembali masuk ke kantong-kantong gerilya). TP Siliwangi yang semula melangkah dengan “hijrah” ke Jawa Tengah,  dengan adanya perintah tersebut kembali ke wilayahnya yakni di Jawa barat.

Di masa gencatan senjata, pata pimpinan Tentara Pelajar tetap memikirkan kegiatan belajar –mengajar para anggotanya dengan cara mendirikan sekolah peralihan. Sebagai pasukan cadangan, Tentara Pelajar menjalankan tugas ganda sebagai pelajar yang harus memikirkan masa depannya. Dan selaku pasukan cadangan, mereka harus bersiaga dengan menjata tetap di tangan untuk mengawal bangsa dan negaranya dari ancaman musuh asing maupun pemberontakan dari kalangan bangsa sendiri seperti pemberontakan PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikenal sebagai Madiun Affair. Sementara itu, Nampak peningkatan kegiatan Tentara Belanda. Tanggal 28 Oktober 1948, pemerintah membentuk Markas Komando Djawa (MBKD) sebagai pusat kendali militer untuk seluruh P. Jawa.    Sebagai pasukan cadangan di KRU W, Tentara Pelajar masuk jajaran orgnisasi TNI sebagai TP Brigade 17 TNI. Belum sempat menyempurnakan organisasi TP yang sebenarnya terdiri dari 3 detasemen ini, agresi tentara Belanda ke ibukota RI di Yogyakarta telah terjadi dan menawan sebagian besar pimpinan pemerintah RI. Inilah awal terjadinya perang gerilya bagi organisasi pasukan pelajar tersebut.


SUSUNAN PIMPINAN
TENTARA PELAJAR TNI BRIGADE XVII

1.      Sebelum terjadi Agresi Belanda (Perang Kemerdekaan II):

·         Komandan
:
Letkol. Soedarto
o   Wakil Komandan
:
Mayor Soewarto



·         Komandan Batalyon Aktif

·         Mayor Isman
·         Mayor Achmadi



·         Komandan Batalyon Reserve

·         Kapten Hartono
·         Kapten Suyono



·      Komandan Pasukan Zeni Pelajar

·         Kapten Hartawan

2.      Setelah terjadi Agresi Belanda (Perang Kemerdekaan II):

·         Komandan
:
Letkol. Soedarto
·         Wakil Komandan
:
Mayor Isman



Komandan :


1.      Detasemen I
2.      Detasemen II
3.      Detasemen III
4.      Detasemen IV
5.      Detasemen V

Mayor Isman
Mayor Achmadi
Mayor Martono
Kapten Solichin
Kapten Hartawan
TRIP Jawa Timur
TP Solo
TP Yogya
TP Siliwangi
TGP
Staf Brigade
:
Mayor Soewardi
Kapten Hartono
Kapten Soejono





Batalyon 55
:
Mayor Mashuri
TP SA/CSA



Posted in , , , , | Leave a comment

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN NEGARA DAN BANGSANYA Bagian II

Perundingan di atas Kapal Renville


Peran Pelajar Pejuang dalam Perang Kemerdekaan

Pelajar pejuang mengambil prakarsa melatih para pemuda di desa-desa untuk melaksanakan strategi pertahanan rakyat semesta. Yang berasal dari Sekolah Teknik dalam Tentara Genie pelajar berprakarsa membuat senjata diantaranya granat tangan, tekidanto, bom Molotov, bom tarik dan sebagainya. Pemuda Pelajar yang kemudian bernama dalam Tentara Pelajar mengintegrasikan diri dengan kekuatan perjuangan lain dan ikut aktif dalam berbagai front seperti Jrakah, Candiroto dan Ambarawa di Semarang. Penugasan ke front dilakukan secara bergilir dan gabungan antar pasukan. Bagi yang belum mendapat giliran akan dibekali dengan pemahaman tentang strategi pertahanan rakyat semesta (people defense), bela Negara dan teknik-teknik kemiliteran seperti membuat rintangan di jalan, lubang-lubang perlindungan, pengumpulan bahan makanan dan sebagainya. Pada umumnya, para pemuda dan pelajar yang tidak ikut bergabung dalam pasukan-pasukan organik Tentara Pelajar, bergabung dengan KODM (Komando Order Distrik Militer) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Di pagi buta, 21 Juli 1947, pasukan Belanda melakukan aksi polisionil di berbagai tempat. Mojokerto, Malang dan Salatiga berhasil diduduki satu per satu. Pasukan Belanda yang ada di kota Semarang bergerak menuju Solo, tetapi berhasil dihambat di Salatiga oleh TNI dan laskar pejuang lainnya. Di Tenggara hanya sampai Kedungjati. Pasukan yang bergerak di sisi Timur hanya sampai di Tanggulangin, sebelum masuk kota Kudus. Sementara itu, gerak pasukan Belanda juga dihambat oleh Tentara Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati). Dengan sistem bergilir, semakin banyak anggota pasukan Tentara Pelajar meninggalkan bangku-bangku sekolahnya dengan satu tekad atau sumpah “ Kami tidak akan kembali ke bangku sekolah sebelum tentara penjajah enyah dari bumi Indonesia”.   Tugas Tentara Pelajar selain menahan laju pasukan Belanda bersama TNI, juga melakukan sabotase, penghadangan dan gangguan terhadap pos-pos atau markas pasukan Belanda.

