Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Lambang Pehimpunan Nasional Kepalangmerahan di Indonesia: Palang Merah atau Bulan Sabit Merah ?


Prinsip Dasar Kesatuan dalam Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Gerakan) mengharuskan bahwa di setiap negara hanya ada satu perhimpunan nasional, Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. Dalam menentukan pilihan lambang, setiap negara diberikan kebebasan menetapkannya sesuai peraturan perundangan yang berlaku di negara itu. Namun tetap harus mengacu pada semua prinsip dasar Gerakan : kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan. Serta aturan yang ada di dalam Konvensi Jenewa beserta Protokol Tambahan-nya.

Ruang ini adalah terbuka untuk mendiskusikan hal di atas dengan cara dewasa dan beradab. 

Beberapa bahan :

  1. inilah-isi-draft-dan-penjelasan-ruu kepalangmerahan
  2. Satu Negara Satu Lambang_Blog Marzuki Alie
  3. baleg-tugaskan-tim-kecil-sempurnakan-ruu-kepalangmerahan
  4. alasan-fpks-ngotot-lambang-pmi-diganti-bulan-sabit-merah
  5. Indonesia Punya UU Kepalangmerahan, DPR RI Segera Sahkan
  6. pmi-desak-ruu-kepalangmerahan-segera-ditetapkan
  7. baleg-serap-aspirasi-masyarakat-ntb-terkait-ruu-kepalang-merahan
  8. ruu-kepalangmerahan-fraksi-fraksi-di-dpr-mendukung-keberadaan-bsmi
  9. pks-berulah-logo-pmi-diubah
  10. inilah-yang-harus-dilakukan-apabila-logo-pmi-berubah-menjadi-bulan-sabit-merah
  11. lambang-pmi-diganti
  12. pks-meminta-pmi-ganti-logo
  13. rahasia-di-balik-lambang-palang-merah
  14. kajian-isu-lambang-palang-merah-redcross-sebagai-lambang-tim-medis
  15. simbol-bulan-sabit-vs-palang-merah-di-pmi-menghangat
  16. implikasi-pergantian-lambang-palang-merah
  17. akhirnya-baleg-sepakat-uu-pmi-bernama-kepalangmerahan
  18. ruu-kepalangmerahan-akan-dalami-keberadaan-pmi-dan-bsmi
  19. bsmi-menolak-ruu-kepalangmerahan
  20. Mayoritas Fraksi Setuju Pakai Lambang Palang Merah
  21. dukung-bsmi-melawan-monopoli-ruu-pmi
  22. lambang-palang-merah-tak-boleh-kaitkan-dengan-agama
  23. mayoritas-fraksi-dpr-setujui-ruu-kepalangmerahan-dibawa-ke-paripurna
  24. Catatan Akhir Tahun Seorang Relawan PMI

Bahan-bahan video:
  1. Masyarakat Kab. Bintan Kepri
Masyarakat Kab. Bintan Kepri



Plesiran ke Denmark dan Turki

Posted in , , , , | Leave a comment

Kakekku Preman, Ayah Juga. Aku…??? (Bag. V… terasa akhir)



Banyak orang enggan disebut preman karena kesan umum yang terlanjur negatif. Sebenarnya, semua orang sipil (bukan militer) dan partikelir (swasta) adalah preman yang sebenarnya. Entah bagaimana asal usulnya, sebutan preman dipakai untuk menunjuk orang yang berperilaku kasar, liar, suka memaksakan kehendak, menonjolkon kemampuan otot dan lain-lain sikap asosial.

Seorang pemberani dan memegang sikap hidup acapkali mendapat sebutan yang kurang lebih sama dengan preman. Jika yang dimaksud preman adalah seperti gambaran di atas, berapa banyak “priyayi”, orang-orang yang nampak lembut penampilan, tutur bahasa dan tindak tanduknya justru lebih berbahaya bagi sebagian besar masyarakat. Yang terpopuler adalah para koruptor dan manipulator di berbagai lembaga Negara atau pemerintah. Ini dari sudut pandang korban. Aku (saya) sangat yakin jika seorang koruptor kelas teri mampu melumpuhkan ratusan, bahkan ribuan orang lain karena tindakannya. Begitu juga terhadap para manipulator di lembaga-lembaga publik: legislatif, eksekutif dan khususnya yudikatif. Satu produk undang-undang yang dimanipulasi untuk kepentingan sesaat berakibat ratusan ribu atau jutaan orang kehilangan masa depan.

Dalam realitas kehidupan sosial kita akhir-akhir ini, ada kecenderungan menyudutkan seseorang dengan sebutan preman. Egosentrisme dan sektarianisme yang kian mengemuka dalam pola hidup masyarakat, kita dengan mudah memberi “cap preman” kepada orang lain yang memegang sikap hidupnya dengan risiko kehilangan nyawa. Apalagi hanya harta benda yang pasti dapat dicarikan gantinya Tetapi cap itu segera berganti jadi “pahlawan” di saat ia merasa terlindungi dengan kehadirannya, terutama ketika situasi genting atau darurat.

Ambiguitas, hermaprosiditas dan sejenisnya sebenarnya merupakan sumber kekacauan utama dalam kehidupan masyarakat kita sejak masa penjajahan. Karena itu, seorang pejuang sejati tak akan pernah meninggalkan keyakinan yang dipegang sampai nyawa meregang. Dengan sikap itu pula, Indonesia Merdeka ada. Tak ada rasa takut sedikitpun ketika disisihkan dari arena pergulatan hidup yang tak berpola, diisi oleh orang-orang yang tak segan melacurkan diri untuk melapangkan jalan meraih ambisi pribadi maupun kelompok. Merekalah yang sebenarnya paling pantas disebut preman dalam konteks kekinian. Pelacuran intelektualitas yang merebak di segala sisi kehidupan jauh lebih berbahaya dibanding  “preman – isme !!!”.

Karena itulah, aku tak ingin meninggalkan identitas “preman” yang telah disandang turun temurun dalam keluarga. Jika seorang pelajar perempuan saja berani menghadapi tantangan maut di tengah hujan peluru di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, mengapa yang hidup di jaman aman harus bersikap pengecut? Hidup adalah perjuangan, bukan hanya ada di dalam syair lagu. Dan perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya bukan hanya terjadi di saat melawan penjajah asing. Penjajahan oleh pribumi justru lebih mengerikan dan itulah yang terjadi saat ini. Ketika banyak orang “merasa berhak”, tapi tak pernah melakukan kewajibannya dengan benar dan baik.

Lihatlah burung-burung bangkai itu
ada yang perlente dan kemayu
mengoyak sampah kehidupan
Dalam sombong dan pongah
dalam putus asa yang tiada berperi
mengais sampah, menebar aroma busuk
dan menyimpannya dalam saku
pundi-pundi kertas segala rupa
di atas derita sesama
dalam pedih hati yang terluka
menanti ajal kan tiba

Kepada sang garuda aku berjanji
tak kan surut sampai ajal menjemput
tak kan mundur sebelum bertempur
dan tak kan ada sepakat dengan hianat

Karena aku sang preman…..
bukan centeng  yang suka petantang petenteng
bukan pula pengecut yang suka mencatut

karena aku sang preman….
bukan orang tak beriman
bukan pula bajingan yang kurang sopan
apalagi  pejabat yang berjahat

***

Anganku terus mengembara ke masa silam. Hari itu ratusan orang bergerak meradang dari satu sisi ke sisi lain penghuni kota. Api kecil di depan kantor polisi telah membesar dan menghanguskan banyak harta benda dan seorang tuna daksa keturunan Tionghoa. Naluri menggerakkan langkah kaki ini ke kompleks pecinan yang jaraknya hanya sejengkal dari barisan massa yang mengamuk, menumpahkan segala amarah tanpa arah tujuan yang jelas.

Ajang bagi para petualang untuk memanfaatkan kesempatan itu meraup keuntungan. Berbekal lembaran kertas bergambar, mereka menjual diri dengan imbalan uang untuk suatu perlindungan yang tak pernah diwujudkan. Preman politik berbaur dengan preman otot dan para peminum alkohol kelas teri.  Lagu “ Hanoman Obong” jadi sangat popular melebihi lagu wajib yang dinyanyikan saat upacara 17 Agustus-an. Api terus menjalar ke segala arah, harta benda ludes dijarah. Apa sebab mereka marah tiada berarah??? Siapa yang menggerakkan ??

Aku ingat satu kata keluar dari mulut kepala polisi pada malam pertama. “ Sisakan sedikit buat kita !”. Yah… memang benar kasus itu ditangani oleh pihak kepolisian dengan mendatangkan sejumlah anggota pasukan Brimob dan tentara dari berbagai daerah dan kesatuan. Ada sebagian kecil yang berseragam hitam ala petani, tapi menyandang M16. Bahkan rumah keluarga kami sempat jadi pos sementara setelah ibuku menyilakan, Beliau mengingatkan kejadian serupa di tahun 1965.

Saat itu, kekacauan terjadi di mana-mana. Isu pemberontakan oleh dewan jenderal yang salah satunya dikomandoi orang kelahiran kotaku membuat suasana kian mencekam. Apalagi tersiar kabar jika Kodim telah dikuasi oleh kelompok mereka. Dan sang komandan diusir dari pos oleh wakilnya. Ayah dan sejumlah kecil bekas Tentara Pelajar seolah tergerak untuk segera bertindak. Ada 30-an orang terkumpul dan menunjuk Kepala Kantor Transmigrasi sebagai komandan pasukan pelajar pejuang kemerdekaan itu. Ayah jadi wakil dan sekaligus komandan patroli. Mereka meminta bantuan kepolisian Negara untuk menyediakan sejumlah senjata api yang ada di sana. Kebanyakan dari jenis LE yang semi otomatis dan berkaras panjang. Markas sementara ditetapkan di rumah kami (kelanjutan cerita ini ada dalam tulisan….).

Waktu memang akan menunjuk arah yang sama suatu ketika. Ada pengulangan dan itulah yang nampaknya kurasakan saat melakukan hal serupa dengan ayah di masa lalu. Bedanya, aku tak beratribut dan tetap memelihara sikap selaku “preman”.  Bukan anggota militer atau yang disetarakan dengannya. Hampir sebulan tak pernah tidur malam dan lebih dari 6 jam sehari semalam. Ada satu tanda yang memudahkan orang-orang di sekeliling dalam membangun tidurku. Jika suara dengkur itu telah datar, silakan. Begitulan yang selalu kukatakan kepada mereka.

Di antara beragam hal yang kuhadapi di masa genting itu, ada dua yang terus diingat. Pertama, mengantarkan anak Bupati dari satu titik singgah ke rumah dinas yang jaraknya tak begitu jauh, tapi rawan. Kedua dan hampir menghilang adalah sebutan atau icon “unduhan”. Icon ini sangat popular dan jadi “trade mark kepremanan”-ku. Satu sindiran buat para pengunduh, yaitu orang-orang yang merasa berjasa setelah kondisi aman. Tadinya, icon ini sekadar menggantikan istilah “pahlawan kesiangan” yang sangat kutentang karena melecehkan makna pahlawan.

Itulah cerita sang preman. Kesamaan peran dengan ayah mungkin suatu kebetulan, tapi bukan satu kebenaran. Dan karenanya, aku bangga jadi sang preman. Orang bebas, merdeka. Tetap sipil, bukan militer. Hanya satu cara untuk memelihara makna, “bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa”. Gak lebay, bukan pula alay. Semua biasa dan biasa. Tinggal cara kita mewujudkan makna itu, meski tanpa atribut. Semoga.

Posted in , , , , | Leave a comment Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia Kebumen, Indonesia

Five for Life

Pancasila ada karena kearifan para pemimpin masyarakat politik, agama dan budaya. Digali dari beragam potensi nasional dan disusun sebagai kesatuan yang bermakna. Karena itu, pandangan hidup Bangsa Indonesia sepantasnya diapresiasi dalam alam nyata, bukan sekadar hafalan.
Five for Life

Posted in | Leave a comment

Sekali Lagi Tentang Kehidupan Tak Berpola



Dalam catatan saya tentang makna kutipan yang ada dalam info profil Facebook, ada satu hal yang ingin selalu saya kedepankan sebagai faktor kontrol diri. Sekadar mengingatkan, kutipan “jangan suka memelihara kebodohan..dst” adalah salah satu jeda. Terminal kehidupan, katakan begitu. Ibarat sebuah angkutan umum jarak jauh, tak banyak aktivitas menaik-turunkan penumpang selain mengistirahatkan kendaraan dan seluruh awak bus. Juga memberi kesempatan kepada penumpang untuk melepas kepenatan sepanjang perjalanan.

Istilah “jeda” saya pakai karena lebih sesuai dengan keadaan sesungguhnya. Bahwa perjalanan hidup manusia pada saat tertentu akan mencapai sebuah titik nadir. Entah itu bernama sukses atau gagal. Seperti disebut Say “the law of diminishing return”. Jeda itu adalah titik pencapaian. Kalau itu bermula dari suatu keinginan, cita-cita atau rencana strategis, maka di sesi jeda itulah kita akan tahu hasil pencapaian itu. Di puncak, lembah dan ngarai akan mudah dilihat lebih utuh. Kalau tak terhalang oleh kabut. Dari puncak itu pula, kita dapat mengetahui betapa kecilnya diri dibanding alam semesta.

Cita-cita adalah gambaran besar keinginan manusia tentang masa depannya. Semuanya serba baik dan besar. Baik karena memotivasi diri untuk menggalang kemampuan mewujudkan cita-cita itu. Ada yang mampu berlari secepat kilat, tapi tak sedikit yang tertatih menahan beban tubuh dan suasana lingkungan. Bahkan sangat banyak yang harus terjerembab ke lembah hitam. Cita-cita yang dilandasi dengan kemampuan baik dalam pengendalian diri akan melapangkan jalan menuju puncak. Menikmati masa jeda dengan beragam kebaikan sebelum menurun kemampuan kita. Pengendalian diri yang bersumber dari kehidupan yang berpola.

Membandingkan dengan suasana kekinian di sekitar kita, ketika banyak orang tak lagi mampu mengenal dirinya. Maka, menggantungkan cita-cita setinggi langit seperti ajakan Bung Karno dalam memotivasi semangat hidup bangsa Indonesia yang baru terlepas dari suasana penjajahan bangsa asing nampaknya merupakan  suatu obsesi yang berpotensi utopis. Pola hidup gotong-royong telah banyak berubah menjadi kolaboratif dalam arti negatif. Kolaborasi adalah bekerjasama dengan “orang asing”. Kata dalam tanda kutip sebenarnya merupakan akronim dari : bukan orang asing, tapi suka mengasingkan diri. Orang-orang yang mengatas-namakan dirinya Indonesian. Tak pernah tahu apa, siapa dan mengapa Indonesia itu? Mereka hidup dari dan dengan Indonesia. Tapi sangat diragukan  bersedia mati demi Indonesia.  Bagi mereka, hidup ini harus dinikmati senikmat-nikmatnya meski harus menjadi benalu. Bahkan penghianat. Kalau perlu menjadi pelacur. Yang penting: hepi.. mungkin hanya itu yang ada di benak. Naudzubillahi min dzalik.  

Posted in | Leave a comment

MENCARI KEMBALI JATIDIRI BANGSA - Bagian Akhir


Diagnose Politik

Ada diagnose politik yang berbeda-beda dalam menyikapi keterpurukan bangsa ini. Ada yang menilai bahwa akar masalah dari keterpurukan bangsa ini adalah hilangnya keadilan. Oleh karena itu terapinya adalah mendirikan Partai Keadilan.  Yang lain menilai bahwa akar masalahnya adalah hilangnya amanat dari manusia Indonesia. Oleh karena itu terapinya adalah mendirikan Partai Amanat Nasional. Yang lain lagi melihat faktor demokrasi yang tidak fair sebagai penyebab, maka didirikanlah Partai Demokrat. Yang lain lagi menilai bahwa terlepas dari apa akar masalah, yang jelas bangsa ini sedang terpuruk dam harus segera bangkit. Oleh karena itu terapinya adalah mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa. Yang lain lagi menilai bahwa  krisis ini disebabkan karena orang melupakan Tuhan, maka terapi yang ditawarkan adalah Zikir Akbar dan istigahtsah di mana-mana.
Terlepas dari argument politik di atas, memang amanah merupakan kunci problem solving bangsa. Hilangnya trust adalah karena hilangnya sifat amanah dari para pelaku kebijakan. Mencermati praktik pilkada di mana-mana hamper tidak ada pihak yang bias dipercaya, semuanya main kotor, menjegal kandidat dengan mencari-cari kesalahan. Jika kalah tidak langsung mengakui kemenangan competitor dan praktik akal-akalan di mana-mana. Sunguh biaya ketidak-jujuran itu luat biasa besarnya harus ditanggung oleh bangsa.

Krisis Mutakhir

Negara2 tetangga yang terkena krisis bersama kita tahun 1997 semuanya sudah bias keluar, tetapi kita justru berada di persimpangan jalan. Kini hampir tidak ada teori yang bias digunakan untuk memandu penyelesaian masalah. Kebebasan yang semestinya menyenangkan sekarang malah menyiksa. Setiap ganti presiden timbul harapan besar, tetapi baru 100hari  suara sumbang sudah bersliweran. Semua upaya problem solving malah menjadi troble maker. Meski demikian, belajar kepada sejarah, sebenarnya ada akar masalah utama dari negeri ini yaitu krisis kepemimpinan. Kita sedang tidak mempunyai pemimpin besar, padahal bangsa Indonesia memiliki sifat paternalis yang mengikuti apapun perilaku pemimpin. Jika pemimpinnya benar, rakyat ikut, jika pemimpinnya menyimpang, anak buahnya menyimpang lebih jauh lagi.
Pemimpin besar adalah orang yang perhatiannya jauh menembus ruang dan waktu. Ia menduduku jabatan hanya hingga 2009, tetapi yang dipikirkan hingga abad ke depan. Ruang kerjanya hanya 50m2. Tetapi yang dipikirkan seluruh wilayah Indonesia. Sekarang, kebanyakan pemimpin kita hanya untuk lima tahun (2009) dan jika sudah duduk di kursi perhatiannya hanya pada bagaimana memperpanjang waktu duduk di kursi itu. Inilah problem kita.

Catatan Saya

Dari beragam argumentasi dan contoh yang dipaparkan dalam makalah ini, banyak hal yang dapat kita petik sebagai pelajaran :
1.      Bahwa sesunggunya masih banyak warga masyarakat terdidik di Indonesia yang memiki kejernihan pikiran dalam mendalami masalah kebangsaan kita bagi secara parsial maupun integratif.
2.      Kejernihan pikiran muncul dari pemahaman dan pendalaman materi yang dilandasi semangat rela berkorban bagi sesama.
3.      Karena itu, munculnya gagasan Kridatama yang rancangannya sangat mirip, kalau tidak bisa disebut salin-tempel (copy – paste)  dengan penjabaran butir-butir P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dengan versi dan kapasitas lokal Kebumen, sengaja tidak ditampilkan sebagai bagian akhir makalah di atas.
4.      Sehingga, gagasan Kridatama Kabupaten Kebumen yang sejak semula ditengara sebagai proyek politik menghamburkan APBD terbukti berakhir di meja panelis tanpa disertai pertanggung-jawaban moral dan intelektual pada penggagasnya.
5.      Bahwa sesungguhnya catatan ini subyektif karena kesulitan memperoleh data pembanding.    

Posted in | Leave a comment

MENCARI KEMBALI JATIDIRI BANGSA - Bagian III


Reformasi Yang Kebablasan

Jatuhnya pak Harto disusul oleh semangat reformasi yang menggebu-gebu, baik reformasi politik maupun reformasi ekonomi. Sesungguhnya tidak ada contohnya dalam sejarah reformasi ekonomi yang dibarengkan dengan reformasi politik yang membawa keberhasilan. Glasnot dan Perestroika menghasilkan kehancuran Uni Sovyet. Yugoslavia mengalami nasib yang sama. Ketika gerakan reformasi menjelang kejatuhan pak Harto sudah diingatkan kepada tokoh-tokoh reformasi seperti Amin Rais tentang bahaya reformasi yang berbarengan itu, tetapi semangat reformasi yang berlebihan membuat para pengusung reformasi mencurigai semua fikiran yang menghambat. Kalau tidak sekarang, kapan lagi bias menggulingkan pak Harto, kata mereka. Mumpung pak Harto sedang terhuyung-huyung kita sikat sekalian berikut kroni-kroninya, begitu semangat mumpunya.
Limbah dari keterlantaran pembangunan jiwa bangsa ini mencuat selama proses reformasi dalam bentuk anarki, baik anarki di jalanan maupun anarki konstitusiona di Senayan. Eforia reformasi menjadi surge bagi kebebasan dalam segala bidang oleh setiap individu. Akibatnya otoritas pemerintah tidak efektif, ekonomi semakin semrawut, peluang korupsi semakin terbuka, asset berharga hilang, investor lari dan bangsa kehilangan arah. Amandemen demi amandemen hanya membuat jenis kelamin konstitusi menjadi tidak jelas. Banyak UU, PP dan Perda yang tumpang tindih. Habibie yang sebenarnya dihormati di dunia internasional justeru dilecehkan politisi yang sedang mengidap eforia demokrasi. Meski pemilu berlangsung secara jurdil dan sidang istimewa berlangsung sangat demokratis, tetapi MPR terkena musibah, terjadi kecelakaan sejarah, memilih presiden Gus Dur yang tidak memenuhi syarat kesehatan (fisik), Gus Dur yang dipilih dengan sangat terhormat kembali dilecehkan oleh yang memilih, di impeach sampai jatuh dengan alasan yang dibikin-bikin.
Sehabis Gus Dur muncul Megawati kemudian pemilihan secara langsung mengantar SBY menjadi presiden sejak 10 bulan lalu. Meski demikian suara sumbang, kritikan tajam, yang jujur konstruktip dan yang asal ngomong bersliweran dari Senayan maupun tokoh-tokoh selebritis politik.
Sungguh para pemimpin kita telah kehilangan kearifan, tidak mampu berfikir panjang, padahal perahu NKRI sedang diguncang oleh berbagai ombak, dalam dan luar negeri ?

Posted in | Leave a comment

MENCARI KEMBALI JATIDIRI BANGSA - Bagian II


Belajar dari Kesalahan

Sesungguhnya ketika Dekrit 5 Juli 1959 dikeluarkan oleh Bung Karno di mana UUD 1945 kembali dijadikan konstitusi dan Piagam Jakarta dinyatakan menjiwai seluruh batang tubuh UUD 1945, posisi Bung Karno sangat strategis untuk membangun kembali Indonesia sebagai Negara yang berdaulat kuat dan mengajak peran serta seluruh rakyat dengan semangat gotong royong.
Tetapi Bung Karno nampaknya menyalah-pahami atau sengaja mencampur – adukkan  pengertian pemerintahan yang kuat dengan kepemimpinan yang kuat. Secara sistematis, Bung Karno mengebiri sistem pemerintahan dan membawa pada kepemimpinan dirinya yang selalu diperkuat. Sistem periodik lima tahunan diubah sistem kepresidenan seumur hidup dengan MPR yang selalu sementara (MPRS dan DPRGR). Bung Karno tidak lagi merasa cukup dirinya sebagai kepala pemerintahan atau ketua badan eksekutif Negara, tetapi mengangkat dirinya menjadi “ Pemimpin Besar Revolusi”. Sistem demokrasi deiganti menjadi “Demokrasi Terpimpin”. Jati diri Bhineka Tunggal Ika digeser menjadi NASAKOM dan lain sebagainya. Politik grandiose yang menjadi obsesi Bung Karno ini menyebabkan keterpurukan politik dan ekonomi yang luar biasa dan berujung pada peristiwa G 30 S dan kejatuhan Bung Karno.

Suharto datang tepat pada waktunya. Pak Harto merupakan sosok pemimpin yang unik, kuat, cerdas, tahu diri, penampilannya lembut hamper malu-malu tetapi memiliki sikap batin yang sangat keras hampir tak kenal kompromi. Pak Harto menghela banga Indonesia keluar dari kepengapan sistem “orde baru” yang menjanjikan perbaikan. Ternyata, kesalahan Bung Karno diulangi oleh Suharto. Nampaknya Pak Harto kurang menghayati berbagai keharusan dalam sebuah bangsa modern (modern nation state) sebagaimana yang didampakan oleh para pendiri Negara ini dahulu. Pak Harto tidak memberi keteladanan dalam penerapan prinsip-prinsip good governance untuk melahirkan clean government, terbukti maraknya praktek KKN. Pak Harto juga gagal menegakkan prinsip-prinsip melindungi kebebasan sipil dan hak-hak asasi manusia, gagal menegakkan supremasi hukum dan gagal dalam mencerdaskan bangsa. Yang lebih ironis justeru banyak “mutiara” kenegaraan yang keluar dari mulut pak Harto, tetapi di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Bhineka Tunggal Ika ditulis gede-gede, tetapi di lapangan gerakan penyergapan justeru semakin gencar. Penataran P4 yang sarat dengan pesan moral  tinggi dilaksanakan secara nasional dan bersistem tetapi kehidupan sehari-hari di tingkat aparat pemerintahan marak dengan perilaku yang bertentangan dengan salah satu atau bahkan semua prinsip moral yang ditetapkan .UUD 1945 menyebut koperasi sebagai pilar ekonomi, tetapi di lapangan konglomerasi justeru dikedepankan.

Dampak negatip dari kegagalan keteladanan Pak Harto sangat terasa dalam pembangunan fisik ekonomi. Pak Harto berhasil membangun “jasad wadag” bangsa sebagai amanat “bangunlah badannya” tetapi pak Harto secara sadar atau tidak sadar telah menelantarkan pembangunan sisi jiwa  batin bangsa, menelantarkan pesan dalam lagu kebangsaan kita, bangunlah jiwanya. Kesalahan itu pula yang menyebabkan kesamaan naik dan turunnya Pak Harto. Ketika naik ke kursi kepresidenan Pak Harto disambut gegap gempita oleh harapan rakyat dan ketika turun juga dilepas dengan gegap gempita kemarahan rakyat. Meski demikian, betapapun baik Bung Karno maupun Pak Harto tidak bias dilupakan jasanya dalam membangun keluarga bangsa Indonesia. Kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto bukan karena jeleknya sistem kenegaraan, tetapi oleh obsesi pribadi yang subyektip dari dua BAPAK BANGSA itu. Yang justeru menyimpang dari semangat kenegaraan the modern nation state.      


Posted in | Leave a comment

MENCARI KEMBALI JATIDIRI BANGSA - Bagian I



Makalah: Prof.Dr. Achmad Mubarok MA
pada Seminar Kridatama Kabupaten Kebumen, Rabu, 30 Agustus 2005


Pengantar Topik:
Saya datang mewakili Paguyuban 3-17 (Tentara Pelajar). Saat itu, Bupatinya masih dijabat Rustriningsih yang sekarang jadi wagub Jateng.

Ada satu catatan kecil yang sejak awal perlu digarisbawahi. Bahwa ide dalam makalah ini sarat kepentingan politik dibanding ideologis. Meski demikian, ada hal menarik yang menurut pandangan saya perlu dipublikasikan baik sekadar informasi maupun referensi.
Karena makalah ini cukup panjang, maka topik akan saya penggal sesuai sub judul jadi enam bagian. Semua disadur ulang tanpa perubahan/ penyuntingan.

Bagian I : Pendahuluan dan Menengok Guntingan Sejarah Masa lalu Kita
Bagian II: Belajar dari Kesalahan.
Bagian III : Reformasi yang Kebablasan
Bagian IV: Kekeliruan Bidang Pendidikan
Bagian V: Diagnosis Politik dan Krisis Mutakhir
Bagian VI: Gagasan Kridatama Kebumen


Bagian I: Pendahuluan

Menurut sosiolog Ibn Khaldun, jatuh bangunnya suatu bangsa ditandai oleh munculnya tiga generasi. Generasi Pendobrak, Generasi Pembangun dan Generasi Penikmat. Jika pada bangsa ini sudah muncul banyak generasi penikmat, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu akan menurun kejayaannya, dan tiga generasi itu muncul dalam rentang waktu minimal satu abad. Jika teori ini kita gunakan untuk menganalisis bangsa Indonesia, maka hati kita menjadi miris, karena usia negeri kita baru setengah abad lebih, ketika satu dua generasi pendobrak masih ada yang hidup, ketika generasi pembangun masih sibuk bongkar pasang, sudah muncul begitu banyak generasi penikmat, yaitu mereka yang hanya berfikir bagaimana menikmati pembangunan tanpa berfikir membangun dan lebih sedih lagi ternyata  generasi penikmat itu kebanyakan orang berdasi dan bertitel. Atau tepat sekali lirik lagu pop yang berbunyi: ADA APA DENGAN MUUU?

Realita ini bermakna bahwa jangan-jangan bangsa Indonesia tak akan pernah mengalami kejayaan, menjadi bangsa yang tak bermartabat, menjadi kuli di negeri sendiri, menjadi negeri tempat buang sampah dan menjadi negeri pengekspor tenaga babu, meski alamnya kaya, buminya subur loh jinawi, satu modal yang mestinya sangat berpeluang untuk menjadikan Indonesia makmur jibar jibur. Inilah yang membuat sebagian dari kita merasa galau dan sedih. Sebagian dari kita yang heran melihat perilaku masyarakat kita sendiri kemudian berusaha mencari jati diri, siapa sih sebenarnya kita sebagai manusia Indonesia? beginikah aslinya? atau ini karena salah pendidikan? salah ngatur? atau karena nggak ada pemimpin yang pantas memimpin?
Semiloka Kridatama Kabupaten Kebumen pada pagi hari ini menurut saya merupakan salah satu wujud kegelisahan para pemimpin lokal Kebumen melihat keadaan bangsa, sekaligus merupakan upaya pencarian jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Menengok Guntingan Sejarah Masa lalu Kita
1.      Harus diakui bahwa kesadaran akan adanya kesatuan bangsa Indonesia justeru tumbuh akibat penjajahan Belanda. Bahkan wilayah Nusantara juga berasal dari wilayah administrasi Pemerintah penjajah Belanda. Pada masa penjajah Belanda adanya kerajaan-kerajaan di Nusantara dijadikan alat oleh Belanda untuk memelihara perpecahan.
2.      Bibit nasionalisme modern Indonesia lahir di sekolah kedokteran STOVIA (Jakarta) dan NIAS (Surabaya) yang dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan dr. Sutomo. Bahkan dalam kelompok Islampun seperti Agus Salim dan HOS Cokroaminoto dan lain-lain dalam "modern national community building" tidak menunjuk konsep negeri-negeri Islam.
3.      Di lapangan tumbuh kesadaran mencari jati diri, ditandai dengan lahirnya organisasi pemuda seperti Yong Yava, Yong Ambon, Yong Sumatra, Yong Selebes. Juga muncul pencarian jati diri  yang buka kesukuan seperti Yong Islamieten Bond (JIB) dan Studenten Islam Studie Club (SISC). Dengan direkat oleh Bahasa Melayu, berbagai identitas itu menuju satu identitas kebangsaan, ditandai oleh peristiwa Sumpah Pemuda 1928.

Selanjutnya proses pembentukan jati diri Indonesia melalui semangat dialog yang sangat dinamis. Bagaimana meramu konsep negara bangsa (nation state) dengan semangat nasionalisme, bagaimana mempertemukan pemiiran para nasionalis sekuler (Sukarno, Hatta dan Syahrir) dengan para nasionalis Islam (HOS Cokroaminoto, H. Agus Salim dan Mohammad Nasir), bagaimana mengadopsi sistem presidensial (Amerika) dengan sistem parlementer (Eropa Barat) berlangsung dalam proses akademik dan proses politik yang sangat ketat, melibatkan para founding father dan melahirkan kelompok-kelompok pendukung.  

Posted in | Leave a comment