Tampilkan postingan dengan label Front Barat. Tampilkan semua postingan

Dari Peresmian Monumen Pena

Prasasti Monumen Pena

Banyak sudah monumen yang dibangun oleh berbagai kalangan baik pemerintah maupun masyarakat untuk menandai sebuah peristiwa penting yang dipandang bernilai sejarah. Tujuan utamanya agar peristiwa itu dapat dikenang sepanjang masa. Kenangan yang mungkin saja berlatar belakang peristiwa heroik, bernuansa kepahlawanan. Bisa juga suatu peristiwa tragis semisal bencana alam yang menelan korban sangat banyak. Apapun latar belakang peristiwa yang menyertainya, fungsi monumen tak bergeser jauh dari sebuah tanda kenangan.

Tak jauh beda dengan lainnya, Monumen Pena yang berdiri di depan Gedung Pertemuan Prabasanti di Kompleks Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kebumen juga merupakan sebuah tanda untuk mengenang keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar atau Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan untuk Front Barat di sekitar Gombong Selatan pada Perang Kemerdekaan I 1947. Monumen ini digagas oleh Atiatoen Wirjosoemarto, seorang mantan siswi Sekolah Guru Putri (SGP) Jalan Jati Yogyakarta yang saat itu ditugaskan sebagai Staf Putri Markas Pusat Pelajar (MPP) yang tak lain merupakan markas besar atau pusat kendali operasi pasukan pelajar pejuang kemerdekaan dari Jl. Tugu Kulon No. 70 Yogyakarta. Sekadar mengingatkan, kala itu, Yogya adalah ibukota pemerintahan Republik Indonesia.

Front Barat atau menurut satu pelaku yang masih hidup saat tulisan ini dibuat yakni Bapak Djokowoerjo Sastradipradja (baca Jokowuryo Sastradipraja, Prof.Dr.drh., mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor) disebut sebagai Front Jawa Tengah bagian Selatan adalah wilayah yang dinilai strategis sebagai basis pertahanan bagi pasukan atau laskar-laskar perjuangan rakyat dalam menegakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Front atau medan laga yang dilintasi garis demarkasi sepanjang Kali Kemit dari Karanggayam yang berbukit di Sebelah Utara sampai Puring di bibir pantai Samudera Hindia. Pada saat itu, pasukan pendudukan Belanda telah menguasai Gombong setelah menduduki Banyumas dalam usaha gerak maju ke Yogya.

Sebenarnya, sudah ada dua markas reguler Tentara Pelajar di sekitar wilayah itu. Pertama, di Karanganyar yang dipimpin oleh Panudju Widajat (baca Panuju Widayat) dan wakilnya David Sulistyanto asal Banyumas. Markas kedua ada di kota Kebumen yang dipimpin oleh Sadar Sudarsono dan wakilnya adalah Samijo (baca Samiyo), menempati rumah orangtua Sri Kartini yang kini jadi gedung SMP Muhammadiyah I Kebumen. Kedua markas itu masih aktif beroperasi sebagaimana layaknya suatu pusat komando teritorial. Mengapa MPP masih perlu mengoperasikan sebuah markas darurat ?

Pasukan pelajar pejuang kemerdekaan Indonesia memiliki banyak sebutan. Tentara Pelajar (TP) dan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) adalah dua dari banyak sebutan bagi pelajar sekolah menengah di berbagai wilayah dan jurusan. Nama TP banyak dipakai di wilayah Jawa Tengah dan Barat. Sementara itu, TRIP khusus di Jawa Timur. Di Jawa Barat, namanya ditambah Siliwangi jadi TP Siliwangi dan di Solo dengan sebutan TP Solo atau TP Detasemen II.  Begitu juga yang ada di wilayah karesidenan Kedu dan Banyumas. Di Kedu ada dua wilayah, Utara dan Selatan. Karena itu ada dua nama, TP Kedu Utara dan Selatan. Sedangkan di wilayah Banyumas ada dua sebutan yang popular yaitu Mas TP dan IMAM (Indonesia Merdeka Atau (pilih) Mati). Di karesidenan Semarang dan sekitarnya ada sebutan TP SA/CSA (Student Army). Di sebagian wilayah Pulau Sumatera juga ada sebutan TP Sumatera.

Dari berbagai nama kesatuan pelajar pejuang kemerdekaan itu awalnya adalah bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan. Yang tak kalah menarik adalah nama TGP (Tentara Genie Pelajar) yang semua anggotanya adalah pelajar Sekolah Menengah Teknik (dulu disebut ST, setara SMP) dan Sekolah Teknik Tinggi (setara STM/SMK sekarang). Mereka kebanyakan menangani tugas-tugas teknis : perbaikan/ perawatan senjata, membuat jembatan darurat dan banyak tugas teknis lainnya.

Sisi lain yang menarik dan khas adalah nama-nama pasukan pelajar yang anggotanya berasal dari luar Pulau Jawa. Persatuan Pelajar Indonesia - Sulawesi (PERPIS) adalah yang paling terkenal karena mereka bukan hanya berasal dari satu daerah atau pulau Sulawesi saja. Ada anggota Perpis yang berasal dari Sumatera Utara (Batak) semisal Willy Hutauruk atau Herman Fernandez dari Flores  yang gugur di Palagan Sidobunder, Kebumen. Ada juga yang berasal dari Kalimantan semisal Linus Djentamat yang menyelamatkan Juki, brendgun buatan Jepang bersama Djokowoerjo dari Jogja. Dengan kata lain, nama pasukan pelajar pejuang kemerdekaan tidak selalu identik dengan keterwakilan wilayah karena faktor mobilitas mereka sangat tinggi baik pada masa Perang Kemerdekaan I (1947) maupun II (1949). Seorang anggota TP Siliwangi bisa jadi bagian dari Mas TP Banyumas, TP Kedu Selatan atau TP Solo karena adanya pergerakan pasukan RI dari Jawa Barat ke kantong-kantong gerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikenal dengan istilah "longmarch".

Keberadaan pasukan pelajar di Indonesia boleh disebut unik. Mereka membentuk dan mengorganisasi kekuatan internal IPI sebagai kekuatan tempur (kombatan) maupun kepalangmerahan (petugas kesehatan/relawan PMI). Di seluruh dunia, mungkin hanya IPI Bagian Pertahanan atau Tentara Pelajar yang dibentuk atas inisiatif sendiri. Di negara lain, termasuk Belanda, pasukan yang anggotanya berasal dari pelajar atau mahasiswa dipanggil sebagai wajib militer oleh negara atau pemerintahnya. Mengenai pembentukan pasukan pelajar di sini

Sepanjang usaha menelusuri jejak keberadaan dan pengoperasian Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat, penulis mengalami banyak kendala teknis dan kultural. Kendala teknis mengemuka karena minimalnya bukti administratif seperti surat tugas dan sebagainya. Menurut penuturan penggagas Monumen Pena, almarhumah Atiatoen yang dikuatkan dengan tulisan pelaku Prof. Dr. Djokowoerjo, jejak utama markas darurat adalah keberadaan asrama yang kini bernama Gedung Pertemuan Prabasanti di kompleks Gereja Kristen Jawa di Jalan Pemuda No. 140 (ketika itu masih bernama Jalan Stasiun) Kebumen. Tetapi, dari aspek kultural, khususnya untuk nilai kejujuran penulis sangat menyakini cerita kedua pelaku yang sama-sama kokoh pendirian untuk tetap memelihara "isi" lebih bernilai dari pada bentuk formalitasnya. Apalagi bekas asrama ini masih dipertahankan sesuai dengan bentuk aslinya. Jadi, artefak budayanya menguatkan.

Nama atau sebutan Monumen Pena adalah pengembangan nilai intrinsik dan filosofi gagasan yang semula disebut Tetenger Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade XVII TNI pada Perang Kemerdekaan I - 1947 di Kebumen. Secara ringkas, gagasan membangun monumen ini berasal dari perbincangan sersan (serius tapi santai) dua sahabat yang berkumpul di dalam acara pemancangan tanda bambu runcing di makam Kartiko di Desa Panjer, Kebumen pada awal tahun 2002. Keduanya adalah Atiatoen dan Agustinus. Saat markas darurat beroperasi sekitar 3 (tiga) bulan sejak akhir Mei sampai awal (tanggal 5) September 1947, Atiatoen ditugaskan sebagai staf putri. Sementara itu, Agustinus adalah putra ke 7 Pendeta GKJ, Bapak Reksodihardjo yang meminjamkan rumah dinas kepanditaannya untuk kantor serta aula gereja sebagai asrama markas darurat. Kebetulan, Agustinus berteman akrab dengan kakak kandung Atiatoen yang bernama Affandi atau lebih akrab disebut dengan nama panggilannya : Pandi Gondek. Agustinu dan Pandi Gondek adalah anggota Tentara Pelajar di Markas Kebumen yang terletak di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah I di Jl. Kapt. P. Tendean Kebumen).

Meski jadi anggota TP di Kebumen dan markas darurat berada di lingkungan rumah tinggal orang tuanya, Agustinus jarang sekali berkunjung ke asrama. Apalagi masuk kantor markas darurat. Kecuali jika Pandi Gondek memaksanya singgah untuk bertemu sang adik kandung atau teman seperjuangan yang dikenalnya. Di dalam keluarga Atiatoen, ada tiga orang yang aktif dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Selain mas Pandi dan dirinya, ada seorang kakak kandung Atiatoen yang menjadi petinggi militer di wilayah Kebumen saat itu yakni Achmad Dimjatie sejak awal kemerdekaan (ketika TNI masih bernama BKR - Badan Keamanan Rakyat  atau TKR - Tentara Keamanan Rakyat maupun ketika telah bernama TRI - Tentara Republik Indonesia serta TNI - Tentara Nasional Indonesia). Mas Dim, panggilan akrab Achmad Dimjatie, adalah komandan pasukan TRI saat terjadi pertempuran di desa Sidobunder yang menyebabkan gugurnya 24 orang anggota pasukan pelajar pejuang kemerdekaan (TP). Kesaksian ini pernah diucapkan oleh Anggoro selaku mantan komandan Seksi 320 TP Batalyon 300 dalam acara reuni Keluarga Besar Tentara Pelajar Kedu Selatan di Wisma Ganesha Purworejo tahun 1995.

Kepada penulis, pakde Dimjatie menuturkan cerita pergerakan pasukan pelajar di Front Barat. Beliau juga menguatkan kisah yang pernah diceritakan almarhuman Ibu Atiatoen kepada penulis tentang nama dan sosok seorang Linus Djentamat yang tinggi dan pendiam dari Kalimantan ketika dimintai tolong untuk memetik buah kelapa dan nangka di kebun belakang rumah keluarga untuk menu penghuni asrama markas darurat. Sayang sekali, ketika Bapak Alex Rumambi (almarhum) berkunjung ke rumah, penulis tak dapat menemui beliau karena tengah berada di luar kota. Singkat kata, secara kultural, sejarah keberadaan dan pengoperasian markas darurat dapat dipertanggung-jawabkan.

Perubahan nama Tetenger menjadi Monumen Pena sebenarnya adalah usul penulis kepada penggagas (Ibu Atiatoen) setelah bentuk dasar bangunan selesai dirancang dan disetujui. Secara filosofi, satu bagian penting dari lambang Tentara Pelajar adalah pena bulu yang melukiskan dunia kependidikan adalah dasar utama keberadaan pasukan pelajar atau Tentara Pelajar. Namun bentuk pena yang dipilih adalah pena yang punya mata dan gagang kayu atau sejenisnya. Hasil guratan pena ini sangat tebal atau tegas, menggambarkan ketegasan sikap penggagas tentang kebenaran hakiki.

Selain sisi simbobik di atas, keberadaan pasukan pelajar (pejuang kemerdekaan) telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Bangsa Indonesia menegakkan kemerdekaannya. Buku "Peran Pelajar dalam Perjuangan dan Pembangunan" yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi TNI (1995) dengan segala kekurangannya menguatkan hal itu. Juga beragam karya purna bakti baik berupa monumen, wisma, lembaga pendidikan atau apapun bentuk serta skalanya.
Pena memiliki dua bagian utama. Mata pena dan gagang pena. Dalam posisi terbalik, mata pena ada di bagian atas dan gagangnya di bawah. Mata pena kemudian dibentuk seperti tiara, mahkota bersusun tiga yang menggambarkan periodisasi perjalanan pasukan pelajar ini. Periode pertama adalah ketika pasukan pelajar ini bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan yang diwakili dengan warna coklat gelap. Berikutnya adalah bagian yang menggambarkan posisi pasukan pelajar sebagai bagian dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam wadah Brigade XVII. Dan bagian terakhir yang berwarna hitam adalah periode demobilisasi atau purna bakti. Semua anggota pasukan pelajar diberi pilihan oleh Pemerintah untuk melanjutkan karir di lingkungan militer atau kembali ke bangku sekolah dan kuliah sebagai manusia sipil.

Pada gagang pena juga terdapat penggambaran situasi perjalanan bangsa Indonesia. Yakni fase atau periode penjajahan yang berupa fondasi berkedalaman 0,5 m di dalam tanah dan lantai dasar yang disimbolkan dengan warna hitam  sebagai periode kegelapan. Di lantai yang berbentuk segi empat berwarna dasar hitam dengan garis merah yang memisahkan dua periode kegelapan yaitu periode penjajahan bangsa-bangsa Eropa dan periode pendudukan asing pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai penyerahan kembali kedaulatan pada akhir Desember 1949.

Bagian gagang yang paling utama adalah berbentuk buku terbuka yang berwarna putih bersih. Mewakili masa pencerahan pasca penjajahan asing. Buku adalah sumber ilmu dan kebajikan. Di dalam buku yang terbuka, bangsa Indonesia semestinya mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaannya sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Dengan “buku”, cakrawala pandang kita seharusnya lebih terbuka sebagai bangsa yang maju dan beradab.

Satu hal yang menjadi kado istimewa dalam acara peresmian monumen ini adalah pesan dari pelaku sejarah, Prof. Dr. drh. Djokowoerjo Sastradipradja yang kisah lengkapnya ada di sini kepada penulis via grup Facebook Gematepe. Isinya adalah sebagai berikut:

Ananda Toto  Karyanto dan Generasi Penerus Seangkatannya, Pelaku Pembangunan yang saya kasihi,

Pertama-tama saya ingin menyampaikan apresiasi saya dan saya yakin juga mewakili teman-teman generasi pendahulu pembela proklamasi yang kini masih ada diantara kita maupun yang sudah wafat, atas inisiative anda dan kawan2 yang telah berhasil mendirikan monumen tetenger pada sebuah tapak perjuangan para Ibu-ibu dan Bapak-bapak generasi pejuang di daerah Kebuman/Front Jawa Tengah Selatan pada masa perang kemerdekaan, yaitu Monumen PENA di Kota Kebumen. Kami sangat menghargai prakarsa para penggagas sebab fungsi dari suatu tetenger/monumen adalah begitu besar secara historis maupun futuristik, karena tetenger itu mengingatkan kepada kita-kita yang masih hidup betapa mulianya peran perjuangan generasi terdahulu dalam membela negara, juga megajarkan sebagai suri-tauladan kepada generasi-generasi yang akan datang tentang nilai-nilai luhur sebuah perjuangan dan semangat itu agar membimbing generasi-generasi pendatang dalam tugas pembangunan negara. Semoga Tuhan YME meridloi amal bakti kita semua. Dengan ingatan tertuju ke Kebuman, 10 November 2013, I. Djokowoerjo Sastradipradja  (ex angg. TP Bat. 300 Cie 320 Sie 321 Anggoro).

Jika realita yang terjadi saat ini berbeda dari idealisme kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diperjuangkan dengan pengorbanan nyawa para syuhada, harta benda penduduk, kekayaan alam dan keihlasan berjuang para penegak kemerdekaan; buku sejarah tak salah. Karena kehidupan ini terus berjalan dan kesaksianlah yang harus ditegakkan. Apakah kita yang hidup saat ini akan terus memelihara kebodohan dengan cara suka mengasihani diri dan memperlakukan amanat kemerdekaan bangsa berlalu tanpa makna ? Semua akan kembali ke dalam nurani dan keyakinan pribadi masing-masing. Buku-buku sejarah adalah cermin. Hanya yang “buruk muka” cermin itu menjadi terbelah. 

Bp. Agustinus Reksodihardjo 84 thn tetap bersemangat '45





Tandatanngan serah terima bangunan dari KBTP kepada GKJ

Bp. Pendeta Reksodihardjo





Lurah Panjer dan Ketua DHC '45 Kab. Kebumen



Keluarga besar Bp, Agustinus Reksodihardjo


Bp. dan Ibu Agustinus Reksodihardjo




Penggungtingan pita - saat penting setelah 10 tahun digagas

Tetap semangat dalam kerentaan: Bp Agustinus siap gunting pita



Sosok pejuang kemerdekaan RI - Agustinus Reksodihardjo


Penyerahan sumbangan tanda kasih pelaku sejarah kepada GKJ





Tandatangan serah terima bangunan 2

Siswi SMA Masehi Kebumen ikut hadir

Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

KENANGAN MENJADI STAF PUTRI MARKAS PUSAT PELAJAR

Bapak dan Ibu Djasmin Wirjosoemarto saat ikut reuni TP Kedu Selatan di Purworejo 1995
Oleh : Atiatoen Wirjosoemarto


Penugasan Pertama

Tahun lalu, ketika saya menerima tugas pertama setelah mengikuti latihan dasar kemiliteran di Militer Akademi Kotabaru bersama beberapa teman asrama dan sekolah (SGP) Jalan Jati Yogyakarta, saya dan mbak Kushartini dikirim ke Mojoagung Mojokerto Jawa Timur untuk mengirim sejumlah bahan makanan kering (dendeng) dan obat-obatan bersama sepasukan anggota Ikatan Pelajar Indonesia Bagian Pertahanan yang dipimpin oleh Purbatin. Kami berangkat menggunakan kereta api pagi yang menarik dua gerbong. Sampai di Solo, perjalanan aman. Menjelang masuk hutan jati Mantingan, Purbatin memerintahkan masinis menghentikan kereta dan ia turun bersama empat anggota pasukan untuk memeriksa keadaan. Menurut cerita yang mereka dengar, tiga kawasan hutan yaitu Mantingan, Saradan dan Caruban dikuasi oleh gerombolan perampok kejam. Sekitar satu jam kemudian, kereta itu berjalan. Hal yang sama terjadi di kawasan hutan Saradan dan Caruban. Menjelang maghrib, kereta memasuki stasiun madiun dan berhenti sekitar dua jam untuk menaik-turunkan barang dan menambah air. Kesempatan ini kami gunakan untuk membersihkan badan dan menghilangkan penat.
Perjalanan ke stasiun Mojokerto dilanjutkan. Sepanjang perjalanan, saya dan mbak Kushatini sesekali memejamkan mata. Sementara itu, beberapa anggota pasukan nampak asyik membicarakan cerita pertempuran di sekitar Surabaya yang menelan korban ratusan pejuang. Yang terkena luka tembak, pecahan mortir atau tertusuk bayonet sebagian dirawat di Rumah Sakit Darurat PMI yang menjadi tujuan utama perjalanan kami dari Markas Pusat Pelajar di Jalan Tugu Kulon 70 Yogyakarta. Menurut keterangan yang kami terima sebelum berangkat, tempat perawatan korban pertempuran Surabaya ada di lingkungan SGB Katholik (bruderan).
Kami sampai di stasiun Mojokerto dini hari, Di sana telah menunggu beberapa anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar, nama pasukan Ikatan Pelajar Indonesia Bagian Pertahanan di Jawa Timur). Kami dan barang bawaan segera dinaikkan ke atas dua truk militer tanpa upacara khusus. Mas Isman, begitu Purbatin memanggil nama komandan pasukan TRIP yang menyambut kedatangan kami di stasiun memberi aba-aba agar truk segera dijalankan. Di tengah pekatnya malam itu, saya tak dapat melihat keadaan di luar. Sekitar sejam perjalanan, kami telah memasuki kompleks rumah sakit. Saya dan mbak Kushartini ditempatkan di ruang depan bersama beberapa orang perawat. Sedangkan Purbatin dan pasukannya ditempatkan di asrama yang cukup jauh dari bangsal perawatan.
Setelah mandi dan menyantap makanan yang telah disiapkan oleh kepala perawat, kami beristirahat di kamar. Saya tak mampu memejamkan mata karena di ruang sebelah suara-suara erang kesakitan tak pernah berhenti. Hari pertama kami dibebaskan dari semua tugas merawat korban di bangsal perawatan.  Mbak Kushartini tidur dan mulai terdengar suara dengkurnya. Perjalanan yang sangat melelahkan selama hampir sehari semalam. Saya baru dapat tidur di siang hari sampai sore.
Melihat keadaan korban pertempuran 10 November 1945, hati ini seperti tertusuk benda sangat tajam. Kekejaman penjajahan dan peperangan terlihat sangat jelas, tak membedakan siapapun mereka. Ada yang remuk kaki dan beragam luka tembak. Penugasan seminggu di Rumah Sakit Darurat PMI sangat berkesan, tapi tak menyurutkan niat kami untuk berbakti kepada Ibu Pertiwi. Sebuah harga yang sangat mahal, tak sebanding dengan apapun.


Penugasan Kedua

Hari terakhir ujian kenaikan kelas II baru saja usai, saya ingin bergegas ke kamar asrama yang letaknya bersebelahan dengan ruang kelas. Belum sempat melangkah jauh, seseorang memanggil nama saya. Segera saja saya melangkah,  menuju arah sumber suara. Ternyata yang memanggil adalah Kepala Sekolah yaitu Ibu R.A. Oemijatie (baca Umiyati),  adik kandung dr. Sutomo, salah satu pendiri Budi Utomo. Beliau berperawakan kecil, tapi lincah dan tegas. Hampir semua siswi SGP tahu tentang kemampuan beliau dalam menjiwai masing-masing pribadi.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, saya segera mendekat. Ibu Umiyati tampak memegang sepucuk surat.  Beliau lalu membuka pembicaraan.
“ Atiatoen … ini ada surat untukmu dari Markas Pusat. Buka dan bacakan untuk Ibu “, kemudian beliau menyerahkan surat itu kepada saya. Tentu sebuah surat tugas, saya menduga-duga isinya. Surat itu dibuka dengan pisau perlahan-lahan, kuatir sobek. Pendek saja isinya. Yaitu perintah untuk segera menyelenggarkan dapur umum dan tugas kepalang-merahan di Gereja Kristen Jawa Jalan Stasiun (sekarang Jl. Pemuda) Kebumen untuk Front Barat.  Yang menandatangani mbak Sri Daruni, Kepala Staf Putri Markas Pusat Pelajar Yogyakarta.
Dari stasiun tugu, kereta api yang sebagian besar penumpangnya adalah para pelajar mulai bergerak perlahan. Di gerbong itu ada beberapa teman satu sekolah yang berasal dari Wates dan Purworejo. Di salah satu bangku tak jauh dari tempat duduk saya, terlihat sosok kecil yang tak asing dan selalu menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Bagyo, nama ini kelak menjadi pelawak terkenal di jamannya. Siswa SGL (Sekolah Guru Laki-laki) ini suaranya lantang dengan dialek khas Banyumasan. Sayang sekali, kereta yang membawa rombongan kami hanya sampai di Stasiun Kutoarjo. Perjalanan ke Kebumen saya lanjutkan dengan berjalan kaki dan naik delman karena tak ada moda angkutan lain.
Kepada ayah, saya menanyakan keberadaan dua kakak kandung. Mas Achmad Dimjatie saat itu telah berpangkat Letnan TRI dan mas Affandi yang sering keluar masuk markas Tentara Pelajar Kebumen di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah I Kebumen) bersama Agustinus, putra pendeta Gereja Kristen di dekat stasiun. Kebetulan, sewaktu ibu kandung berjualan beras di pasar, Bapak Pendeta Reksodihardjo adalah seorang pelanggan setia. Jadi, hubungan kami telah berlangsung sejak lama dari masa kanak-kanak. Setelah ibu meninggal tahun 1939, yang menyambung tali silaturahmi adalah mas Pandi (Affandi).
” Pak… selama masa libur ini saya ditugaskan di markas darurat yang ada di rumah dinas pendeta, bapaknya Agustinus’, kata saya sambil menyodorkan surat tugas yang rencananya besok hari akan saya serahkan kepada kepala markas atau wakilnya.
” Sama siapa kamu di sana Toen ?”, tanya ayah.
” Teman-teman SGP dari Kebumen.. termasuk dik Wasil (Umi Wasilah) dan dik Cini (Rasini)”, jawab saya menyebut nama dua orang yang telah dikenal ayah.
” Di lumbung ada beberapa ikat padi yang bisa ditumbuk. Yang lain,  kamu cari sendiri. Ayah sementara waktu akan mengungsi di rumah ibu tiri. Ini ada sedikit uang yang bisa kamu pakai untuk membeli garam dan bumbu buat keperluan asrama teman-temanmu di gereja sana”, ayah menyodorkan sejumlah uang yang nilainya cukup banyak.
Surat tugas diterima mas Tjiptardjo, wakil kepala markas. Mas Moedojo sedang ke Purworejo malakukan kordinasi dengan kepala markas TP di sana, mas Pratik (Imam Pratignyo). Dari penjelasan mas Tjip, saya mendapatkan informasi bahwa Markas Pusat Pelajar di Tugu Kulon tengah menyiapkan sebagian besar anggota pasukan yang akan dikirim ke front Barat di sepanjang garis demarkasi yang berbatasan dengan Kali Kemit. Ada yang dikirim melalui markas Karanganyar sebagai pusat komando terdepan. Tapi ada juga yang langsung menuju Puring dan Kuwarasan yang diperkirakan akan menjadi ajang pertempuran besar antara pasukan Republik Indonesia dan tentara pendudukan Belanda serta sekutunya. Markas darurat ini berfungsi sebagai pusat kendali operasi langsung di bawah komando Markas Pusat Pelajar. Karena itu disediakan asrama untuk menampung sementara waktu pasukan yang akan diterjunkan ke titik-titik pertahanan pasukan Republik Indonesia, Mungkin hanya untuk satu dua hari, tapi jumlah mereka ratusan atau ribuan.
Penjelasan singkat wakil kepala markas memberi gambaran yang cukup dalam menyelenggarakan menu bagi para pelajar pejuang kemerdekaan ini. Baik yang disajikan selama mereka menginap maupun sebagai bekal dalam bentuk nasi bungkus (noek). Uang yang saya terima dari mas Tjip diperkirakan tak cukup untuk membeli bahan-bahan makanan meski telah ditambah dengan pemberian ayah. Sebagai penanggung-jawab, saya meminta bantuan pak Pendeta Rekso agar menyiapkan penanak nasi dan pencari kayu bakar. Beliau menunjuk mbak Fatonah yang tinggal di belakang gereja sebagai penanak nasi. Sementara itu, nama si pencari kayu dan keperluan dapur lain tak ingat lagi. Ia seorang lelaki asal Desa Legok di sebelah Barat sungai Luk Ulo.
Di antar teman-teman yang bertugas di asrama, mbak Umiyatun adalah yang tertua. Dia adik kandung mas Martono, komandan Batalyon 300 dan wakil kepala Markas Pusat. Selama bertugas sekitar tiga minggu, mbak Umiyatun sempat dua kali pulang ke rumahnya di Desa Meles, Karanganyar. Dik Cini yang sekampung, tak pernah menengok rumahnya yang ada di desa itu juga. Kedua teman ini masih berkerabat cukup dekat. Saya, dik Wasil dan mbak Hartati yang tinggal tak jauh dari asrama dan markas, sesekali menengok rumah masing-masing. Bahkan, rumah mbak Hartati hanya berjarak kurang dari seratus meter. Karena yang mendapat latihan dasar militer dan kepalangmerahan hanya saya, ketrampilan yang saya peroleh kemudian saya tularkan di sela-sela waktu istirahat. Saya tak pernah memakai atribut lengan (ban) PMI. Yang selalu memakai yaitu Rasini, Umi Wasilah dan Umiyatun. Ketiganya sering bercengkerama dengan anggota pasukan yang memang usianya sebaya.
Saya lebih suka membantu Yu Fathonah di dapur atau mencari bahan sayur dan lauk untuk sediaan hari berikutnya. Pada saat menyiapkan masakan (sayur)  untuk makan malam, kami kehabisan kelapa. Saya minta anggota pasukan yang tengah duduk di teras asrama untuk memetik dari pohon yang ada di kebun belakang rumah kami di Pasarpari.
” Siapa yang bisa memetik kelapa, ikut saya !”, Atiatoen setengah berteriak.
Seorang pemuda berperawakan tinggi mendekat dan menyatakan kesediaannya. Ternyata dia adalah Linus Djentamat dari Kalimantan. Sepanjang jalan, saya dan Hartati tak banyak bicara. Begitu juga dengan Linus. Sesampai di kebun belakang rumah, Linus langsung memanjat pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi, sekitar 6 atau 7 meter dengan cekatan.
” Berapa butir yang tua dan muda mbak?”, teriak Linus di atas.
” Yang tua satu tandan… yang masih muda terserah …”, jawab Atiatoen lantang.
Setelah semua kelapa dikumpulkan, beberapa anggota pasukan yang menyusul ikut rombongan kami ada yang langsung menancapkan linggis dan mengupas kulit kelapa dengan cekatan. Seorang lainnya memanjat pohon nangka yang juga ada di kebun belakang rumah kami. Kelapa dan nangka dibawa dengan pikulan dan kami   bergegas kembali ke gereja (asrama). Tak pernah menyangka, peristiwa ini adalah jumpa pertama dan terakhir dengan Linus Djentamat yang pendiam.
Seperti kebanyakan remaja menjelang usia dewasa, anggota pasukan Tentara Pelajar yang dikirim ke Front Barat bersikap wajar. Sesekali mengeluarkan ucapan kotor dan suka menggoda kami baik ketika di dalam, apalagi di luar dapur. Di satu siang yang terik dan panas, seseorang yang dipanggil dengan sebutan Lowo masuk ke dalam dapur dan membuat onar dengan mengambil ubi rebus yang baru saja diturunkan dari tungku. Masih sangat panas. Tanpa pamit dia mengambil beberapa dan menaruhnya di atas daun pisang yang selalu kami siapkan untuk bungkus menu harian.Sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata:
” Terima kasih buat singkong rebusnya ya…. Mbak !”, dia berlalu dan menari kecil di depan teman-teman perempuan yang tengah menyobek lembaran daun pisang untuk pembungkus nasi.
” Dasar kampret …tukang copet !”, Rasini menghardik Lowo dengan nada keras.
Bukan malu atau marah, Lowo justru bertambah keras tertawanya. Dan terus menggoda.
Minggu terakhir Agustus 1947 semakin banyak anggota pasukan yang dikirim dari Markas Pusat Yogyakarta maupun sejumlah daerah yang dikerahkan dari markas Purworejo. Dari penuturan mas Tjiptardjo diperoleh kabar bahwa pasukan terakhir akan diberangkatkan dari stasiun Tugu pada tanggal 29 Agustus. Mereka kebanyakan dari Perpis (Pelajar Sulawesi) dan Pelajar Kalimantan. Sedangkan dari Purworejo akan datang pasukan SA/CSA dan TGP. TRIP Jawa Timur dan TP Solo  mengirim sejumlah kecil pasukannya. Boleh disebut bahwa Front Barat adalah satu dari beberapa lokasi pengerahan pasukan pelajar pejuang kemerdekaan ini terbesar di tahun 1947.
Kalau tak salah ingat, malam 30 Agustus adalah malam terakhir asrama markas darurat menjadi tempat menginap sementara pasukan Tentara Pelajar. Malam yang cukup dingin untuk ukuran awal musim penghujan. Tidak seperti biasanya, dapur umum menyediakan makan malam dan nasi 50 bungkus tapi dengan porsi sama dengan hari-hari sebelumnya yang disiapkan 100 nasi bungkus (noek). Rombongan terakhir adalah pasukan yang dikirim Yogya dan Purworejo. Tingkah laku mereka seolah ingin melepas semua ”beban”. Ada yang berteriak seperti kesurupan dan beragam tingkah “aneh” lainnya.
Kepada Umiyatun dan Rasini, Atiatoen sempat menyatakan gundahnya.
”Nganeh-anehi (sangat aneh) tingkah mereka ya mbak..?”, yang dijawab singkat oleh keduanya. ” He eh… ”.
” Jangan-jangan………… ini sebuah pertanda  buruk.. ”, kata Atiatoen dengan nada lebih pelan.
” Itulah…dik Toen. Saya juga kuatir ..”, sela Umiyatun.
Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, beberapa warga masyarakat yang sudah tahu bahwa aula GKJ jadi asrama markas mas TP (sebutan mereka kepada anggota pasukan pelajar pejuang kemerdekaan) mengirim dalam jumlah banyak bahan makanan (singkong dan ketela pohon/ubi jalar), pisang kapok dan raja uter yang enak disantap hangat dengan cara dikukus. Peristiwa serupa berulang pada malam 31.
Selama tiga hari (1 – 3 September 1947) markas dan asrama libur. Dari utusan mas Dimjatie, saya mendapat kabar buruk. Firasat kami ternyata benar. Banyak teman kami gugur di medan laga, Front Barat. Tepatnya di Desa Sidobunder, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Satu korban atas nama Suryoharyono yang akrab dipanggil Hary di semayamkan di teras aula asrama sebelum dibawa ke Yogya bersama jenasah lainnya. Bapak Pendeta Reksodihardjo yang menyiapkan peti jenasahnya.
Sebagaimana ditulis mas Djokowoerjo Sastradipradja yang ditugasi menemukan(kembali), mendata dan membawa korban Palagan Sidobunder ke markas Karanganyar, ada 24 anggota pasukan Tentara Pelajar yang gugur. Hanya 20 orang yang diakui dan dicatat dalam buku sejarah terbitan Pusat Sejarah dan Tradisi TNI yang berjudul “ Peran Tentara Pelajar dalam Perang Kemerdekaan dan Pembangunan, tahun 1995. Sisanya yang 4 orang, karena dianggap kurir atau alasan lain, tidak termasuk dalam daftar.

***

Penghargaan dari Keluarga Besar TP Kedu Selatan 1957
Tanda Anggota Tentara Pelajar a.n Djasmin (suami Atiatoen)



Semboyan :

1.    ” Kesetiaan kami kepada bangsa dan Negara dari buaian sampai ke liang lahat”.
2.    ”Kami tak akan kembali ke bangku sekolah sebelum penjajah enyah dari bumi pertiwi”.

Kata Mutiara :

1.    Pelan tapi pasti. Bukan yang banyak itu baik, tapi yang baik pastilah yang banyak (alm. Ibu R.A. Oemijatie, Kepala SGP Yogyakarta dalam buku harian Atiatoen).
2.    Memang baik jadi orang penting, tapi jauh lebih penting adalah menjadi orang baik (alm. Bang Imad, Dr. Imadudin – Dosen ITB)


Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Peristiwa di Balik Monumen Jalan Tentara Pelajar di Kebumen (I)


Prolog

Sesungguhnya, pengalaman, semangat persatuan, perjuangan serta pengabdian kepada bangsa dan negara yang sepi ing pamrih, rame ing gawe semasa perang kemerdekaan Republik Indonesia adalah nyata, menjadi pengikat batin sesama pejuang kemerdekaan. Termasuk pelajar yang saat itu masih duduk di bangku sekolah setingkat SMP atau SMA atas inisiatif sendiri atau bersama yang lain bergabung dalam laskar-laskar perjuangan yang ada. Sebagian besar diantaranya masuk dalam berbagai kesatuan Tentara Pelajar. Banyak tindakan dan sikap luhur yang sepantasnya dapat dicontoh oleh generasi penerus dalam melaksanakan pembangunan nasional.

Sadar akan tanggung jawab meneruskan perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka dianggap perlu adanya monumen Jalan Tentara Pelajar. Sangat diharapkan bahwa monumen yang akan diresmikan hari ini, Jum'at - 10 November 1989 berdampak positif bagi upaya pelestarian nilai-nilai kejuangan bagi generasi penerus. Khususnya para pelajar, mahasiswa, pemuda serta masyarakat umum di Kebumen akan mampu memaknai jiwa patriotisme dan semangat juang para pelajar pejuang kemerdekaan tersebut.

Keluarga besar Tentara Pelajar adalah kelompok masyarakat yang dengan suka rela ikut serta menggunakan hak selaku warga negara dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia sejak awal  Proklamasi sampai berakhirnya Perang Kemerdekaan dengan cara membentuk dan menjalankan kesatuan-kesatuan bersenjata dan tetap mempertahankan statusnya sebagai pelajar. Kedua peran itu diatur menurut kebutuhan dan kesempatan yang ada saat itu. Karena mengikuti proses belajar mengajar juga penting artinya bagi permbangunan di masa depan.

Perang Kemerdekaan I    

Perjanjian Linggajati yang disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Belanda mengalami kebuntuan dalam pelaksanaannya karena pihak Belanda menginginkan pengakuan kedaulatan atas wilayah-wilayah yang dikuasainya. Ada perlawanan sengit dari para pemimpin laskar perjuangan kepada pemerintah RI yang menyebabkan jatuhnya Kabinet Syahrir III pada tanggal 3 Juli 1947. Kemudian tentara pendudukan Belanda melancarkan aksi polisionil sepihak yang dikenal dengan sebutan Agresi Militer pada tanggal 27 Juli 1947 ke seluruh wilayah RI. Setelah berhasil menduduki Jawa Barat, pasukan Belanda melebarkan wilayah agresinya ke Jawa Tengah melalui Cirebon. Setelah menduduki Purwokerto, Belanda terus melakukan gerak maju ke arah Gombong melalui tiga jurusan yakni Sumpyuh, Sempor dan Ayah. 
Buku Peresmian Monumen
Jalan Tentara Pelajar di Kebumen

Pasukan Tentara Pelajar dari Seksi 333 yang dipimpin David Sullistyanto dan Sumardi bersama laskar-laskar perjuangan lainnya melakukan taktik bumi hangus. Akibatnya, pasukan Belanda dapat ditahan oleh TNI di sekitar Desa Kemit yang merupakan perbatasan antara Gombong dan Karanganyar. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh TP untuk mundur ke arah Timur dan membentuk pertahanan di Karanganyar. Anggota pasukan TP Sie 333 ini tersebar di beberapa lokasi yakni Karanggayam, Candi, Wanareja, Kali Kemit dan Puring. Setelah berkumpul di Markas Karanganyar, sebagian diantaranya ditarik ke Purworejo dan digantikan oleh Seksi 335 pimpinan Sutrisno. Mereka ditempatkan di sepanjang garis demarkasi di Desa Grenggeng dan Kuwarasan. Kisah selanjutnya ada di sini. 

Komandan Seksi 321, Anggoro
di Mubes KBTP Kedu Selatan  - Purworejo 1992
Staf Putri Markas Pusat Pelajar pada Markas Darurat Front Barat
ATIATOEN  saat ikut Mubes KBTP Kedu Selatan di Purworejo 1992

Pasukan Tentara Pelajar Kebumen yang tergabung dalam Seksi 332 bermarkas di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah 1 dipimpin oleh Sadar Sudarsono dan wakilnya Panudju Widayat memperkuat pertahanan di sepanjang garis demarkasi, terutama di Desa Candi dan Wanareja menggantikan Seksi 331 dan 333. Pada hari kedua penugasan, seksi ini telah menghadapi gerak maju pasukan Belanda yang dilengkapi berbagai senjata berat. Dalam pertempuran itu, Daryadi gugur dan kemudian dimakamkan di Kebumen. Sementara Oentoeng Soewito menderita luka terkena serpihan kanon, Kalam tertembak di tangan kiri dan Soewarso tertermbak di paha kanan. Akhirnya, pasukan TP dari Seksi 332 ditarik mundur dan digantikan Seksi 331 dari Purworejo yang dipimpin oleh Toewoeh. Pasukan ini ditempatkan di Desa Wanareja dengan tugas utama melakukan pengintaian. Diantara waktu penugasan yang berlangsung sekitar dua minggu, Seksi 331 menahan serangan 4 truk oenuh pasukan Belanda yang berasal dari arah Desa Panjatan yang diperkuat tank. Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur setelah tank dilumpuhkan dengan trekbom yang di pasang di desa Panjatan.

Markas TP Kompi 330 Batalyon 300 berada di Hotel Van Laar Purworejo juga berfungsi sebagai asrama bagi pasukan yang dikirim ke front Barat (Gombong dan sekitarnya). Akibat perjanjian Renville, pasukan TP dari Batalyon 500 (Tegal dan Pekalongan) mundur ke kantong gerilya dan bergabung dengan Kompi 330. Pada akhir Agustus 1947, markas kompi 330 menerima kedatangan Kepala Staf Batalyon 300, Moedojo, yang membawa surat perintah penugasan pasukan ke front Barat. Pasukan TP yang ditugaskan saat itu berasal dari Seksi 321 yang dipimpin oleh Anggoro, Sementara itu, komandan Kompi 320 yakni Tjok Saroso Hoerip membawahi sejumlah pasukan TP yang ada di Jogja dan pasukan Pelajar Sulawesi (Perpis) yang dipimpin oleh Maulwi Saelan. Kisah selengkapnya ada di sini dan di sini .
  

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Di Balik Nama Monumen Mata Pena



Memberi nama satu tanda peringatan bagi sebuah tempat bersejarah adalah bagian dari tradisi yang berlaku di lingkungan Tentara Pelajar. Penamaan biasanya bermakna simbolik. Misalnya untuk Monumen Palagan Sidobunder yang menggunakan media dua pohon beringin yang diberi nama sesuai pemberian Keraton Yogyakarta. Tradisi yang secara kultural adalah penghormatan atas nilai sosial dan historis.
Seperti telah beberapa kali dipaparkan, memberi nama atas kehadiran/keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I tahun 1947 yang berada di lingkungan GKJ Kebumen bukan hal yang mudah dilakukan. Penulis yang diberi kepercayaan penuh oleh penggagas (Bp. Agustinus Reksodihardjo dan almarhumah Ibu Atiatoen harus belajar jadi “supermankarena tidak punya bekal pengalaman di bidang rancang bangun dan realisasi (pembangunan monumen). Hanya sedikit kebisaan menggabung-gabungkan makna (othak athik waton gathuk lan maton) dari setiap cerita yang berkembang di dalamnya. Setelah jadi rancangan dasar dan disetujui, penulis harus belajar juga jadi perancang bangunan (arsitek), pelaksana teknis (pemborong ?) serta akuntan sekaligus. Dalam posisi seperti ini memang semula ada rasa “keterpaksaan” karena menghadapi banyak kendala: formal (kedua penggagas bukan “petinggi” di masanya), struktural  (ada friksi antara yang asli dan aspal/ asli tapi palsu) dan terutama soal finansial. Dari semua kendala yang terpetakan akhirnya harus mampu dikalahkan oleh kesadaran untuk melakukan darma bakti kepada orang tua dan bangsa/negara khususnya tanggung-jawab kemanusiaan atas sejarah peradaban manusia Indonesia yang jadi pokoknya.

Penjelasan Umum:

1.    Keberadaan Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat adalah nyata, setidaknya diakui oleh para pelaku (selain oleh kedua penggagas) dan dibuktikan dengan adanya monumen Palagan Sidobunder yang diresmikan awal tahun 1982.
2.   Kandungan nilai historis (dibuktikan dari usaha keluarga pelaku : Herman Fernandez) dan cerita pelaku yang banyak disebut (Bp. Alex Rumamby, mantan Dubes RI untuk Swiss yang pernah berkunjung dan menguatkan cerita alm. Ibu Atiatoen) dan dikuatkan oleh tulisan yang disusun sendiri oleh pelaku: Bp. Djokowoerjo Sastradipradja, Prof;Dr;drh; RIM, serta menjadi salah satu referensi penting bagi penyusunan buku sejarah: Peran Pelajar dalam Perang Kemerdekaan yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi Angkatan Bersenjata RI cetakan I tahun 1985.
3.   Penggagas utama (alm. Ibu Atiatoen) adalah staf putri yang bertugas mengurus “urusan belakang (dapur umum dan kepalangmerahan) dan sering dipandang sebelah mata karena bukan kombatan yang selalu berada di garis depan. Sementara penggagas yang lain, Bp. Agustinus Reksodihardjo bukan tokoh penting di seputar penempatan Markas Darurat maupun front Barat selain sebagai putra Pendeta Reksodihardjo yang memberi ijin lisan pemanfaatan rumah dinasnya sebagai kantor markas dan aula GKJ untuk asrama markas.
4.   Cerita (penuturan lisan) mantan Wakil Komandan Markas Tentara Pelajar Kebumen, Bp. David Sulistianto kepada penulis dalam satu kesempatan tatap muka di Yogyajarta 1983-1985. Nama ini juga sering disebut oleh petinggi KODM Kebumen saat itu, Achamd Dimjatie, yang kebetulan adalah kakak kandung penggagas (Atiatoen) dan berperan penting dalam penempatan pasukan TNI (TRI) di Palagan Sidobunder.

Dari berbagai sumber itu, kemudian saya coba maknai dengan pembuatan desain dasar seperti yang dapat dipaparkan pada gambar di bawah ini:

1.       Nama-nama yang diusulkan:
a.      Tetenger Patilasan Bekas Rumah Perjuangan Tentara Pelajar di Front Barat (Gombong Selatan) pada Perang Kemerdekaan ke 1 tahun 1947.
b.      Monumen Mata Pena.
2.       Ijin pembangunan dari GKJ (dokumen asli disimpan oleh Ibu Amini Soeroto selaku warga GKJ Kebumen dan dipercaya oleh kedua penggagas utama).
3.      Penggalangan Dana.
4.      Pembangunan Fisik.
5.      Pemeliharaan.
6.      Peresmian dan serah terima.

Pada tulisan ini, butir ke 2 sampai 6 tidak dibahas.



 Penjelasan Singkat tentang Nama Monumen Mata Pena

Mata (biasa disebut juga dengan istilah: kepala) pena adalah bagian terpenting dari sebuah pena yang digunakan untuk menorehkan tulisan, gambar dan lain-lain. Mata pena melambangkan asal  Tentara Pelajar dari kaum terdidik yang akhir-akhir ini sering disebut sebagai masyarakat madani (civil society). Di banyak tempat, mereka adalah pembaru dan pendobrak.
Tentara Pelajar di Indonesia adalah satu-satunya yang ada di dunia. Di negara lain, kaum terdidik yang dijadikan tentara adalah peserta wajib militer yang dibentuk dan dipanggil oleh pemerintah/ negaranya  untuk melakukan tugas-tugas kemiliteran di dalam maupun luar negeri. Sementara itu, Tentara Pelajar ada karena inisiatif sendiri (panggilan jiwa/nurani)  kaum terdidik dalam menjawab situasi dan kondisi negara saat itu.

Mata Pena pada monumen ini bersusun tiga sesuai pembagian masa:
  1. Masa perjuangan, ketika para anggota Tentara Pelajar berperan dalam perjuangan menegakkan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 antara 1946 – 1950/51) yaitu rentang waktu terbentuk, beraktivitas dan demobilisasi. Masa ini dilambangkan dengan warna tanah (sand) yang berarti keberadaan Tentara Pelajar adalah untuk tanah air-nya.
  2. Masa aktif adalah masa-masa yang dilalui para (bekas) Tentara Pelajar setelah demobillisasi baik di lingkungan sipil maupun militer sesuai pilihan masing-masing. Masa ini dilambangkan dengan warna hijau muda yaitu masa aktif masing-masing (bekas) anggota Tentara Pelajar dalam berkiprah di masyarakat. Sebagai kaum terdidik, mereka memiliki kontribusi nyata di lingkungannya (secara umum).
  3. Masa purna bakti yaitu masa-masa setelah batas masa aktif (pensiun secara umum) dilambangkan dengan hitam.


Gagang Pena terdiri dari dua bagian yaitu : 
  1. Utama (yang biasa dipegang) berbentuk buku terbuka, melambangkan keterbukaan wawasan kaum terdidik yang berpijak pada ilmu pengetahuan dan teknologi (pengertian umum). Buku juga dimaksudkan sebagai catatan sejarah. Digambarkan dengan warna putih yang berarti suci. Bahwa buku adalah simbol peradaban manusia modern yang semestinya bersih dari sifat-sifat kotor manusia: sombong, tamak dll. 
  2. Ujung gagang sebagai faktor penyeimbang. Dalam hal ini dilambangkan mewakili masa pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Disusun dalam dua bagian. Bagian terbawah berwarna hitam (masa penjajahan) dan kelabu (masa pergerakan nasional).

 Demikian gambaran sekilas tentang makna di balik nama Monumen Mata Pena.

Posted in , , , , , , | Leave a comment