Ciase Fire (Gencatan Senjata)

Atas perintah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK – PBB), terhitung sejak             1 Agustus 1947 diadakan gengcatan senjata di bawah pengawasan Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia dan Belgia. Perundingan dilaksanakan di atas kapal Renville milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) pada tanggal 8 Desember 1947. Isi perjanjian Renville diantaranya adalah agar pasukan gerilya ditarik dari daerah-daerah kantong ke wilayah RI. Meski sangat mengecewakan para pejuang, tetapi komando Jenderal Sudirman selaku panglima besar tetap dipatuhi. Saat-saat seperti itu biasanya dimanfaatkan oleh sebagian anggota Tentara Pelajar untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat atau yang terdekat dengan pos mereka. Kesiap-siagaan terhadap kemungkinan adanya serangan dadakan dari pasukan Belanda tetap dilakukan di pos atau markas masing-masing mengingat pengalaman atas kelicikan tentara penjajah tsb.  Satu diantara banyak saksi bisu atas kelicikan tentara penjajah Belanda diabadikan sebagai nama jembatan kereta api di kota Kebumen (pen).

Tugu Renville

Jembatan Renville

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

PERAN PEMUDA PELAJAR DALAM KEMERDEKAAN NEGARA DAN BANGSANYA - BAGIAN I




Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kepeloporan pemuda sebelum abad 19, maka dalam mengungkapkan kepeloporan pemuda pelajar sebagai cukilan sejarah, kami hanya akan memulai dari peristiwa yang terjadi pada abad 19. Lahirnya Boedi Oetomo (BO), 20 Mei 1908, yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Kebangkitan Nasional, hidup di jaman kolonial. Karena itu, gerakan nasionalisme untuk membela bangsanya dari penindasan dan kemiskinan yang mereka lakukan tidak terang-terangan. BO yang dipimpin oleh Soetomo melakukan diskusi tentang penderitaan dan masa depan bangsanya. Gerakan BO membangkitkan jiwa kebangsaan para muda dan mendapat dukungan luas dari berbagai organisasi yang seazas. Maka, di Jakarta dalam arahan pemuda Satiman, Kadarman dan lain-lain membentuk satu organisasi yang diberi nama Trikoro Dharmo yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java. Tujuan organisasi pemuda pelajar ini adalah kebebasan bangsa dan negaranya dari penjajahan Belanda. Pergerakan Jong Java mendorong pertumbuhkan kesadaran atas kebangsaan di berbagai pulau dengan berdirinya Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon dan Jong Islamieten Bond yang dilahirkan oleh para Pemuda Muslim. Mereka kemudian mendirikan Perhimpunan Masa Muda Indonesia yang selanjutnya diubah menjadi Jong Indonesia. Inilah cikal bakal berdirinya organisasi Pemuda Indonesia yang menyelenggarakan Kongres Pemuda I di tahun 1926 dan II pada 27 dan 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Kepeloporan pemuda menuju kemerdekaan bangsa dan negaranya juga terjadi di luar negeri, yakni Belanda.  Moch. Hatta dan kawan-kawan mendirikan Perhimpunan Indonesia yang terdiri dari para mahasiswa dan pelajar yang  tengah menimba ilmu di negeri kincir angin itu. Pecahnya Perang Dunia II menyebabkan penyerahan kekuasaan atas tanah air Indonesia dari Belanda kepada Jepang pada 28 Maret 1942.



Masa Ujian Berat bagi Pemuda – Pelajar Indonesia   

Dengan dalih demi kejayaan “ Dai Tooa (Asia Timur Raya)”, para pemuda dan pelajar dilatih keprajuritan secara paksa. Kehidupan rakyat kian berat dan sengsara. Kekayaan alam dikuras habis dan tenaga rakyat ditindas dengan kerja paksa tanpa bayar (romusha). Situasi yang demikian beratnya justru menumbuhkan semangat perlawanan para pemuda dan pelajar untuk memerdekakan diri dan bangsanya.  Oleh para pemimpin pemuda, pelajar dan rakyat, situasi itu dimanfaatkan untuk membentuk Barisan Pemuda ( Seinendan ), Pembantu Polisi  (Keibodan), Barisan Pelopor (Gyugun Syuinsintai), Pembantu Balatentara Jepang  (Heiho), dan Pembela Tanah Air  (Peta). Para pelajar juga membentuk perhimpunan yang disebut Syoto Chugakko  (SMP) dan Chugakko  (SMA/SMK). Mereka dilatih kyoren (latihan dasar kemiliteran) dan kendo (memakai pedang kayu). Satu peristiwa penting dalam masa penjajahan Jepang adalah pemberontakan Peta di Blitar yang dipimpin oleh Supriyadi. Kekejaman penjajahan Jepang di tanah air berakhir ketika tentara sekutu yang dipimpin Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 14 dan 15 Agustus 1945. Atas hal itu, sebagian besar balatentara Jepang pulang ke tanah airnya. Tetapi sebagian kecil masih bertahan di benteng-benteng pertahanan bawah tanah atau gua-gua yang telah mereka siapkan untuk upaya penyelamatan diri (bersembunyi). 



Posted in , , , , , , , , | 1 Comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia